Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Belanja buah bareng mertua


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Kak Dian dari mana, tadi aku ke kantor katanya Kakak izin pulang dari siang?" tanya Gita saat Diandra baru sampai di rumah.


Adik iparnya itu langsung menyambutnya begitu dia turun dari mobil.


"Kamu ke kantor?" tanya Diandra dengan raut wajah terkejut.


"Iya, tadi Kak Gio suruh aku ke kantor, soalnya ponsel Kak Dian gak bisa dihubungi," jawab Gita santai.


Diandra langsung mengambil ponsel di tasnya, ternyata ponselnya memang sudah dalam keadaan mati.


"Ponsel aku kehabisan batre," jawab Diandra sambil memperlihatkan ponsel miliknya pada Gita.


"Memang Kak Dian habis dari mana sih?" tanya Gita masih merasa penasaran.


"Aku habis nganterin karyawan yang pingsan di kantor, terus mampir ke rumahnya. Gara-gara asik ngobrol jadi lupa waktu di sana," jelas Diandra tanpa ada yang ditutupi.


"Pingsan? Kok bisa?" Diandra dan Gita mulai berjalan masuk ke dalam rumah bersama-sama.


"Dia sedang hamil muda," jawab Diandra. Dia menghentikan langkahnya sebentar.


"Oh iya, Mama jadi nengokin temannya ke rumah sakit?" tanya Diandra saat dia ingat ada janji untuk menemani Mama Hana menengok temannya yang sedang sakit.


"Jadi, kayaknya sekarang masih siap-siap deh," jawab Gita.


"Ya ampun aku lupa, kalau gitu aku juga siap-siap dulu ya, Git," jawab Diandra langsung mempercepat langkahnya.


"Iya, nanti aku suruh Mama tunggu!" jawab Gita dengan sedikit meninggikan suaranya, karena jarak dirinya dan Diandra sudah lebih jauh.


"Terima kasih, Gita!" Diandra sedikit berteriak, sambil melangkah menaiki tangga.


Sampai di kamar Diandra langsung meletakkan ponselnya di tempat mengisi daya, agar ponselnya otomatis terisi, kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Beberapa saat kemudian Diandra sudah kembali turun dari kamar dengan tampilan yang berbeda. Celana model kulot panjang yang dipadukan dengan atasan kaos lengan panjang yang dimasukkan bagian bawahnya. Terlihat santai dan kekinian, walau terlihat tertutup, akan tetapi, tetap memperlihatkan kelebihannya dengan kaki yang jenjang.


"Kak Dian, ini Kak Gio nanyain," ujar Gita begitu Diandra sampai di bawah.


"Mama, mana?" Diandra bertanya sambil mengambil ponsel Gita.


"Mama belum ke luar, sepertinya masih siap-siap deh," jawab Gita.


"Sayang, kenapa ponsel kamu gak bisa dihubungi? Ke mana aja kamu hari ini?" tanya Gio dengan suara merajuk.

__ADS_1


Diandra mengalihkan pandangannya pada ponsel Gita, dia bisa melihat wajah Gio yang sudah memerah menahan kesal, atau mungkin bahkan sedang marah.


"Maaf, tadi aku lupa mengisi baterai ponsel," jawab Diandra dengan suara lirih.


"Ke mana saja kamu, hah? Aku sampai suruh Gita ke kantor untuk mencari kamu, tapi, kamu gak ada!" tanya Gio dengan suara yang terdengar lantang.


Diandra mengernyitkan keningnya, melihat Gio yang tampak sangat marah padanya, padahal mereka hanya tidak bertukar kabar dari siang sampai sore hari, bahkan dia ingat siang tadi dia sempat mengirim pesan pada Gio. Akan tetapi, Gio belum menjawabnya.


"Tadi di kantor ada karyawan yang pingsan karena sedang hamil muda, jadi aku mengantarkannya pulang. Cuman itu saja," ujar Diandra berusaha menjelaskan dengan baik-baik, walau dalam hati dia juga tidak terima saat melihat tatapan tajam Gio yang seolah sedang menuduh dirinya berbuat macam-macam.


"Ngapain sih kamu pakai repot-repot nganterin karyawan segala, hah? Kan bisa suruh sopir kantor." Gio masih terlihat marah.


"Mana aku kepikiran ke situ, di saat hampir semua karyawan kamu menghujat dan menghardik dia! Sudahlah, nanti kita bicara lagi, sekarang aku harus menemani Mama jenguk temannya," ujar Diandra kemudian menutup sambungan teleponnya sepihak, setelah melihat Mama Hana dan Gita sudah ke luar dari kamar.


Diandra hanya ingin menghibur dirinya sendiri dan melupakan rasa sepinya, disaat untuk pertama kalinya berpisah dari Gio. Makanya dia memilih untuk menyibukkan diri. Akan tetapi, kini dia malah mendapat omelan tidak jelas dari suaminya.


Sungguh, saat ini hatinya benar-benar terasa panas, dia ingin marah dan melampiaskan kekesalannya pada sang suami. Akan tetapi, dia juga sadar kalau mungkin di tempat yang jauh, suaminya sedang lelah karna pekerjaan yang pastinya sangat banyak.


Diandra pun memilih untuk menahannya dan memutuskan panggilan, dia berharap nanti emosi Gio akan mereda seiring berjalannya waktu. Apalagi dia juga tidak mau kalau perdebatan di antara dirinya dan Gio sampai terdengar oleh ibu mertua dan adik iparnya.


"Kamu sudah siap, Dian?" tanya Mama Hana dengan senyum mengembang.


"Iya, Mah. Mau berangkat sekarang?" ujar Diandra sambil tersenyum manis, walau di dalam hati masih terasa mengganjal dengan pertengkarannya dengan Gio.


"Ini ponsel kamu, Git. Terima kasih, ya," sambung Diandra lagi beralih pada Gita.


"Sudah kok," jawab Diandra tersenyum hangat.


"Telepon siapa, kok pake ponsel Gita?" tanya Mama Hana.


"Sama Gio, Mah. Tadi, ponsel Dian mati, jadi Gio telepon melalui ponsel Gita," jawab Diandra.


"Oh gitu ... ya udah, ayo kita berangkat sekarang, biar nanti pulangnya gak terlalu malam," ujar Mama Hana.


"Ayo, Mah," jawab Diandra.


Sopir yang biasa mengantar Mama sedang cuti, makanya hari ini Mama Hana meminta tolong pada Diandra untuk mengantarkannya.


Diandra kembali mengendarai mobil yang sama bersama dengan Mama Hana, di sore hari menjelang senja yang ternyata cukup padat, hingga macet di beberapa tempat.


"Kita mampir ke toko buah dulu ya," ujar Mama Hana setelah mereka hampir tiga puluh menit ke luar dari rumah.


"Iya, Mah," angguk Diandra sambil menepikan mobilnya di salah satu pelataran toko buah yang lumayan besar.


Keduanya tampak ke luar dari mobil bersama-sama, dan masuk ke dalam toko buah itu. Mama Hana memesan satu parsel buah untuk barang bawaannya saat menjenguk temannya, sedangkan Diandra malah tertarik dengan tumpukan buah mangga yang terlihat begitu menggiurkan.

__ADS_1


Diandra memilih beberapa buah mangga indramyu yang masih tampak hijau, hingga menarik perhatian Mama Hana.


"Ini belum matang, nanti rasanya asam. Kalau mau beli mangga, beli yang ini aja, lebih manis rasanya," ujar Mama Hana sambil menunjukkan tumpukan buah mangga arumanis, di sebelah mangga indramayu.


Diandra tersenyum sebelum menjawab, dia juga cukup tahu jenis-jenis mangga. Akan tetapi, untuk kali ini dia merasa tertarik dengan mangga berjenis indramayu, yang bercitarasa sedikit asam dan memiliki tekstur renyah bila dimakan belum terlau matang.


Ah, membayangkannya saja rasanya saliva Diandra sudah mau menetes, apalagi jika dimakan di waktu panas bersama dengan sambal rujak yang diberi sedikit kacang. Pasti akan sangat menyegarkan.


"Aku memang sedang mau mangga ini, Mah. Kayaknya enak deh kalau dimakan siang-siang, apa lagi sekarang cuacanya sedang panas terik," ujar Diandra.


"Mama, mau beli buah mangga yang ini? Biar aku pilihkan sekalian," ujar Diandra lagi.


"Boleh deh, sekalian kita belanja buah aja di sini, ya. Kebetulan kayaknya stok buah di kulkas sudah habis," jawab Mama Hana.


"Ya udah, kalau gitu Mama mau beli buah apa saja?" tanya Diandra, sambil mulai memilih buah mangga arumanis.


Senja sore itu Diandra lalui dengan berbelanja buah bersama Mama Hana, hingga tanpa terasa waktu berlalu begitu saja. Hingga saat mereka berdua ke luar hari sudah berubah gelap.


"Yah, kita kayaknya terlalu asik berbelanja di dalam, sampai lupa waktu begini," ujar Mama Hana sambil terkekeh.


"Iya, Mah. Sekarang kita langsung ke rumah sakit aja, takut terlalu malam," ujar Diandra setelah memasukan barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil, yang langsung disetujui oleh Mama Hana.


Begitulah para perempuan kalau sedang pergi ke luar, niatnya mau ke satu tempat, malah mampir ke tempat lainnya, hingga waktu yang awalnya dijadwalkan akan terus bertambah semaunya.


Itu juga yang dirasakan oleh Mama Hana dan Diandra. Seperti saat ini, mereka sedang duduk berdua di restoran bertema korea, sambil menunggu pesanan makan malam mereka, setelah pulang dari rumah sakit.


"Kamu ini sama saja seperti Gita, kalau diajak makan malam di luar pasti milih makanan korea, all you can eat, atau sushi," ujar Mama Hana begitu mereka duduk di kursi yang ada di sana.


"Justru aku begini, karena sering nonton drama korea bareng sama Gita, Mah," jawab Diandra sambil terkekeh kecil.


"Lah, ternyata kamu malah ketularan dia?" tanya Mama Hana. Keduanya tampak tertawa saat mengingat Gita yang tergila-gila dengan drama korea.


"Iya, Mah. Lagian makanan di drama korea itu kok bikin ngiler, apa lagi kalau udah lihat yang sedang makan jajangmeyon, warnanya hitam jadi unik dan bikin penasaran, ditambah sama kimci. Huem, pasti enak banget deh," ujar Diandra sambil membayangkan adegan seorang aktris korea yang sedang makan jajangmeyon di dalam drama yang dia tonton baru-baru ini bersama Gita..


"Ish, kamu ini kayak orang yang lagi ngidam aja," ujar Mama Hana tanpa sadar, yang langsung membuat kedua orang itu terdiam, terkejut dengan perkataan yang diucapkan Mama Hana.


"Tunggu! Kamu sudah berapa bulan menikah dengan Gio?" tanya Mama Hana.


Diandra pun ikut terdiam, kerutan di keningnya tampak terlihat dalam, menandakan kalau wanita itu sedang berpikir keras.


"Sudah hampir lima bulan, Mah," jawab Diandra lirih. Tiba-tiba saja jantungnya terasa berdetak lebih kencang, saat mengingat semua itu.


Dia bahkan tidak sadar kalau usia pernihakan dadakannya bersama Gio sudah berjalan cukup lama, dan bisa bertahan dalam melewati berbagai macam cobaan yang selama ini berhasil mereka selesaikan dengan cara baik-baik.


Pernikahan yang awalnya dia tentang hingga membuat dia menangis dan marah pada orang tuanya, kini malah dia rasakan kebahgiaannya. Mendapatkan suami seperti Gio yang mencintainya dengan sepenuh hati, dan keluarga suaminya yang bisa menerima dirinya seolah menjadi mimpi setiap perempuan di dunia.

__ADS_1


"Kapan terakhir kamu datang bulan?" tanya Mama Hana lagi, sambil menatap Diandra dengan tatapan intens.


......................


__ADS_2