
...Happy Reading...
..................
Berbeda dengan Gio dan Diandra yang memilih tidur daripada makan, Randi malah terlihat sudah berada di meja makan sejak beberapa menit yang lalu. Laki-laki itu langsung melahap apa pun yang ada di depannya, setelah hampir satu hari ini dia tidak makan sama sekali.
Benar-benar hari yang penuh drama dan melelahkan, tubuhnya bahkan sampai gemertar, akibat menahan rasa lapar sejak tadi.
"Berasa kayak buka puasa," gumam Randi di sela menyuapkan makanan pada mulutnya.
Beberapa saat kemudian Ana pun tampak ke luar dari kamar tamu, dia sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan kepalanya sudah kembali tertutup oleh kerudung.
"Makan, An," tawar Randi, yang melihat Ana berjalan hendak menuju ke dapur.
"Iya, silahkan, Pak. Saya mau mencari Bi Minah dan Mang Aan," tolak Ana ramah.
Randi hanya mengangguk sambil kembali sibuk dengan makanannya. Dia tidak mau terlalu ikut campur dengan masalah orang lain.
.
.
Hari terlewati begitu saja, Tidak terasa sudah dua hari berlalu, sejak kejadian penangkapan Cleo dan para anak buahnya tempo hari.
Pagi ini di vila terasa sangat ramai. Keceriaan Andra membuat suasana vila terasa lebih hidup, apa lagi dengan tingkahnya yang lucu dan menggemaskan.
Anak laki-laki itu juga pandai sekali bergaul, dia mengingatkan Diandra pada Ana waktu kecil, sifatnya sama persis seperti ibunya. Ana pun sudah mulai dekat dengan anaknya, walau Andra masih nyaman memanggil Ana, Tante, sama seperti Diandra.
"Kamu sudah siap, sayang?" tanya Gio sambil memeluk istrinya dari belakang.
Mereka masih berada di dalam kamar, Diandra sedang duduk di meja rias, bersiap untuk perjalanan pulang kali ini.
__ADS_1
Diandra tersenyum, jari lentiknya mengusap pelan punggung tangan Gio yang berada di atas dadanya. Matanya melihat wajah Gio dari pantulan cermin, hingga mata keduanya bertemu.
Laki-laki itu terlihat membalas senyuman istrinya, senang rasanya bisa melihat senyum indah di wajah istrinya seperti ini. Setelah sekian lama pernikahan mereka hanya berjalan tanpa cinta, kini Diandra mulai membuka diri dan hatinya untuk Gio.
"Heem," angguk Diandra sebagai jawaban.
"Kamu, yakin mau mengantarkan Ana dan Andra ke rumah Ayah dan Bunda?" tanya Gio lagi.
Ya, pagi ini mereka berencana untuk pulang ke kampung Diandra, memberikan kejutan kepada kedua orang tua Diandra dan Ares, sekaligus mengantarkan Ana pulang.
Diandra sempat terdiam untuk beberapa saat dengan pandangan mata turun, hingga akhirnya dia mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau kamu sudah yakin. Ayo kita ke luar," ajak Gio, sambil melepaskan pelukannya, lalu kembali berdiri dengan tegak. Tangannya terulur untuk membatu istrinya berdiri.
Diandra langsung menyambutnya, lalu mereka berjalan bersama ke luar dari kamar. Menuruni tangga menuju ke ruang makan, di mana di sana sudah banyak orang yang menunggu.
Randi, Ana, dan Andra tampak sudah duduk rapih di meja makan. Ya, semenjak hari itu, Ana tinggal bersama di vila, Diandra tidak mengizinkan saudaranya itu kembali ke rumah Bi Minah.
Apalagi, Diandra mendengar kalau Zack berhasil melarikan diri dari penggerebekan polisi, kini dia menjadi buronan sindikat penjualan manusia.
Bukan tidak mungkin, jika suatu hari nanti laki-laki itu akan kembali dan mencari mereka untuk membalaskan dendam, karena usahanya diganggu oleh Gio.
"Pagi semua," sapa Gio begitu mereka sampai di ruang makan.
Gio menarik kursi untuk Diandra terlebih dahulu, sebelum dirinya sendiri duduk di kursi utama.
"Andra udah siap, untuk pergi ke rumah Nenek?" tanya Diandra, sambil tersenyum pada anak laki-laki yang tampak duduk di sampingnya.
"Udah dong, Ante," jawab Andra senang.
Mereka sarapan bersama dengan diwarnai celotehan ringan dari mulut mungil Andra. Anak laki-laki itu sepertinya cepat beradaptasi dengan suasana vila, dia juga cukup dekat dengan para anak buah Gio, yang sering bergantian menjaganya.
__ADS_1
Jam delapan pagi, mereka berpamitan kepada Mang Aan dan Bi Minah untuk pulang. Ada tangis haru dari Ana, yang merasa sangat berterima kasih pada sepasang paruh baya itu.
Mengingat kembali bagaimana dirinya mengalami masa-masa sulit setelah di jual oleh orang tua Hary, sebagai penebus hutang. Lalu bertemu dengan kakak Mang Aan, yang bekerja sebagai penjaga di salah satu club milik Zack.
Perlakuan kakak Mang Aan yang tampak berbeda dari para penjaga lainnya, membuat Ana semakin dekat dengan laki-laki paruh baya itu, hingga akhirnya setelah Ana menceritakan kisahnya, mereka berusaha mencari jalan ke luar untuk bisa kabur dari cengkraman Cleo.
Ya, Kakaknya Mang Aan juga sebenarnya sudah lama ingin ke luar dari pekerjaannya. Akan tetapi, Cleo tidak pernah mengizinkannya, dan dia terus tertahan di dunia hitam, karena tidak ada keberanian.
Kakak Mang Aan akhirnya berhasil membawa Ana kabur bersama dengan bayinya, mereka bahkan langsung pindah ke luar kota, demi menjaga Ana, bersama dengan istri dan anak kakaknya Mang Aan.
Namun, naas terjadi setelah beberapa bulan Ana tinggal bersama mereka. Sore itu rumah diserang oleh anak buah Cleo, hingga berhasil merebut kembali anak Ana.
Akan tetapi, saat itu Ana masih berada di luar, dia bekerja sebagai kuli cuci di beberapa rumah warga, untuk membiayai hidupnya dan anak laki-lakinya.
Hingga saat dia kembali ternyata rumah tempat tinggalnya sudah hangus terbakar api, dengan keluarga kakaknya Mang Aan sebagi korban.
Ana terkejut, apalagi saat melihat istri dan anak Kakaknya Mang Aan, yang meninggal di tempat akibat sesak napas dan luka bakar yang berat. Mungkin jika waktu itu Kakaknya Mang Aan tidak selamat dan memberitahunya kalau Andra dibawa oleh Cleo, dia tidak akan pernah tahu kalau anaknya masih hidup.
Bahkan Ana juga tidak akan mendengar ancaman dari Cleo padanya, yang disampaikan oleh kakaknya Mang Aan. Ditambah dengan rasa bersalah karena semua kejadian itu berawal karena dirinya yang kabur dari mereka.
Setelah berpamitan Diandra, Gio, Randi, Ana dan Andra, akhirnya meninggalkan vila yang sudah hampir sebulan ini menjadi tempat tinggal Diandra dan Gio.
Acara bulan madu yang awalnya hanya sebagai alasan, rupanya memang benar-benar terjadi, karena di tempat ini lah Diandra menyerahkan mahkotanya untuk Gio, dan menerima Gio sebagai suaminya.
Masalah yang mereka hadapi bersama, tenyata juga bisa mendatangkan benih-benih cinta, melalui rasa simpati dan kerja sama. Awal terbiasa bersama lama-lama menjadi suka, sepertinya memang terjadi pada sepasang suami istri itu.
Gio akhirnya bisa meluluhkan hati istrinya, setelah sekian lama dia berusaha bersabar menghadapi sikap keras kepala istrinya, dan berkorban untuk memecahkan masalah yang masih menjadi simpul di dalam hati Diandra.
Seiring dengan terurainya simpul di dalam hati, Diandra pun mulai bisa menerima Gio sebagai suaminya. Kehidupan rumah tangga mereka pun semakin dekat dan bahagia, saat keduanya kini bisa menerima satu sama lain.
...................
__ADS_1