
...Happy Reading...
..................
Suara ketukkan pintu mengganggu tidur pulas sepasang anak manusia yang masih terlelap, setelah menikmati indahnya gelora percintaan. Bersatunya hasrat yang telah lama terpendam, hingga menghabiskan energi di dalam tubuh mereka.
Diandra menggeliat sambil mengerjapkan matanya, memicing menatap wajah Gio yang berada di sampingnya. Dia ternyata sudah terbangun lebih dulu dan kini sedang menatapnya.
Gio tampak tersenyum, dengan posisi kepala yang lebih tinggi daripada istrinya, dia berbaring miring dengan tangan menumpu kepalanya.
Diandra tampak langsung mengalihkan pandangannya, saat sudah sadar kalau Gio tengah menantapnya, pipinya tampak memerah menahan malu, ketika kilasan kejadian beberapa saat lalu melintas di kepala.
Diandra meringis sambil menutup matanya dengan erat, rasanya dia ingin segera berlari menjauh dari suaminya, agar bisa menghindar sampai Gio bisa melupakan kejadian itu.
Namun, situasi saat ini membuatnya tidak bisa beranjak ke mana-mana. Ya, kini dirinya bahkan masih tidak menggunakan setelah benang pun di bawah selimut tebal yang menutup seluruh tubuhnya. Apalagi dengan tangan Gio yang menempel erat di perutnya. Akh, rasanya dia ingin tenggelam, saking malunya.
Gio terkekeh melihat Diandra yang tampak malu dan salah tingkah, dengan jahilnya dia malah mengeratkan pelukannya, hingga kini tubuh keduanya semakin menempel erat, hingga gesekan kulit kembali terasa.
"Gio, Dian? Kalian gak apa-apa?!" teriak Randi dari luar di sela ketukkan pintu.
Gio berdecak, untuk pagi ini dia tidak mau diganggu oleh apa pun, dirinya hanya ingin menghabiskan waktunya bersama sang istri tercinta.
"Kami baik-baik saja, nanti kami akan ke luar," jawab Gio, sedikit mengencangkan suaranya.
"Baiklah, aku hanya mau bilang kalau sarapan kalian sudah mau dingin!" Randi kembali berujar.
"Iya, sana pergi, jangan ganggu kami pagi-pagi begini!" usir Gio.
"Ck!" Randi berdecak, mendengar jawaban dari bos kurang ajarnya itu.
"Matahari bahkan sudah hampir berada di atas, dia biang ini masih pagi? Sejak kapan dia jadi pemalas seperti ini?" gerutu Randi sambil beranjak pergi dari depan kamar kedua bosnya itu.
Sebenarnya dia terpaksa melakukan semua itu, karena panggilan dari Bi Minah sama sekali tidak dihiraukan oleh pasangan suami istri itu.
Setelah percakapan singkat dengan sang asisten, kini Gio kembali beralih pada sang istri.
"Kenapa, sayang?" tanya Gio, saat melihat Diandra masih saja memejamkan matanya.
Diandra diam saja, sepertinya saat ini dia sedang berpura-pura tertidur kembali, walau sebenarnya dia sendiri tahu kalau semua itu tidak ada gunanya.
Gio mengecup pipi Diandra dengan gemas, mencoba membuat Diandra membuka mata. Akan tetapi, sepertinya semua itu sama sekali tidak bisa membuat istrinya menyerah.
"Oh, jadi kamu masih mau lagi, hem? Baiklah–" Gio sedikit mengangkat tubuhnya, bersiap untuk kembali mengungkung Diandra.
"Stop, aku gak mau!" potong Diandra cepat, sambil menahan tubuhnya Gio menggunakan kedua tangannya, matanya pun akhirnya terbuka.
__ADS_1
Gio terkekeh, dia memang hanya berniat untuk menggoda Diandra, walaupun jika semua itu benar, dengan senang hati dia akan kembali memberikan surga dunia itu pada sang istri.
Dia kembali berbaring miring, dengan tangan yang kembali memeluk tubuh istrinya.
"Kenapa? Bukannya tadi kamu sangat menikmatinya?" tanya Gio, sambil mengulum senyumnya.
Sepertinya kejahilan Gio memang sudah mendarah daging, hingga Diandra tidak pernah luput menjadi objek pelampiasannya.
"S–siapa? A–aku enggak tuh," jawab Diandra sambil kembali mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Pipinya pun tampak memerah kembali, menahan malu saat Gio malah mengungkit kejadian memalukan itu.
"Benarkah? Tapi, aku merasa kamu sangat–"
"Stop, jangan di bahas lagi! Aku malu." Diandra langsung memotong ucapan Gio sambil menutup wajahnya.
Gio tergelak, melihat Diandra yang berhasil dia jahili, lagi dan lagi. Ah, melihat wajah polos dan tidak berdaya istri dinginnya, membuat Gio selalu merasa senang dan spesial.
"Iya-iya, aku gak akan bahas lagi. Tapi, buka dong tangannya, aku kan mau melihat wajah cantik istriku," Gio memegang tangan Diandra yang berada di depan wajah perempuan itu.
Diandra perlahan membuka tangannya dari wajahnya, dia melihat Gio dengan tatapan yang tajam, seolah sedang menunjukkan kemarahannya.
Namun, itu semua tentu saja tidak akan bisa membuat Gio takut. Laki-laki mantan casanova yang kini sudah bucin hanya kepada satu wanita itu, malah selalu menganggap setiap ekspresi wajah Diandra sangat lucu.
Begitu tangan Diandra terbuka, Gio langsung mencuri satu kecupan di bibir Diandra yang tampak sedikit bengkak.
"Gio!" teriak Diandra, menahan kesal. Sudah mendapatkan semuanya, masih saja mencuri kecupan dari bibirnya.
"Iya, sayang?" Gio malah menjawab dengan santainya.
"Ck!" Diandra hanya berdecak malas.
"Sudah siang, aku mau mandi, kamu bisa gak ambilkan jubah mandiku?" keluh Diandra yang sudah merasa tidak enak, saat kulit keduanya terus menempel di balik selimut. Dia sedikit takut, kalau nanti Gio akan memintanya kembali.
"Kamu mau mandi?" tanya Gio, dengan seringai yang tampak mencurigakan.
"Apa ... apa yang kamu pikirkan?" tanya Diandra menatap Gio penuh curiga.
"Apa? Aku gak mikirin apa-apa," kilah Gio.
Dia kemudian melepaskan pelukannya di tubuh Diandra, dan mulai bersiap untuk turun dari ranjang, ternyata laki-laki itu sudah memakai celana pendek untuk menutupi bagian intimnya.
"Sebentar," ujar Gio, sambil berjalan memutar, hingga kini berada di sisi ranjang tempat Diandra berada.
Diandra yang awalnya sudah berpikir baik tentang Gio, kini terpatahkan saat suaminya itu tiba-tiba mengangkatnya dengan selimut yang masih membalut tubuhnya.
__ADS_1
"Gio!" teriak Diandra sambil memukul dada bidang suaminya.
"Iya, sayang ... aku di sini," jawab Gio santai.
"Turunin aku, aku mau mandi," kesal Diandra.
"Kita mandi bareng." Gio terus melanjutkan langkahnya.
Diandra melebarkan matanya saat mendengar perkataan Gio. Bagaimana mungkin dia mau mandi dengan Gio, sedangkan kejadian memalukan beberapa saat yang lalu saja sudah membuatnya merasa tidak mempunyai muka di hadapan suaminya.
"Gak, mau! AKu mau mandi sendiri saja, turunin aku sekarang, Gio," pinta Diandra.
"Apa kamu sanggup untuk berjalan ke kamar mandi sendiri?" tanya Gio sambil menghentikan langkahnya, padahal hanya tinggal beberapa langkah lagi, mereka sampai di pintu kamar mandi.
"Kamu pikir aku sudah jompo?" kesal Diandra.
Akh, ternyata sikap dinginnya masih ada, walaupun Gio sudah memiliki Diandra seutuhnya.
"Iya, baiklah. Aku akan turunkan kamu," jawab Gio, sambil mulai membungkukkan tubuhnya untuk menurunkan sang istri.
Diandra memegang selimut yang melilit tubuhnya, lalu mulai menapakkan kakinya pada lantai kayu kamarnya.
Gio mundur beberapa langkah, dia membiarkan Diandra berdiri di dekat pintu kamar mandi.
"Ya udah, kamu mandi aja duluan," ujar Gio.
Diandra menatap Gio penuh curga, suaminya itu tampak tidak seperti biasanya. Ini terlalu mudah untuknya melepaskan diri, dari kejahilan Gio.
"Sssh." Diandra berdesis saat dia mulai melangkahkan kakinya, dirinya baru merasakan rasa sakit di bagian bawahnya.
Gio kembali menangkap tubuh Diandra dengan seringainya. "Gimana? Masih mau jalan sendiri?" tanya Gio.
"Kenapa masih sakit? Kamu apakan tubuhku?" tanya Diandra, mentap Gio kesal.
"Maaf, karena ini pertama kalinya untuk kamu, jadi ini akan terasa sakit. Tapi, itu tidak akan lama, sebentar lagi juga sembuh. Makanya kamu jangan banyak bergerak dulu, biarkan aku membawa kamu ke kamar mandi, ya?" ujar Gio, menjelaskan apa yang terjadi.
Sepertinya untuk urusan ini, Diandra memang tidak pernah mempelajarinya, hingga kini Gio merasa kalau Diandra adalah remaja desa yang polos, hingga tidak mengetahui tentang hubungan suami istri.
Diandra akhirnya mengangguk pelan, dia tidak bisa memaksakan diri, kalau tidak mau terjadi apa-apa dengannya. Apa sebenarnya yang dilakukan suaminya, hingga rasanya sesakit ini, apa ada yang terluka di bawah sana?
Ah, Diandra pusing memikirkan semua itu. Satu yang dia harus pastikan, kalau tubuhnya tidak apa-apa, dan semua yang dia dan suaminya lakukan tidak akan berakibat buruk bagi tubuhnya.
Apa aku harus merasakan sakit seperti ini terus, setelah berhubungan suami istri? Akh, kalau tau begini, kenapa banyak perempuan malah mau melakukan ini berulang kali? batin Diandra, yang sudah terlewat polos itu.
.................
__ADS_1
Diandra kebanyakan ngurusin hotel, makanya gak pernah ada waktu buat cari tau tentang semua itu, jadi sabar aja ya, Gio buat jelasin semuanya sama istri tercinta 😂