Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Wanita masa lalu


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Mana toiletnya?" tanya Diandra sambil menggeliatkan tubuhnya menahan geli, karena ulah Gio.


Diandra mulai waspada saat merasakan hembusan napas panas Gio di lehernya. Wanita itu sudah cukup tahu bagaimana gelagat Gio saat menginginkan sesuatu padanya.


"Sayang," ujar Gio dengan suara parau, sambil terus menciumi leher istrinya.


"Gio." Diandra berusaha menyadarkan suaminya, bukan dia mau menolaknya. akan tetapi, Diandra merasa tidak percaya diri saat ini, mengingat dirinya belum membersihkan diri.


"Iya, sayang. Aku di sini," jawab Gio.


"Hk!" Diandra tercekat saat Gio tiba-tiba memutar tubuhnya, kemudian menghimpitnya di pintu.


"Kamu wangi banget, sayang. Kenapa kamu selalu tidak bisa menahan diri, hem?" desah Gio sambil memeluk istrinya semakin erat, tangannya sudah menjalar mencari tempat yang pas.


Tanpa aba-aba Gio langsung menyambar bibir manis milik istrinya, membuat Diandra sempat kewalahan untuk mengimbangi gerakan suaminya.


"Aaa!" Diandra memekik saat tiba-tiba Gio menariknya dan menggendongnya seperti anak koala, membuat Diandra otomatis langsung mengalungkan kedua tangannya pada tengkuk Gio.


"Gio, a–aku belum mandi," ujar Diandra terbata, saat ciumannya terlepas.


"Ayo, aku antar kamu ke kamar mandi," jawab Gio, sebelum kembali menautkan bibir keduanya.


Gio pun mulai melangkah menuju kamar mandi hotel, dengan Diandra di dalam gendongannya, tentu saja tanpa melepaskan ciuman mereka.


Apa yang akan dilakukan mereka selanjutnya di dalam sana? Kalian sudah pasti tahu, jadi tebak saja sendiri, Othor lagi gak mau ngintip ah, takut bintitan, kalau kebanyakan ngintipin mereka berdua, hahaha!


.


.


Pagi hari menjelang begitu cepat, menyingkirkan dinginnya malam dengan kehangatan sinar matahari. Gio sedang duduk di sofa kamarnya, menunggu Diandra yang sedang mandi.


Senyum terus terukir di wajahnya, bahkan terkadang laki-laki itu terkekeh, saat ingatan tentang malam panasnnya bersama Diandra, terus berputar di kepala.

__ADS_1


Itu semua seperti sebuah obat terlarang baginya, yang sudah menjadi candu. Membawa hormon endorvin ke luar terus menerus, hingga perasaannya selalu saja bahagia. Ah, bahkan rasanya ini lebih baik dari pada obat terlarang itu.


Diandra itu bagaikan minuman keras yang memasukkan, dan obat-obatan terlarang yang bisa membuat candu bagi Gio. Akan tetapi, ini adalah versi halal untuknya. Sama-sama bisa membuatnya melayang dan menikmati indahnya surga dunia, walau dengan cara yang berbeda.


Ah, rasanya Gio bahkan sudah mulai gila karena mencintai Diandra. Seluruh hidupnya kini hanya tentang satu orang wanita, siapa lagi kalau bukan Diandra. Wanita dingin yang dia nikah secara paksa.


Wanita yang tadinya polos itu, ternyata cukup cepat belajar dalam masalah ranjang, hingga dia pun bisa merasa puas oleh istri cantiknya itu. Ya, mungkin saat ini hanya pada istrinya saja, tidak untuk wanita lain. Itu sangat diharamkan, tubuhnya kini ada yang mempunyai, hingga Gio tidak boleh menjualnya pada orang lain.


Namun, sebenarnya bukan hanya tentang kenikmatan ranjang yang dia pikirkan saat ini. Akan tetapi, yang membuat senyum itu seolah tidak mau pergi dari wajah tampannya, melainkan adalah balasan kata cinta yang bisa dia dengar jelas dari mulut manis istrinya, saat mereka berdua baru selesai melakukan percintaan ronde pertama.


Ah, iya itu baru ronde pertama, karena tidak akan puas jika hanya melakukan satu ronde saja, bukan? Masa dia harus kalah dengan para pemain bola yang harus bertanding dua babak. Maka dari itu dia harus lebih dari mereka.


Ish, kenapa jadi melantir begini? Baiklah kembali lagi padakejadian tadi malam.


Walau semua itu karena dirinya yang selalu mendesak istrinya dengan rayuan mautnya. Akan tetapi, Gio merasa sangat puas saat akhirnya istrinya itu mau mengulang kata cinta untuknya.


"I love you to." Kata ajaib yang dia tunggu itu, akhirnya dapat dia dengar juga dari suara indah istrinya.


Ya, sebenarnya saat dirinya dan Diandra sedang berada di dalam helikopter, Gio sudah bisa mendengar jawaban cinta istrinya. Hanya saja, dia hanya ingin mendengarnya lebih jelas lagi, sekaligus ingin menggoda istrinya.


Beberapa saat kemudian, Diandra dan Gio ke luar dari kamar, mereka sudah ditunggu untuk sarapan bersama di restoran, sebelum Mama Hana dan yang lainnya akan pulang ke rumah. Kecuali keluarga Diandra yang masih harus menginap di hotel satu hari lagi, karena besok mereka akan kembali ke kampung.


"Apa, semuanya sudah ada di bawah?" tanya Gio, saat keduanya dalam perjalanan menuju ke restoran hotel yang ada di lantai bawah.


"Sudah," jawab Diandra.


Diandra dan Gio melangkah beriringan menuju restoran, Diandra merangkul tangan suaminya dengan begitu mesra, hingga hampir semua orang yang mereka lewati merasakan iri melihat pasangan itu.


Kenyataan bahwa Gio adalah pewaris tunggal dari keluarga Purnomo tentu sudah diketahui oleh banyak orang. Keberadaan Diandra sebagai istrinya, membuat semua orang kini tampak memperhatikan dirinya.


Apa lagi dengan sikap dan gestur tubuh Gio yang menunjukan kalau dia begitu mencintai istrinya, itu semua tentu saja membuat para wanita menjerit iri, melihat Diandra bisa mendapatkan Gio sebagai suami.


Namun, saat mereka hendak masuk ke dalam restoran, tiba-tiba Gio menabrak tubuh seseorang hingga orang itu terjatuh. Refleks Gio langsung melepaskan tangan Diandra lalu menolong wanita itu.


"Maaf, saya tidak melihat, Anda," ujar Gio, sambil membantu wanita itu berdiri.


"Ah, tidak apa-apa, ini semua salah saya sendiri, yang berjalan terburu-buru, sampai tidak melihat, Anda, di sini," jawab Wanita itu, sambil melihat Gio.

__ADS_1


Diandra yang melihat siapa wanita itu, membuat dia melebarkan matanya dengan jantung berdebar kencang. Tidak, dia sama sekali tidak mau bertemu lagi dengan wanita ini. Akan tetapi, kenapa sekarang dia malah dipertemukan lagi, di saat dirinya sedang menata hidup barunya bersama dengan Gio.


"Sinita," gumam Diandra pelan, tanpa melepaskan pandangannya pada wanita yang kini sudah berdiri di depannya.


"Sayang, kamu kenal wanita ini?" tanya Gio, sambil merangkul kembali pinggang istrinya. laki-laki itu tampak memperhatikan raut wajah istrinya.


"Hah? Eum, ayo kita ke dalam, Mama sama yang lain pasti sudah nunggu." Bukannya menjawab, Diandra malah mengalihkan pembicaraan dan menarik Gio untuk masuk ke dalam restoran.


"Tapi–" Gio merasa tidak enak pada wanita yang tadi dia tabrak.


"Ya sudah, kamu selesaikan dulu saja urusan kamu di sini, aku tunggu kamu di dalam." Diandra langsung melepaskan tangan Gio lalu pergi meninggalkan suaminya bersama wanita yang dia curigai sebagai Sintia, wanita yang telah menghancurkan hidupnya dan sahabat yang menusuknya dari belakang.


"Eh, sayang?" Gio cukup terkejut dengan reaksi Diandra, dia kemudian beralih pada wanita di depannya.


"Maaf, saya harus segera menyusul istri saya," ujarnya, kemudian pergi meninggalkan wanita itu, tanpa mendengar jawabannya lebih dulu.


Sedangkan wanita itu hanya menatap kepergian Gio dan Diandra dengan kening berkerut dalam.


"Sayang, kenapa kamu tadi ninggalin aku, hem?" tanya Gio yang sudah berhasil menyamai langkah istrinya.


"Gak apa-apa, aku hanya lapar," jawab Diandra asal. Suasana hatinya sudah terlanjur buruk, karena pertemuannya dengan wanita yang mirip dengan Sintia.


Belum sempat Gio berbicara, mereka sudah sampai di depan keluarganya yang sedang menunggu keduanya.


"Selamat pagi, semuanya," ujar Diandra sambil duduk di samping sang Bunda.


Gio hanya mengikuti dan duduk di samping istrinya yang sebenarnya awalnya adalah kursi milik Ana. Wanita itu terpaksa pindah, saat Diandra malah memilih duduk di kursi milik Andra yang sedang bermain dengan Ares.


"Nah, karena sudah datang semua, jadi kita bisa langsung memulai sarapannya," ujar Mama Hana, mempersihlakan kepada yang lainnya untuk memakan sarapan yang sudah terhidang di meja makan. 


Sekitar empat puluh lima menit, acara sarapan bersama akhirnya berakhir. Setelah mengantar Mama Hana dan seluruh keluarga Gio pergi dari hotel, Diandra langsung pamit pergi ke kamarnya lagi, setelah berpura-pura meminta berkas pekerjaan pada Romi.


Nanti siang, rencananya dia akan membawa Bunda, Ana, dan Andra berjalan-jalan ke mall, untuk membeli oleh-oleh. Tentu saja bersama para laki-laki yang akan mendampingi mereka semua.


Makanya untuk pagi ini Diandra ingin menenangkan hati dan pikirannya lebih dulu, akibat pertemuan tidak terduga dengan wanita yang mirip Sintia itu.


......................

__ADS_1


__ADS_2