Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Manja


__ADS_3

...Happy Reading...


.......................


"Aku gak selera makan, sayang," tolak Gio.


"Gak usah banyak tingkah, ayo cepetan makan." Diandra menatap Gio kesal, dia melihat wajah manja yang biasa Gio tampilkan bila akan meminta sesuatu darinya.


"Suapin," pinta Gio, sambil menggeser piringnya ke depan Diandra.


"Ck!" Diandra berdecak, sambil menatap wajah manja Gio dengab sorot mata kesal.


Namun, tangannya bergerak mengambil piring Gio dan bersiap untuk menyuapi suaminya. Dia tahu kalau Gio tidak sarapan karena dirinya, dan itu membuatnya merasa bersalah.


"Dasar manja!" gerutu Diandra.


"Manja sama istri sendiri boleh dong," jawab Gio sambil tersenyum lebar.


Diandra tak menjawab dia mulai menyodorkan sendok di depan mulut Gio.


"Hmm, kalau kayak gini kan rasanya tambah enak," ujar Gio sambil sedikit menutup matanya, seolah sangat menikmati makanan itu.


Dasar bocah! Badan aja gede, kelakuan sama kayak anak SD, gerutu Diandra di dalam hati.


Dia menyembunyikan senyumnya melihat tingkah kekanakkan sang suami. Tanpa dia sadari kelakuan Gio yang bagaikan anak kecil itu malah menghibur hatinya yang masih  terpikirkan masalah Rani.


Gio tersenyum melihat wajah Diandra kini mulai terlihat berseri kembali. Mungkin di hadapan orang lain Diandra bisa menyembunyikan perasaannya.


Namun, itu tidak akan berguna untuk Gio. Laki-laki itu tahu kalau sebelumnya senyum dan wajah segar Diandra hanyalah sebuah topeng untuk menutupi hatinya yang masih mendung.


"Sekarang giliran kamu yang makan." Gio mengambil alih sendok dan menyodorkan makanan untuk Diandra.


Diandra tidak menolak, akhirnya mereka makan dengan saling menyuapi.


"Kalau ujung-ujungnya begini, kenapa gak makan sendiri aja?" gerutu Diandra, walaupun tangannya terus telaten menyiapkan makanan untuk suaminya.


"Kalau kayak gini kan lebih romantis. Jadi makanannya juga terasa lebih enak," jawab Gio santai.


Dia memang mempunyai banyak cara untuk mencari perhatian dari istrinya.


Diandra tidak menjawab lagi, dia hanya mendesah kesal sambil memutar bola matanya, sudah mulai terbiasa dengan segala tingkah kekanakkan suaminya.


Randi yang ingin ikut makan bersama, sampai memilih berbalik arah dan meninggalkan pasangan yang baru saja saling membuka diri itu.

__ADS_1


Dia tidak mau mengganggu waktu Gio bersama Diandra. Walaupun, terkadang dia juga sengaja mengganggu mereka berdua.


"Memang susah kalau tinggal sama pasangan bucin," desah Randi, sambil berbalik kembali ke luar.


.


.


Setelah makan siang selesai kini Diandra dan Gio tengah berada di ruang kerja, mereka tampak duduk berdampingan dengan Randi yang berada di depan mereka.


Randi akan menjelaskan apa saja yang dia dapatkan dari penyelidikan dadakannya, tentang perempuan yang bernama Rani itu.


Diandra mendengarkan dengan seksama semua penjelasan Randi, dan di saat itu juga Randi tahu kalau Rani kemungkinan besar adalah saudara kembar Diandra yang sudah tiga tahun lebih pergi dari rumah.


Awalnya Randi sedikit ragu, dia berusaha mengingat wajah Rani dan membandingkan dengan foto dari ponsel Diandra. Hingga setelah cukup lama mengamati, Randi bisa melihat kesamaan antara Diana dan Rani.


Walaupun sekarang Rani sudah menggunakan kerudung dan terlihat lebih dewasa dari foto yang ada di ponsel Diandra. Akan tetapi, wajahnya tidak bisa berubah banyak.


"Kalau dia belum menikah, lalu ke mana Hary?" tanya Diandra yang merasa janggal dengan penjelasan Randi.


"Hary?" Randi mengerutkan kening, dia masih belum tau pasti cerita di balik semua ini.


Diandra menoleh pada Gio, dia tidak tahu kalau Gio tidak menceritakan semua kisahnya pada asistennya itu.


"Aku tidak pernah menceritakan semua yang aku tahu tentangmu pada orang lain," jawab Gio, seakan tahu arti dari tatapan Diandra.


Diandra menghembuskan napas panjang, lalu mulai menceritakan awal mula kejadian Rani pergi dari rumah, tanpa memberi tahu tentang masa kelamnya.


"Jadi seharusnya dia sudah memiliki anak berusia dua tahunan?" tanya Randi yang baru paham tentang permasalahan ini.


"Iya. Aku masih ingat saat dia kabur dari rumah, kandungannya menginjak usia tiga bulan," jawab Diandra.


Randi mengernyit, ternyata masalah ini cukup rumit. Apalagi mereka tidak bisa bertanya pada Bi Marni, mengingat Bi Marni sepertinya menyembunyikan tentang Rani.


"Apa kamu tau di mana rumah Hary?" tanya Randi.


Diandra terdiam, dia baru sadar kalau selama ini dirinya tidak pernah tahu di mana rumah Hary.


Hary adalah seorang anak kos, katanya dia bukan asli kota mereka berkuliah. Jadi yang dia tahu selama ini adalah tempat kosnya, bukan rumah kedua orang tuanya.


Diandra menatap Gio dan Randi bergantian kemudian menggeleng.


Kedua laki-laki itu tampak terkejut dengan jawaban Diandra. Mereka tidak habis pikir, bagaimana seorang perempuan bisa menyerahkan hidupnya pada laki-laki yang tempat tinggalnya saja tidak jelas.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Ayah? Apa dia tahu di mana keluarga Hary?" tanya Gio.


"Aku gak tau, setelah kejadian itu hubungan kami memburuk," jawab Diandra.


Gio menghembuskan napas panjang, tangannya tampak menggenggam tangan Diandra. Dia tahu, bukan perkara mudah bagi Diandra, saat menceritakan kembali masa lalunya.


Diandra menatap Gio, dia benar-benar merasa takut dengan nasib sang adik sekarang. Dulu mungkin dirinya masih busa berpikiran baik, saat mengingat kalau Ana pergi dengan laki-laki yang mencintainya.


Namun, sekarang dia baru sadar, kalau Hary begitu misterius untuk mereka berdua. Hingga pikiran buruk pun mulai muncul di benaknya.


Apa dia marah padaku? Karena itu dia menolak untuk mengakui sebagai Ana? batin Diandra.


Rasa bersalah kini mulai merasuk dalam hatinya, merasa gagal menjadi seorang kakak yang harus melindungi adiknya.


"Ini bukan salah kamu, sayang." Gio berucap lirih, saat dia merasa tangannya diremas oleh Diandra.


Wanita itu menatapnya dalam, sorot mata sendu da penuh kesedihan terlihat jelas di manik indah istrinya. Gio tersenyum kemudian menggeleng pelan.


"Semua yang sudah terjadi adalah sebuah takdir yang sudah digariskan, jangan menyalahkan dirimu sendiri atas nasib orang lain, sayang," ujar Gio.


"Tapi, dia adikku," lirih Diandra.


"Walaupun dia adikmu, takdir kalian tidak harus sama, sayang." Gio berusaha menenangkan hati istrinya, dia mengusap pelan punggung Diandra.


Diandra terdiam matanya tampak berkaca-kaca, walau sekuat tenaga perempuan itu menahan emosinya di hadapan Gio dan Randi.


"Sabar dulu, aku yakin perlahan kita akan mengetahui apa yang terjadi sebenarnya," sambung Gio lagi.


"Benar, Dian. Sebaiknya kamu harus mengendalikan dirimu. Aku akan berusaha semampuku, untuk mencari kebenaran dari semua ini. Bahkan kita bisa mengadakan tes DNA, jika kamu mau melakukannya," sambung Randi.


"Benar kata Randi. Yang penting kita harus membuat mereka lengah dulu, kendalikan emosi kamu dan bersikaplah seperti biasa, agar Bi Minah merasa kita tidak lagi mempermasalahkan kejadian tadi pagi." Gio ikut menimpali.


Diandra kembali menatap wajah suaminya, dia kemudian menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.


"Baiklah, aku akan berusaha untuk mengendalikan diriku. Kalau selama ini aku bisa, kenapa sekarang tidak?!" ujar Diandra dengan badan tegak, berusaha menjadi Diandra yang seperti biasanya.


"Bagus, istriku memang yang terbaik!" ujar Gio, menatap istrinya dengan senyum penuh semangat.


...................


Karya bagus nih, jangan lupa mampir ya😊


__ADS_1


__ADS_2