Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Selamat pagi


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


Matahari pagi bersinar indah, memberikan kehangatan pada setiap makhluk hidup di dunia. Suasana temaram sebuah kamar, membuat seorang lelaki tersenyum senang, melihat pemandangan indah di depannya.


Gio menyanggah salah satu tangannya, agar bisa melihat jelas wajah sang istri yang masih terlelap. Tangan yang satunya lagi, perlahan terulur menyingkirkan rambut halus yang menghalangi wajah Diandra.


Diandra yang merasa terusik, malah semakin mendekatkan wajahnya pada dada bidang Gio, tentu saja semua itu malah membuat Gio semakin suka menggoda wajah Diandra.


Ujung jari Gio terus menelusuri garis wajah Diandra, mulai dari pelipis lalu turun ke pipi, dagu, lalu berhenti di bibir yang tampak sudah lebih berwarna dari kemarin, walaupun masih terlihat cukup kering.


Diara yang merasa terganggu oleh sikap Gio, mulai mulai mengerjapkan matanya. Dia yang masih belum sadar sepenuhnya, masih bersikap biasa saja.


Gio tersenyum, dia menahan kekehan yang hampir saja keluar, melihat bulu mata lentik istrinya tampak bergerak seiring dengan kelopak matanya yang berkedip.


Ditambah dengan kerutan halus yang tampak di kening Diandra, itu semua terlihat sangat lucu bagi laki-laki yang sedang di mabuk asmara itu.


Indahnya semua hal yang ada di dalam tubuhmu, sayang. Bahkan bulu mata pun, terlihat sempurna jika berada di wajahmu, batin Gio.


Diandra hampir saja membuka matanya lebar, saat dengan jahilnya Gio malah meniup bagian bulu mata istrinya, hingga Diandra refleks terpejam kembali.


Deg!


Jantung Diandra seolah langsung berhenti, saat wangi aroma mulut Gio tertangkap oleh indra penciumannya.


Ish, kenapa aku bisa ada dalam posisi seperti ini? Bukannya tadi malam aku memunggunginya ya? batin Diandra, merasa kesal sekaligus malu, karena posisi wajahnya saat ini, hampir saja menempel pada dada Gio.


Kesadaranya seakan dipaksa untuk segera pulih, agar dia bisa menyadari situasinya saat ini. Tangan Diandra refleks langsung menekan sesuatu yang ada di depan wajahnya, dia juga bisa merasakan kalau ada nafas hangat yang terus membelai halus anak rambut di keningnya.


Gio yang tahu kalau Diandra sudah mulai tersadar akan posisi mereka, langsung bersiap menerima serangan yang mungkin dilakukan oleh istrinya secara tiba-tiba.


Dengan gerakan cepat, Diandra langsung mendongak, hingga kini dirinya bisa melihat dengan jelas wajah tersenyum suaminya.


Cup!


Satu kecupan di bibir Diandra langsung mendarat, saat perempuan itu mendongakkan kepalanya.


"Pagi, sayang," ujar Gio dengan santai, dia sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang dilakukan kepada Diandra beberapa saat lalu.


Mata Diandra langsung melebar, dengan otak yang terasa kosong untuk beberapa detik awal, dia seakan lupa dengan apa yang ingin dia lakukan sebelumnya.

__ADS_1


Sepertinya memberi kejutan seperti ini memang ide yang bagus. Gio tersenyum senang melihat wajah Diandra yang tampak bingung oleh ulah jahilnya.


Bugh!


"Arrgh!"


Diandra langsung memukul dada Gio, saat kesadarannya sudah pulih kembali.


"Sakit, sayang. Sshh," desis Gio sambil mengusap bekas pukulan Diandra yang sebenarnya tidaklah sesakit itu.


Tidak lupa wajah memelas dan sedikit kebohongan dengan berpura-pura kesakitan.


"Syukurin!" ujar Diandra, sambil bersiap untuk bangun.


"Sakit beneran loh ini, sayang." Gio masih saja mencoba memelas pada sang istri, untuk mendapatkan perhatiannya.


"Ck, gak usah pura-pura, masa bekelahi sama preman bisa, kena pukulan segitu aja udah sakit," decak Diandra sambil membuka selimut, dan menurunkan kakinya ke sisi ranjang.


Namun, sebelum Diandra bisa menurunkan semua kakinya secara sempurna, Gio langsung menarik kembali tubuh Diandra, hingga akhirnya mendarat tepat di atas perutnya.


"Gio!" Diandra berteriak, saat dirinya terkejut dengan tarikan dari tangan Gio.


"Aku di sini, sayang."


"Gio, lepas gak?" geram Diandra, dengan keadaan tidur terlentang berantalkan perut Gio, sedangkan lengan Gio berada di dean perutnya, menjaganya agar tidak kembali terbangun.


"Gak semudah itu, sayang," jawab Gio.


"Ini udah siang, aku gak enak sama mama dan Gita." Diandra mencoba mencari alasan, sedangkan kedua tanganya berusaha melepaskan tangan Gio yang masih melingkar erat di perutnya.


"Gak apa-apa, mereka pasti mengerti kok, namanya juga pengantin baru," ujar Gio, membuat Diandra langsung melebarkan matanya.


"Apa maksud, kamu?!" Diandra langsung berujar panik, dia pun menoleh cepat pada wajah Gio.


"Gak ada. Kan memang di mata orang kita ini pengantin baru," jawab Gio, saat dirinya sadar sudah mengatakan sesuatu yang belum siap Diandra dengar.


"Ya udah, sana mandi duluan,a ku mau lihat ke luar dulu," sambung Gio lagi sambil melepas tangannya di perut Diandra.


Diandra pun langsung bangun dan pergi ke kamar mandi, dia juga merasa canggung saat Gio mengatakan kata pengantin baru.


Dalam hatinya terasa ada yang tercubit, ketika Gio mengatakan itu, dia merasa brsalah dengan keadaan rumah tangganya saat ini.

__ADS_1


Selepas kepergian Diandra, Gio langsung menghembuskan napasnya kasar.


Astaga kenapa sampai kelepasan gitu sih? Pasti dia sekarang lagi memikirkan kata-kataku tadi.


Gio mengacak rambutnya, merasa kesal pada dirinya sendiri, yang tidak bisa menahan perasaannya di depan sang istri.


Gio pun beranjak dari tempat tidur, lalu ke luar kamar. Dia mencari keberadaan Hana dan Gita, juga Randi yang belum dia lihat sejak tadi malam.


"Gio, kamu usah bangun? Dian mana?" tanya Hana yang sedang menata sarapan di meja makan, dibantu dengan Bi Jui.


"Dian lagi mandi, Mah. Mamah, kapan mau berangkat?" tanya Gio, sambil duduk di kursi.


"Setelah sarapan, mama langsung ke bandara," jawab Hana.


Ya, kali ini Hana dan Gita lebih memilih menyewa pesawat pribadi untuk pulang dari daerah itu. Mereka tentu tidak mau, kembali harus menempuh perjalanan melelahkan seperti waktu mereka datang.


Gio menenggak hanis air putih yang diambilkan oleh Bi Jui, lalu kembali berdiri.


"Ya udah, aku panggil Dian dulu, sekalian mau mandi," ujar Gio, yang langsung diangguki oleh Hana.


"Pagi, Kak!" sapa Gita yang berpapasan dengan Gio.


"Pagi, cantik. Wah, kayaknya ada yang seneng banget nih mau ninggalin kakaknya?" ujar Gio menggoda Gita yang tampak sudah siap untuk pergi.


"Iya dong, ngapain juga aku-lama-lama di sini? Mau jadi obat nyamuk buat pengantin baru!" cebik Gita, yang membuat Gio terkekeh.


"Ya, memang sebaiknya, kamu, pulang saja," jawab Gio, malah membenarkan perkataan Gita.


"Ish, dasar nyebelin! Bilang aja kalau, Kakak, gak mau diganggu."


"Emang bener!"


"Ck, awas aja kalau lupa bawa pulang Kak Dian ke Jakarta, nanti aku bilangin sama Kak Erika, biar dia marahin, Kakak," ujar Gita sedikit mengancam.


"Iya, nanti pasti Kakak, bawa Kak Dian pulang," ujar Gio sambil mengacak rambut Gita, lalu berjalan menuju kamarnya kembali.


Tanpa mereka tahu, Diandra yang berada di belakang pintu, mendengar semua yang dikatakan oleh kakak beradik itu, hatinya kembali terasa peerih, mengingat semua itu memang salah dirinya yang belum bisa menerima Gio, sebagai suaminya.


Saat mendengar suara langkah kaki Gio yang semakin mendekat, Diandra langsung berpura-pura duduk di meja rias.


...................

__ADS_1


Cinta dan kasih sayang, adalah sesuatu yang misterius, kadang kita bahkan tidak menyadari kapan dia datang dan kapan dia pergi, juga sebab karenanya.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2