Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Melarikan diri


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Gio beranjak duduk di sisi ranjang, setelah melihat pintu kamar mandi tertutup rapat, dia meringis merasakan sesuatu yang sudah mendesak di bawah sana.


"Sshh," desis Gio, sambil menundukkan pandangannya, melihat inti tubuhnya yang terasa sesak.


Dua langsung berdiri sambil membuka kancing kemeja paling atas, merasakan hawa panas dan tidak nyaman, akibat ulahnya sendiri.


"Hah, sial! Kenapa di sini terasa panas sekali?" umpatnya sambil berjalan ke sana ke mari.


Tangannya pun terus mengibaskan kerah baju kemejanya, dengan kepala yang terkadang mendongak, frustrasi.


Gio bahkan meneguk habis air yang tadi dia bawakan untuk Diandra, agar bisa sedikit mengurangi hawa panas di tubuhnya.


Ya, Gio adalah laki-laki normal yang tentu saja mengharapkan haknya sebagai seorang suami dari istrinya.


Bahkan dulu, saat dia masih senang bermain dengan para wanita, dia termasuk orang yang memuja hal semacam itu. Baginya, tiada hari tanpa adanya gairah yang terpuaskan.


Gio baru berhenti setelah dering ponsel di sakunya terdengar, dia pun langsung mengangkat telpon itu, setelah melihat id yang ada di layar.


.


.


Ke luar dari kamar mandi, Diandra mengedarkan pandangannya, mencari sosok lelaki yang sudah membuat paginya begitu kacau.


Namun, dia sudah tidak melihat lagi keberadaan suaminya itu di salam kamar.


"Ke mana dia?" tanya Diandara, sambil berjalan menuju ke meja riasnya.


Diandra melihat ada piring berisi menu sarapan yang tadi dibawa oleh Gio, dengan secarik kertas tertempel di kaca meja rias.


Ada urusan mendadak, aku harus segera pergi. Maaf gak bisa nemenin kamu sarapan.


Diandra mengambil kertas itu, dia menatapnya lama dengan perdebatan antara hati dan pikirannya sediri.


Ya, hatinya merasakan berbunga dengan semua perlakuan Gio padanya. Akan tetapi, pikirannya terus menolak dan membantah itu semua.


Dia meletakkan begitu saja kertas itu, lalu mulai menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Gio untuknya.

__ADS_1


Sebenarnya dia itu apa, kenapa semua yang dilakukan selalu terlihat sempurna? Bahkan masakan buatannya pun terasa enak, batin Diandra penuh tanya.


Dalam setiap suapan yang dia masukan ke dalam mulut, terasa sangat sulit untuk dia telan. Ada yang mengganjal di dalam dada, hingga membuatnya terasa sesak.


Seharusnya aku yang menyiapkan ini semua untuknya, batinnya seakan memberitahu yang seharusnya dia lakukan.


Diandra menggelengkan kepala, dia terus menyuapkan makanan itu dengan tatapan kosong.


Setelah menghabiskan sarapannya, dia hendak mengambil gelas untuk minum. Akan tetapi, tangannya menggantung di udara, saat matanya melihat gelas itu telah kosong tak bersisi.


Dengan kening berkerut halus, Diandra mengangkat gelas itu, ke depan wajahnya.


"Apa gelas ini bocor? Kenapa tidak ada isinya?" ujarnya, sambil melihat bagian bawah gelas.


Dia yakin kalau tadi saat Gio membawakan makanan untuknya, gelas itu masih terisi penuh.


"Ck, dia memberikan makan, tapi menghabiskan minumannya? Astaga!" ujar Diandra sambil beranjak ke luar dari kamar untuk mengambil air.


Setelah itu, Diandra kini mulai menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor, hingga beberapa saat kemudian, dia sudah rapi dengan tampilannya yang selalu terlihat cantik dan menawan.


Diandra mengambil piring dan gelas bekas sarapannya, lalu membawanya ke dapur. Perempuan itu, mencucinya dan merapikannya terlebih dulu.


.


.


Gio ke luar dari hotel miliknya, dengan seorang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah pengacara keluarganya.


Dia tampak berbicara serius sambil terus berjalan, menuju mobilnya terparkir, hingga beberapa saat kemudian keduanya keluar dari hotel dengan menggunakan mobil yang sama.


Diandra yang naru saja sampai di depan hotel miliknya, menatap kepergian mobil milik suaminya, dengan sorot mata tidak terbaca.


Dia baru masuk ke dalam hotel miliknya, setelah matanya tidak bisa lagu melihat mobil suaminya yang semakin jauh dari pandangan.


Sampai di dalam hotel, Diandra masih mendengar selentingan obrolan orang yang membicarakannya, walau tidak segamblang beberapa hari yang lalu.


Kini mereka lebih seperti berbisik, mungkin karena takut dengan peraturan baru yang batu kemarin dia keluarkan.


Ya, setelah memikirkannya cukup lama, Diandra akhirnya memutuskan untuk menerapkan sebuah peraturan, bahwa selama berada di dalam hotel, setiap karyawan tidak ada yang boleh nembicarakan tentang hal lain selain pekerjaan.


Bila ada yang melanggar maka akan ada sanksi yang harus diterima, dari peringatan, pemotongan gaji sampai skorsing dan yang terakhir adalah di keluarkan tanpa pesangon.

__ADS_1


Ya, mengingat kini gosip yang beredar bukan lagi hanya tentang dirinya. Akan tetapi, sudah melibatkan orang lain, seperti Romi dan juga Gio, akhirnya Diandra pun turun tangan, untuk meredam semua itu.


Walaupun dia juga belum berniat untuk memberikan klarifikasi tentang masalah yang sebenarnya terjadi.


.


.


"Bagaimana bisa, mereka tidak bisa menangkap laki-laki brengsek itu? Bukannya kita sudah mengawasinya dengan ketat?" geram Gio, sambil terus melajukan mobilnya.


"Sepertinya ada informasi yang bocor kepada tersangka. Makanya dia bisa melarikan diri, sebelum polisi sampai di tempat persembunyiannya," jelas laki-laki paruh baya itu.


Ya, sebenarnya kedatangannya kembali ke tempat itu, bukan sepenuhnya karena dia tidak bisa menahan rindu pada Diandra.


Namun, semua itu karena ternyata Jonas yang dijadwalkan akan ditangkap satu hari setelah dia pergi ke Jakarta, ternyata bisa lolos dan melarikan diri.


Rasa khawatirnya pada keselamatan Diandra lebih dominan saat ini, mengingat Jonas bukanlah seseorang yang bisa disepelekan, membuatnya melupakan rasa lelahnya, dan langsung kembali malam itu juga.


"Akh, sial! Kenapa mereka tidak bisa bertindak cepat!" umpat Gio, memukul setir mobil dengan cukup kencang.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai oleh Gio sudah berhenti di halaman rumah miliknya.


Para anak buah yang sudah menunggunya di sana pun langsung menyambut kedatangan Gio.


"Apa kalian sudah menemukan titik terang keberadaan laki-laki brengsek itu?" tanya Gio sambil berjalan menuju ke dalam rumah.


Ya, setelah dia tau kalau kebakaran yang menimpa restoran Diandra bukanlah sebuah kecelakaan, Gio langsung menyuruh beberapa orang anak buahnya untuk menyusulnya.


Dia tidak bisa mengabaikan keselamatan perempuan yang dicintainya, di saat dia tidak bisa setiap saat berada di samping Diandra.


"Maaf, bos. Kami belum bisa melacak keberadaannya," ujar salah satu laki-laki-laki yang tidak lain adalah pemimpin mereka.


Gio menatap tajam laki-laki yang berjalan di sampingnya, dia hanya menggeleng samar yang diiringi dengan decakkan dari mulutnya.


"Awasi istriku dan perkataan penjagaannya, jangan sampai laki-laki brengsek mendekatinya! Aku tidak akan memaafkan kalian, kalau sampai sedikit saja ada luka di tubuhnya," tegas Gio.


"Baik, Bos! jawab laki-laki itu.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2