
...Happy Reading...
......................
"Apa? Apanya yang gak gratis?" tanya Diandra.
"Kamu harus masakin aku makan siang, gimana?" tanya Gio.
Diandra berdecak pelan.
"A–aku gak bisa masak," jawabnya pelan.
Gio mengerutkan keningnya. "Kamu gak bisa masak?"
Diandra mengangguk ragu.
"Sebenarnya dulu aku bisa memasak makanan sederhana. Tapi, karena selama di sini aku selalu makan di luar, jadi semuanya lupa," jawab Diandra, sambil meringis malu.
"Lagian apanya yang gak gratis? Ini kan rumah aku!" debat Diandra sambil menegakkan tubuhnya, pertanda protes pada Gio.
"Tapi, aku harus menyuruh Randi menyiapkan barang-barangku di rumah. Lagian laptop dan berkas kamu juga ada di rumahku," dalih Gio memberikan alasan.
Diandra baru ingat kalau selama ini dia bekerja dari rumah Gio, hingga hampir semua berkas kerja baru-baru ini berada di rumah Gio.
Diandra menghembuskan napas kasar. Niat hati mau menikmati waktu di rumah sebelum harus pergi ke Bandung. Sepertinya harus terganggu oleh suaminya itu. Dia bahkan sudah berencana untuk melihat matahari tenggelam di pinggir pantai sore nanti.
"Terus gimana dong, aku beneran gak bisa masak," ujar Diandra.
Dalam hati dia berharap agar Gio tidak jadi menyuruhnya untuk memasak makan siang.
Gio tampak terdiam sebentar.
"Gimana kalau kita masak bareng?" ujar Gio.
"Nanti aku ajarin kamu masak," sambung Gio.
Diandra memutar bola matanya, dia malas untuk melakukan itu semua, dia hanya ingin melepas rindu dengan rumahnya.
"Terserah," ujarnya sambil beranjak dan melangkah menuju kamar.
Gio tersenyum dia kemudian menyusul Diandra ke kamar.
Ya, satu lagi perubahan Diandra yang membuat Gio senang. Kini Diandra bersikap lebih lembut dan tidak lagi membenci Gio.
.
.
"Ayo, sudah saatnya kita memasak untuk makan siang," ujar Gio, begitu dia masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Diandra yang sedang duduk di meja kerja dengan ponsel di tangannya, langsung berbalik sambil melihat Gio.
"Apa sih, ngagetin aja," jawab Diandra, menatap Gio tidak suka.
Gio mengerutkan keningnya, dia tidak merasa mengagetkan istrinya. Bahkan dia sempat mengetuk pintu dulu sebelum masuk.
"Ngagetin gimana? Aku ketuk pintu dulu sebelum masuk," tanya Gio.
Mata Diandra tampak bergerak gelisah, mencari alasan atau bahkan pembenaran untuk perkataannya. Pasalnya sebenarnya memang Diandra tidak mendengar suara ketukkan pintu Gio.
"Ya–, pokoknya kamu ngagetin aku," ujar Diandra gak mau kalah.
"Ooh, ya udah kalau gitu aku minta maaf." Gio melangkah mendekati Diandra.
Diandra kembali berbalik menghadap ke jendela, menyembunyikan senyumnya dari Gio. Ya, ada rasa senang saat dirinya bisa memenangkan satu perdebatan dengan Gio.
Melihat Gio yang mau mengalah, selalu membuat hatinya menghangat, dan merasa lebih disayangi.
Ya, bila dilihat, entah siapa sebenarnya yang bersikap kekanakan? Tampaknya keduanya juga sama, hanya berbeda dari cara mencari perhatiannya saja.
Kalau Gio mencari perhatian secara terang-tegangan menggoda dan meminta dimanja oleh Diandra. Sedangkan perempuan itu, lebih suka mengungkapkan perhatiannya dengan cara merajuk dan berdebat.
"Lagi ngapain sih, kok kayaknya serius banget," tanya Gio, dengan kedua tangan memegang meja kerja Diandra, hingga posisinya saat ini seperti sedang mengungkung Diandra.
Diandra sedikit membungkuk saat tubuhnya terdorong dada Gio. Jantungnya kembali bertalu, tanpa bisa dikendalikan olehnya.
"Awas ih, sempit tau," ujar Diandra sedikit mendorong dada Gio menggunakan kepalanya.
"Aku cuman mau lihat apa yang sedang kamu lakukan," jawab Gio, tanpa bergeser sedikit pun. Dia malah semakin mendesak Diandra hingga tubuh keduanya semakin menempel.
"Ish. Aku cuman lagi melihat beberapa berkas kerja saja," jawab Diandra.
Gio sama sekali tidak melihat ada berkas yang berantakan, semuanya masih tampak rapi seperti sebelumnya.
"Benarkah?" tanya Gio memastikan.
"Iya. Udah, cepetan awas ih, aku sesak nih," ujar Diandra.
Ya, berada di posisi yang sangat intim seperti ini dengan Gio, membuat dadanya terasa sesak.
Gio akhirnya kembali berdiri tegak. Diandra tampak menghirup napas dalam lalu mengehmbuskannya kasar. Dia bahkan melakukan itu berulang kali.
"Yuk ke dapur," ajak Gio lagi.
"Hah?! Ngapain?" tanya Diandra, merasa enggan untuk mengikuti suaminya.
"Masak lah, kan sebentar lagi waktunya makan siang," jawab Gio.
"Masak?" Diandra tampak mengerutkan keningnya. Malas sekali rasanya harus berkutat di dapur.
__ADS_1
"Iya. Kan kamu sudah janji mau masak makan siang bareng. Atau kamu mau kita gak jadi nginep di sini?" Gio memberikan sedikit ancaman.
Diandra mendesah kesal, dia menatap Gio malas.
"Gak usah itu deh, aku beneran gak bisa masak," tawar Diandra.
"Makanya kita masak bareng, biar kamu bisa sekalian belajar. Masa kakaknya chef restoran gak bisa masak?" ejek Gio, menaikturunkan alisnya.
"Ish." Diandra masih enggan.
"Ayo," ajak Gio, smabil menarik tangan Diandra agar berdiri.
"Aku gak suka masak," protes Diandra, berusaha melepaskan tangan yang dicekal Gio.
Gio menyeringai, dia kemudian menarik tubuh Diandra lebih kencang dan mendesaknya di tembok dekat pintu kamar, Gio kembali mengungkung Diandra dengan posisi yang lebih intim dari sebelumnya.
"Atau, gimana kalau kamu saja yang menjadi makan siangku?" tanya Gio.
Diandra mematung, dia menempelkan seluruh tubuhnya ke tembok kamarnya, berusaha menjauh dari Gio yang terus mendesaknya, bahkan kini wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter lagi.
"A–apa maksud kamu? K–kamu mau bunuh aku?" tanya Diandra terbata. Ternyata otak cerdas Diandra yang bisa memajukan hotel Lembayung, tidak bisa bekerja sama sekali kalau masalah seperti itu.
Seringai di wajah Gio semakin dalam, dia menahan tawanya saat melihat wajah polos bercampur takut Diandra.
Gio tidak menjawab, dia hanya melihat Diandra dengan tatapan yang semakin dalam. Ujung jarinya, mengusap halus pipi Diandra, dan berjalan terus menuju ke leher.
Diandra meremang, mendapati gerakan halus nan menggoda Gio. Pikirannya yang tadi kosong, sekarang tiba-tiba saja mengerti apa arti dari kata 'makan' yang Gio sebutkan.
Matanya kemudian melebar, dia membalas tatapan Gio yang terasa mengajaknya untuk tenggelam bersamanya.
Saat Diandra merasakan tubuhnya semakin terhimpit, Dia langsung menurunkan tubuhnya untuk terlepas dari Gio, meloloskan diri dengan bergesar di bawah tangan Gio yang mengungkungnya.
"Ayo, masak!" ujarnya sambil berlari ke luar kamar.
Gio terkekeh, kemudian mendesah ringan. Ternyata sosok Diandra yang terkenal dingin dan angkuh, masih sangat polos bila soal hubungan suami istri.
Dia kemudian melangkah ke luar, menyusul istrinya yang sudah tidak terlihat lagi.
Yaya sudah pulang beberapa saat yang lalu, hingga kini di rumah itu hanya ada mereka berdua.
Hingga Gio bebas menggoda Diandra tanpa takut ketahuan orang lain seperti di rumahnya. Dia sudah membayangkan bagaimana keduanya akan memasak bersama.
Bahkan dia sudah merencanakan akan menggoda Diandra seperti apa selama mereka memasak. Berjalan penuh semangat menuju dapur di mana istrinya berada.
......................
Izin promosi ya, semuanya😊
__ADS_1