
...Happy Reading...
......................
"Kamu kerja di sini, atau sedang liburan juga?" tanya Hana, setelah mereka bertiga duduk di salah satu restoran pilihan Diandra.
Saat ini mereka sedang menunggu makanan pesanan mereka datang.
"Aku kerja, Tante," jawab Diandra.
"Wah, enak banget ya, kerja di tempat yang indah kayak gini. Serasa kerja sambil liburan gak sih?" ujar Gita dengan mata berbinar.
Diandra terkekeh kecil, mendengar ucapan polos dari gadis di depannya.
"Ya, lumayan lah. Bisa kerja sambil melihat pemandangan pantai," jawab Diandra.
"Kalau boleh tau, kamu kerja di hotel mana? Kebetulan anakku juga kerja di sini," tanya Hana.
"Aku kerja di hotel Lembayung. Kalau anak, Tante, kerja di hotel mana?" tanya Diandra.
"Permisi."
Hana yang hendak menjawab pertanyaan Diandra, mengatupkan mulutnya kembali saat pembicaraan mereka terpotong, oleh kedatangan makan yang mereka pesan.
"Silahkan dinikmati," ujar pelayan restoran itu.
"Terima kasih." Diandra mengangguk samar, menimpali perkataan pelayan tadi.
"Ayo, Tante, Gita ... silahkan dimakan," ujar Diandra.
Ketiga perempuan itu pun akhirnya makan terlebih dahulu, mereka bahkan kembali melupakan pembahasan hotel.
Beberapa saat kemudian mereka terlihat ke luar dari restoran. Ketiganya tampak berjalan beriringan dengan barang belanjaan di tangan.
"Akh, iya. Tante dan Gita, belum memberi tau aku, hotel tempat anak, Tante, bekerja," ujar Diandra, saat mereka hendak melangkah pergi.
"Hotel Sandya Kala, apa kamu tau itu hotel ada di mana. Tante, sudah beberapa kali datang ke sana. Tapi, semenjak mertua Tante meninggal, kami tidak pernah lagi datang ke sini, makanya lupa," jelas Hana.
Bukannya itu nama hotel milik Gio? Apa mereka adalah salah satu keluarga dari pegawai di sana? batin Diandra.
"Oh, kebetulan sekali, hotel itu berada dekat dengan hotel tempat aku bekerja. Mari, aku tunjukkan jalannya," ujar Diandra.
"Benarkah? Wah, kenapa bis akebetulan sekali ya?" tanya Hana, sambil mulai berjalan menuju hotel tujuan mereka.
"Iya, Tante." Diandra tersenyum sambil menimpali perkataan wanita paruh baya itu.
Berjalan beberapa menit, sambil berbincang kecil tentang pantai di sana, akhirnya mereka sudah sampai di depan hotel Sandya Kala.
__ADS_1
"Apa benar ini hotel tempat anak, Tante, bekerja?" tanya Diandra.
"Iya, sepertinya ini benar, dia memang bilang ada beberapa renovasi di hotel ini," jawab Hana.
"Kalau gitu, ayo kita masuk, biar nanti aku bantu bicara sama resepsionisnya," ujar Diandra.
Hana dan Gitu pun langsung mengangguk, mereka akhirnya mulai melangkah menuju ke arah lobi hotel.
"Apa ada yang jika kami bantu?" tanya salah satu resepsionis, begitu ketiga perempuan itu masuk.
"Ah iya, mereka adalah keluarga dari salah satu karyawan di sini. Apa boleh bertemu sebentar?" tanya Diandra.
"Siapa namanya ya?" Resepsionis itu bertanya.
Diandra melihat Hana dan Gita bergantian, dia lupa menanyakan nama orang yang saat ini tengah mereka cari.
"Nama anak, Tante, siapa?" tanya Diandra.
"Giovano Ardi Pornomo," jawab Hana, sekaligus memberi tahu nama anaknya pada resepsionis di depannya.
Tentu saja semua itu langsung membuat semua orang yang berada di sana terkejut. Terlebih bagi Diandra, dia seakan tidak percaya dengan nama yang baru saja dia dengar.
Giovano? batin Diandra penuh tanya.
Berarti ini adalah keluarga dari presdir Giovano?
Terdengar bisik-bisik dari karyawan yang ikut mendengar perkataan dari Hana.
Belum selesai keterkejutan semua orang yang ada di sana, kini sosok laki-laki yang sedang mereka bicarakan tampak berjalan memasuki lobi.
"Hai, Mah, Gita. Kenapa kalian gak ngabarin aku dulu, hem?" sapa Gio setelah berada di depan ibu dan adiknya.
"Enak aja! Aku udah telepon Kak Gio berkali-kali. Tapi gak pernah diangkat," rujukan Gita.
Gio terperanjat dia batu ingat kalau ponsel miliknya ada di tangan Diandra.
Sedangkan Diandra sendiri tampak berdiri canggung di belakang Hana. Dia menundukkan kepalanya, mengindari tatapan dari suaminya.
Randi yang tau keberadaan Diandra, tampak memperhatikan setiap gerak-gerik perempuan itu.
"Maaf, kayaknya ponsel aku ketinggalan, makanya gak diangkat," jawab Gio memberi alasan.
"Ck, dasar pelupa," cebik Gita.
"Iya, maaf, maaf. Sudahlah, lebih baik kita masuk ke ruangan Kakak." Gio merangkul pundak adiknya.
"Randi, bawa barang belanjaan mereka," sambung Gio lagi, beralih pada sang asisten.
__ADS_1
"Bai, Pak," jawab Randi, langsung mengambil barang-barang dari tangan Hana dan Gita.
"Tunggu sebentar, mama mau mengucapkan terima kasih dulu sama orang yang udah nganterin kita ke sini," tahan Hana.
"Dian, terima kasih ya, sudah mau nganterin kita ke sini," ujar Hana beralih pada Diandra.
Diandra mengangkat wajahnya, dia kembali tersenyum tipis pada Hana.
"Iya, Tante. Aku juga senang bisa membantu, Tante dan Gita. Kalau begitu aku pamit dulu, kebetulan waktu istirahat juga sudah mau habis," ujar Diandra.
Gio sebenarnya sejak tadi melihat keberadaan istrinya itu di sini, dia menatap dalam wajah Diandra yang tampak menghindarinya.
Dalam hati, dia ingin sekali mengenalkan Diandra sebagai istrinya pada Hana dan Gita. Akan tetapi, dia juga takut kalau nanti Diandra akan semakin marah padanya.
Apalagi, Gio juga belum memberitahu Hana dan Gita tentang pernikahannya dengan Diandra. Dia tidak mungkin memberitahu tanpa ada penjelasan terlebih dahulu.
Diandra yang sadar dengan tatapan suaminya, terlihat salah tingkah dan terus menghindarinya.
Sedangkan Randi yang tau situasi sebenarnya hanya berdecak di dalam hati, melihat sikap Diandra dan Gio.
Ck, drama rumah tangga rahasia. Udah kayak di cerita novel aja, pake pura-pura gak kenal segala, batin Randi.
"Oh, begitu ya. Kalau begitu, boleh Tante minta nomor kamu, biar nanti kita bisa ketemu lagi," ujar Hana semakin membuat Diandra serba salah.
Diandra melirik Gio sekilas, dia benar-benar bingung saat ini. Apakah dia harus memberikan nomor ponselnya pada Hana atau tidak.
Terdiam sebentar akhirnya Diandra berusaha tersenyum lalu menjawab pertanyaan wanita paruh baya di depannya.
"Boleh, Tante." Diandra mengambil kartu namanya di dalam dompet, lalu memberikannya pada Hana.
"Ini kartu nama aku, Tante." ujar Diandra.
Hana tampak melihat kartu nama yang diberikan oleh Diandra.
"Oh, ternyata kamu seorang sekretaris, ya? Baiklah, nanti kita ketemu lagi ya," ujar Hana.
"Iya, Tante. Kalau begitu saya permisi," angguk Diandra.
Diandra langsung melangkah ke luar setelah mendapati anggukkan dari Hana, tanpa menoleh pada Gio.
Gita mengerutkan keningnya, melihat Diandra yang semakin menjauh dari pandangan mereka.
"Kenapa aku merasa Kak Dian menghindari Kak Gio ya? Apa karena dia tau Kak Gio yang punya hotel ini?" ujar Gita.
Ucapan yang terujar dari mulut Gita, langsung mengalihkan perhatian Gio, Hana, dan Randi dengan pemikiran mereka masing-masing.
......................
__ADS_1
Protes di persilahkanðŸ¤
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...