
...Happy Reading ...
......................
Diandra sampai di depan lift saat pintu lift sudah hapir tertutup.
"Eh, tunggu-tunggu!" ujar Diandra sambil berjalan cepat.
Namun, sayang sekali sepertinya para karyawan yang lain tidak bisa mendengar teriakan Diandra, hingga pintu lift tertutup begitu saja.
Suasana pagi yang sibuk, dengan banyak karyawan yang baru saja datang, membuat lift selalu penuh. Hingga mungkin itu juga alasan orang-orang itu memilih meninggalkan Diandra.
Diandra pun akhirnya memilih untuk menunggu, hingga tiba-tiba dia mendengar langkah kakiĀ yang terasa familiar di telinganya.
Jangan bilang itu adalah dia? gumam Diandra dalam hati.
Kepalanya menoleh perlahan pada seseorang yang kini tengah berjalan menghampirinya, dengan senyum sumringahnya.
Ya ampun! Kenapa dia belum naik sih? batin Diandra sambil tersenyum paksa pada orang itu.
Diandra tampak mundur dua langkah untuk memberikan tempat di depannya pada orang itu. Akan tetapi, dengan santainya, orang itu malah berdiri di samping Diandra.
"Aku senang melihat kamu selamat sampai di sini, sayang," bisik Gio.
Ya, orang itu adalah Giovano pemilik perusahaan itu, sekaligus suami Diandra.
"Kok, kamu belum naik ke atas sih? Bukannya ada lift dari parkiran?" tanya Diandra dengan suara lirih.
"Aku sengaja ingin naik bersama kamu, sayang," jawab Gio, yang membuat Diandra menghembuskan napas panjang.
"Sudah sana, gak usah deket-deket, nanti orang-orang pada curiga," ujar Diandra, menjauh satu langkah ke pinggir dari suaminya, saat melihat ada karyawan lain yang datang.
Gio menatap melas pada istrinya, dia tidak bisa menahan diri untuk terus berada di dekat istrinya, jika ada Diandra di sekitarnya.
Diandra menatap tajam Gio saat suaminya itu ingin mengikutinya, hingga akhirnya Gio mengalah dan memilih untuk diam.
Pintu lift akhirnya terbuka, Gio dan Randi masuk lebih dulu, sedangkan Diandra dan para karyawan lainnya memilih untuk tetap diam di depan pintu.
Melihat Diandra tidak ikut masuk, Gio memberi isyarat pada Randi.
"Kalian sedang apa diam saja? Ayo, masuk," perintah Randi yang membuat para karyawan yang lainnya saling melirik, walau akhirnya mereka semua masuk ke dalam lift bersama-sama.
Tanpa sepengetahuan yang lain, Gio menarik tangan Diandra untuk berdiri di belakang, tepat di sampingnya. Ternyata suasana lift yang cukup panuh, membuat Gio bisa mencuri kesempatan agar lebih dekat dengan istrinya.
__ADS_1
Dengan mata waspada Gio perlahan mengulurkan tangannya, melingkar pada pinggang ramping istrinya yang berdiri tepat di sampingnya.
Diandra terperanjat, tubuhnya otomatis menegang saat merasakan tangan laki-laki di pinggangnya. Matanya melirik wajah suaminya untuk memastikan.
Gio hanya tersenyum saat Diandra menatapnya tajam, dia merasa senang karena walaupun sebentar, setidaknya dia bisa berdekatan dengan istrinya di dalam lift.
Lift terbuka di lantai tertinggi, Diandra langsung menyingkirkan tangan Gio yang masih setia menempel di pinggangnya. Dia kemudian berjalan menuju deretan kursi staf sekretaris Gio, di sana ada lima kursi khusus sekretaris yang dipimpin oleh Mely, sang kepala sekretaris. Mely juga yang akan berinteraksi dengan Gio, mewakili sekretaris lainnya.
Gio hanya tersenyum saat melihat Diandra dari belakang, dia tidak menyangka kalau istrinya itu terlihat begitu bersemangat untuk bekerja di kantornya.
"Kalau ada yang bertanya, bilang saja kalau Diandra adalah kerabatku," titah Gio pada Randi.
"Baik, Pak," jawab Randi cepat.
Gio dan Randi berjalan di belakang Diandra, melewati tempat istrinya yang sedang sibuk mencari meja, Gio menoleh sekilas sebelum masuk ke dalam ruangannya.
Diandra hanya bersikap acuh, dia malah sibuk mencari kursi tempatnya bekerja, hingga beberapa saat kemudian dia akhirnya menemukan kursi yang kososng.
"Anak baru, ya?" tanya salah satu perempuan yang pasti salah satu staf sekretaris di sana.
Diandra sedikit terperanjat mendapati seseorang yang bertanya padanya.
"Iya," jawab Diandra ramah, sambil membenarkan kacamatanya.
"Aku Dian," ujar Diandra, mengenalkan nama panggilannya sekaligus untuk samaran yang sudah dia bahas dengan Gio dan Randi pagi tadi.
"Hai, Dian. Perkenalkan aku Tia,karena sepertinya aku lebih tua dari kamu, jadi kamu boleh panggil aku, Mba Tia," ujar perempuan yang bernama Tia itu pada Diandra.
"Hehe, iya, Mba Tia, salam kenal juga," jawab Diandra, tersenyum lebar hingga memperlihatkan hampir semua gigi depannya.
Baguslah, baru hari pertama aku sudah mempunyai teman, itu akan memudahkan aku untuk menggali informasi, batin Diandra.
"Kalau boleh tau, Mba Tia, sudah kerja di sini berapa tahun?" tanya Diandra, mulai mencoba lebih akrab lagi.
"Aku udah di sini hampir empat tahunan, sejak direktur utamanya masih pelaksana, karena Pak Giovano belum siap menjabat," jelas Tia.
"Wah, lama juga ya, Mba. Berarti enak ya, Mba, kerja di sini?" tanya Diandra polos, menatap takjub wajah Tia.
"Yah, namanya juga orang butuh uang, Dian, gimana lagi. Karena hanya di sini yang mau memberiku gaji lumayan besar," jawab Tia lesu.
Diandra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, keduanya kini kembali bersiap di meja kerjanya masing-masing.
Belum sempat Diandra selesai, Mely terlihat datang dengan pakaian minim dan gayanya yang bagaikan model papan atas sedang melakukan peragaan busana.
__ADS_1
"Heh, siapa kamu? Ngapain kamu ada di sini?" tanya Mely sambil menggebrak meja di depan Diandra.
Diandra terperanjat, dia tampak mengernyitkan keningnya, sambil menatap wajah Mely. Tangannya bergerak membenarkan kacamata yang sedikit turun.
"Saya, staf sekretaris yang baru, Mba," jawab Diandra.
"Oh, jadi kamu staf baru itu," ujar Mely menatap Diandra dengan tatapan remeh, dia meneliti penampilan Diandra dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Iya, Mba," angguk Diandra.
"Hem, baiklah ... kalau begitu mulai sekarang kamu berada di dalam pengawsanku, dan aku tidak bisa mentolelir kesalahan sedikit pun. Aku tidak mau repot, kalau sampai Pak Gio kecewa dengan perkerjaan kamu," peringat Mely, sedikit mengancam Diandra.
"Ohya, satu lagi ... jangan coba-coba untuk tebar pesona pada Pak Gio, karena dia itu milikku. Tidak ada siapa pun yang mendekatinya selain aku. Apa lagi perempuan buruk rupa seperti kamu. Mengerti?!" ujar Mely lagi, nada suara menekan, penuh keangkuhan, juga hinaan di kata-katanya.
Sialan nih perempuan bikini! Kalau aja aku gak lagi menyamar udah aku comot tuh bibir! Berani-beraninya dia ngakuin suami aku sebagai miliknya di depan karyawan lain? Dasar wanita tidak tau malu! batin Diandra mengumpat Mely.
Diandra terdiam, dia hanya menganggukkan kepala samar sebagai jawaban, walau bisa dilihat dari tangannya yang mengepal kuat, perempuan itu sedang mencoba menahan amarahnya.
Jika biasanya Diandra akan acuh dan memilih meninggalkan para wanita bermulut besar seperti ini, kini dia juga tidak bisa menghindar, mengingat statusnya yang hanya seorang karyawan baru.
Gio yang sudah sampai di ruang kerja dengan aerphone masih terpasang di telinga, mendengar semua percakapan dengan Diandra dan karyawannya yang lain, dia sempat terdiam saat Mely berkata kasar pada istrinya.
"Ran, kamu ke luar, bilang pada semua karyawan kalau Diandra adalah kerabatku, agar mereka tidak bisa mengganggunya," titah Gio pada asistennya.
"Baik, Pak," jawab Randi, dia kemudian ke luar dari ruangan.
Mely yang masih sibuk dengan barang-barang tidak penting pun langsung berdiri, dia tidak menyangka kalau Randi sudah datang ke kantor.
"Selamat pagi, Pak Randi," sapa Mely ramah.
"Pagi," jawab Randi.
"Saya mau mengumumkan kalau pagi ini kalian mendapatkan tim kerja baru," sambung Randi lagi, sambil memberikan isyarat agar Diandra maju mendekat padanya.
Diandra yang mengerti isyarat itu pun langsung maju dan berdiri di samping Randi.
"Ini adalah Dian, staf sekretaris baru. Dia masuk melalui rekomendasi dari Pak Gio sendiri, sebagai kerabat jauh Pak Gio. Jadi, saya harap kalian semua bisa bekerja sama dengan baik bersamanya." Randi menjelaskan sesuai perintah dari Gio.
"Baik, Pak!" ujar semua orang yang ada di sana.
Maly yang baru saja berkata kasar pada Diandra langsung melebarkan matanya, saat dia tahu kalau Diandra adalah kerabat dekat Gio.
......................
__ADS_1