
...Happy Reading...
......................
"Katanya mau membantu aku ganti baju?" ujar Gio, melihat Diandra dengan seringainya.
Diandra menelan salivanya, melihat Gio yang tersenyum yang terlihat mencurigakan menurutnya. Perlahan dia mulai mendekati suaminya.
"Ngapain senyum? Jangan ge'er ya, aku cuman mau bantuin kamu, karena Randi gak bisa bantuin kamu!" ujar Diandra dengan wajah yang terlihat bersemu merah.
Gio terkekeh, dia kemudian meringis sambil memegang kepalanya.
"Sssh," desisinya sambil memejamkan mata. Kerutan di keningnya pun terlihat begitu dalam, seakan dia menahan sakit yang amat sangat.
"Eh, kenapa? Mana yang sakit?" tanya Diandra sambil duduk di sisi ranjang.
Wajahnya tampak benar-benar khawatir bercampur bingung, melihat Gio yang kesakitan.
"Aduuh, ini sakit banget," keluh Gio sambil memegang kepalanya.
Dalam hati, Gio tersenyum saat melihat Diandra yang begitu mengkhawatirkannya.
Dia tidak berbohong, rasa sakitnya memang benar-benar terasa, hanya saja saat berada di depan Diandra, dia tidak mau terlalu memperlihatkannya.
Diandra meniup pelan luka di kepala Gio, berusaha menghilangkan rasa sakit yang suaminya rasakan.
"Gimana udah mendingan?" tanya Diandra.
Gio tersenyum, dia kemudian mengangguk. "Heem, udah mendingan."
Lucu banget sih kamu, sayang. Memang ini luka anak kecil yang bisa sembuh dengan meniupnya seperti itu, batin Gio.
"Tolong bantu aku mengganti baju, ini sangat tidak nyaman," ujar Gio lagi, sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
Diandra tampak terdiam mematung untuk beberapa saat, walau kemudian mengangguk samar, sambil langsung membatu memberikan bantal di belakang punggung Gio.
Dengan tangan sedikit bergetar, Diandra mulai membuka satu per satu kancing kemeja suaminya.
Padahal tadi pagi, aku juga membantunya mengganti kemejanya. Tapi, kenapa saat ini aku merasa berbeda? batin Diandra.
Gio meringis saat membuka baju kemejanya, dia merasakan pundak bagian belakang yang terasa berdenyut.
Diandra kemudian membuka kaos dalam Gio, dengan begitu hati-hati, dia bisa melihat ada berapa memar di tangan dan pundak suaminya, bahkan di bagian punggung.
"Sebenarnya kamu kenapa sih? Kenapa lukanya banyak banget kayak gini?" tanya Diandra.
"Gak ada, ini hanya salah paham aja. Aku gak apa-apa kok," jawab Gio.
"Gak apa-apa gimana, liat aja tuh, tubuh kamu penuh sama luka begini," cecar Diandra.
Gio tersenyum, dia membiarkan Diandra memperhatikan seluruh tubuh bagian atasnya.
Diandra meringis melihat tubuh yang biasanya tampak bersih tanpa luka, kini terlihat berhias warna merah kebiruan.
"Ini pasti sakit banget," lirih Diandra, menatap penuh prihatin sekujur tubuh Gio.
__ADS_1
"Semua rasa sakitnya hilang, kalau aku melihat kamu tersenyum, sayang," jawab Gio, memberikan godaan untuk istrinya.
Diandra memicing menatap kesal wajah Gio yang tersenyum padanya.
"Ck, udah babak belur begini, masih aja bisa ngomong gak jelas. Dasar playboy cap kodok!" decak Diandra.
Gio terkekeh, dia bisa melihat mata Diandra yang berkaca-kaca, melihat setiap luka di tubuhnya. Makanya dia sengaja berbicara seperti itu, untuk menghibur istrinya.
Dia tahu, kalau sebenarnya Diandra sangat mengkhawatirkannya. Hanya saja, perempuan itu terlalu gengsi untuk mengungkapkan semua itu, secara langsung padanya.
"Itu beneran, semua rasa sakit ini akan hilang kalau aku lihat kamu senyum. Coba sekarang kamu senyum," ujar Gio.
"Ga mau!" jawab Diandra.
Dia mengambil wadah berisi air hangat dan handuk kecil untuk membersihkan semua kotoran yang ada di tubuh Gio.
"Ayolah, aku mau lihat kamu senyum, dikit aja," ujar Gio.
"Gak!" jawab Diandra lagi.
"Sayang, senyum dong, dikit aja." Gio masih berusaha membujuk Diandra.
Diandra tersenyum, walaupun itu tampak terlihat terpaksa. "Puas?!"
"Cantik," jawab Gio.
"Ck!" decak Diandra, walai tidak bisa dipungkiri kalau dirinya sampai harus mengigit kecil bibir bagian dalamnya, untuk menahan senyumnya.
Diandra mulai mengelap tubuh Gio. Dia meringis saat melihat benjolan yang cukup besar di pelipis Gio.
Gio terkekeh. "Menurut kamu?"
"Sssh, pasti itu sangat sakit," ujar Diandra, dia seakan bisa merasakan bagaimana sakit yang Gio derita.
Gio menatap wajah Diandra yang berada lebih dekat dengannya. Dalam hati, dia ingin sekali tetap berada di dalam posisi seperti itu lebih lama lagi.
Menikmati setiap lekuk wajah istrinya, yang selalu membuatnya terpesona untuk kesekian kalianya.
"Lagian ngapain sih kamu, pake berantem segala? Jadinya kan luka begini ... emang gak bisa dibicarakan baik-baik hah?!" oceh Diandra.
Dia memilih untuk menghindari kontak mata dengan Gio, dia selalu mengalihkan pandangannya, saat mata keduanya hampir saja bertemu.
"Baru aja Mamah dan Gita pulang, kamu udah babak belur begini. Ck, nanti kalau sampai mereka tau, aku harus jawab apa coba?" Diandra kembali meneruskan ocehannya.
Gio tersenyum mendengar ocehan Diandra, dia tahu itu adalah bentuk perhatian istrinya padanya.
"Gak akan ada yang tau, sayang. kamu tenang aja ya," ujar Gio.
Diandra menatap wajah Gio dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Akan tetapi, Gio sama sekali tidak terintimidasi dengan tatapan Diandra, dia malah menganggap itu lucu.
"Sayang, kenapa kamu lucu banget sih?" tanya Gio, dia menikmati setiap gerakan halus di wajah istrinya, yang dilakukan oleh Diandra.
"Enak aja, emang aku pelawak, kamu bilang lucu?" debat Diandra, tanpa sadar dia menekan cukup keras di bagian yang tampak membiru.
"Arrgh! Sakit, sayang," geram Gio.
__ADS_1
"Eh, maaf-maaf, aku gak sengaja! Sakit banget ya?" tanya Diandra sambil mulai meniup lagi daerah yang dia tekan tadi.
"Heem, ini sakit," jawab Gio, seakan sedang memanfaatkan situasi.
Cup!
Satu kecupan kilas Gio daratkan di bibir Diandra yang sangat menggiurkan.
"Gio!" teriak Diandra langsung menjauhkan tubuhnya dari Gio.
"Iya, sayang." Gio menjawab, seakan Diandra sedang memanggilnya.
"Mau lagi?" tanya Gio dengan senyum menggoda.
"Dasar nyebelin!" decak Diandra.
Detak jantungnya semakin bertalu, hingga rasanya sesak di dalam dada. Tanpa Gio sadari, semua perlakuannya semakin membuat Diandra tidak bisa mengendalikan diri.
Gio terkekeh, dia sangat suka melihat wajah Diandra yang bersemu merah, karena godaan kecil darinya.
Walaupun begitu, Diandra masih terus melanjutkan aktivitasnya, mengelap tubuh Gio.
Setelah bagian wajah selesai, Diandra beralih pada tangan dan tubuh Gio.
"Haah, sayang," desah Gio, menggoda Diandra, saat istrinya itu mengelap bagian dada.
"Gio! Berisik! Bisa diam gak sih?" umpat Diandra, meluapkan kekesalannya dengan mengomel kepada Gio.
Dia refleks melepaskan tangannya dari tubuh Gio dan menjauhkan tubuhnya, hingga duduk tegak kembali.
"Sayaang ...." Gio kembali berujar lirih, sambil memjamkan matanya, saat Diandra mulai mengelapnya lagi. Seakan dia sedang menikmati sentuhan Diandra.
"Gio! Kamu lap sendiri aja kalau kayak gitu terus!" ujar Diandra hendak berdiri.
Gio tergelak. "Iya-iya, gak kayak gitu lagi. Maaf."
Gio menahan tangan Diandra, agar tidak beranjak dari dekatnya.
Diandra menatap kesal wajah tengil Gio, dia meneruskan lagi aktivitasnya dengan menahan kesal pada Gio.
Seperti sebelumnya, Gio terus menggoda Diandra, hingga acara mengelap tubuh saja, memakan waktu hampir satu jam.
Selesai dengan membersihkan tubuh dan mengompres semua lebam di tubuh Gio, juga memakaikan baju kembali, kini Diandra bisa bernapas lega.
Heuh! Akhirnya selesai juga, batin Diandra.
......................
Perhatian tidak selalu dalam bentuk kelembutan. Karena, terkadang seseorang hanya bisa mengeluarkan perhatiannya dalam bentuk yang berbeda.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
Oh iya, aku ada rekomendasi karya keren dari temen literasi aku. Yuk mampir🥰
__ADS_1