Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Berkunjung


__ADS_3

...Happy Reading...


...................


Ke luar dari lift, Gio dan Diandra berjalan kaki menuju restoran yang tidak jauh dari sana.


"Sepertinya di sini kamu cukup terkenal di kalangan? wanita, ya?" ujar Diandra, di sela langkah keduanya.


Gio menoleh sekilas pada istrinya dengan senyum jahil.


"Ya, aku memang terkenal. Siapa yang tidak mengenal laki-laki tampan dan sukses sepertiku?" Gio berujar penuh percaya diri.


"Ck, dasar payboy cap kodok!" Diandra berdecak kesal.


Gio terkekeh mendengar kekesalan istrinya.


"Tapi, aku memang tampan, kan?" Gio kembali menggoda istrinya, dia mengeratkan tangannya di pinggang Diandra, hingga wanita itu sedikit tersentak.


"Gio!" Diandra memukul perut suaminya pelan, melampiaskan kekesalannya, karena Gio telah membuatnya terkejut, juga malu saat melihat banyak orang yang memperhatikan keduanya.


"Iya, sayaang," jawab Gio, seolah sedang dipanggil oleh Diandra. Ah, sepertinya Gio rindu saat-saat dirinya menggoda sang istri seperti ini.


"Ck!" Diandra hanya berdecak, hingga membuat Gio tergelak.


Sampai di restoran yang mereka tuju, keduanya langsung masuk dan mencari kursi yang kosong. Bila waktu sarapan begini, restoran itu memang cukup banyak pengunjung.


Seorang pelayan menghampiri, dia membawa Gio dan Diandra menuju Randi yang sudah datang terlebih dahulu.


Mereka sarapan bersama terlebih dahulu, sebelum pergi ke rumah utama. Semuanya berjalan lancar, mereka memesan menu sarapan yang mereka sukai.


Hingga saat mereka akan ke luar dari restoran, sudut mata Diandra seperti melihat seseorang yang familiar untuknya.


"Ada apa, sayang?" tanya Gio, yang melihat perhatian Diandra sempat teralihkan.


"Hah?" Diandra terperanjat, dia langsung mengalihkan pandangannya pada sang suami.


"Kamu lihat apa, sayang?" tanya Gio lagi.


Diandra kembali melihat ke tempat di mana seseorang tadi tampak duduk. Akan tetapi, kini di sana sudah tidak ada siapa pun lagi.


"Tadi, sepertinya aku melihat teman lama. Tapi, sepertinya aku salah lihat saja," jawab Diandra.


"Oh, ya sudah, ayo kita harus segera pergi ke rumah Mama, atau Bu Ratu, akan mengomel nanti.


Diandra terkekeh sambil mengangguk, dia tahu panggilan Bu Ratu, adalah panggilan kesayangan dari Gio untuk Mamanya.

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan langkahnya, menyusul Randi yang sudah berjalan lebih dulu, untuk mengambil mobilnya di parkiran.


Tanpa mereka tahu, seorang perempuan yang duduk di salah satu meja, memperhatikan keduanya, dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan.


"Diandra? Apa itu dia?" gumamnya.


.


.


Sepanjang perjalanan menuju rumah utama keluarga Gio, Diandra terus mengedarkan pandangannya, menikmati setiap gedung bertingkat yang terlewati. Selama ini dirinya belum pernah menginjakkan kakinya di ibu kota, semua kemewahan yang terlihat nyata membuatnya berdecak kagum.


Akhir pekan, jalanan terlihat lebih lengang dari bisanya, hingga jarak tempuh dari apartemen ke rumah utama hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit.


Menurut Gio, apartemen miliknya terletak lebih dekat dari kantor pusat perusahaan keluarganya, yang selama ini dia pegang, makanya dia lebih suka menghabiskan waktu di apartemennya daripada di rumah.


Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Randi sudah mulai memasuki area perumahan, komplek rumah utama berada. Perlu waktu sekitar lima sampai tujuh menit, dari gerbang utama hingga sampai di rumahnya.


Perumahan yang sangat besar, dengan desain yang cantik dan terata rapih, membuat Diandra terpesona.


"Mereka menyebut kawasan ini, kota di dalam kota, karena tata letak yang berbeda dari kawasan yang lainnya," jelas Gio.


Diandra hanya mengangguk. Saat dirinya masuk ke dalam area ini, Diandra seperti sedang berada di kota yang berbeda, seperti bukan di Jakarta, dengan berbagai rumor yang beredar di kalangan masyarakat.


Mobil berhenti tepat di depan pintu, Gio turun lebih dulu lalu memutar dan membuka pintu mobil untuk Diandra.


"Ayo, sayang. Kita sudah sampai," ujar Gio, sambil mengulurkan tangannya.


Diandra terdiam sebentar, jantungnya terasa berdecak lebih cepat. Tidak menyangka seorang Gio bukanlah orang sembarangan. Ini sangat jauh dari ekspetasinya, yang mengira kalau Gio hanyalah orang yang mempunyai hotel dan perusahaan biasa di Jakarta.


Namun, ternyata semua yang sudah dia lihat, bisa langsung menjelaskan, seberapa kaya laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu. Bagaimana bisa dia bergabung dan bergaul dengan keluarga Gio yang lain nantinya.


Gio tersenyum kemudian membungkukkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Diandra dari dekat.


"Tenang saja, mereka masih makan nasi sama seperti kita," ujar Gio, sambil terkekeh.


Diandra melirik kesal, kemudian memukul pelan dada Gio.


"Ish!" decaknya kemudian.


"Ayo, Mamah dan yang lainnya pasti sudah menunggu di dalam," ujar Gio lagi.


Diandra menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Dengan mengumpulkan keberaniannya Diandra menyambut uluran tangan Gio lalu perlahan turun dari mobil.


Diandra berjalan beriringan dengan Gio, sedangkan Randi lebih dulu memarkirkan mobilnya di garasi.

__ADS_1


"Kak Gio, Kak Dian!" Gita yang kebetulan melihat Gio dan Diandra langsung berteriak histeris sambil berlari menghampiri keduanya.


"Mama, Kak Dian sama Kak Gio datang!" sambungnya lagi.


Gio melebarkan tangannya bersiap menerima pelukan dari adik bungsunya. Akan tetapi sayang sekali, tebakannya salah. Karena Gita malah memeluk Diandra lebih dulu.


"Lah, kok?" Gio berkata linglung, sebelum akhirnya tersenyum sambil mengacak rambut adiknya yang berada di dalam pelukan Diandra.


"Dasar manja!" goda Gio pada adik bungsunya.


"Kak Dian, lama banget sih ke sininya, aku kangen banget tau," manja Gita, tanpa menghiraukan ucapan Gio.


Diandra tersenyum kemudian melirik suaminya. Gio mengangguk membiarkan Diandra menimpali perkataan adik bungsunya.


"Maaf, ada beberapa urusan yang harus kita selesaikan dulu di sana," jawab Diandra memberi alasan.


Dari dalam menyusul Mama Hana dan anak laki-laki kecil di sampingnya.


"Ucle Gio!" anak kecil itu berteriak dan langsung menghambur pada pelukan Gio.


"Hai, jagoan! Uncle kangen banget nih sama kamu," ujar Gio, sambil menggendong anak laki-laki berusia lima tahun itu.


"Selamat datang di rumah kami, sayang," ujar Hana kembali memeluk Diandra, setelah pelukan Gita terlepas.


"Terima kasih, Mah. Maaf, aku terlambat menemui, Mama," jawab Diandra.


"Gak apa, sayang. Yang penting sekarang kamu kan sudah ada di sini." Mama Hana mengurai pelukannya.


"Iya, Mah," angguk Diandra.


"Wah, akhirnya pengantin baru kita datang juga." Seruan dari seorang wanita dewasa yang sedang berjalan bersama laki-laki di sampingnya terdengar.


"Itu kakaknya Gio," ujar Mama Hana memberitahu Diandra.


"Oh, jadi ini wanita pilihan kamu, Gio," ujar wanita itu di depan Diandra, walau matanya tampak melihat pada Gio.


"Cantik kan, Kak?" tanya Gio dengan percaya dirinya.


Wanita itu tampak terdiam, memperhatikan Diandra dari ujung kaki sampai ujung rambut, membuat jantung Diandra terasa bertalu karenanya.


Dari semua yang ada di sini hanya kakak Gio dan keponakannya yang belum dia temui. Apa lagi sambutan dari wanita itu seperti tidak menyukainya.


Jangan sampai aku harus berhadapan dengan ipar lucnut, batin Diandra.


..................

__ADS_1


__ADS_2