
...Happy Reading ...
......................
Setelah melakukan pemeriksaan, Diandra langsung berangkat ke kantor, sedangkan Gita pun pergi ke kampus, mereka berpisah di rumah sakit.
Awalnya Erika, Mama Hana, dan Gita, melarang Diandra untuk bekerja lagi di kantor, mereka semua khawatir kalau nanti Diandra kecapean. Akan tetapi, Diandra yang merasa belum menyelesaikan pekerjaannya terus memberikan alasan agar diizinkan bekerja setidaknya sampai misinya selesai.
Karena selama ini tidak ada yang terjadi selama kehamilan, ditambah menurut pemeriksaan dokter, ibu dan janin sehat, maka tidak ada alasan untuk Mama Hana, Erika, dan Gita, untuk melarang Diandra bekerja, dengan syarat dia harus berjanji menjaga diri baik-baik.
"Kamu pikir ini perusahaan keluarga kamu, hah? Kemarin pulang seenaknya, sekarang datang juga terlambat. Niat kerja gak sih!" sentak Mely begitu Diandra sampai di ruang sekretaris.
Dih, emang ini perusahaan suamiku, wanita bikini! batin Diandra, menjawab perkataan sarakas Mely.
"Jangan mentang-mentang Pak Giovano dan Pak Randi sedang tidak ada di kantor, kamu juga jadi kurang ajar begini, ya!" sambungnya lagi, memaki Diandra di hadapan para staf sekretaris yang lain.
Diandra berdiri santai sambil bersidekap dada, dia menatap Mely yang tengah memarahinya dengan sorot mata dingin tanpa ekspresi. Ingin rasanya dia tertawa saat mendengar perkataan Mely.
Hem, kira-kira kalau ada Gio dan Randi, apa mereka akan memakiku seperti ini juga? Tentu tidak dong, wanita bikini. Kamu bahkan tidak tau kalau mungkin mereka akan melarangku bekerja, batin Diandra.
"Sudah?" hanya itu yang ke luar dari mulut Diandra.
Mely tampak terkejut, kini Diandra benar-benar sudah berani melawannya. Bahkan sudah tidak ada lagi rasa takut ataupun malu di wajah Diandra, walaupun dia memaki perempuan itu di depan rekan kerjanya seperti ini.
"Kalau sudah aku permisi, mau duduk di kursi kerjaku," ujar Diandra lagi saat dia tidak mendengar jawaban dari Mely.
Melangkah maju tanpa memperdulikan Mely yang sedang menatapnya penuh kebencian, dia duduk santai di meja kerja kemudian bersiap untuk memulai pekerjaannya.
Dasar perempuan cupu! batin Mely menghardik Diandra.
Mely mengepalkan kedua tangannya menahan amarah dan rasa malu saat kemarahannya tidak ditanggapi oleh Diandra. Kekesalannya kembali bertambah saat melihat para staf yang lain tampak menahan senyum, seolah sedang menertawakannya.
"Awas saja kamu ...." Dengan gerakan kasar dia membawa berkas yang menumpuk di meja kerjanya, lalu berjalan menuju ke meja kerja Diandra.
Brak! Suara tumpukan kertas yang dibanting ke atas meja terdengar nyaring, hingga mengejutkan para staf karyawan lain, yang ada di sana.
"Kerjakan semua berkas ini!" titah Mely dengan napas yang memburu.
Diandra masih menatap Mely santai, pekerjaannya yang kemarin saja belum selesai, dan sekarang dia sudah diberi tugas tambahan yang jauh lebih banyak dari pekerjaannya di hari-hari sebelumnya.
"Ini bukannya pekerjaan kamu, Mba?" tanya Diandra dengan kerutan dalam di keningnya.
"Ini semua adalah hukuman untuk kamu karena sudah datang terlambat!" jelas Mely masih dengan nada suara yang kencang.
"Aku akan menerima hukuman yang pantas aku terima. Tapi, tidak jika itu hanya sebagai akal-akalan kamu untuk melimpahkan pekerjaanmu padaku!" debat Diandra. Nada suaranya tidak terlalu tinggi, hanya saja menekan di setiap kata.
"Kamu! Gak usah banyak alasan untuk menolak hukuman! Pokoknya kerjakan semua berkas ini, atau aku laporkan ke Pak Giovano!" sentak Mely, menunjuk Diandra tepat di wajahnya.
"Laporkan saja," jawab Diandra sambil bersiap bekerja kembali.
Paling mereka malah memecat kamu dari sini, kalau mereka tau apa yang kamu lakukan sekarang, batin Diandra.
"Awas kamu, Dian! Kamu belum tau siapa aku," desis Mely dengan wajah memerah dan pandangan tajam.
Diandra hanya melirik sekilas tanpa mau menanggapi, dia kemudian beralih pada komputernya yang sudah menyala dengan sempurna.
Pagi sampai siang, Diandra disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk, sedangkan Mely sudah pergi meninggalkan kantor sejak pukul sepuluh. Sepertinya tugas dari Gio untuk memantau pekerjaan di proyek yang ditangani oleh Eric benar-benar cukup menguras waktu Mely, hingga perempuan itu bahkan tidak sempat mengerjakan pekerjaan utamanya.
__ADS_1
Walau begitu tidak ada rasa kasihan di hati Diandra untuk Mely, dia sama sekali tidak tertarik untuk mengerjakan hukuman yang sudah diberikan oleh Mely padanya.
Sementara itu Mely dan Pak Handoyo sudah sampai di tempat proyek yang berada di bawah pengawasan Eric.
"Papi, memang kita harus ke sini? Di sini panas, kotor ... iyuh!" keluh Mely sebelum turun dari mobilnya.
"Kamu mau dipecat dari perusahaan, hah? Papi sudah susah payah menempatkan kamu di jabatan ini sekarang! Kamu tau?!" Pak Handoyo tampak menatap kesal putrinya.
"Ayo turun, gak usah banyak ngeluh!" sambung Pak Handoyo lagi, sambil ke luar dari mobil lebih dahulu, meninggalkan Mely yang masih saja ragu untuk ke luar.
Ish, ini semua pasti gara-gara suami Sintia yang gak becus kerja. Dasar menyusahkan saja! batin Mely, dengan terpaksa dia pun akhirnya turun dari mobil, keduanya tampak berjalan dengan Mely yang terlihat kesulitan.
Beberapa saat berjalan mereka sudah bertemu dengan seseorang yang berkuasa atas proyek ini, siapa lagi kalau bukan Eric, orang yang telah membuat mereka terancam dipecat dari kantor, karena korupsinya tidak tertata dengan rapi.
"Om, Mely, kenapa kalian tiba-tiba ngajak aku ketemuan di sini?" tanya Eric saat mereka baru saja bertemu.
"Ini bukan kemauanku, ini semua adalah tugas langsung yang diberikan Pak Giovano kepadaku dan Mely, untuk mengawasi pekerjaan kamu di sini," jawab Pak Handoyo.
"Loh, sejak kapan Pak Giovano akan turun tangan langsung di dalam pekerjaan seperti ini?" tanya Eric dengan kening berkerut.
"Sepertinya selama ini kita terlalu meremehkan pak Giovano, karena dia yang baru saja mau terjun langsung mengelola perusahaan," keluh Pak Handoyo.
"Apa, maksudnya, Om?" tanya Eric masih belum mengerti dengan pembicaraan Pak Handoyo.
"Sepertinya dia sudah mencurigai kita," jawab Pak Handoyo.
"Hah, kenapa bisa begitu, Om?" Eric terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Pak Handoyo.
"Ini semua pasti karena kamu membuat laporannya kurang rapi, makanya dia sampai mengetahui apa yang kita lakukan di perusahaannya," tekan Pak Handoyo, menatap tajam Eric.
"Tapi, aku sudah melakukannya seperti biasa, Om. Selama ini bukannya kita tidak pernah ketahuan," debat Eric, tidak terima dengan tuduhan Pak Handoyo padanya. Dian merasa sudah melakukan semuanya secara sempurna tanpa ada celah sedikit pun.
"Sepertinya untuk sekarang ini kita biarkan dulu semuanya, kamu bereskan semua yang telah kamu kacaukan, kembalikan dana yang sudah diambil dari proyek ini, setidaknya sampai pak Giovano tidak lagi mencurigai kita," ujar Pak Handoyo, memberikan solusi.
"Tapi, Om–" Eric tampak ragu untuk meneruskan perkataannya.
"Ada apa lagi, hah? Jangan bilang kamu sudah menghabiskan uang itu?!" tanya Pak Handoyo dengan nada prustasi.
"Bukannya selama ini aku selalu bilang, jangan dulu memakai uang yang kita ambil, sebelum proyek selesai, agar kita bisa berjaga-jaga jika ada kejadian seperti ini, hah?!" sentak Pak Handoyo menatap tajam wajah Eric.
"Maafkan aku, Om. Aku terlena karena selama ini tidak pernah ada maslah." Eric menunduk dalam.
"Dasar tikus sialan! Bukan begini cara kerja yang aku ajarkan, brengsek! Sekarang aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mengembalikan semua dana yang sudah kamu ambil dari proyek ini!" sentak Pak Handoyo, menatap kesal wajah Eric di depannya.
Saat ini karir kerjanya yang sudah mapan dan menghasilkan banyak uang, sedang terancam, hanya karena kesalahan dari satu tikus yang dia didik sendiri. Ah, rasanya dia stres sekali kali ini.
Berbeda dengan Pak Handoyo yang sedang memaki Eric, Mely malah sibuk dengan sepatunya yang sudah terlanjur kotor oleh tanah merah yang dia injak untuk mencapai tempat mereka duduk sekarang.
Ditambah dengan mengeluhkan tempatnya duduk sekarang yang tempat tidak terlalu bersih, karena memang ini hanya sebuah tempat peristirahatan tukang dan mandor.
"Ish, mimpi apa aku semalam, bisa datang ke tempat seperti ini? Iyuh, menjijikan!" keluh Mely sambil meringis melihat tempat itu dengan tatapan jijik.
Sementara itu Diandra yang sedang sibuk mengerjakan berkas yang menumpuk di meja, tampak menyeringai, mendengar percakapan Mely, Eric, dan Pak Handoyo, dari earphone yang dia pasang di telinga.
"Ah, pekerjaanku akhirnya sudah selesai juga, sekarang giliran pertunjukan terakhir saja," ujar Diandra sambil meregangkan tubuhnya yang terasa sedikit pegal.
"Makan siang bareng, yuk," ajak Tia dan teman-teman sesama staf sekretaris yang lain.
__ADS_1
"Aku gak ikut deh," ujar Diandra sambil memperlihatkan tas bekal yang tadi sudah disiapkan oleh Mama mertuanya.
"Eh, tumben kamu bawa bekal, Dian?" tanya Tia merasa heran, karena selama ini Diandra tidak pernah membawa bekal dari rumah.
"Iya, lagi mau ngirit aja, hehe," ujar Diandra mencari alasan.
"Oh, ya udah, kita duluan, ya," pamit Tia yang langsung diangguki oleh Diandra.
Setelah melihat para teman sesama staf sekretaris ke luar, Diandra bersiap untuk membuka kotak bekal yang sudah disiapkan oleh Mama Hana.
Namun, belum sempat Diandra membukanya, tiba-tiba suara dering ponselnya terdengar, membuat dia mengalihkan pandangannya. Nama Mama Hana pun terlihat di layar ponselnya.
"Halo, Mah," sapa Diandra begitu menerima panggilan dari ibu mertuanya itu.
"Dian, jangan lupa makan siang, terus minum vitamin yang kamu dapat dari dokter tadi pagi," ujar Mama Hana langsung dari seberang sana.
"Iya, Mah. Ini aku baru aja mau makan bekal dari Mama," jawab Diandra sambil tersenyum senang.
"Ya sudah, kamu makan siang dulu. Ingat, jangan telalu capek kerjanya, istirahat aja di ruangan Gio kalau kamu udah ngerasa capek, ya," ujar Mama Hana lagi.
"Iya, Mah," jawab Diandra.
"Ya sudah, Mama tutup teleponnya," ujar Mama Hana, dan sambungan telepon pun terputus begitu saja.
Belum sempat Diandra menyimpan ponselnya, kini panggilan kembali terlihat di layar ponselnya. Sebuah panggilan video dari sang suami yang telihat.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu." Diandra tersenyum saat melihat wajah suaminya di dalam layar ponselnya.
"Kamu masih di kantor? Bukannya sekarang sudah waktunya istirahat? Kenapa kamu gak makan siang, hem?" cerocos Gio dengan berbagai pertanyaan.
"Ini, aku mau makan siang," jawab Diandra sambil memperlihatkan kotak bekal di tangannya.
"Eh, kok kamu bawa bekal sekarang?" tanya Gio, merasa heran.
"Ini buatan, Mama," jawab Diandra sambil meletakkan ponselnya di depan kemudian membuka kotak bekal yang sudah disiapkan oleh Mama Hana.
"Ih, kok Mama gitu sih, aku aja yang anak kandungnya terakhir dapat bekal pas sekolah SD," gerutu Gio.
"Aku kan menantu kesayangan Mama," jawab Diandra bangga, sambil mulai menyuapkan makan siang buatan Mama Hana.
"Heum, makanan buatan Mama memang enak!" sambung Diandra lagi, sambil tersenyum senang.
"Ish." Gio berdecak kesal, membuat Diandra terkekeh.
"Kamu udah makan siang?" tanya Diandra, dia tahu kalau di negara S sudah lewat waktu makan siang.
"Sudah, sayang. Tadi sambil rapat dengan relasi. Ini baru mau pulang ke hotel, sebelum nanti sore harus bertemu dengan beberapa orang lagi," jawab Gio.
Siang itu, Diandra makan siang dengan ditemani oleh Gio melalui sambungan panggilan video. Mereka bercengkrama berdua, hingga akhirnya Diandra memutuskan panggilan mereka saat para staf sekretaris yang lain sudah kembali dari makan siangnya.
Gio bahkan tidak curiga saat Diandra dengan lahapnya memakan buah mangga indramayu yang masih terlihat kuning pucat, hingga terdengar suara renyah saat dikunyah.
Dia hanya bertanya, 'apa itu tidak asam?' lalu dijawab oleh Diandra 'Enak, seger ... asem manis. Tampaknya Gio tidak mengerti dengan kebiasaan orang ngidam atau apa pun itu mengenai kehamilan.
Tentu saja semua itu malah membuat Diandra senang, karena rencananya untuk memberitahu Gio tentang kabar bahagia ini saat keduanya bertemu di negara S akan berjalan dengan lancar.
......................
__ADS_1
Senangnya yang lagi hamil😊😊