
...Happy Reading...
......................
"Aku ke luar dulu ya," ujar Diandra sambil membawa wadah dan handuk bekas mengelap tubuh Gio.
"Gak usah, nanti juga Bi Jui, mengambilnya," jawab Gio.
"Lebih baik kamu istirahat juga, sekalian temani aku di sini," ujar Gio.
Diandra menatap Gio, dia merasa enggan untuk melakukan apa yang Gio inginkan.
"Ayolah, aku mau tidur, temani aku ya, sebentar saja," mohon Gio.
Diandra tampak terdiam, dia ragu untuk menerima permintaan Gio.
"Tunggu sebentar, aku taruh ini di depan pintu dulu," ujar Diandra, akhirnya menyetujui permintaan Gio.
Dia merasa iba saat melihat wajah memelas suaminya.
Gio mengangguk sambil tersenyum sumringah, dia melihat saat Diandra berlalu ke luar untuk menaruh wadah itu, kemudian kembali lagi.
"Sini," ujar Gio, menepuk tempat tidur di sampingnya.
"Aku gak ngantuk, aku duduk di sini saja, ya." Diandra malah duduk di samping Gio.
"Tapi, kamu juga harus istirahat, sayang," debat Gio.
"Aku sudah istirahat terus dari kemarin. Sekarang giliran kamu yang istirahat ... aku temani kamu di sini," ujar Diandra.
Gio menggenggam tangan Diandra. "Janji gak akan ninggalin aku?"
Diandra mengangguk. "Aku akan tetap di sini."
Gio mengangguk, dia kemudian membawa tangan Diandra pada dadanya, lalu memeluk tangan istrinya itu erat, seakan takut untuk ditinggalkan.
"Tidurlah, aku di sini," ujar Diandra lagi, saat Gio mulai memejamkan matanya.
Diandra terdiam, dia menatap wajah Gio yang sterlihat tenang saat sedang tertidur. Suaminya itu masih saja terlihat tampan, walau wajahnya penuh luka gores dan pukulan benda tumpul.
Kenapa dia lebih tampan saat tertidur seperti ini? Rasanya lebih damai dan lucu, batin Diandra.
Suara ketukkan di pintu, mengalihkan perhatian Diandra.
"Siapa?" tanyanya, dengan suara yang agak kencang, karena tidak bisa dilepaskan.
"Ini aku, Randi." terdengar sebuah jawaban dari luar sana.
"Masuk aja, gak dikunci kok."
Pintu terbuka, dia melihat Randi dengan seorang dokter yang sama seperti saat dirinya sakit kemarin.
"Aku membawa dokter, agar Gio bisa diperiksa," ujar Randi setelah sudah berada di dekat Diandra.
__ADS_1
Diandra mengangguk, dia memperlihatkan tangannya yang tidak bisa lepas dari Gio.
"Sialahkan. Tapi, maaf tanganku–" Diandra menjeda ucapannya.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Dokter itu, sambil tersenyum.
Diandra mengangguk samar, dia merasa malu kepada dokter itu dan Randi yang terlihat menahan senyumnya.
"Bagaimana?" tanya Diandra, setelah melihat dokter itu selesai dengan tugasnya.
"Sementara ini kondisinya cukup baik, aku akan menuliskan resep obat yang harus ditebus. Kalau ada demam atau sakit berkelanjutan di daerah kepala atau bagian tubuh yang lainnya, tolong hubungi aku. Kita harus melakukan pemeriksaan lanjutan," jelas dokter itu.
"Baik, Dok. Terima kasih," ujar Diandra.
Randi pun mengantarkan dokter itu ke luar.
Waktu terus berlalu, Diandra mulai merasakan pegal di bagian tangan yang digenggam erat oleh Gio, karena tidak bisa bergerak.
Diandra menepuk-nepuk lengan bagian atasnya, berusaha mengurangi rasa kebas yang mulai menjalar di tangannya.
Diandra juga mulai bosan, setelah sudah hampir dua jam hanya duduk diam menemani Gio yang sudah terlelap sejak tadi.
Perlahan Diandra mencoba untuk melepaskan tangannya. Akan tetapi, saat dia berusaha Gio akan mengeratkan genggamannya, hingga sulit untuknya melepaskan diri.
"Hufth ...." Diandra menghela napas panjang, sambil melihat Gio kesal bercampur kasihan.
Dalam keadaan tidur aja, dia masih bisa bikin aku kesel. Dasar playboy cap kodok! umpat Diandra dalam hati.
"Untung aja lagi sakit, kalau enggak aku pasti udah pukul tuh tangan," decak Diandra.
Diandra akhirnya merebahkan kepalanya di samping Gio, hingga perlahan dia ikut terlelap, tenggelam dalam lautan mimpi.
Gio mengerjapkan matanya, saat rasa sakit di kepalanya kembali menyerang, dia mengerang pelan sambil memegang kepalanya.
"Dian?" ujarnya lirih, saat melihat Diandra yang tertidur dengan posisi duduk.
Gio melihat jam yang tergantung di dinding. "Ya ampun, aku tertidur lama sekali."
Gio perlahan melepaskan lengan Diandra yang berada di dadanya, lalu mencoba untuk bangun.
"Arggh!" Gio kembali mengerang saat rasa sakit di kepalanya semakin menjadi, ketika dirinya memaksakan diri untuk duduk.
"Ada apa? Mana yang sakit?" ujar Diandra panik, dia terbangun saat mendengar suara Gio yang cukup keras.
"Kepalanya sakit?" tanya Diandra, sambil beranjak dari tempat tidur, dia menatap penuh khawatir pada raut wajah kesakitan suaminya.
Tangannya ingin sekali memegang kepala Gio. Akan tetapi, dia juga ragu karena takut akan menambah rasa sakitnya.
Aku harus bagaimana? Ya ampun kenapa aku tidak bisa berpikir? rutuk Diandra di dalam hati.
"Aku panggil Randi dulu, atau kita langsung ke rumah sakit aja," ujar Diandra panik, dia langsung berdiri dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, hingga hampir saja di terhuyung.
Gio menahan Diandra yang hendak berjalan.
__ADS_1
"Gak usah, aku gak apa-apa kok. Ini mungkin karena aku terlalu cepat bangun setelah cukup lama tidur," lirih Gio, setelah bisa mengendalikan rasa sakit di kepalanya.
Diandra kembali menatap wajah Guo yang sedikit memerah karena menahan sakit.
"Beneran, kamu, gak apa-apa?" tanya Diandra memastikan.
"Iya, aku gak apa-apa," jawab Gio langsung, mencoba meyakinkan istrinya kalau dia dalam keadaan baik-baik saja.
Gio kemudian menepuk ranjang di sampingnya. Diandra yang mengerti dengan maksud Gio, perlahan mulai duduk di samping suaminya.
"Maaf, aku membangunkan kamu," ujar Gio.
"Enggak. Aku memang belum tidur, aku hanya sedang memejamkan mata karena merasa bosan." Diandra berbohong agar Gio tidak merasa bersalah padanya.
"Benarkah?" tanya Gio sambil tersenyum, dia tahu kalau istrinya berbohong.
Diandra mengangguk. "Kamu, mau apa? Kenapa bangun?"
"Gak ada, aku gak mau apa-apa," jawab Gio.
Diandra menatap ke luar yang tampak terlihat sudah gelap.
"Sepertinya sudah mulai malam, aku ke luar dulu ya," ujar Diandra.
"Mau apa?" tanya Gio.
"Kamu harus makan. Aku juga mau tau apa Randi sudah membeli obat yang diresepkan oleh dokter," jawab Diandra.
"Dokter?" Gio mengernyit.
Diandra mengangguk. "Iya, tadi saat kamu tidur, Randi membawa dokter untuk memeriksa kamu."
Gio terdiam beberapa saat, lalu tersenyum samar.
Dia memang selalu begitu, batin Gio.
"Aku ke luar sebentar," ujar Diandra lagi, sambil beranjak dari tempat tidur.
Gio mengangguk. "Untuk kamu juga."
"Hah?" Diandra mengernyit.
"Kamu juga harus makan ... dan aku mau kita makan bersama," jawab Gio.
Diandra menggeleng lemah sambil berdecak pelan.
"Iya, nanti aku sekalian bawa makanan punyaku," jawab Diandra sambil memutar bola matanya.
Ternyata sakit tidak bisa mengubah sifatnya yang menyebalkan, Diandra menggerutu di dalam hati.
Gio tersenyum, wajah kesal Diandra seakan bisa membuat energinya bertambah. Itu menimbulkan rasa senang tersendiri di dalam hatinya.
Diandra melangkah ke luar, untuk mencari keberadaan Randi dan mengambil makanan di dapur.
__ADS_1
......................
Cinta bersemi di dalam hati tanpa kita sadari, hingga terlambat menjadi sesal yang tiada arti.