Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Dijual?


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


"Diandra?" gumam Gio dengan suara tertahan.


Tunggu ... sepertinya otaknya masih belum berjalan dengan benar, karena terlebih dulu terkejut dengan apa yang dia pikirkan.


"Salah, dia Rani. Bukan Diandra," geleng Gio kemudian.


Postur tubuh Rani sedikit lebih tinggi dari pada Diandra, mungkin hanya satu atau dua centimetar. Akan tetapi, mata Gio yang jeli masih bisa membedakan istrinya sendiri dan saudara kembarnya.


"Ish, kenapa aku bisa salah ngomong gini? Jelas-jelas ini bukan istriku," sungut Gio kesal.


Dia yang sudah terlanjur menekan tombol pause kini mulai memutar kembali video tersebut. Matanya terus menatap tajam, menelisik setiap detail yang tertangkap oleh kamera.


Terlihat Rani tengah berjalan bersama beberapa orang laki-laki kekar, di depannya tampak seorang perempuan berpenampilan sek*i tampak berjalan dengan langkah angkuh.


Gio tahu siapa itu, dia adalah salah satu temannya saat masih menjadi pecandu. Dia adalah wanita yang menjadi primadona di club malam tersebut.


"Sedang apa dia bersama Cleo?" gumam Gio dengan kening bertaut dalam.


Dia langsung mematikan video itu lalu beralih pada ponsel yang sejak tadi dibiarkan tergeletak di atas meja. Mencari nomor ponsel sang asisten untuk meminta penjelasan.


Beberapa saat kemudian sambungan telepon pun terhubung dengan suara Randi di seberang sana.


"Kamu sudah melihat video yang aku kirimkan?" tanya Randi, sedangkan tahu apa yang ingin Gio tanyakan.


"Jelaskan, apa yang terjadi saat itu? Kenapa dia bisa bersama Cleo?" tanya Gio langsung.


"Dari yang aku dapatkan, Rani atau Ana dijual oleh seseorang, kepada Zack saat dia masih hamil besar. Video yang aku kirimkan adalah ketika Ana atau Rani baru saja ke luar dari rumah sakit," jelas Randi dari seberang sana.


"Dijual? Kamu tau siapa yang menjual Rani pada Zack?" selidik Gio.


Zack adalah orang yang mempunyai club malam tersebut, sekaligus pengedar narkoba. Dia juga sering kali membeli wanita untuk dijadikan pelac*r di club miliknya.


"Sorry, untuk masalah itu Cleo gak mau memberitahu kalau bukan kamu sendiri yang bertanya," jawab Randi dengan nada lemas.


"Sial!" Refleks Gio mengumpat.


Sejak dulu Cleo sangat menyukainya, wanita itu selalu menggodanya walau dia tahu kalau Gio sudah mempunyai pacar waktu itu. Dia bahkan sempat menawarkan tubuhnya sendiri kepada Gio.

__ADS_1


Namun, Gio bukanlah seorang pria yang asal dalam memilih wanita untunya, walau hanya untuk satu malam. Dia tahu kalau Cleo memiliki niat terselubung di balik segala rayuannya.


Cleo sangat terobsesi untuk menjadi istri Gio, dia bahkan sempat akan menjebak Gio, saat dia baru saja datang ke Jakarta. Akan tetapi, rencananya gagal karena lebih dulu diketahui oleh Gio dan Randi.


"Ada orang lain lagi yang bisa memberi kita informasi, selain Cleo?" tanya Gio.


Laki-laki itu tampak berjalan menuju ke depan jendela, dia membukanya untuk mendapatkan udara segar. Rasa marah dan kesal karena Cleo, membuatnya tidak bisa mengendalikan diri.


"Sayangnya gak ada lagi yang bisa kita tanya, selain Cleo dan orang-orangnya. Pasalnya saat kejadian itu ternyata Zack juga sedang berada di luar negeri. Jadi kita tidak bisa bertanya padanya," jawab Randi.


"Brengsek! Kenapa harus dia yang tau semua ini?!" umpat Gio. Tangannya tampak mengacak rambutnya kasar.


Tok, tok, tok. Suara pintu terdengar, membuat Gio langsung memalingkan wajahnya, dia benar-benar kesal dan tidak mau diganggu.


Namun, saat Gio akan memaki orang di balik puntu, suara lembut seseorang langsung membuat dia menutup mulutnya lagi,


"Gio, apa aku boleh masuk?" tanya Diandra dari balik pintu.


"Masuk saja, sayang, gak dikunci kok," jawab Gio.


"Ran, kita bahas semua ini nanti saja. Kamu usahakan dapatkan kesaksian dari Cleo, apa pun caranya. Kamu ngerti?" Gio beralih pada sang asisten yang masih setia mendengarkan di balik sambungan telepon.


"Baik, aku akan usahakan dia bisa membuka mulut," jawab Randi tegas.


"Ada apa, sayang?" tanya Gio sambil berjalan menghampiri istrinya. Raut wajah yang sejak tadi terlihat gelap, kini berubah terang tanpa terlihat ada awan hitam.


"Aku hanya bosan," jawab Diandra sambil duduk di sofa.


Gio mengikuti, walau ujung-ujungnya dia malah merebahkan diri di pangkuan sang istri.


Diandra tidak menolak, dia membiarkan Gio bermanja, tangannya asik mengusap kepala suaminya yang sedang menelusupkan wajah pada perut Diandra.


"Geli, Gio," keluah Diandra, menjambak rambut Gio bagian belakang, agar Gio tidak memainkan wajah di perutnya.


"Aku suka wangi tubuhmu, sayang, Selalu bisa bikin aku lebih tenang," jawab Gio, sambil memandang wajah Diandra dari bawah.


Diandra menunduk, dia bisa melihat ada rasa lelah yang berusaha disembunyikan oleh suaminya.


"Maaf ya, kamu jadi harus capek karena mengurusi masalah keluarga aku," ujar Diandra tiba-tiba.


"Keluarga kamu juga keluargaku, sayang. Jangan kamu pisahkan sesuatu yang sudah terikat," bantah Gio dengan suara lembutnya.

__ADS_1


"Tapi, karena kamu ngurusin masalah Rani, kamu jadi kurang istirahat gini," keluh Diandra, dia mengusap bawah mata Gio yang tampak sedikit gelap dari kulit di sekitarnya.


"Tuh, mesin pandanya makin lebar gini," sambung Diandra lagi.


Gio tampak terkekeh, dia memang tidak bisa memungkiri kalau tubuhnya memang lelah. Akan tetapi, rasanya semua itu tidak akan pernah berarti saat senyum Diandra selalu menemaninya setiap hari.


Aku hanya sedang berusaha untuk mengumpulkan kebahagiaanmu, sayang. Hingga suatu saat nanti aku berharap, kamu bisa melepaskan rasanya sakit dan kesedihan yang selama ini kamu tahan, batin Gio.


Beberapa saat tenggelam dalam kemesraan, kini Gio sudah kembali di kursi kerjanya, dengan Diandra yang duduk di pangkuannya.


Jangan ditanya itu keinginan siapa. Karena pasti kalian jua sudah tahu siapa yang paling bucin di sini, kan?


Diandra hanya mengikuti, saat Gio mengatakan kalau dirinya mempunyai informasi baru tentang masalah Rani atau Ana.


Saat ini dia malah tengah fokus memperhatikan layar laptop yang sedang memutarkan sebuah video. Hingga beberapa saat kemudian tubuhnya menegang melihat sosok yang selam ini dia cari ada di sana.


Gio memeluk Diandra lembut, berusaha melerai emosi yang ada pada diri istri dinginnya itu. Diandra masih tetap diam sampai video itu telah selesai.


Diandra aru bisa mengalihkan pandangannya setelah video selesai, perlahan perempuan itu menolehkan kepalanya pada sang suami.


"Apa maksud semua ini? Dan siapa orang-orang itu?" tanya Diandra lirih, matanya tampak memerah dengan sorot sendu.


Gio menelan salivanya bulat-bulat, tenggorokannya terasa tercekat seakan enggan untuk mengeluarkan suara.


"Rani atau Ana dijual seseorang pada salah satu club malam, bahkan saat dia masih mengandung," jawab Gio ragu.


Dirinya tahu kalau ini adalah kabar buruk untuk Diandra. Akan tetapi, seburuk apa pun itu bukankah harus diungkapkan, daripada akan menambah luka di kemudian hari.


Diandra mematung, matanya memerah dengan lelehan air di pipinya. "Kamu bilang apa?"


Gio hanya diam, dia tidak menjawab apa yang dikatakan oleh istrinya. Menurutnya seluruh ekspresi wajahnya sudah mengungkapkan betapa hancur dan terkejutnya Diandra.


Gio kembali membawa Diandra pada pelukannya, mencoba memberi ketenangan di tengah kejutan yang terus berdatangan.


"S–siapa yang berani-beraninya berbuat seperti itu sama Ana? Apa dia tidak mempunyai perasaan? Lalu ke mana si Hary? Kenapa dia tidak menjaga adikku, setelah dia pisahkan dia dari keluarganya?"


Diandra terus bergumama, hatinya hancur saat mendengar kalau Ana sempat berada di tempat terkutuk itu.


....................


Karya temen aku, yuk mampir😊

__ADS_1



__ADS_2