
...Happy Reading...
..................
Setelah perbincangan singkat antara Gio dan Diandra, perempuan itu memilih kembali menyandarkan tubuhnya di jendela, melihat ke luar tanpa mau menghiraukan Gio lagi.
Hatinya kesal, saat mengingat perkataan Gio yang sedang menyindirnya. Sedangkan Gio memilih untuk mengobrol masalah pekerjaan dengan Randi.
Sebenarnya Gio tahu kalau Diandra sedang tersindir dengan kata-katanya. Akan tetapi, dia bersikap seolah tidak tahu, untuk membuat Diandra memikirkan apa yang dia katakan barusan.
Diandra menikmati jalanan dengan handsfree di telinga, hingga membuat dia semakin terbuai. Matanya terkadang terpejam saat menikmati alunan musik yang dia putar, hingga saat mobil memasuki daerah Garut, Diandra sudah terlelap, tanpa disadarinya.
Gio yang melihat itu, hanya menggeleng kepala lalu mengambil tubuh Diandra yang bersandar di pintu mobil, untuk bersandar padanya. Perlahan dia menyandarkan kepala Diandra di dada bidangnya, tanpa mau menganggu tidur sang istri.
Saat waktu jam makan siang, mereka sampai di salah satu vila milik Gio yang tidak jauh dari daerah pembangunan hotel milik Diandra.
"Sayang, bangun. Kita sudah sampai." Gio menepuk pelan pipi Diandra.
Dia tidak berani menggendong Diandra ke dalam. Itu terlalu beresiko, jika nanti Diandra bangun dan dia belum menaruhnya kembali. Bisa-bisa istrinya itu merajuk karena malu.
Jadi lebih baik cari aman saja, daripada nanti urusan jadi lebih ribet lagi.
Diandra mengerjap, dia mengeratkan pelukan tangannya di tubuh Gio, sambil mulai membuka mata. Dia sama sekali belum sadar kalau tengah berada di dada suaminya.
Gio hanya tersenyum dengan jantung yang berdebar, saat merasakan sentuhan Diandra. Apalagi ada sesuatu yang terasa kenyal menempel di perutnya.
Akh, pikirannya langsung berkelana entah ke mana. Walau bagaimana pun Gio tetaplah seorang laki-laki dewasa normal yang membutuhkan fantasi untuk menyalurkan kebutuhan batinnya.
Apalagi, dia adalah mantan seorang casanova yang bahkan hampir tidak pernah libur dalam menikmati hubungan haram bersama seorang wanita. Tentu dia harus susah payah menekan itu semua jika sedang berada di dekat Diandra, apalagi saat mereka bersentuhan begitu intim seperti ini.
Namun sayang, sepertinya Diandra memang tidak mengerti hal seperti itu, atau mungkin menutup diri untuk mengetahui semua itu, akibat masa lalu yang kelam itu.
Entahlah, dia tidak cukup berani untuk mengungkapkan semua itu atau bertanya pada Diandra. Saat ini Gio hanya berfikir untuk tetap bertahan dan bersabar sampai mendapatkan hati Diandra seutuhnya, tanpa adanya kenangan masa lalu yang menghantuinya lagi.
"Sayang." Gio kembali mengelus pipi halus Diandra.
Diandra mengerjapkan matanya, rasanya begitu berat untuk membuka, saat rasa nyaman terus saja menggodanya.
__ADS_1
"Kita sudah sampai," sambung Gio lagi, saat mata Diandra mulai terbuka.
Diandra bangun menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, pandangannya mengedar, melihat ke seluruh mobil yang kini hanya ada dirinya dan Gio saja.
"Kita di mana?" tanya Diandra dengan suara parau dan mata memicing.
Diandra kira mereka akan langsung ke hotel untuk menginap di sana. Akan tetapi, kini dirinya melihat tidak ada bangunan berupa hotel di sana.
"Ini, vila. Kita akan menginap di sini selama urusan kamu belum selesai," jelas Gio.
Diandra menurunkan jendela mobil, dia bisa melihat dengan jelas, rumah bergaya tradisional yang nampak asri, dengan halaman yang luas di warnai berbagai tanaman bunga.
Sungguh indah dan terlihat nyaman, perlahan Diandra membuka pintu mobil, menapakkan kaki di samping mobil.
Dia terpaku, menatap sekelilingnya yang tampak sangat indah, pohon yang menjulang tinggi tertata rapih bagaikan di dalam sebuah lukisan.
Udara sejuk langsung menerpa tubuhnya, walaupun hari masih siang. Bahkan sang surya masih berada di atas, bersinar dengan terik menembus celah dedaunan.
"Kamu suka?" tanya Gio yang sudah berada di samping istrinya.
Diandra mengangguk.
Gio tersenyum melihat wajah istrinya yang tampak begitu bahagia, melihat pemandangan alam yang memanjakan mata.
Berbeda dengan perempuan lainnya yang lebih suka bila diajak pergi ke kota untuk berbelanja. Diandra malah terlihat bahagia, dengan sesuatu yang sederhana seperti ini.
"Mau masuk atau masih suka di sini?" tanya Gio.
Diandra mengalihkan perhatiannya pada sang suami, dia kemudian melihat rumah panggung bertingkat dua, yang terlihat indah.
Ya, itu adalah rumah panggung yang sudah dimodifikasi, semuanya didesain khusus dengan bahan terbaik, hingga terlihat indah dan kokoh.
"Itu vilanya?" tanya Diandra yang langsung dianggukki oleh Gio.
"Itu vila milik keluargaku. Kita sering berlibur ke sini, saat sedang ada acara keluarga atau penat bekerja," jelas Gio.
"Ayo masuk. Kamu pasti akan lebih suka kalau sudah masuk ke dalam," ajak Gio.
__ADS_1
Diandra mengangguk, dia mengikuti langkah Gio. Pandangannya terus mengedar, mata indahnya terus bergulir, tidak mau sampai melewatkan sedikit pun celah keindahan di depan mata.
Sepasang paruh baya tampak berdiri di depan pintu, menyambut kedatangan Gio dan Diandra. Wajahnya tampak terkejut saat melihat Diandra. Itu terlihat jelas walaupun mereka berusaha untuk menutupinya. Entah apa yang mereka pikirkan? Mungkin hanya mereka dan Tuhan yang mengetahuinya.
"Selamat datang, Den Gio," ujar laki-laki paruh baya itu.
Mereka adalah penjaga vila yang sudah bekerja lama dengan keluarga Gio.
"Diandra kenalkan, ini Bi Minah dan Mang Aan, mereka yang merawat vila ini. Mang, Bi, ini adalah istri saya, namanya Diandra," ujar Gio memperkenalkan ketiga orang itu.
"Siang, Mang, Bi. Senang berkenalan dengan kalian," ujar Diandra sambil bersalaman dengan pasangan paruh baya itu.
"Selamat datang, Neng Dian. Kami juga senang bertemu dengan istrinya Den Gio," jawab Mang Aan.
Setelah bekenalan, Gio langsung membawa Diandra ke kamar miliknya. Vila ini kadang disewakan pada orang-orang tertentu. Akan tetapi, hanya di lantai bawah saja. Uang sebanyak sendiri digunakan untuk perawatan vila itu sendiri.
Sedangkan seluruh kamar milik keluarga Gio ada di lantai dua. Mengingat seluruh keluarga Gio tidak suka jika ada orang lain yang mengusik milik mereka.
"Ini kamar kita. Gimana? kamu suka gak?" tanya Gio begitu mereka masuk ke dalam.
Ruangan yang tidak terlalu luas, hanya sekitar lima meter persegi itu, tampak indah dengan nuansa putih dan kayu. Salah satu dindingnya terbuat dari kaca tebal anti peluru, yang menghadap langsung pada balkon.
Diandra berjalan, lalu menyibak gorden berwarna putih bersih, hingga terlihat langsung pemandangan hutan lebat di belakangnya. Di halaman belakang, terlihat ada beberap hewan peliharaan, seperti berberbagai burung kicau dan kelinci.
Rumah ini hanya terlihat tradisional dari luar. Akan tetapi, sangat modern di dalam, walau desain klasik dengan banyak ornamen kayu yang mendominasi furnitur setiap ruangan.
"Itu milik siapa?" tanya Diandra, menunjuk kandang di halaman belakang.
"Punya kita, semua burung itu adalah koleksiku, sedangkan kelinci milik keponakanku waktu bermain ke sini. Awalnya kakakku hanya membeli sepasang. Tapi, karena mang Aan merawatnya dengan baik, sekarang sudah berkembang biak jadi banyak."
Gio menjelaskan, dia menatap Diandra yang tengah berdiri di sisi pagar balkon. Gio merasa gemas, ingin memeluknya dari belakang, menikmati suasana siang ini sambil mencium aroma tubuh Diandra mungkin akan menambah indah suasana.
Namun, lagi-lagi dia harus menahannya. Terlalu takut jika nanti Diandra sampai merajuk dan marah kepadanya.
Pandangan Gio kini beralih pada tangan Diandra yang asik memegang pagar besi, perlahan dia mendekat, ragu-ragu dia mencoba untuk menempelkan tangan mereka.
Diandra tidak menolak. Gio tersenyum, dia kemudian mulai menyentuh tangan istrinya.
__ADS_1
..................
Hayo mau ngapain lagi?ðŸ¤