
...Happy Reading...
.....................
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa terasa malam pun sudah tiba. Suasana malam dengan angin yang berhembus membawa hawa dingin.
Kini Diandra sedang berada di balkon kamar Gio, setelah selesai makan malam.
Diandra sangat menikmati suasana vila milik Gio. Terasa sunyi, sejuk, dan indah. Entah itu di siang hari dengan semua pemandangannya, atau malam dengan kegelapan yang dihiasi taburan berjuta bintang di langit luas.
Ah, rasanya Diandra tidak ingin pulang dan hidup di tempat impiannya sejak kecil ini. Semua keinginannya seakan terpenuhi di vila ini.
Gio membawa selimut dari kamar lalu memakaikannya pada Diandra.
"Di sini dingin, jangan sampai sakit," ujar Gio sambil merangkul bahu istrinya, dia berdiri di samping istrinya.
"Kamu juga dingin nanti," ujar Diandra sambil mengeratkan selimut di pundaknya.
"Gak apa, aku sudah biasa," jawab Gio.
"Gak bisa gitu, ini kamu saja yang pakai." Diandra hendak melepaskan selimut dari tubuhnya.
Namun, Gio menahannya sambil menggeleng. "Aku gak apa-apa."
"Gak bisa!" Bukan Diandra namanya kalau tidak keras kepala.
Dia membuka selimutnya lalu memakaikannya pada Gio.
"Tubuh kamu baru pulih, jadi jangan suka cari masalah lagi. Aku capek ngurusin anak kecil yang sakit," gerutu Diandra, sambil membenarkan selimut di tubuh Gio.
Gio tersenyum, dia sudah terbiasa dengan ocehan yang dibalut rasa khawatir istrinya itu.
"Ya sudah, kalau gitu begini saja. Bagaimana?" Gio berdiri di belakang Diandra lalu memeluknya dari belakang, berbagi kehangatan bersama.
Diandra sempat menengang mendapat sikap Gio yang tiba-tiba, walau akhirnya dia tersenyum lalu mengangguk.
Mereka pun menikmati suasana malam di vila dengan saling berpelukan.
Gak apa tadi siang gagal, ternyata malam ini aku bisa cari kesempatan juga, batin Gio tersenyum senang, dia semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.
"Sepertinya kamus emang sekali berada di tempat ini?" tanya Gio.
Diandra mengangguk. "Di sini terasa lebih tenang, dan nyaman."
"Tapi, nanti kamu gak bisa lihat matahari terbit atau tenggelam, bagaimana?" tanya Gio.
"Aku bisa pergi ke pantai kalau memang sedang merindukannya," jawab Diandra.
"Kalau memang kamu suka tempat ini, bagaimana kalau kita tinggal di sini saja?" tanya Gio.
Diandra menoleh melihat wajah suaminya. "Maksud kamu?"
__ADS_1
Gio tersenyum lalu mengecup kening Diandra yang tampak berkerut.
"Kita tinggal di sini saja, aku gak apa-apa kerja dari sini." Gio menaruh dagunya di pundak Diandra hingga kini pipi keduanya menempel.
"Tapi, bagaimana dengan hotelku?"
Gio tersenyum mendengar pertanyaan Diandra, itu berarti Diandra tidak akan menolak untuk tinggal berdua dengannya di sini.
"Kan ada Romi," jawab Gio santai.
Diandra terdiam cukup lama.
"Aku gak bisa. Lagian kamu juga bukannya punya perusahaan lain di Jakarta?"
Gio menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, dia kemudian mencium pipi Diandra.
"Aku gak masalah, selama ada kamu di sampingku," ujar Gio.
Diandra tersenyum, lagi-lagi hatinya menghangat oleh perkataan lembut Gio. Ah, laki-laki ini memang paling pintar dalam bermain kata-kata.
"Kita bicarakan ini nanti saja," jawab Diandra, dia memilih menghindar dari pembicaraan yang lumayan sensitif itu.
.
.
Pagi ini Diandra berjalan berjalan santai di halaman vila, menikmati suasana pagi yang terasa dingin menusuk tulang. Ini adalah hari kedua dia berada di Bandung.
Acara peletakkan batu sudah berlangsung kemarin siang, sekaligus meninjau lokasi hotel yang akan dibangun.
Mulai dari pemborong, arsitek yang menjelaskan setiap rincian desain yang dia buat, lalu para pekerja lapangan yang sudah datang.
Keduanya bahkan sampai di vila setelah matahari tenggelam sempurna, menyisakan suasana gelap malam dalam keheningan yang terasa nyaman.
"Kita langsung istirahat ya, kamu sudah terlalu lelah hari ini." Gio berucap saat Diandra hendak meminta berjalan-jalan menikmati suasana malam di kampung itu.
Diandra menurut, walau di dalam hati masih terasa tidak rela kalau tidur tanpa menikmati suasana malam yang sangat indah di kampung itu.
"Masih ada waktu. Bukannya besok malam kita juga masih ada di sini."
Diandra tersenyum, saat ingatan tentang Gio yang selalu memperhatikannya terlintas.
Diandra menutup matanya, menikmati kicau burung yang terdengar nyaring di pagi hari, seakan menjadi suatu melodi alami yang sangat indah, mengalun di telinga.
"Assalamualaikum!"
Suara dari arah luar membuat Diandra langsung membuka matanya, jantungnya tiba-tiba saja berdebar dengan sangat cepat, saat telinganya mendengar suara yang sudah lama tidak dia dengar lagi.
Tubuhnya kaku, hingga rasanya berbalik saja terasa sangat berat. Matanya memanas dengan air yang mulai menggenang di pelupuk, menghalangi penglihatannya.
"Sayang, ternyata kamu di sini, aku cari kamu ke mana-mana," Gio tersenyum menatap Diandra yang tengah duduk di kursi taman.
__ADS_1
Dia sama sekali belum melihat seseorang yang berdiri di depan pagar vila itu, menunggu dipersilahkan masuk oleh sang tuan rumah.
"Sayang, kenapa kamu ninggalin aku, hem?" tanya Gio lagi sambil duduk di samping Diandra. Gio menggenggam tangan Diandra perlahan.
Diandra tidak menjawab, semua tubuhnya terasa kaku, dia tidak bisa bergerak, walau hanya mengucapkan kata sederhana.
"Assalamualikum!" kembali ucapan salam itu terdengar, membuat Gio menoleh ke sumber suara.
Matanya melebar melihat seseorang yang sedang berdiri di luar pagar, dia kemudian menatap Diandra yang tampak meneteskan air mata. Tangannya pun diremas begitu keras, hingga terasa sedikit perih, karena kuku Diandra yang mengenai kulitnya.
Diandra menoleh pada Gio. "A–apa itu dia?" tanyanya lirih.
Dia begitu takut untuk menoleh. Dirinya takut akan kecewa saat melihat orang itu bukanlah yang dia pikirkan.
Gio mengangguk samar, dia kemudian mengalihkan lagi pandangannya pada seseorang yang sedang menunggu jawaban.
"Wa'alaikumsalam. Mau cari siapa ya?" tanya Gio.
"Apa Bi Minah ada? Saya ingin bertemu dengannya," ujar perempuan itu.
Diandra perlahan menoleh sambil berdiri dengan bantuan Gio, dia menatap nanar wajah perempuan berjilbab di depannya.
"Silahkan masuk. Bi Minah ada di dalam," jawab Gio.
"Ana?" lirih Diandra, menatap wajah yang serupa dengan wajahnya.
Ada raut wajah terkejut dari perempuan itu saat menatap Diandra, walau kemudian dia berusaha menutupinya dengan tersenyum ramah.
"Oh iya, terima kasih," ujar perempuan itu membuka pintu gerbang lalu mulai melangkah masuk.
"Ana." Diandra langsung menghambur pada pelukan perempuan itu dengan tangis yang pecah.
Rasa bahagia bercampur terkejut membuatnya tidak bisa lagi bertahan untuk tidak menangis, walau senyum di wajahnya juga terlihat.
"Ana, ternyata kamu ada di sini? Kenapa kamu gak pulang ke rumah? Aku sudah lama menunggu kamu," cerocos Diandra sambil memeluk erat perempuan itu.
Gio terdiam, membiarkan Diandra meluapkan kerinduannya pada saudara kembarnya itu.
"Maaf, ini ada apa ya?" tanya perempuan itu, sambil mengurai pelukan Diandra, dia tampak bingung dengan sikap Diandra padanya.
Diandra menatap perempuan itu dengan kening berkerut dalam, dia yakin kalau itu adalah Ana. Walaupun sekarang Ana memakai kerudung.
"Ana, kamu gak kenal sama aku?" tanya Diandra, raut wajahnya tampak berubah kecewa.
Perempuan itu menggeleng. Diandra tampak terkejut, dia menoleh pada Gio, berusaha meminta dukungan kalau dia tidak salah mengenali orang.
Gio tampak ikut mengernyit bingung dengan sikap perempuan yang dia yakini adalah adik kembar Diandra. Dia yakin itu, mengingat wajah mereka yang serupa, walau perempuan itu memakai penutup kepala.
"Eh, Rani. Kamu sudah sampai." Bi Minah yang baru saja datang dari dalam langsung menghampiri ketiga orang itu.
"Rani?" ujar Diandra semakin bingung, dia menatap Bi Minah dan perempuan di depannya bergantian.
__ADS_1
....................
Lah, kok bisa jadi Rani? Kira-kira ada apa ya?🤔