Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.40 Berat Melepaskan


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Sampai di kantor, Gio benar-benar tidak bisa konsentrasi di dalam bekerja, dia hanya terpikirkan istrinya saja. Entah bagaimana Diandra selama ini menghadapi setiap detik kehidupannya.


“Gio, aku sudah menemukan tentang laki-laki yang bernama Jonas,” ujar Randi, sambil berjalan masuk ke dalam ruangan Gio, tanpa mengetuk pintu dulu.


Gio yang sedang melamun di dalma kursi, terjingkat kaget mendengar suara asistennya yang tiba-tiba saja sudah berada di depannya.


Dia menatap tajam wajah kikuk Randi, kemudian menghembuskan napas panjang, sambil menegakkan kembali tubuhnya.


“Apa yang sudah kamu dapatkan, Ran?” tanya Gio kemudian.


Randi yang awalnya sudah bersiap untuk menerima semburan ceramah dari sang bos, hanya mengelus dada lega.


“Dia ternyata seorang laki-laki yang sudah menyukai Diandra sejak dua tahun lalu, dia terus mencoba mendekati istrimu walaupun Diandra terus menolaknya. Beberapa bulan yang lalu, Diandra kembali menolak pernyataan cinta dari Jonas, dan sepertinya itu adalah akhir dari kesabaran laki-laki itu," ujar Randi, yang membuat Gio, merasa geram juga terkejut.


"Asal kamu tau, dia juga yang menjadi dalang dari kejadian kebakaran restoran milik Diandra, beberapa hari lalu,” jelas Randi, lagi.


Gio mengepalkan tangannya, mendengar penjelasan tentang laki-laki yang bernama Jonas.


“Jadi dia yang telah merencanakan semua itu?” geram Gio, yang langsung diangguki oleh Randi.


Gio memukul meja dengan genggaman tangannya, menimbulkan suara yang cukup untuk membuat Randi terjingkat kaget.


“Brengsek! Dasar laki-laki pengecut. Berani-beraninya dia berbuat seperti itu pada istriku,” ujar Gio, penuh emosi.


Randi menatap penuh waspada wajah Gio.


“Sabar, Gio. Tarik napas ... keluarkan,” ujar Randi, memberikan instruksi.


Bukannya menuruti, Gio malah menatap wajah Randi semakin tajam.


“Kamu pikir aku mau melahirkan, hah?!” Gio malah bertambah kesal.


“Tidak-tidak, a–aku hanya ....”


“Sudahlah, lebih baik kamu pergi saja, bikin aku tambah kesal saja!” ujar Gio, sambil mengibaskan salah satu tangannya.


Randi mengangguk, dia beranjak dari kursi dan melangkah pergi menuju pintu keluar. Akan tetapi, suara dari Gio kembali membuatnya menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Bagaimana dengan luka lama Diandra, apa kamu sudah mengetahui sesuatu penyebab semua itu?” tanya Gio.


Randi memutar kembali tubuhnya, dia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal.


“Belum, sangat sulit mencari tau tentang masa lalu Diandra. Sepertinya aku membutuhkan waktu lebih lama lagi,” jawab Randi, dengan wajah meringis.


“Baiklah. Sekarang kamu cari bukti yang bisa membuat Jonas menerima akibat dari ulahnya pada istriku, aku mau itu secepatnya,” perintah Gio.


Randi mengangguk menyetujui. Sepertinya itu akan lebih mudah, daripada menemukan kisah masa lalu istri dari bosnya itu.


“Baiklah, kamu boleh keluar,” ujar Gio lagi, sambil mengangguk samar.


Setelah kepergian sang asisten kini Gio kembali menyandarkan punggungnya pada kursi.


.


.


Hari berlalu begitu saja, tanpa terasa kini sudah seminggu setelah pernikahan antara Diandra dan Gio berlangsung. Luka bakar di tangan Ares pun kini sudah membaik, hingga hari ini Eros dan Lisna berencana untuk membawa anak bungsunya itu ke rumah mereka. Mengingat semua pengobatan yang harus dijalani oleh Ares sudah selesai.


“Bunda titip Diandra ya, Nak Gio,” ujar Lisna, saat mereka sedang sarapan bersama.


“Tentu, Bunda. Aku akan berusaha menjaga Diandra semampu aku,” jawab Gio, sambil melirik istrinya sekilas.


Diandra mendengkus kesal, dengan bola mata yang memutar.


“Aku bukan anak kecil, Bunda,” sangkal Diandra, mencebik kesal pada Gio.


“Memang hanya anak kecil yang butuh dijaga? Wanita cantik seperti kamu juga butuh dijaga dengan baik. Iya kan, Bunda?”


Gio berujar, sedikit menggoda Diandra di depan seluruh keluarganya, hingga membuat perempuan itu semakin kesal saja.


Eros, Lisna dan Ares hanya tersenyum, sambil melanjutkan makan mereka. Menikmati setiap perdebatan kecil yang selalu menghiasi pasangan baru itu. Walaupun sebelumnya Lisna dan Eros merasa tidak enak dengan perlakuan Diandra yang tidak baik pada Gio.


Namun, menantunya itu, berhasil meyakinkan, kalau dirinya tidak mengambil hati perlakuan Diandra yang terlihat kasar.


Dia menganggap semua itu, hanya karena Diandra sedang membutuhkan perhatian lebih darinya, tanpa bisa meminta dan menjelaskan keinginannya sendiri.


Beberapa saat kemudian, sarapan pun selesai. Diandra dan Gio pun berjalan bersama dengan Eros, Lisna dan Ares ke luar dari rumah.


“Jaga diri baik-baik ya, Dian. Jangan lupa hubungi Bunda kalau sempat. Bunda akan selalu menunggu telepon dari kamu,” ujar Lisna, sebelum dia pergi.

__ADS_1


Diandra memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya itu dengan rasa haru yang berusaha dia tutupi dengan senyum lembutnya.


“Iya, Bunda. Aku pasti akan baik-baik saja. Bunda juga jaga diri di sana,” jawab Diandra lirih.


Keduanya mengurai pelukannya setelah merasa puas melepas rindu dan kasih sayang antar ibu dan anak. Kini giliran Eros yang mendekat pada Diandra.


Gio melihat dengan jelas, tubuh Diandra yang menegang, saat Eros berada di depannya.


“Ayah pulang dulu. Kamu jaga diri baik-baik, dan belajarlah untuk lebih menghargai suami kamu,” pesan Eros, pada anak perempuannya.


Diandra mengangguk, tanpa mau menjawab perkataan ayahnya itu, dia pun mengambil tangan Eros dan menciumnya.


Eros menghembuskan napas pelan, lalu beralih pada menantunya, dia tersenyum samar, saat melihat anggukkan samar dari Gio.


“Kak, aku pulang dulu. Kakak jaga diri baik-baik, jangan lupa makan,” ujar Ares, sambil melihat wajah kakaknya dengan tatapan sendu.


Diandra tersenyum, dia melihat kedua orang tuanya yang sedang menunggu Ares di samping mobil.


“Iya, bawel. Sudah sana pergi, kasihan Ayah dan Bunda, mereka menunggu kamu,” ujar Diandra dengan senyum penuh kasih sayang di wajahnya.


Tanpa sadar, Gio ikut tersenyum, saat melihat istrinya itu memperlakukan adiknya dengan penuh kelembutan. Itulah yang membuat Gio semakin yakin kalau Diandra masih memiliki cinta dan kasih sayang di dalam hatinya. Walaupun mungkin itu hanya untuk orang tertentu saja.


Namun, dia akan terus mencoba untuk membuat rasa itu kembali hanya untuknya. Rasa yang selalu disangka Diandra telah mati.


Beberapa saat kemudian, Gio dan istrinya bersama-sama melihat kepergian orang tua dan adik dari Diandra. Hingga mobil yang dikendarai oleh Eros tidak terlihat lagi oleh pandangan.


“Kenapa kamu tidak mengantar mereka sampai ke rumah, jika kamu merasa berat?” tanya Gio, saat melihat Diandra masih saja berdiri, walau mobil orang tuanya sudah lama menghilang.


Diandra menoleh sekilas, pada suaminya. Dia tidak memungkiri kalau selama satu minggu hidup berdampingan dengan orang tuanya, kembali membuat dia merasa dekat dan mulai terbiasa dekat dengan mereka. Hingga saat ini dia merasa berat untuk melepaskan keluarganya.


Namun, dia juga belum bisa kembali ke rumah orang tuanya. Karena, Ada hal lain yang membuat dia tidak ingin menginjakkan kakinya di tempat kelahirannya itu kembali.


“Bukan urusanmu,” jawab Diandra, sambil berbalik dan berlalu masuk lagi ke dalam rumah.


Gio hanya tersenyum sambil mengikuti langkah istrinya. Ya, selama satu minggu ini dia sudah cukup tahu kebiasaan Diandra, itu semua tentu saja mempermudah dirinya dalam menghadapi sikap dingin dan arogan istrinya.


Keduanya hanya mengambil tas dan perlengkapan kerja yang lain, hingga beberapa saat kemudian mereka kembali keluar dan berjalan menuju ke hotel masing-masing.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2