Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Menemukan


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Lihat," ujar Randi memperlihatkan layar komputer di depannya.


Beni beranjak berdiri, dia membiarkan Gio untuk duduk kembali di kursi milik bosnya itu.


"Dia mana ini?" tanya Gio, melihat itu memang cukup jauh dari tempatnya saat ini.


"Perkiraanku ini ada di pegunungan tidak jauh dari sini. Hanya saja, masalhanya daerah itu adalah daerah kekuasaan salah satu orang terkuat di sini," jelas Randi yang sebelumnya sudah mencari tau ltak kawasan yang dicurigai menjadi tempat persembunyian Jonas.


Gio mengalihkan pandangannya pada Randi, sedangkan Beni mulai mencari informasi lagi tentang tempat itu.


"Ya, di sini ada seseorang yang cukup berkuasa. Bisa dikatakan, dia adalah pemegang keandali dan keamanan di daerah ini. Bahkan banyak dari orang-orang berada, mengandalkan oraganisasinya untuk mengamankan perusahaannya," jelas Randi.


"Maksudmu, dia mempunyai perusahaan yang menyalurkan agen keamaanan untuk para pengusaha?" tanya Gio yang masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Randi.


"Bukan. kabarnya dia adalah seseorang yang sudah mempunyai banyak koneksi, hingga bisa berdamai dengan kasus apa pun. Mungkin bisa disebut Mafia." Randi terus menjelaskan agar bosnya itu mengerti.


"Hah, Mafia?! Jadi pengecut itu adalah salah satu anak buah mafia itu?" Gio cukup terkejut mendengar kata Mafia.


"Mungkin. Tapi, kalau memang hampir semua pengusaha berurusan dengan dia, aku rasa orang tua Diandra juga mengenalnya," tebak Randi.


Gio tampak terdiam, dia juga cukup terkejut dengan perkiraan yang diberikan oleh asistennya itu.


"Apa mungki? Aku gak yakin keluarga Diandra berurusan dengan sebuah organisasi seperti itu." Gio masih mau menyangkal.


"Tapi, kalau memang ayah mertuamu mempunyai koneksi, mungkin dia bisa membantu kita untuk menangkap Jonas. Aku dengar dia cukup ramah pada warga," ujar Randi.


"Ini, Pak, aku sudah menemukan datanya, walaupun hanya data biasa saja, semoga saja bisa mmebantu," ujar Beni sambil memperlihatkan data tentang orang yang mereka bicarakan dan juga Jonas.


"Jadi pengecut itu memang salah satu warga di sana, dan ayahnya adalah anak buah ketua mafia itu," ujar Gio, dia cukup terkejut melihat informasi yang berhasil ditemukan oleh anak buahnya.


Gio sama sekali tidak pernah menyangka, di daerah yang cukup kecil ini, ternyata ada sebuah organisasi mafia yang cukup besar di dalamnya.


Apa lagi, awalnya Gio mengira kalau Jonas hanyalah seorang pekerja hotel biasa, yang terobsesi pada istrinya.


Namun, semua yang dia dapatkan kini, seakan membuat matanya terbuka lebih luas. Gio sadar kalau selama ini dia sudah terlalu meremehkan seseorang.


"Aku sarankan, lebih baik kamu menemui mertuamu dan meminta tolong padanya. Aku yakin dia mau mempertemukan kamu dengan ketua mafia itu," saran Randi.

__ADS_1


"Nanti aku pikirkan lagi, sekarang kamu pantau terus lokasi pengecut itu, jangan sampai dia lolos lagi," ujar Gio, menatap Beni tajam.


"Baik, Pak," jawab Beni.


Cukup lama mereka berbicara untuk menyusun rencana, hingga setelah lewat waktu makan siang ketiga laki-laki itu baru ke luar dari ruang kerja.


.


.


Sementara itu beberapa waktu yang lalu, Gita dan Hana sudah pergi ke pantai bersama dengan anak buah Gio.


"Astaga! Aku lupa ngabarin Kak Gio," ujar Gita setelah mereka bahkan sudah melewati pintu masuk ke pantai.


"Ya sudah, kita jalan-jalan dulu aja di pantai, mumpung belum terlalu siang," jawab Hana santai.


"Aku telepon aja deh, takutnya kakak khawatir," ujar Gita, sambil mengambil ponselnya.


Hana hanya mengangguk, dia malah asik melihat suasana jalan masuk ke pantai yang sudah sangat berbeda, dari terakhir dia datang ke sana beberapa tahun yang lalu.


"Kok gak di angkat, ya?" ujar Gita saat teleponnya tidak juga diangkat oleh Gio.


"Mungkin kakak kamu sudah sibuk. Sudah biarkan saja nanti juga dia telepon," ujar Hana.


"Tirunin kita di sini saja. Nanti biar kita ke hotel jalan kaki," ujar Hana, saat mereka melewati area sunset area.


"Tapi, Bu. Ini masih jauh," ujar anak buah Gio yang sedang menyetir.


"Gak apa-apa, kita mau sekalian jalan-jalan," jawab Hana.


"Kalau begitu biar saya parkir di sini saja," ujar anak buah Gio menghentikan mobilnya.


"Eh, gak usah. Kita bisa jalan sendiri kok," tolak Hana yang tau kalau anak buah Gio akan mengawal mereka.


"Tapi, Bu."


"Sudah, aku yang tanggung jawab kalau Gio marah sama kamu," potong Hana, mengerti ketakutan anak buah Gio.


Anak buah Gio meringis mendengar kata bantahan dari ibu bosnya itu. Dia hanya ingin menjalankan tugas untuk menjaga keselamatan adik dan ibu bosnya.


Namun, sepertinya itu tidak semudah yang dibayangkan. Hana dan Gita memang tidak suka bila mereka diberikan pengawasan jarak dekat seperti ini.

__ADS_1


Akhirnya dengan terpaksa laki-laki itu menyetujui kemauan Hana dan Gita, dia pun menurunkan dua orang perempuan itu di sunset area.


Mereka pun menikmati suasana pantai yang terasa cukup sepi, mengingat ini adalah hari kerja.


"Wah, sekarang pantai ini sudah sangat bagus dan indah. Berbeda dengan dulu," ujar Hana mengagumi keindahan pantai di sana.


"Memang dulu seperti apa, Mah?" tanya Gita sambil berjalan di samping ibunya.


"Dulu, ini masih seperti pantai klasik lainnya, tidak ada pembangunan seperti ini," jawab Hana.


Pandangan Hana mengedar melihat setiap sisi pantai yang tampak sudah banyak berubah.


"Dulu, waktu kakek kami masih ada, satu tahun sekali kita wajib datang ke sini," ujar Hana sambil mengingat masa yang sudah berlalu cukup lama.


"Jadi aku juga pernah ke sini dong?" tanya Gita.


Adik bungsu Gio itu memang masih cukup kecil ketika kekeknya meninggal.


"Pernah dong. Tapi, kamu memang masih sangat kecil, jadi pasti sudah lupa," jawab Hana.


Mereka berdua asik bercerita sambil menikmati suasana pantai, bahkan kini di tangan keduanya sudah membawa beberapa bungkus kantong belanjaan.


Hingga pada saat mereka sudah cukup lelah, Gita mulai menelepon nomor Gio lagi. Akan tetapi, lagi-lagi tidak diangkat oleh Gio.


"Mah, kita berhenti di sana aja yuk. Aku capek banget," ajak Gita, menunjuk tempat duduk di taman pinggir pantai.


"Ya udah, yuk. Mamah juga udah capek," jawab Hana.


Akibat pembangunan yang banyak mengubah wajah pantai itu, kini Hana bahkan lupa jalan menuju hotel sang anak.


"Astaga, kenapa di sini sekarang berubah sekali. Mamah jadi lupa arah menuju ke hotel," gerutu Hana, sambil mengusap keringat di keningnya.


"Ini lagi, kenapa telepon Kak Gio gak di angkat-angkat?" Gita pun ikut menggerutu.


Cuaca yang mulai panas, membuat Hana dan Gita merasa kepanasan, ditambah rasa capek karena mereka tanpa sengaja sudah berjalan cukup lama.


......................


Ada yang tau kenapa telepon Gita gak di angkat? Komen๐Ÿ‘


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2