Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Negosiasi


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Dua orang laki-laki kini sedang duduk di sebuah ruangan, sedangkan dua orang laki-laki lainnya tampak berdiri di belakang para tuanya.


Gio tampak menatap santai seorang laki-laki paruh baya yang ada di depannya, dia tampak tersenyum kecil untuk menyambut tamu tidak diundangnya.


Walaupun terlihat seperti sedang tidak terjadi apa-apa di sana. Akan tetapi, aura yang keluar dari dua orang yang sama-sama berkuasa di bidangnya masing-masing itu, terasa nyata oleh Randi.


Flash back setelah Gio menerima telepon dari Randi.


Gio langsung berjalan masuk kembali ke dalam kamar, dia mendapati Diandra yang masih tertidur pulas di ranjangnya.


Laki-laki itu langsung mengganti baju dengan pakaian formal, dia tidak bisa melewatkan kesempatan baik ini, untuk menyelesaikan urusan Diandra dan Jonas.


Setelah siap dengan pakaian kantornya, Gio kembali menghampiri Diandra, dia berjongkok di samping istrinya dengan tangan yang mengusap lembut puncak kepala perempuan itu.


"Sayang, aku harus ke hotel dulu sebentar. Ada urusan yang harus aku selesaikan secepatnya ... aku janji begitu selesai aku akan langsung pulang," ujar Gio lirih.


Diandra yang merasakan tangan Gio di puncak kepalanya, sedikit terusik walau tidak sampai terbangun.


"Aku pergi, sayang." Gio sedikit mengangkat tubuhnya lalu memberikan kecupan di kening istrinya yang masih terasa hangat.


"Aku akan menyuruh Yaya, untuk menemani kamu di sini, sebelum aku pulang," sambung Gio, setelah melepaskan Kening Diandra.


Setelah mengucapkan itu, Gio langsung menegakkan lagi tubuhnya lalu, lalu berjalan ke luar dari kamar.


Flash back off.


"Jadi, ada apa, Anda, mencari saya?" tanya Gio, setelah cukup lama keduanya hanya terdiam.


Randi bergidik ngeri saat merasakan suasana dingin dan mencekam yang dikeluarkan oleh Gio dan tamunya itu.


Sujoni Wisesa, atau yang biasa dipanggil dengan Agan Sujoni, adalah ketua organisasi mafia yang sudah sering bekerjasama dengan kepolisian ataupun pegawai terkait bidang usaha yang dia geluti saat ini.


Namanya sudah terkenal di dalam para pengusaha, baik itu kecil, menengah sampai besar sekalipun. Banyak dari mereka yang meminta perlindungan pandnya, baik itu dalam kelancaran berbisnis, maupun keamanan di kehidupan sehari-harinya.


Sujino terlihat menyandarkan punggungnya, dia mengangkat sebelah kakinya ditumpuk di atas satu kakinya yang lain.


Tatapannya yang tajam dengan senyum meremehkan, seakan menunjukan kekuasaannya di daerah itu.


Gio masih terlihat santai, dia memperhatikan sikap laki-laki paruh baya di depannya. Pemimpin mafia, yang terkenal dengan istrinya yang lumayan banyak, hingga dia mempunyai beberapa rumah di dalam sebuah desa khusus untuk ditinggali para istrinya.

__ADS_1


"Aku mendengar kamu yang mendapatkan proyek dari hotel Lembayung, untuk membangun hotel di Bandung?" ujar Sujino.


Salah satu tangannya tampak menengadah ke samping sebagai sebuah kode untuk anak buahnya. Laki-laki yang berada di belakangnya tampak mengulurkan sebuah berkas di dalam sebuah map berwarna biru.


"Iya, betul," angguk Gio membenarkan.


"Ini adalah berkas yang ingin aku tawarkan kepadamu, sebuah pembangunan sebuah taman di pusat kota. Apa kami bisa mempertimbangkannya?" ujar Sujino dengan tutur kata yang baik, tanpa ada terlihat tekanan di sana. Dia meledak berkas di tangannya di atas meja.


Gio mengejutkan keningnya, melihat sikap Sujino yang ternyata cukup bersahabat dan ramah dalam berbisnis, walaupun doa belum mengetahui pasti cara berbisnis orang itu.


Gio mengambil berkas itu lalu membacanya dengan seksama. Dia memastikan tidak ada yang janggal di dalam setiap baris kata.


"Bisa aku minta sedikit waktu untuk menganalisia kontrak ini lebih dulu?" tanya Gio, sambil memberikan map tersebut pada Randi.


Randi melihatnya sekilas lalu menutupnya kembali. Sedangkan Gio kembali melihat wajah Sujino.


"Ya, baiklah. Saya akan memberikan, Anda, waktu sampai besok," jawab Sujino.


Gio tersenyum, dia mengangguk menyetujui tenggang waktu yang diberikan oleh Sujino, walaupun itu terkesan terburu-buru.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit." Sujino sudah hampir berdiri.


"Tunggu sebentar, Agan," cegah Gio.


"Apa kita bisa berbicang sebentar? Ada sesuatu yang harus saya tanyakan kepada, Anda," ujar Gio.


Sujino tampak terdiam sebentar, kemudian mengangguk samar menyetujui permintaan Gio.


"Apa, Anda, mengenal orang yang bernama Jonas?" tanya Gio.


Sujino tampak tersneyum tipis mendengar nama yang disebutkan oleh Gio.


"Tentu saya kenal, dia adalah salah satu anak buah saya," jawab Sujino.


"Lalu, ada urusan apa, Anda, mencari anak buah saya?" sambung Sujino lagi.


"Anda, pasti sudah tau kalau Jonas pernah dilaporkan kepada polisi, karena sebuah tuduhan pembakaran restoran secara sengaja," ujar Gio langsung pada inti pembahasan.


Dia sudah cukup mengerti kalau Sujino tidak suka orang yang berbelit. Kebetulan Gio juga sama, dia lebih suka pada orang yang selalu memanfaatkan waktunya dengan baik.


"Ya, tentu saya tau. Bahkan saya juga tau siapa yang melaporkannya," jawab Sujino, hingga membuat Randi melebarkan matanya.


Namun, itu tidak bagi Gio, dia sudah pasti tahu cara kerja seorang mafia seperti Sujino. Mereka pasti sudah menyelidiki semuanya, sebelum berani menawarkan sebuah kerja sama padanya.

__ADS_1


Gio tersenyum tipis. "Jadi, sebenarnya yang mana tujuan, Anda, menemuiku ... mengajak berbisnis, atau membalas anak buah, Anda?"


Sujino terdengar terkekeh kecil saat mendengar pertanyaan tajam yang diucapkan oleh Gio.


"Saya, bukanlah orang yang akan membalaskan dendam seorang anak buah, apalagi hanya karena dipenjara," jawab Sujino.


"Benarkah?" Gio menatap tidak percaya pada Sujino.


Sujino mengangguk samar, untuk meyakinkan Gio.


"Lantas, bagaimana jika saya meminta, Anda, untuk tidak menyembunyikan dan melindungi Jonas lagi?" tanya Gio.


"Saya tidak pernah melindunginya." Sujino membantah.


"Saya dengar, Anda, yang membebaskannya?" Gio berucap lagi.


"Itu hanya tanggung jawab saya sebagai seorang ketua," jawab Sujino.


Gio memicingkan matanya, mencoba menganalisa setiap perubahan raut wajah dan gestur tubuh, setiap kali Sujino berbicara.


"Bagaimana jika saya kembali melaporkan Jonas pada polisi," tanya Gio.


"Silahkan, saya tidak akan menghalangi," jawab Sujino enteng.


"Apakah, Anda, akan membebaskannya lagi?"


"Bukankah itu juga hak saya?" Sujino berbalik bertanya pada Gio.


"Lalu, di mana peran, Anda, sebagai keamanan bagi semua relasi, Anda? Saya yakin, Anda, pasti sudah tahu, siapa sebenarnya terget dari Jonas," tekan Gio.


"Tapi, dia tidak bekerja sama denganku?" Bantah Sujino.


"Bagaimana dengan Ayah dan pamannya yang bekerja sama denganmu? Apa itu belum cukup untuk menganggapnya sebagai klien, Anda, juga?"


Sujino kembali terkekeh, dua menatap wajah Gio dengan sorot mata terkejut sekaligus tidak percaya.


"Tenanglah, Tuan. Anda, tentu tau kalau ini biasa dilakukan dalam dunia bisnis," ujar Gio santai.


Sujino masih saja terkekeh, dia menganggukkan kepalanya. Sepertinya laki-laki paruh baya itu cukup tertarik dengan keberanian Gio.


.......................


Nah, gimana nih, bisa dapat kesepakatan gak ya?

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya🙏🥰


__ADS_2