
...Happy Reading...
..................
"Mah, Kak Dian sama Kak Gio gak turun buat makan siang?" tanya Gita, saat mereka sedang makan siang di meja makan.
"Biarin aja, kasihan mereka lagi istirahat," jawab Hana yang diangguki oleh semuanya, kecuali Randi yang tahu modus dari bosnya itu.
Gak tau aja kalau si bos mampir dulu ke apartemen. Paling sekarang lagi minta jatah sama Bu Bos, batin Randi mencebik kesal.
.
.
Gio dan Diandra mengerjapkan mata, saat sinar senja menembus tirai jendela. Tangan Diandra bergerak mencari keberadaan suaminya yang tadi tertidur di sampingnya.
Matanya memicing saat tidak mendapati tubuh suminya, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, mencari keberadaan laki-laki yang telah membuatnya kelelahan di siang bolong.
Suara pintu terbuka membuat Diandra mengalihkan perhatiannya. Gio tampak muncul dengan senyum cerahnya, ditanganya terlihat sebuah nampan.
"Kamu sudah bangun, sayang?" tanya Gio sambil berjalan menghampiri istrinya.
"Aku sudah bawain kue. kamu pasti lapar, kan?" sambung GIo lagi sambil menaruh nampan di atas meja.
Diandra mengerucutkan bibirnya, melihat Gio dengan wajah kesalnya.
"Kamu, kok gak bangunin aku sih?" ujarnya mencebiK kesal.
"Mana aku tega bangunin kamu, sayang. Kamu tidurnya pulas banget," jawab Gio, dia berjalan menghampiri istrinya lalu duduk di sisi ranjang.
"Aku kan gak enak sama keluarga kamu." Diandra masih saja protes, walau dia tidak memungkiri tubuhnya lelah, akibat kegiatannya bersama Gio.
"Gak apa. mereka ngerti kok, namanya juga pengantin baru," ujar Gio sambil terkekeh ringan.
"Ish!" Diandra berdecak.
"Ayo, aku antar kamu ke kamar mandi dulu. Nanti baru makan kuenya." Gio beranjak hendak menggendong istrinya.
"Eh, mau ngapain?!" Diandra langsung mnearik selimut dengan pandangan waspada.
"Cuma mau nganterin kamu ke kamar mandi, sayang," ujar Gio, dia mengulum senyumnya melihat reaksi istrinya.
"Gak usah, aku bisa sendiri!" Diandra mendorong tangan Gio untuk menjauh darinya.
"Kamu kan pasti lelah, makanya biarin aku antar kamu, ya," melas Gio.
__ADS_1
"Gak usah! Sana, ih!" Diandra mengibaskan tangannya menyuruh Gio menjauh darinya.
"Sayaang ...." Gio memelas.
"Gak!" Diandra langsung menolak.
Gio menghembuskan napasnya, lalu melangkah mundur dua langkah, dengan wajah ditekuk.
Diandra menatap suaminya dengan tatapan mengancam, memastikan kalau Gio tidak akan melakukan paksaan kepadanya.
Menarik selimut agar menutupi seluruh tubuhnya, lalu perlahan menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Diandra berdiri sambil membenarkan selimut, lalu salam gerakan cepat, dia berlari melewati Gio, hingga suaminya itu tidak memiliki kesempatan untuk menggendong istrinya.
Gio hanya bisa menggelang lemah sambil tersenyum, melihat kelakuan Diandra yang seperti anak kecil, ketakutan dijahilin temannya.
Gio duduk di sofa, sambil menunggu Diandra membersihkan diri, hingga beberapa saat kemudian istrinya itu ke luar, dengan menggunakan jubah mandi.
Rambutnya tampak digulung menggunakan handuk putih, wajahnya tampak lebih segar walau matanya tampak masih sedikit sayu.
Gio yang sedang memeriksa ponselnya, langsung mengalihkan pandangannya kemudian tersenyum sumrigah melihat wajah istri cantiknya.
"Duduk sini, sayang." Gio menepuk sofa di sampingnya.
Diandra lebih dulu mengambil gelas berisi air putih, lalu duduk di samping suaminya. Minum hingga airnya hanya tersisa setengah gelas saja.
"Ini, kamu makan ini dulu, buat ganjel perut. Kalau makan besar sekarang, takutnya nanti pas makan malam, kamu malah gak lapar," ujar Gio, sambil menyodorkan piring berisi kue yang terlihat menggiurkan.
Tadi malam dirinya dan Gio sudah makna kue ulang tahunnya, dan itu sudah cukup membuatnya merasa kenyang dengan makanan manis. Rasanya dia lebih memilih makan mi instan yang terasa gurih, penuh mecin itu.
Namun, mau bagaimana lagi. Namanya juga sedang berada di rumah mertua, tentu saja Diandra merasa canggung untuk meminta sesuatu. Apa lagi ini adalah hari pertamanya berada di sana.
Walaupun mereka adalah keluarga dari suaminya, yang tentu saja akan menyayangi suminya sepenuhnya. Diandra juga sadar kalau dia harus menganggap seluruh keluarga Gio, sebagai keluarganya sendiri, apa lagi saat melihat kasih sayang suaminya itu pada keluarganya.
Namun, untuk saat ini dirinya masih merasa canggung dan asing. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya dia datang ke rumah keluarga Gio. Ditambah saat di pantai, hubungannya dengan ibu mertua dan adik iparnya juga baru berjalan beberapa hari saja.
"Enak, gak?" tanya Gio.
"Enak," angguk Diandra.
"Mau dong," pinta melihat istrinya penuh permohonan.
"Ih, katanya ini buat aku?" Diandra menjauhkan kue itu dari suaminya.
"Liat kamu makan kok aku jadi mau, ya? Dikiit aja." Gio hampir menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya di depan wajah.
"Bukannya kamu udah makan?" Diandra mengulum senyum, menggoda suaminya.
__ADS_1
"Enggak, aku gak makan kue, beneran," geleng Gio.
"Eh! Terus, kamu makan apa tadi?" tanya Diandra, dia menyipitkan matanya menatap tajam suaminya.
"A–aku ...." Gio tampak bingung mau meneruskan perkataannya.
"Makan apa?" desak Diandra.
"Aku makan seblak punya Gita," jawab Gio sambil mengusap tengkuknya.
"Hah?! Kamu makan seblak?" Diandra hampir saja tersedak salivanya sendiri, saat mendengar jawaban Gio.
"Hehe ... ini pertama kalinya." Gio tampak menyengir hingga deretan gigi putihnya hampir terlihat semua.
Diandra menatap heran suaminya. Selama ini dia tidak pernah melihat suaminya makan makanan jalanan seperti itu. Gio selalu menjaga apa saja yang dia makan, dan tidak pernah suka jajanan seperti itu. Jangankan seblak, bakso saja Diandra belum pernah melihat Gio memakannya.
"Ngapain?" ujar Diandra menatap Gio bingung. Dia benar-benar tidak bisa memikirkan kata lain, selain kata itu.
"Enggak tau. Tadi, pas aku turun, aku lihat Gita sedang makan seblak di ruang kelurga. TIba-tiba aku merasa mau mencobanya, jadi aku minta," jawab Gio enteng.
"Terus, gimana?" Diandra masih berada dalam keterkejutannya.
"Lumayan juga," angguk Gio, sambil membayangkan rasa seblak yang baru saja dia coba.
"Enak. Bahkan aku menghabiskan seblak milik Gita, dan akhirnya harus menggantinya," sambungnya lagi, sambil menatap istrinya.
Diandra tidak sadar membuka mulutnya, saking terkejutnya dengan jawab Gio. Dia tidak pernah menyangka kalau suaminya yang keturunan orang kaya dari lahir, ditambah lulusan luar negeri, bisa rebutan makan seblak dengan adiknya.
"Sayang." Gio menepuk pelan pipi Diandra, menyadarkan wanita itu dari keterkejutannya.
Diandra menggeleng samar, sambil mengerjapkan matanya.
"Sayang, aku minta kuenya, ya," rengek Gio, setelah pembahasan tentang seblak berakhir.
"Astaga ...." Diandra kini baru sadar kalau di tangannya masih memegang piring kue.
"Sayaang," rayu Gio lagi, membuat Diandra akhirnya menyendokkan kue untuk suaminya.
Dengan senang hati, Gio menerima kue dari istrinya.
"Eum, enak juga. Tau begini, tadi aku bawa dua porsi," gerutu Gio.
"Ya sudah kita makan bareng-bareng saja," jawab Diandra sambil menghadap Gio, bersiap untuk menyuapi suaminya.
Sore itu, keduanya malah asyik makan kue bersama, tanpa tahu ada seseorang yang merasa kehilangan kue favoritnya.
__ADS_1
...................