Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Kesepakatan


__ADS_3

...Happy Reading...


.......................


Suara ketukan pintu menyadarkan Diandra dari lamunannya. Diandra kembali membasuh wajahnya lalu menoleh ke arah pintu.


"Sayang, kamu di dalam?!" terdengar suara Gio yang memanggil Diandra.


"Heem!" Diandra melangkahkan kakinya, menuju pintu, lalu membukanya.


Gio yang ada di depan pintu langsung mendekati istrinya sambil memeriksa seluruh tubuh Diandra.


"Kamu, baik-baik saja kan?" tanya Gio, dengan wajah paniknya.


Diandra mengangguk samar sebagai jawaban. Ada rasa hangat di dalam hatinya yang menjalar semakin meluas pada sekujur tubuh, saat menerima perhatian dan kehangatan sikap Gio padanya.


Gio memapah Diandra, dengan tangan yang memegang kedua bahu istrinya dengan sangat hati-hati.


Diandra tidak menolak, dia mengikuti apa pun kemauan dari suaminya itu. Walaupun sekujur tubuhnya terasa kaku dan tegang.


Diandra sama sekali tidak terbiasa dengan semua perhatian ini, hingga tubuhnya pun merasa asing.


Tidak bisa dipungkiri, hatinya merasakan kenyamanan begitu mendapatkan perhatian lebih dari Gio.


"Kenapa gak panggil Yaya aja, biar dia bisa temenin kamu ke kamar mandi?" tanya Gio, lebih seperti seorang kakak yang sedang mengomeli adik bandelnya.


"Cuma ke kamar mandi aja, aku bisa sendiri kok," jawab Diandra, sedikit menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Gio.


Gio tersenyum tipis saat mendengar nada bicara Diandra yang tidak judes dan dingin seperti biasanya. Gio juga bisa meraskan tubuh istrinya yang terasa kaku dan gugup.


Diandra duduk di sisi ranjang, sedangkan Gio memilih menarik kursi dari meja rias istrinya.


"Kok makanannya gak dimakan ... kenapa?" tanya Gio, sambil duduk di depan Diandra.


"Belum," jawab Diandra, melirik sekilas makanan di atas nakas.


Belum? Berarti dia mau memakan makanannya dong. Gio tersenyum di dalam hati.


"Kalau gitu, aku siapin aja ya? Nanti gak enak kalau supnya udah dingin." Gio mengambil mangkuk sup dan bersiap untuk memberikan suapan pertama pada istrinya.


"Aku masih bisa sendiri," tolak Diandra, sambil meraih mangkuk di tangan Gio.


Namun, seperti biasa, Gio langsung menjauhkan mangkuk itu dari jangkauan tangan Diandra.


"Udah, kamu diem aja. Sekarang biar aku suapin." Gio mulai menyiapkan sup di sendok.


"Ayo buka mulutnya ... Aaaa ...." Gio mulai mendekatkan sendok di tangannya pada bibir Diandra.


Walaupun wajahnya tampak kesal, Dianda masih mau membuka mulut dan menerima suapan dari suaminya itu.


"Pinter." Gio tersenyum senang, melihat Diandra yang tidak menolak dirinya.


"Apaan sih! Emang aku anak kecil apa?" cebik Diandra.

__ADS_1


Gio terkekeh kecil, dia kembali menyodorkan sendok berisi sup pada bibir Diandra.


"Memang bukan. Tapi, kamu itu adalah istriku, jadi aku juga mempunyai hak untuk memperlakukan kamu seperti ini," ujar Gio, dengan senyum hangatnya.


Diandra mencebik, walaupun dia juga tidak menolak sup di tangan Gio.


"Tapi kan, tetap saja kamu harus bertanya padaku dulu. Memangnya kamu sudah yakin kalau aku akan senang diperlakukan seperti anak kecil begini?" tanya Diandra.


Gio kembali menempelkan sendok di depan bibir Diandra setelah mulut istrinya itu kosong, hingga Diandra terpaksa harus memakannya lagi.


"Setiap wanita sejatinya memiliki sifat manja. Hanya saja terkadang di dalam situasi tertentu, mereka lupa atau memang terpaksa harus melupakananya," jawab Gio, sambil menyodorkan satu suapan lagi ke depan Diandra.


"Ck! Sok tau!" Diandra mencebik, sambil melirik Gio kesal.


Gio terkekeh. "Tapi, benar kan?" ujarnya sambil mengerlingkan salah satu matanya.


Diandra memalingkan wajahnya saat rasanya dirinya tidak bisa lagi menahan senyumnya.


"Ayo, A lagi," ujar Gio, dengan senyumnya saat melihat wajah Diandra yang bersemu merah.


"Udah ah, aku kenyang," tolak Diandra.


"Ini tinggal sedikit lagi." Gio masih berusaha merayu Diandra untuk meneruskan makannya.


"Enggak, aku udah kenyang," jawab Diandra.


"Ya udah." Gio menyerah, dia kembali menaruh mangkuk yang masih berisi setengahnya lagi, di atas nakas.


Diandra hanya mengangguk sambil memperhatikan cara Gio merawatnya. "Katanya, kamu, ada pekerjaan, kok malah pulang?"


"Udah selesai ... makanya aku ada di sini sekarang," jawab Gio sambil mengulurkan obat pada istrinya.


Diandra pun langsung menerima dan meminumnya, dia mengembalikan kembali gelas di tangannya setelah air di dalamnya sudah tandas.


"Pintar," ujar Gio sambil menaruh kembali gelas di atas nakas.


"Kamu udah makan siang?" tanya Diandra.


"Sudah tadi di hotel, kebetulan orang yang aku temui mau sekalian makan siang," jawab Gio.


"Masih pusing sama mual gak?" tanya Gio, sambil mengecek suhu tubuh Diandra, dengan cara menempelkan punggung tangannya di kening istrinya.


"Enggak terlalu, cuman kalau agak lama berdiri, masih suka keleyengan," jawab Diandra.


Gio tersenyum sambil mengusap pun ak kepala Diandra. "Syukurlah," ucapnya sambil tersenyum.


"Sekarang kamu istirahat aja, aku mau naruh ini dulu di dapur," ujar Gio sambil membantu Diandra untuk bersandar di kepala ranjang.


Diandra kembali menuruti apa yang dilakukan oleh Gio, tanpa membantah sedikit pun. Tentu saja sikap Diandra membuat hati Gio semakin berbahagia.


Setelah memastikan Diandra nyaman, Gio pun ke luar dari kamar, dengan wajah yang berseri, dilengkapi oleh senyum yang tidak pernah luntur mewarnai.


Dia berjalan menuju dapur, saat ini hanya ada dirinya dan Diandra di rumah, karena Yaya sudah pulang ketika dirinya baru saja datang.

__ADS_1


Gio mencuci mangkuk dan gelas bekas Diandra, ingatannya kembali pada pertemuannya dengan Sujino beberapa saat yang lalu.


Flash back.


"Tenanglah, Tuan. Anda, tentu tau kalau ini biasa dilakukan dalam dunia bisnis," ujar Gio santai.


Sujino masih saja terkekeh, dia menganggukkan kepalanya. Sepertinya laki-laki paruh baya itu cukup tertarik dengan keberanian Gio.


"Ya, tentu saya tahu. Ngomong-ngomong, apa yang saya dapatkan jika saya tidak menghalangi, Anda, untuk menangkap Jonas?" tanya Sujino.


Sebelah bibir Gio tertarik lurus, dengan tatapan yang semakin tajam.


Ternyata yang namanya mafia sama saja, mereka tidak mau rugi ataupun membantu orang tanpa sebuah keuntungan. decak Gio di dalam hati.


"Saya, tidak bisa menjanjikan banyak hal. Tapi, saya dengan senang hati mau bekerja sama dengan, Anda, mengenai hotel yang ada di sini," ujar Gio, menerima penawaran.


"Hanya yang di sini? Bagaimana dengan perusahaan, Anda, di Jakarta?" tanya Sujino.


"Maaf. Tapi, untuk perusahaan ... kami sudah bekerjasama dengan orang lain," tolak Gio langsung.


"Namun, jika, Anda, menolak. Mungkin Saya tidak akan segan untuk melakukan cara kasar, dan itu akan menimbulkan lebih banyak korban nantinya." Gio sedikit memberikan ancaman.


Sujino tertawa, dia kembali menabrakan punggungnya pada sandaran kursi. "Anda, mengancam saya?"


"Ya! Saya bahkan tidak segan untuk menghancurkan seluruh kampung tempat, Anda, dan para istri, Anda, tinggal, jika, Anda, masih bersikeras membela anak buah, Anda," jawab Gio.


Sujino tersenyum sarkas walaupun akhirnya dia menganggukkan kepala. "Ya, baiklah. Anda, boleh melakukan apa pun pada ank buah saya."


Sujino berdiri sambil merapihkan bajunya yang terlihat sedikit kusut di bagian tertentu. "Saya tunggu surat kontrak kerja sama kita."


Gio ikut berdiri, dia kemudian mengulurkan tangannya untuk bersalaman, sebagai tanda kesepakatan di antara dua orang itu. "Secepatnya akan saya kirimkan kontrak kerja sama kita."


Gio tersenyum puas, saat Sujino pun menyambut uluran tangannya.


"Senang bekerja sama dengan, Anda," ujar Sujino.


"Tentu," jawab Gio.


Sujino melihat jam di pergelangan tangannya, saat dirinya hendak berpamitan.


"Sudah waktunya makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang bersama, sebagai tanda kerja sama kita?" Sujino memberi usul.


"Baiklah. Mari, silahkan." Gio langsung menyetujuinya.


Mereka pun akhirnya makan bersama di restoran yang ada di hotel milik Gio, sambil berbicang masalah pekerjaan.


Flash back off.


..........................


Setangguh dan sesukses apa pun seorang wanita, dia akan tetap mengharapkan perlakuan manis dan dimanjakan oleh pasangannya.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2