Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Takut jarum suntik


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Sayang, kamu udah bangun?" ujar Gio, sambil mengusap pelan kening Diandra sekaligus menyingkirkan anak rambut yang menjulur ke wajah istrinya.


Diandra menatap wajah Gio, dia sama sekali belum menyadari keberadaan orang lain di dekatnya.


"Heem." Diandra hanya bergumam sebagai jawaban.


Entah mengapa, tubuhnya terasa panas dan dingin secara bersamaan. Hingga membuat dirinya tidak nyaman.


"Syukurlah, Teteh, udah bangun," ujar dokter itu dengan wajah tersenyumnya.


Diandra yang baru mendengar dengan jelas suara asing di sampingnya, langsung menoleh dengan perasan waspada.


Dia menahan sekuat tenaga rasa pening, yang masih begitu menyiksa saat kepalanya menoleh cepat.


"Panas kamu semakin tinggi, jadi aku panggil dokter agar kamu bisa diperiksa," ujar Gio begitu lembut, menjelaskan seorang wanita yang kini sudah siap memasangkan infus untuknya Diandra.


Diandra menatap wajah Gio tajam. Saat ini dirinya sudah tidak bisa lagi menyembunyikan raut wajah panik dan rasa takutnya, saat mendengar penjelasan dari Gio.


Apa lagi, begitu matanya melihat jarum suntik di tangan dokter itu. Wajah yang semula sudah tampak pucat, kini seakan tidak berdarah sama sekali.


Gio yang melihat semua itu, langsung mengambil tangan Diandra, dia menggenggamnya dengan begitu lembut, berusaha memberikan kekuatan agar Diandra bisa lebih berani melawan ketakutannya.


"Gak apa-apa, itu hanya sebuah jarum kecil. Ada aku di sini," lirih Gio, mencoba menenangkan istrinya.


Diandra tidak menjawab, dia hanya terus menatap tajam wajah Gio, sebagai tanda protesnya. Tangan Diandra meremas kuat lengan Gio, menyalurkan rasa takutnya.


"Gak apa-apa, lihat aku saja, jangan lihat ke sana," lirih Gio lagi.


Kini tangan Gio yang satunya menahan wajah Diandra untuk terus menatap dirinya, selama proses pemasangan infus berlangsung.


Diandra memejamkan matanya saat rasa sakit akibat jarum suntik terasa di punggung tangannya.


"Sudah selesai," ujar dokter itu, sambil menahan senyumnya. Dia malu sendiri, melihat kemesraan antara suami istri di depannya.


Diandra bernapas lega, perlahan cengkraman di tangan Gio pun terlepas, hingga tinggal meninggalkan bekas kuku Diandra di sana.


"Terima kasih," lirih Diandra, sambil menghindari arah pandangan mata Gio.


"Ini ada beberapa obat yang harus diminum. Usahakan makan bubur atau apa saja yang mudah dicerna, agar bisa meminum obatnya," ujar dokter itu.


"Tapi, rasanya mual, dan gak enak di perut," keluh Diandra.

__ADS_1


"Gak apa-apa, sedikit-sedikit saja, yang penting ada yang masuk, agar lambungnya tidak kosong," jawab dokter itu lagi.


"Iya, Dok. Terima kasih." Diandra mengangguk perlahan.


"Lain kali lebih dijaga lagi ya, pola makannya agar tidak terjadi seperti ini lagi," nasihat dokter itu.


Diandra hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Mari, Dok ... saya antar ke depan," ujar Randi, yang sedari tadi memang ada di sana.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Nanti bisa hubungi saya lagi, bila caranya infusnya sudah tinggal sedikit," ujar Dokter itu, lalu berlalu pergi mengikuti Randi.


Bukh!


Diandra memukul lengan Gio dengan cukup kencang. Perempuan itu benar-benar kesal pada Gio yang telah memanggil dokter untuk memeriksanya.


"Aakh! Sakit, sayang," ujar Gio, walau sebenarnya dia tidak merasakan apa pun.


"Masih punya tenaga juga ternyata, padahal lagi sakit," sambung Gio lagi.


"Lagian, siapa suruh pake panggil dokter segala? Aku gak suka!" ujar Diandra kesal.


Walau akhirnya hanya terlihat lucu di mata Gio. Diandra malah tampak seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk padanya.


"Maaf, sayang. Aku sangat khawatir sama kamu, karena panas kamu malah semakin tinggi," jawab Gio.


Gio hanya terkekeh melihat sifat Diandra yang seperti anak kecil. Dia beranjak turun dari ranjang.


"Mau ke mana?" tanya Diandra, melihat Gio yang akan melangkah pergi.


"Ada apa, hem? Apa ada yang kamu mau?" tanya Gio, kembali berbalik, demi melihat penuh wajah istrinya.


"Enggak ... aku tanya saja. Emang gak boleh?" ujar Diandra sedikit gugup.


Senyum di bibir Gio, semakin terlihat lebar, saat melihat semburat merah di pipi Diandra.


"Aku mau ke luar dulu sebentar. Kamu istirahat saja, kalau mau apa-apa, tinggal telepon aku, ponsel kamu aku simpan di atas nakas." Gio menunjuk ponsel milik Diandra yang semalam dia sudah letakkan di samping istrinya.


Diandra mengikuti arah telunjuk suaminya lalu mengangguk lemah. Gio pun ke luar dari kamar Diandra, dia harus membuatkan sarapan sehat untuk istrinya yang sedang sakit itu.


Ck, kenapa dia lucu sekali pagi ini? Bikin aku gemas saja, batin Gio sambil membayangkan wajah takut dan merajuk istrinya.


Sampai di ruang keluarga, ternyata Randi juga baru saja masuk, setelah mengantarkan dokter tadi ke luar.


"Ngapain kamu masih ada di sini?" tanya Gio, menatap kesal wajah asistennya.

__ADS_1


Randi menatap bingung Gio. "A–aku? Aku baru aja nganter dokter ke luar."


"Terus, mau apa lagi?"


Randi masih bingung dengan maksud dari ucapan bos sekaligus temannya itu.


"Ck! Sudah sana pergi ke hotel. Mau apa lagi kamu ada di sini?" Gio berdecak kesal. Dia tidak habis pikir, kenapa Randi malah masuk lagi ke dalam rumah, bukannya langsung pergi.


Kenapa aku merasa kalau dia semakin bodoh ya? batin Gio mengunpat asistennya.


"Ya ampun, kamu mengusir aku? Setelah apa yang kamu lakuin sama aku pagi ini? Ck, dasar gak berperasaan!" Randi menatap Gio kesal.


"Kamu tau, aku masih tidur waktu kamu telepon aku tadi? Aku bahkan belum sempat minum air putih, gara-gara kamu! Dan, sekarang kamu ngusir aku gitu aja?" sambung Randi lagi, bagaikan seorang wanita yang sedang merajuk pada kekasihnya.


Gio menatap Randi tidak percaya. "Apa urusanku? Sebagai asisten kamu memang harus siap siaga kapan saja kalau aku membutuhkan."


"Tapi, setidaknya beri aku sarapan dulu!"


"Kamu bisa sarapan di hotel!"


"Aku mau sarapan di sini!"


"Tidak boleh!"


"Ayolah, aku kangen sama masakan kamu, Gio." Randi duduk di kursi keluarga sebagai tanda protesnya.


"Gak ada! Aku tidak ingin memasak untukmu!" Gio berbalik dan berjalan ke dapur.


Randi yang melihat itu tersenyum, dia mengikuti langkah bosnya itu.


"Tapi, kamu mau masak kan? Jadi aku bisa minta sekalian."


"Ya, terserah kamu saja lah!" Gio akhirnya mengizinkan Randi untuk tetap berada di sana, walaupun wajahnya masih saja terlihat kesal.


Gio membuka kulkas yang ada di sana dan mengambil beberapa macam bahan makanan, untuk persiapan memasaknya.


Sedangkan Randi memailih untuk duduk di kursi meja makan, yang mengarah langsung pada dapur.


Gio bermaksud untuk membuat bubur, mengingat tidak ada nasi sama sekali di sana. Dengan sangat cekatan Gio mulai memasak, untuk sarapan Diandra.


Semoga saja keberadaan Diandra bisa membuat kamu benar-benar berubah, Gio. Randi berharap di dalam hati.


......................


Ada yang sama kayak Diandra, takut jarum suntik, atau malas ke dokter kalau sakit?

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen🙏🥰


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2