Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.41 Pamit


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


Gio mengikuti langkah Diandra, mereka berjalan beriringan karena kedua mobilnya berada di hotel.


"Hari ini sepertinya aku akan pulang terlambat, karena ada sesuatu yang harus aku lakukan di luar," ujar Gio, di sela langkah mereka.


Diandra menghentikan langkahnya, lalu menatap suaminya dengan sorot mata yang tidak terbaca. Itu semua hanya bertahan beberapa detik saja, hingga akhirnya dia memilih untuk melanjutkan langkahnya.


"Terserah," jawabnya kemudian.


Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di depan hotel milik Diandra. Gio menahan tangan istrinya yang hendak pergi ke kawasan hotel, mengajak Diandra untuk menepi sebentar sebelum pergi meninggalkannya.


"Jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku pulang terlambat karena ada sesuatu yang mendesak," jelas Gio, menatap hangat wajah istrinya, dia seakan mengerti kalau saat ini Diandra tengah berpikir macam-macam tentangnya.


Diandra mengerutkan keningnya, dia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman sang suami, pandangannya pun mengedar, melihat ke sekitar mereka berdua.


Namun, bagaimana pun Diandra berusaha, tetangganya jauh berbeda dengan Gio, hingga dia tidak pernah bisa melepaskan genggaman tangan laki-laki itu.


Beberapa orang yang terlihat melewati keduanya, tampak mencuri pandang, sambil saling berbisik pelan, membicarakan hubungan antara Diandra dan Gio.


"Ck, lepaskan!" ujar Diandra, penuh penekanan.


Gio tersenyum penuh arti. Bukan memenuhi permintaan sang istri, dia malah semakin mendekatkan tubuhnya.


"Aku pasti akan rindu wajah galak istriku, ini. Akh, rasanya aku tidak mau pergi," ujarnya, sedikit berlebihan.


Diandra bahkan rasanya semakin jengah dengan semua kata-kata suaminya itu. Walau tanpa dia sadari, hatinya merasa sedikit menghangat.


"Jangan bicara omong kosong. Aku tidak akan peduli kamu mau macam-macam ataupun tidak."


Diandra berbicara kikuk, sambil melirik Gio sekilas, lalu kembali mengalihkannya ke sembarang arah.


"Benarkah? Akh, sayangnya sekarang aku sudah tidak tertarik dengan semua itu," ujar Gio, sedikit menggoda Diandra.


Dia benar-benar tidak perduli dengan tatapan aneh orang lain yang melihat mereka berdua. Gio ingin mengikuti keinginan istrinya itu, untuk tidak menghiraukan orang di sekitar mereka.


Tujuannya saat ini hanya untuk meluluhkan hati Diandra dan menyelesaikan semua masalahnya. Tanpa peduli apa kata orang-orang di luar sana.


Walaupun, di dalam hati masih ada keinginan untuk membersihkan nama sang istri yang sudah terlanjur penuh dengan gosip. Akan tetapi, selama Diandra masih kuat bertahan dari semua itu, dia juga akan mengacuhkannya, dan lebih fokus pada yang lainnya terlebihdahulu.


"Sudah sana pergi, aku mau ke kantor," ujar Diandra, mendorong tubuh Gio yang semakin mendekat.


Perempuan itu semakin waspada, saat Gio seakan tidak ingin melepaskannya.

__ADS_1


Gio tersenyum dalam hati, saat melihat wajah khawatir istrinya. Dia tahu kalau sebenarnya Diandra masih memiliki rasa, walaupun itu mungkin hanya tersimpan di dalam dada.


"Baiklah-baiklah, aku pergi sekarang. Jangan rindu, ya." Gio menggerakkan salah satu alisnya turun naik.


Ternyata, dia masih belum puas menggoda istrinya itu.


"Tidak akan pernah!" ujar Diandra, sambil menyentak tangan suaminya dan berbalik hendak pergi ke hotel.


Namun, belum sempat Diandra menjauh, dengan cepat Gio langsung mecekal lengan sang istri, hingga dengan sekali gerakan kini Diandra sudah berada di dalam pelukannya.


"Aku mencintaimu," gumam Gio, sebelum mengecup kilas kening istrinya.


Diandra berdiri kaku, dengan mata yang melebar, merasakan kehangatan yang sudah lama tidak hilang darinya.


Untuk sesaat, dia bahkan seakan mati rasa dan hilang kesadaran. Karena, gerakan tiba suaminya yang tidak pernah dia duga sebelumnya.


Gio tersenyum simpul, melihat reaksi tubuh sang istri. Sebelum Diandra menyadari semua itu, dia langsung melepaskan tubuh kaku istrinya, lalu berjalan menjauh.


"Daah, sayang!" teriak Gio, menyadarkan Diandra dari keterkejutannya.


Diandra mengerjapkan matanya, mendengar sayup suara laki-laki yang telah mencuri ciuman di keningnya. Dia menatap tajam, dengan mata yang mengepal kuat di kedua sisi tubuhnya.


"Dasar laki-laki brengsek!" umpatnya kemudian.


Dia berbalik dan segera masuk ke dalam hotel, dengan wajah yang tampak menampilkan semburat merah. Entah karena menahan rasa marah, atau yang lainnya.


Itu semua, terdengar jelas di telinga Diandra. Walaupun begitu, dia hanya melirik tanpa mau menimpali perkataan dari para pegawai hotel miliknya itu.


Salah satunya dari pembicaraan beberapa karyawan hotel yang baru sampai di bagian kantor, sebelum Diandra masuk.


"Wah, sepertinya dia sudah mendapatkan mangsa baru?"


"Benarkah, siapa?"


"Itu loh, bos besar yang memiliki hotel tidak jauh dari sini."


"Ah, yang kemarin sering datang ke sini, untuk menemui perempuan itu ya?"


"Iya, sepertinya sekarang mereka sudah lebih dekat. Buktinya, tadi aku lihat mereka sedang berbicara berdua di depan hotel."


"Aku bahkan melihat mereka berpelukan, lalu laki-laki itu mencium kening Diandra."


"Astaga, apa kamu tau? Katanya laki-laki itu adalah seorang pemain wanita, dia sering berganti pasangan hanya untuk memuaskan napsunya selama satu malam."


"Wah, ternyata mereka memang pasangan yang serasi, laki-lakinya pemain wanita, sedangkan dia sendiri ... akh, kalian tau sendiri lah, bagaimana sekretaris bos kita itu."

__ADS_1


Percakapan mereka terhenti saat, Diandra yang awalnya hanya berdiri di belakang mereka dan mendengarkan semua perkataan jelek tentang dirinya, melangkah melewati para karyawan itu.


"Kalian ke mari untuk bekerja, bukan untuk bergosip!" ujarnya tajam, tanpa melihat satupun di antara mereka.


Berjalan melenggang dengan gaya khasnya yang terlihat anggun dan angkuh dalam sekali waktu.


Beberapa karyawan yang ada di sana pun, tampak menatap Diandra dengan wajah pucat. Karena, sebelum ini belum pernah Diandra menegur mereka secara langsung.


Biasanya Diandra hanya akan mengacuhkan mereka dan berjalan berlalu, tanpa kata-kata. Akan tetapi untuk sekarang, entah mengapa perempuan itu tidak bisa menahan mulutnya untuk berbicara.


Entah sudah tidak tahan dengan segala hinaan yang ada, atau mungkin ada hal lain yang mengusik hatinya. Sepertinya Diandra sendiri tidak tahu apa sebabnya.


Sampai di meja kerja miliknya, Diandra duduk dengan gerakan kasar, hingga kursi itu terdengar berdecit. Tangan yang masih mengepal itu, dia taruh di atas meja, dengan mata menatap kesal ke sembarang arah.


Bayangan tentang perlakuan Gio beberapa saat yang lalu, dan juga pembicaraan para karyawan, seakan berputar menjelajah setiap memori di dalam kepala.


Membuatnya seakan tidak bisa berpikir dengan jernih, hingga dia hanya termenung di atas kursi, dengan pandangan lurus ke depan.


"Apakah selama ini aku salah, karena sudah membiarkan mereka berbicara seenaknya tentang diriku?" gumamnya lirih.


Entah apa yang sekarang ini perempuan itu pikirkan, hanya saja perasaan tidak nyaman di dalam hati, membuatnya terusik.


"Pagi, Diandra," sapa Romi, yang baru saja sampai di kantor.


Tidak ada jawaban dari perempuan di depannya, hingga membuat Romi mengerutkan keningnya. Tidak biasanya bos berkedok sekretarisnya itu, tampak termenung, sampai tidak sadar dengan kedatangan seseorang di hadapannya.


"Dian?" tanyanya lagi, sambil mengibaskan tangan di depan wajah Diandra.


Perempuan itu, mengerjapkan mata, seakan baru saja sadar dari lamunan panjangnya. Melirik Romi sekilas, lalu menyandarkan punggungnya di kursi.


"Sudah sampai mana? Saking fokusnya, kamu sampe gak sadar aku datang dan duduk di sini" sindir Romi.


Diandra berdecak malas, mendengar candaan saudaranya itu.


"Sampai Singapura!" jawabnya asal.


"Sudah sana, aku lagi gak mau ngomong sama kamu," ujarnya lagi, sambil mengibaskan salah satu tangannya ke depan wajah Romi.


"Idih, yang lagi ngelmun. Saking serunya sampe gak mau di ganggu," ejek Romi, sambil beranjak berdiri lagi.


"Awas, kelamaan ngelamun, nanti kamu kesambet setan galau," sambung Romi lagi, sambil berlalu menuju ke ruangannya.


"Sialan!" cebik Diandra, menatap tajam Romi.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2