
...Happy Reading ...
......................
Diandra menghembuskan napasnya kasar saat melihat lagi-lagi sebuah buket bunga ada di atas ranjangnya.
Itu sudah terjadi untuk yang kesekian kalinya, dan itu terus berulang setiap hari semenjak dirinya pulang dari negara S.
Gio terus berusaha merebut kembali hati Diandra dengan berbagai cara, laki-laki itu benar-benar tidak pantang menyerah, walau semua yang dia lakukan tetap saja diacuhkan oleh Diandra.
Sebenarnya dia juga berat melakukan ini, apa lagi di tengah keadaannya saat ini yang tengah mengandung calon anak Gio. Akan tetapi, sepertinya memang dirinya masih butuh waktu untuk berdamai dengan kekecewaannya sendiri.
Diandra mengambil buket bunga itu kemudian membaca pesan yang ada di dalam sebuah kartu.
Maafkan aku, sayang. Aku mohon bicara lagi denganku, jangan diami aku seperti ini.
Itulah kata yang tertulis di atas sebuah kertas berwarna cream yang dengan ornamen bunga kering di setiap sisinya.
Diandra menghirup bunga yang ada di tangannya, walau akhirnya di kembali menaruhnya begitu saja di atas meja, lalu dia tinggalkan masuk ke dalam kamar mandi.
Jujur saja sebenarnya dirinya juga sangat merindukan sang suami, bahkan setiap malam dia sering sengaja mendekati suaminya agar bisa dipeluk oleh Gio.
Diandra tampak duduk termenung di atas kloset, ingatannya kembali pada beberapa hari ini, bagaimana usaha Gio untuk membujuknya agar bisa memaafkan masa lalunya.
Jujur saja sebenarnya akal sehatnya memang bisa menerima semua masa lalu Gio, karena yang terpenting di dalam hubungan adalah tentang Gio di masa sekarang dan masa depan.
Namun, hati dan perasaannya terus saja merasakan sakit dan kecewa entah karena apa. Bila saat ini ada yang bertanya padanya, kenapa dirinya marah kepada Gio, mungkin Diandra juga tidak akan menemukan jawaban yang pasti.
Karena ini memang soal perasaan yang kadang sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata, tidak seperti akal sehat yang bisa diungkapkan melalui logika.
.
.
"Cie, sepertinya ada yang udah dapet penggemar rahasia nih, sekarang setiap hari pasti ada yang ngirim bunga atau coklat di meja kami, Dian," goda Tia, saat melihat Diandra baru saja duduk di meja kerjanya.
Diandra hanya menghembuskan napas kasar sebelum akhirnya membiarkannya begitu saja, tanpa mau membuka dan menerimanya. Walau sebenarnya di dalam hati dia merasa senang mendapatkan perhatian lebih dari suaminya.
__ADS_1
"Ck, gak usah berisik, Mba!" Jawab Diandra santai, kemudian duduk di kursi kerjanya.
"Gak usah terlalu jual mahal, Dian. Nanti keburu diambil orang baru terasa kehilangannya. Cowok juga ada capeknya kalau harus terus mengejar, tanpa ada balasan," ujar Tia sambil terkekeh pelan.
Diandra terdiam, perkataan Tia memang ada benarnya, selama ini Gio yang selalu mengejarnya, sedangkan dirinya tidak pernah berjuang untuk hubungan mereka.
Begitulah setiap hari Diandra terus mendapatkan berbagai hadiah dan rayuan dari sang suami. Bahkan pernah suatu hari saat jam makan siang, tiba-tiba Diandra menginginkan rujak serut, dia iseng membuat story di pesan singkat, dan hanya hitungan menit, rujak itu sudah berada di tangan Diandra.
Tentu Diandra tahu, siapa pelakunya. Makanya dia tidak segan langsung menerima dan memakannya. Kenyataannya, walaupun Diandra sedang mendiami Gio, Gio tetap saja tidak pernah bosan untuk berbuat baik pada sang istri, dan memastikan semua keinginan Diandra terpenuhi.
.
.
Bus melaju cepat menuju tempat family gathering dilangsungkan, Diandra duduk termenung di dekat jendela, pikirannya sama sekali belum tenang, bukan karena rencana yang sudah dia buat untuk Mely, Sintia, dan Eric, karena semua itu sudah dia berikan pada Randi.
Karena kehamilannya Mama Hana melarang Diandra untuk terlibat dalam semua rencana membongkar kecurangan tiga sekawan itu. Akan tetapi, kini entah kenapa hatinya terasa gelisah.
"Dian, kok aku kayak melihat mobil bos sih di belakang? Memang bos mau ikut acara kita?" tanya Nina yang duduk di sebelah Diandra.
Diandra menoleh sekilas pada Nina, kemudian melihat ke arah belakang, dua mobil di belakang mereka, memang seperti ada mobil sang suami yang mengikuti.
Diandra kemudian mengambil ponsel di dalam tas miliknya, menatap nomor suaminya di kontak, walau akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Diandra lebih memilih untuk menghubungi Randi melewati pesan singkat.
Sementara itu Gio yang berada di dalam mobil tampak gelisah, takut ketinggalan mobil bus yang ditumpangi oleh istrinya.
"Jangan terlalu jauh, Ran. Kita lebih dekat lagi," ujar Gio pada sang asisten.
"Kita hanya berjarak dua mobil di belakang. Katanya gak mau ketahuan?" cebik Randi menatap kesal bos cerewetnya. Entah sudah berapa kali Gio mengambil sepanjang perjalanan mereka kali ini, telinga Randi bahkan sudah terasa panas mendengar semua ocehan tidak penting dari bosnya itu.
Gio tidak menjawab dia hanya menghembuskan napas kasar sambil menyandarkan punggungnya.
Suara pesan masuk di ponsel Randi mengalihkan perhatian laki-laki itu. Akan tetapi, Gio kembali tidak peduli, hingga akhirnya Randi menyodorkan ponselnya pada Gio begitu melihat nama di layar ponselnya.
"Apa?" Gio yang tidak mengetahui niat Randi malah menatap wajah sang asisten bingung.
"Diandra kirim pesan, tuh," jawab Randi dengan ponsel masih berada di tangannya.
__ADS_1
"Hah, kenapa dia malah kirim pesan sama kamu? Apa ponsel aku mati?" tanya Gio sambil mengambil ponselnya yang masih berada di dalam saku.
"Enggak tuh, ponsel aku baik-baik saja," sambung Gio menjawab pertanyaannya sendiri.
"Coba buka saja, kan dia juga gak tau kalau kamu yang buka ponsel aku," ujar Randi asal, dia malah kembali sibuk dengan jalanan di depannya.
Gio mengangguk, dia kemudian mengambil ponsel Randi dan membuka pesan dari sang istri.
Diandra: [Ran, kamu ngikutin bus kami, ya?]
Gio mengernyit melihat pesan yang dikirim oleh istrinya.
"Ran, kayaknya kita ketahuan deh. Diandra sudah melihat mobil kita," ujar Gio lemas.
"Ya udah, tinggal jawab apa adanya." Randi berkata dengan sangat santai, tanpa tahu bagaimana perasaan Gio saat ini.
"Tapi, nanti ketahuan dong kalau aku yang balas?" ujar Gio merasa ragu.
"Ya jangan sampai ketahuan," jawab Randi.
^^^Randi: [Iya, kita ada kerjaan gak jauh dari tempat family gathering kalian]^^^
Gio tersenyum saat mendapatkan alasan yang cukup masuk akal.
Diandra melihat ponselnya saat notifikasi pesan masuk terdengar. Dia kemudian melihat dan menganggukkan kepala, walau dirinya sempat terdiam dan memperhatikan tulisan yang ada dibayar ponselnya.
Diandra: [Oh.]
"Cuma, oh, doang?" kesal Gio saat melihat balasan dari Diandra.
"Untung dibalas, biasanya dia cuman mengirimkan emot dua tangan ditangkupkam doang," jawab Randi.
"Masa sih? Bukannya akhir-akhir ini kalian sedang membahas rencana di family gathering besok?" tanya Gio menatap penuh selidik pada sang asisten.
"Kita hanya membicarakan pekerjaan, lihat saja semuanya masih ada di sana. Kamu tinggal scrol ke atas," jawab Randi menatap jengah laki-laki di sampingnya sebentar.
Gio tampak benar-benar membaca setiap pesan yang dikirimkan oleh Diandra pada Randi, hingga laki-laki itu kini sibuk dengan ponsel Randi di tangannya.
__ADS_1
Randi hanya menghembuskan napas kasar sambil memutar bola matanya, saat melihat sikap posesif Gio pada istrinya.
......................