Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Keponakan?


__ADS_3

...Happy Reading ...


.....................


Diandra duduk santai dengan Bi Minah yang berada di depannya, dia berusaha tetap tenang, walau di dalam hati terasa ingin langsung memberondong berbagai pertanyaan pada wanita paruh baya itu.


"Bi, sebenarnya aku menyuruh Bibi ke sini bukan untuk membersihkan kamar," ujar Diandra mengawali pembicaraan.


Bi Minah tampak menatap Diandra dengan sorot mata was-was, bahkan Diandra bisa melihat tangan wanita paruh baya itu sedikit bergetar.


"Aku menyuruh, Bibi, ke sini karena ingin mendengar cerita sebenarnya dari, Bibi," sambung Diandra lagi.


Bi Minah semakin bingung, matanya terlihat goyah memikirkan apa yang harus dia katakan, saat Diandra lagi-lagi mencari kebenaran darinya.


"Bibi, gak perlu takut, apa pun yang terjadi pada Ana, itu tidak akan pernah mempengaruhi kasih sayangku padanya." Diandra berusaha meyakinkan Bi Minah.


"Begini, Neng. Sebenarnya saya tidak tau apa-apa. Kami hanya tau kalau Rani sedang dalam bahaya," jawab Bi Minah dengan suara bergetar.


Diandra menghela napas kasar, dia tahu kalau Bi Minah masih saja tidak mau mengatakan yang sebenarnya.


"Kalau Bibi tidak tau, lalu siapa yang tau semua ini selain Rani?" tanya Diandra.


"Gak ada, Neng," geleng Bi Minah.


Diandra terdiam, mencari cara lain untuk membujuk wanita paruh baya itu.


"Walaupun, Bibi, tidak tahu cerita keseluruhannya. Tapi, Bibi, pasti tahu siapa orang yang ingin menjelaskan Ana, atau siapa orang yang ingin diselamatkan oleh Ana?" Diandra terus mencoba memojokkan Bi Minah.


"S–saya ... mereka–" Bi Minah tampak ragu untuk berbicara.


"Mereka siapa, Bi?" kejar Diandra.


"Saya gak tau, Neng," geleng Bi Minah lagi.


"Astaga," geram Diandra.


"Saya, beneran gak tau mereka siapa, Neng. Yang saya tau mereka sedang menyekap anak Rani dan selalu mengancam akan membawanya pergi, jika Rani tidak menyerahkan diri," jelas Bi Minah.


"Jadi orang yang ingin Ana lindungi adalah anaknya?" tanya Diandra, dengan mata yang melebar.


"Benar, Neng. Dari yang Bibi dengar, sejak Rani melahirkan anaknya langsung dipisahkan darinya, dia bahkan tidak diizinkan untuk memberi ASI," jelas Bi Minah yang semakin membuat Diandra terkejut.


"Tapi, kenapa?!" tanya Diandra dengan emosi yang hampir memuncak.


Bisa-bisanya ada seseorang yang tega memisahkan seorang ibu dari anaknya. Apa dia tidak mempunyai perasaan sama sekali? Diandra tidak habis pikir dengan semua itu.


"S–saya tidak tau, Neng," geleng Bi Minah lagi.


Diandra mendesah, lagi-lagi Bi Minah mengelak dengan mengatakan tidak tahu.


"Bi, kalau saya tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana saya bisa membantu Ana, sedangkan kalian saja tidak mau mengatakan yang sejujurnya." Diandra mulai tidak sabar.

__ADS_1


Bi Minah terdiam, dia menatap wajah Diandra sekilas, lalu kembali menundukkan kepalanya.


"Bi, tolong bantu kami. Aku sudah lama mencari keberadaan Ana, dan di saat kami hampir bersama, kenapa semuanya terasa sulit untuk dilakukan. Orangtuaku dan adikku sangat mengkhawatirkannya, mereka selalu menunggu kedatangan Ana." Diandra mencoba mencari simpati dari Bi Minah.


Bi Minah tampak terdiam dia tidak langsung memberikan reaksi dengan apa yang dikatakan oleh Diandra, mungkin tengah berpikir mana jawaban apa yang akan dia berikan.


"Maaf, Neng. Tapi, saya tidak tau. Itu semua yang tau hanya Rani," jawab Bi Minah yang langsung membuat Diandra kembali kecewa.


"Baiklah, Bibi, boleh ke luar," ujar Diandra lesu.


Bi Minah tampak melihat wajah Diandra kembali, lalu bangun dari duduknya. "Saya permisi, Neng."


"Terima kasih, Bi." Diandra mengangguk.


Diandra memijat pangkal hidungnya, saat pintu kamar sudah tertutup rapat, rasanya semua ini begitu rumit untuk dia cari tahu sendiri. Mungkin memang dirinya harus bersabar dan menunggu Gio bisa mendapatkan sesuatu.


"Pantas saja dia bersikeras untuk tidak mengungkapkan jati dirinya, ternyata mereka menyekap anaknya," gumam Diandra, mengingat perkataan dari Bi Minah.


"Tapi, kalau Ana sudah berada di sini selama dua tahun dengan nama lain, lalu bagaimana nasib anaknya selama ini?" Diandra malah semakin bingung.


"Astaga, ini masih berupa benang kusut, belum ada satupun yang terurai. Semuanya masih penuh tanda tanya." Diandra meanbrakkan punggungnya pada sasaran kursi, dia terlihat lelah dengan semua urusan ini.


"Tunggu ... kalau itu adalah anaknya Ana, berarti aku beneran sudah punya keponakan? Mereka menyekap keponakanku?!" Diandra baru menyadari sesuatu ternyata, dia bahkan kembali menegakkan tubuhnya.


"Ya ampun, berani-beraninya mereka berbuat begitu? Awas saja kalau sampai ketemu, aku tidak akan pernah mengampuni mereka semua," geram Diandra.


Diandra kembali larut dalam pikirannya, dia bahkan tidak sadar kalau waktu makan siang sudah terlewat, hingga suara dering ponsel menyadarkannya dari semua pikiran yang terus berkelana.


Diandra melihat ponselnya yang tergeletak di atas meja, ternyata itu adalah panggilan video dari sang suami.


Diandra mengerutkan keningnya, dia sama sekali tidak mendengar ada notifikasi chat di ponselnya.


"Kamu, chat aku?" tanya Diandra bingung. Dia bisa melihat Gio sedang duduk di kursi kerja dengan kemeja yang sudah cukup berantakan, walau tidak pernah mengurangi ketampanannya.


"Iya. Bukannya tadi kamu mau aku kirimin foto waktu aku makan siang? Aku sudah kirim tadi," ujar Gio.


"Makan siang?" Diandra melihat jam dinding di kamarnya, matanya melebar saat melihat waktu sudah menunjukan pukul satu lebih.


Mati aku, kenapa sampai lupa makan siang, batin Diandra.


Tadi memang Bi Minah sempat mengingatkannya untuk makan siang. Akan tetapi, dia hanya bilangan kan turun sebentar lagi.


"Jangan bilang kamu belum makan siang, sayang?" tebak Gio. Dia sudah cukup tahu kebiasaan Diandra yang sering lupa makan.


"Hehe, maaf aku lupa," ujar Diandra dengan tawa canggungnya.


"Ya ampun, sayang. Kamu kan mempunyai asam lambung, gimana kalau sampai asam lambung kamu naik? Makan siang sekarang," ujar Gio, bagaikan seorang ibu yang sedang menyuruh anaknya makan.


"Iya, aku makan. Kalau gitu aku tutup dulu ya," ujar Diandra lesu.


"Gak usah ditutup, aku mau lihat kamu makan siang," jawab Gio.

__ADS_1


Diandra menghembuskan napas kasar, lalu beranjak ke luar dari kamar sambil tetap melakukan panggilan video dengan suaminya.


"Kamu kan harus kerja, jadi kita matikan saja panggilannya ya," ujar Diandra, dia merasa tidak nyaman dengan semua ini.


"Tidak bisa, sayang. Aku harus tetap melihat kamu makan, agar aku bisa tenang. Lagipula aku bisa bekerja sambil tetap melakukan panggilan video dengan kamu," ujar Gio, dia tampak mengambil salah satu berkas di meja lalu memeriksanya.


Diandra mendengus melihat Gio yang masih bisa bekerja dengan baik, walaupun sambil melakukan sambungan video dengannya.


Diandra mengatur ponselnya untuk bisa bersandar pada salah satu mangkuk di depannya, agar dirinya tidak perlu terus memegangnya.


Mengambil beberapa menu yang ternyata sudah disiapkan oleh Bi Minah, lalu mulai makan.


"Hari ini pulang jam berapa?" tanya Diandra di sela dirinya mengunyah makanan.


Gio tampak melihatnya sambil tersenyum. "Udah kangen ya?"


"Dih, geer. Aku cuman mau tau aja," kilah Diandra.


Gio terkekeh, diarinya sudah terbisa mendapati sikap Diandra dengan gengsinya yang tidak pernah mau terkalahkan. "Mungkin sore semuanya sudah beres."


Diandra mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya udah deh," ujarnya begitu saja.


"Cuman gitu?" tanya Gio sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Terus gimana lagi?" tanya Diandra.


Gio menghembuskan napas panjang. "Gak mau ngerayu aku gitu, biar aku cepat pulang?"


"Dih, itu mah maunya kamu," cebik Diandra.


"Iya, memang aku mau." Gio mengaku.


"Dasar playboy cap kodok!" ujar Diandra, sambil menolehkan wajahnya menghindari layar ponsel. Dia tidak mau kalau sampai tahu pipinya yang tampak tersipu.


Gio terdengar terkekeh kecil. "Tapi, kamu suka kan?" Sepertinya menggoda Diandra di sela pekerjaannya bukanlah hal yang buruk.


"Enggak tuh, siapa bilang?" kilah Diandra.


"Aku. Kan tadi aku yang bilang."


"Ck!" Diandra berdecak, sambil mengulum senyumnya.


Keduanya asik berbincang sambil menemani Diandra makan siang, hingga tanpa terasa nasi di piring pun sudah habis tanpa sisa.


Tanpa Diandra tahu, di depan Gio ada seseorang yang terus mengerutu mendengar kemesraan dirinya dan sang suami.


Ya, siapa lagi kalau bukan Randi. Laki-laki itu tenaga membantu Gio mengerjakan berkas dengan kuping yang terasa panas dengan semua perbincangan suami istri itu.


Dasar bucin, bisa-bisanya dia kerja sambil melakukan panggilan video seperti ini? batin Randi.


.....................

__ADS_1


Yuk mampir di karya teman aku😊



__ADS_2