Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Mengungkapkan


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


"Gosip macam apa ini? Berani-beraninya mereka menggosipkan bos mereka sendiri seperti ini!" kesal Gio saat menerima laporan dari Randi mengenai gosip yang beredar tentang hubungannya dengan Diandra.


"Sepertinya kita juga harus mengadakan klarifikasi atas berita ini, sebelum berita ini sampai terdengar oleh para kolega bisnis kita, Gio," ujar Randi memberi saran.


"Iya, Ran, kamu benar. Nanti aku akan coba bicara pada Diandra untuk melakukan klafrifikasi di depan para pegawai. Lagi pula kini tugasnya sudah selesai, Pak Handoyo, Eric, dan Sintia, sudah ditangkap. Sedangkan Mely akan segera ditangani setelah acara ini," jawab Gio yang langsung mendapatkan persetujuan dari Randi.


"Baiklah, kalau begitu aku akan siapkan semuanya," ujar Randi yang langsung sibuk menghubungi para anak buahnya.


Sementara itu, Diandra yang ke luar dari kamarnya dengan gaya yang berbeda dari biasanya, membuat para teman-temannya terkejut, begitu juga dengan Tia dan Nina. Diandra kini tidak lagi berpakaian seperti Dian yang merupakan staf sekretaris Gio. Akan tetapi, dia menjadi Diandra, istri dari Gio.


"D–Dian?" tanya Tia yang menghampiri Diandra dengan mata terbuka lebar di susul Nina di belakangnya.


"Iya, Mba," angguk Diandra.


"K–kok, kamu, jadi beda gini sih?" tanya Tia masih menatap heran Diandra.


Tia dan Nina sengaja menunggu Diandra dan akan menyusul ke tempat pembagian doorprize bersama. Akan tetapi, kini mereka malah mendapatkan sebuah kejutan dari Diandra.


"Kenapa, kok kalian bengong begitu?" tanya Diandra tersenyum heran menatap kedua orang di depannya.


"B–bukannya ini yang dulu pernah ke kantor? Yang ketemu sama aku di lift? Jadi itu kamu?" tanya Nina mengingat kejadian saat Diandra pertama kali datang ke kantor Gio.


"Iya. Kamu masih ingat kejadian itu?" angguk Diandra kemudian bertanya lagi.


"Mana bisa aku lupa. Kamu adalah orang pertama yang bisa melawan Bu Sintia. Aku gak nyangka ternyata selama ini wanita itu adalah kamu, Dian," jawab Nina sumringah.


"Jadi, sebenarnya kamu itu siapanya Pak Giovano? Kenapa kamu bisa menggunakan nama lain dan mengaku sebagai saudara Pak Giovano?" tanya Tia masih merasa penasaran dengan identitas Diandra sebenarnya.


"Nanti juga,Mba, bakal tau sendiri. Biarkan Pak Gio sendiri yang menjawab rasa, penasaran kalian," jawab Diandra dengan senyum misteriusnya.


"Ck, kamu ini, ditanya bener-bener malah sok misterius gitu," gerutu Tia yang malah mendapat kekehan kecil dari Diandra.


"Ayo kita ke tempat acara, jangan sampai nanti kita terlambat," ujar Diandra sambil menggenggam tangan kedua orang yang sudah menjadi temannya itu.

__ADS_1


"Iya, ayo, aku sudah tidak sabar mengetahui siapa kamu sebenarnya." Tia menimpali perkataan Diandra.


"Aku juga!" sambut Nina yang langsung mendapatkan tawa dari Diandra dan Tia.


Tanpa mereka tahu seseorang kebetulan mendengar percakapan ketiga orang itu, dengan tatapan tajam orang itu tampak menatap kepergian Diandra dan teman-temannya.


"Diandra, ternyata itu adalah kamu!" gumam orang itu dengan seringai di wajahnya.


Mereka pun berjalan bersama ke tempat acara dengan senyum merekah di wajahnya.


Siang itu di acara pembagian doorprize Gio dan Randi benar-benar datang ke tempat acara, tentu saja untuk melancarkan rencana yang sudah disusun oleh Diandra.


Tentu saja kedatangannya membuat para pegawai yang menantinya terlihat sumringah dan histeris menyambut kedatangan bosnya itu. Sosok Gio yang terlihat tampan dan juga berwibawa, tentu saja jadi perhatian para pegawainya, bahkan ada yang terang-terangan memuja ketampanannya dan berharap menjadi istrinya.


Beberapa saat setelah acara dibuka, Gio naik ke atas panggung, dia tampak memberikan kata sambutan dan terima kasih kepada para pegawai yang telah bekerja padanya, tepuk tangan meriah pun terdengar menggema di tempat itu. Hingga akhirnya dia memanggil Diandra untuk naik ke atas panggung.


Diandra yang baru saja datang bersama dengan Tia dan Nina pin dibantu naik ke panggung oleh Randi, sedangkan Tia dan Nina langsung beranjak ke depan panggung, bersiap untuk mendengarkan apa yang ada dikatakan Gio tentang Diandra.


Diandra langsung disambut senyum hangat Gio saat dirinya naik ke panggung, lalu membawanya untuk berdiri di samping laki-laki itu. Tangan Gio pun tidak segan untuk memeluk pinggang Diandra agar keduanya semakin merapat.


"Semuanya, perkenalkan ini adalah Diandra Amandita, dia adalah istriku!" ujar Gio sambil tersenyum senang.


Sedangkan para pegawai yang belum mengetahui tentang pernikahan Gio, tampak terkejut dan tidak percaya, hingga suara perbincangan di antara mereka pun terdengar riuh.


"Mungkin sebagian dari kalian ada yang familiar dengan wajahnya?" tanya Gio lagi.


"Ya, memang beberapa waktu belakangan istriku juga bekerja di kantor, sebagai staf sekretarisku," ujar Gio menjelaskan rasa penasaran para pegawainya.


"Kami bekerja sama, untuk mencari para oknum pegawai yang bertindak curang di dalam perusahaan." Kembali Gio berujar.


"Oh, jadi dia adalah istrnya pak Giovano? Heh, ternyata selama ini aku salah memilik teman ... pasti semua ini juga karena wanita sialan itu!" geram Mely yang baru tahu kenyataan itu.


Kebenciannya kepada Diandra kini bertambah saat tahu kalau Diandra adalah istri dari Gio, ditambah ayahnya yang masuk penjara.


Setelah menghadiri acara Gio tampak membaur sebentar pada para pegawai, untuk sekedar memperkenalkan diri sebagai presiden direktur yang baru sekaligus mengakrabkan diri kepada para pegawainya.


Sedangkan Diandra memilih untuk memisahkan diri, saat merasa tidak nyaman ketika banyak orang berkerubun di sekitarnya.

__ADS_1


"Aku ke toilet dulu," pamit Diandra pada Gio.


"Ajak temanmu, agar aku tenang," jawab Gio.


"Aku hanya ke toilet," tolak Diandra.


"Tapi, sayang–" Gio sedikit keberatan untuk melepaskan Diandra pergi sendiri.


"Gak apa-apa, kan selama ini aku juga aman berada di sini," ujar Diandra menenangkan suaminya.


Gio akhirnya mengangguk, dia yang sedang dikerubungi para pegawai pun tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan istrinya pergi ke toilet dengan diawasi oleh anak buahnya.


Diandra masuk ke dalam toilet tentu dengan pengawasan ketat dua orang anak buah Gio. Akan tetapi, tanpa sepengetahuan anak buah Gio di dalam toilet sudah ada Mely.


Waktu Diandra ke luar dari bilik toilet kemudian mencuci tangan di depan washtafel, tiba-tiba Diandra merasakan sesuatu menempel di pinggangnya yang seperti ujung senjata tajam.


"Diam, atau pisau ini akan langsung menembus kulitmu!" geram seseorang di belakangnya.


Diandra menegakkan tubuhnya sambil melihat seseorang yang ada di belakangnya, dia bisa tahu kalau itu adalah Mely, wanita itu tampak sangat marah hingga napasanya terdengar cepat.


"Angkat tanganmu!" sambungnya lagi.


"M–mba, a–apa maksud kamu?" tanya Diandra dengan tubuh kaku  berusaha menjauhi senjata tajam di pinggangnya yang terasa hampir menembus bajunya.


"Gak usah banyak tanya! Aku tau, kamu yang sudah membuat Papiku masuk penjara?" tanya Mely.


"Apa? Aku tidak tau apa-apa masalah itu, Mba," geleng Diandra, dia berusaha melindungi dirinya sendiri.


"Jangan bohong! Aku tau kalau kamu dendam sama Eric kan? Aku sudah tau semuanya tentang kamu, Diandra!" kesal Mely, semakin menekan senjata tajam itu di pinggang Diandra.


Diandra menutup matanya merasakan ujung senjata tajam itu mulai terasa menusuk pinggangnya.


......................


Jangan lupa mampir di karya teman aku ya😊


__ADS_1


__ADS_2