
...Happy Reading...
.....................
Tangan Diandra saling meremas di atas pangkuan, meredam rasa gugup di dalam hatinya. Walaupun ini bukan pertama kalinya dia bertemu dengan Hana dan Gita, tetap saja dirinya merasa sulit untuk mengendalikan perasaannya.
Ya ampun, kenapa jantungku berdetak cepat seperti ini? batin Diandra, memejamkan matanya mencoba menenangkan diri.
Gio yang melihat wajah gusar istrinya, mengulurkan tangan kirinya lalu menggenggam lembut tangan Diandra.
"Santai saja. Kamu kan sudah pernah bertemu dan berbicara dengan Mama dan Gita," ujar Gio, berusaha menenangkan istrinya.
Aku kira perempuan dingin seperti kamu, tidak akan merasa gugup seperti ini, batin Gio.
Diandra membuka kembali matanya, lalu melihat Gio. Dia kemudian mengangguk samar, walau hatinya masih saja tidak menentu.
"Tidak apa-apa, kamu cukup bersikap seperti biasanya. Aku yakin, Mama dan Gita, pasti senang banget kalau lihat kamu datang," ujar Gio.
Jarak rumah Gio semakin dekat, dan itu membuat perasaan Diandra semakin tidak menentu. Gio bahkan bisa merasakan ujung jari milik istrinya yang terasa dingin.
"Jangan sok tau," decak Diandra.
"Aku memang tau." Gio menatap wajah Diandra dengan kekehan kecil di mulutnya.
"Mamah dan Gita, seneng banget saat tau aku nikah sama kamu. Kamu, kan bisa lihat sendiri ketika mereka datang pagi tadi," ujar Gio lagi.
Diandra melihat Gio penuh curiga. "Kamu, pasti bohong kan? Mana ada yang mau menerima hubungan pernikahan seperti ini?"
"Ada! Buktinya Mama dan Gita bisa menerima kamu," jawab Gio cepat.
"Gak usah bohong." Diandra masih saja tidak percaya.
"Ya udah, kita lihat saja nanti."
Tanpa terasa mobil yang dikendarai oleh Gio, kini sudah mulai memasuki pelataran rumahnya.
Diandra bisa melihat, beberapa laki-laki berbadan kekar yang berjalan hilir mudik, bahkan ada beberapa yang menghampiri mobil Gio.
"Siapa mereka?" tanya Diandra.
Seingatnya ketika dirinya menginap di sini, belum ada para laki-laki kekar itu.
"Anak buahku. Gak usah takut, mereka badannya aja yang besar. Tapi, sebenarnya hatinya baik kok," ujar Gio.
Diandra mengangguk, sambil masih mengedarkan matanya memperhatikan para anak buah suaminya.
"Ayo, turun," ujar Gio, saat dua anak buahnya sudah membuka pintu mobil untuk mereka.
Diandra dan Gio pun ke luar dari dalam mobil bersamaan.
__ADS_1
"Tolong bawa barang-barang yang ada di jok belakang," ujar Gio pada para anak buahnya.
"Baik, Pak," angguk mereka ******.
Gio menghampiri Diandra dia menggenggam tangan istrinya lembut. "Ayo."
Diandra pun melangkah masuk ke dalam rumah, dengan berjalan di belakang Gio.
"Gio, Dian, kenapa kalian ke sini, malam-malam begini? Dian, kan lagi sakit!" cerocos Hana, yang memang bermaksud untuk melihat mobil yang datang, malah dikejutkan dengan kedatangan anak dan menantunya.
"Iya, Mah. Diandra katanya mau ketemu sama, Mama dan Gita, sebelum pulang ke Jakarta," jawab Gio.
Gio sengaja berbohong, agar Diandra memang terlihat lebih baik di hadapan ibu dan juga keluarganya.
Sedangkan Diandra melirik Gio dengan wajah terkejutnya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Gio akan berbohong pada ibunya.
"Ya ampun, Dian, gak usah seperti ini. Kami juga mengerti kalau kamu sedang sakit." Hana menghampiri Diandra.
"Gio, ayo cepetan bawa istri kamu masuk. Kamu ini gimana sih, istri lagi sakit, bukannya dijagain dengan baik malah diajak pergi malam-malam begini?!" oceh Hana pada anaknya.
Diandra hanya tersenyum canggung, melihat interaksi kedekatan antara anak dan ibu di depannya.
Mereka pun akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah bersama-sama.
"Kak Gio, Kak Dian. Aku pikir kalian gak bakalan dateng." Gita yang baru saja ke luar dari kamarnya langsung menyapa pasangan suami istri itu.
"Datang dong, kan besok pagi, adikku ini mau pulang," jawab Gio, sambil mengacak rambut di puncak kepala adiknya.
"Kak Dian, sudah mendingan?" tanya Gita, beralih pada Diandra.
"Aku baik, kok. Ini, buktinya bisa sampai di sini," jawab Diandra.
"Pak Gio, ini semua di taruh di mana?" tanya salah satu anak buah Gio yang membawa barang belanjaan Diandra.
"Taruh di sana saja. Besok juga dibawa lagi sama, Mama dan Gita," ujar Gio, menunjuk salah satu sudut di ruangan itu.
"Yang itu di bawa ke dapur saja, untuk dimakan di sini," imbuh Diandra menunjuk salah satu kantong yang ada di sana.
Anak buah Gio pun langsung mengangguk, lalu membawa kantong yang ditunjuk oleh Diandra ke dapur.
"Apa ini, Dian? Ngapain repot-repot pake bawain semua ini?" tanya Hana.
"Dian gak mau kalau ke sini gak bawa apa-apa, Mah. Itu juga sekalian ada beberapa oleh-oleh untuk orang rumah," ujar Gio.
"Ck, kamu ini, Dian. Padahal ngeliat kamu ke sini sama Gio aja udah bikin Mamah seneng. Gak usah pake bawa barang-barang segala."
"Gak apa, Tante. Kebetulan aku kenal sama yang punya toko oleh-oleh dan kue ini," ujar Diandra.
"Jangan panggil Tante dong, Dian. Panggil Mamah aja, sama kayak Gio dan anak-anak mama yang lainnya," ujar Hana.
__ADS_1
Diandra tampak bingung dia melihat ke arah wajah Gio, agar bisa memebrikan solusi. Akan tetapi dengan jahilnya Gio malah memalingkan wajahnya dan tidak mau menatap Diandra lagi.
Ck, dasar laki-laki nyebelin! umpat Diandra dalam hati.
"I–iya, Tan– eh, maksudnya Mamah," jawab Diandra dengan nada suara kaku juga terbata.
Gio menahan senyumnya melihat wajah mau sang istri, juga semburat merah di wajah Diandra.
"Nah gitu dong," ujar Hana, di iringi tawa bahagianya.
Diandra mengangguk lirih sambil tersenyum canggung.
Mereka pun akhirnya berbincang bersama di ruang keluarga. Di sini, terlihat sekali Diandra tidak nyaman, dan terlihat sangat canggung kepada Hana dan Git, berbeda dengan ketika pertama kali mereka bertemu beberapa hari yang lalu.
"Kak Dian, aku seneng banget loh, waktu tau kalau Kak Gio nikah sama Kakak. Ya, walaupun ada sedikit kaget juga," ujar Gita, sambil terkekeh.
Diandra tersenyum. "Maaf, waktu kita pertama bertemu aku–"
"Udahlah, Kak, gak usah dipikirin lagi. Aku juga udah gak masalah sama semua itu," ujar Git, langsung memotong perkataan Diandra.
Diandra menghembuskan napas lega, sambil mengangguk dan tersenyum.
Jam sepuluh malam Diandra dan Gio kini sudah berada di kamar mereka. Diandra sudah duduk di ranjang dan bersiap untuk tidur, sedangkan Gio baru saja ke luar dari kamar mandi.
"Kok belum tidur?" tanya Gio, sambil menghampiri Diandra.
Diandra menggeleng.
"Kenapa, hem?" Gio duduk di samping Diandra.
"Gak apa-apa, aku hanya merasa gak enak aja sama Mamah dan Gita." Diandra menunjukan kepalanya.
"Gak enak kenapa? Sini, coba bilang sama aku?" Gio menatap wajah Diandra lembut.
"Aku merasa gak pantas untuk berasa di sini, kalian terlalu baik untuk aku," ujar Diandra sendu.
Diandra bisa merasakan perih di dalam hatinya, saat dirinya mengatakan semua itu. Akan tetapi, perlakuan baik dari Hana dan Gita selalu mengusik pikirannya.
Diandra merasa telah bersalah pada Gio dan keluarganya. Akan tetapi, dia juga tidak bisa memaksakan diri untuk langsung menerima Gio sebagai suaminya.
Gio menggenggam tangan Diandra, dia menatap wajah sendu istrinya.
"Hei, kenapa ngomong gitu, hem? Pantas dan tidak pantasnya kamu untuk jadi istriku, hanya aku yang boleh menentukan. Dan, menurutku, kamu benar-benar pantas berada di posisi saat ini," ujar Gio.
Diandra membalas tatapan dalam Gio, ada rasa hangat bercampur perih, saat Gio masih saja bersikap lembut padanya, saat dirinya masih tetap berdiri di atas kenangan masa lalunya.
...................
Kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam hati seseorang, maka berbuat baiklah dan berusaha untuk tidak menyinggung perasaannya, karena Kita tidak pernah tau apa yang akan membuatnya berubah dan akhirnya melihat pada kita.
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...