Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Membeli oleh-oleh


__ADS_3

...Happy Reading...


..................


Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, Diandra dan Gio sudah berbaring di atas ranjang yang sama.


Selimut pun menjadi penghangat tubuh keduanya dari dinginnya malam, juga secara tidak langsung menyatukan tubuh mereka.


Warna putih langit-langit kamar pun menjadi pemandangan bagi mata keduanya.


"Sayang," panggil Gio dengan mata yang masih melihat lurus ke atas.


"Hem," jawab Diandra, masih dengan pandangan yang sama.


"Bagaimana kalau malam ini kita nginep di rumah aku?" tanya Gio ragu.


Diandra langsung menoleh menatap wajah suaminya, dengan kerutan yang terlihat cukup dalam di keningnya.


"Aku tau, kamu masih belum pulih. Tapi, malam ini adalah malam terakhir mama dan Gita ada di sini, karena besok pagi mereka sudah harus pulang ke Jakarta.


Diandra terdiam, dia ragu untuk menyetujui permintaan Gio, apalagi kondisinya saat ini masih belum pulih benar.


Rasanya akan sangat malu, jika dirinya bertemu dengan mertua dan adik iparnya dalam keadaan seperti ini.


"Memang kamu gak bisa ke sana sendiri?" tanya Diandra, merasa enggan.


"Aku gak mungkin tega meninggalkan kamu yang sendiri dalam keadaan seperti ini, sayang."


"Aku sudah biasa seperti ini."


"Tapi, aku tidak akan tenang kalau kamu tidak ada bersamaku, sayang."


Diandra menghembuskan napas kasar.


"Rasanya tidak enak, kalau kita tidak menemui mama dan Gita dulu, sebelum mereka pulang."


Gio masih mencoba meluluhkan hati istrinya. Dia memiringkan tubuhnya menghadap sang istri, salah satu tangannya digunakan untuk menopang kepalanya, agar berada lebih tinggi dari Diandra.


"Hanya malam ini ... aku mohon," ujar Gio lagi.


Diandra menatap wajah memohon Gio yang berada di atasanya. Dia pun menghembuskan napas pelan, lalu mengangguk perlahan.


"Yes! Makasih, sayang!" Gi langsung bersorak gembira, lalu refleks mencium pipi sang istri.


"Gio!" Diandra melotot tajam, tidak suka dengan perlakuan suaminya.


"Ya, sayang." Bukannya merasa bersalah karena sudah membuat istrinya kesal, Gio malah menjawab dengan senyum riangnya.


Diandra memicingkan mata sambil berdecak kesal. Sedangkan Gio malah terkekeh kecil sambil beranjak bangun dari ranjang keduanya.


Diandra pun ikut bangun lalu duduk bersandar di kepala ranjang.


"Kamu duduk di sana saja, biar aku yang siapkan baju ganti untuk kamu!" ucap cepat Gio sambil berjalan menuju ke depan lemari, lalu membukanya.


"Mau pakai yang mana, sayang?" tanya Gio lagi.


"Biar aku sendiri saja." Diandra merasa malu dan sungkan kepada Gio.


Namun, Gio langsung menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, lalu satu tangan lagi dia gerakan naik turun di depan, memberikan isyarat agar istrinya tetap diam.


"Jangan, membantah," ujarnya, saat Diandra hendak membuka mulut kembali.

__ADS_1


Akhirnya Diandra hanya bisa pasrah dengan keinginan suaminya, dia hanya duduk diam, melihat Gio berdiri di depan lemari pakaiannya.


"Yang warna pastel saja," ujar Diandra, sambil menunjuk salah satu baju yang menggantung.


Gio mengangguk lalu mengambilnya, dia mengangkat baju itu di depannya, lalu memperhatikannya dengan seksama.


"Pake yang santai aja. Ini terlalu formal, kita kan cuman mau ketemu mama dan Gita," ujar Gio.


Gio menatap istrinya tengah mengernyit dalam.


"Kamu punya kaos?" tanya Gio lagi.


"Ada, di pintu yang satunya lagi," jawan Diandra.


Gio pun membuka satu lagi pintu lemari yang berada di sisi kanannya. Benar saja, di sana terdapat banyak baju yang memang disimpan dengan cara dilipat, seperti kaos dan celana.


"Tapi, apa itu sopan, kalau aku menemui tante Hana dan Gita pake kaos aja?" tanya Diandra merasa ragu.


"Gak apa, mereka bukan orang-orang kolot kok. Mama dan Gita, tidak kan pernah berpikir begitu," jawab Gio sambil memilih kaos yang sekiranya bagus dan nyaman untuk sang istri.


"Kalau yang ini, gimana?" tanya Gio, memperlihatkan salah satu kaos milik Diandra yang dirinya ambil.


Diandra mengangguk.


Gio kembali memilih sweater dan juga celana, untuk pelengkap penampilan istrinya, lalu meperlihatkannya kembali pada Diandra.


"Gimana, bagus gak?" tanya Gio.


Diandra menggeleng. "Aku mau sweater–nya yang rajut putih aja."


Gio melihat kembali baju yang ada di tangannya lalu mengangguk, dia kemudian mengambil apa yang istrinya mau.


"Kamu ganti baju di sini aja, biar aku ke luar dulu," ujar Gio, sambil memberikan baju ke istrinya.


Gio menatap tubuhnya, dia hanya memakai kaos dan celana rumahan sebatas lutut.


"Aku gampang, tinggal ganti celana dan pakai jaket," jawab Gio.


"Kamu, ganti baju aja ... aku ke luar dulu," ujar Gio, lalu melangkah ke luar dari kamar.


Beberapa saat kemduian, sepasang suami istri itu sudah berada di dalam mobil milik Gio.


"Kita, ketemu Tante Hana dan Gita, gak bawa apa-apa?" tanya Diandra.


Gio yang sudah mulai mengendarai mobilnya ke luar dari pelataran rumah Diandra pun, mengalihkan pandangannya pada sang istri sekilas.


"Gak usah lah, buat apa sih? Biasanya aku juga gak bawa apa-apa," jawab Gio.


"Kamu dan aku kan beda." Diandra melirik kesal suaminya.


"Beda apanya?"


"Kamu kan anak dan kakak mereka, sedangkan aku bukan siapa-siapa ... masa ke sana gak bawa apa-apa."


"Ya udah, kamu, mau bawa apa? Kita beli di jalan aja," tanya Gio.


Diandra terdiam sambil melihat pada tepi jalan, berpikir, kira-kira apa yang pantas dirinya bawa.


"Kira-kira apa yang belum Tante dan Gita beli untuk oleh-oleh?" tanya Diandra.


Gio melirik pada Diandra yang sedang menatapnya. "Aku gak tau."

__ADS_1


"Gimana kalau kita bawain baju atau kaos oleh-oleh khas di sini?" tanya Diandra.


"Sama, kue," imbuhnya penuh semangat.


Melihat semua itu, Gio tersenyum, kemudian mengangguk. "Apa pun untuk kamu, sayang."


Diandra pun mengarahkan Gio pada salah satu toko yang terkenal menjual produk prremium. Diandra memilih cukup banyak barang di sana.


Gio tersenyum, melihat stamina Diandra yang seakan pulih kembali, hanya karena berbelanja untuk oleh-oleh ibu dan adiknya.


"Jangan lupa belikan juga untuk ukuran anak-anak," ujar Gio, mengingatkan Diandra tentang keponakannya.


"Iya, aku tau," jawab Diandra, sambil masih sibuk memilih barang ingin dia beli.


Setelah semuanya dirasa cukup, Diandra hendak membayar ke kasir. Akan tetapi, ketika dirinya mau mengeluarkan dompet, Gio sudah mengulurkan kartu miliknya pada kasir.


"Pake ini aja, Teh," ujar Gio.


Diandra melihat wajah suaminya dengan raut protesnya. "Ini kan punya aku?"


"Gak apa-apa, kamu simpan lagi aja uang milik kamu untuk kebutuhan yang lain," jawab Gio.


Diandra memajukan bibirnya, sambil memasukan kembali dompet miliknya ke dalam tas.


"Makasih," lirih Diandra sambil memalingkan wajahnya.


Bilang makasih aja kayaknya berat banget sih, sayang? batin Gio, tertawa kecil, melihat sikap Diandra yang masih saja terlihat gengsi mengakui perasaan senangnya di depan Gio.


Setelah membayar mereka kembali meneruskan perjalannya. Diandra kembali menghentikan mobil Gio di salah satu toko kue yang lumayan terkenal.


"Kamu, di sini aja, gak usah ikutin aku," cegah Diandra saat Gio ingin ikut turun dari mobil.


"Kalau gitu, bawa kartu ini." Gio mengulurkan salah satu kartu miliknya.


"Gak usah, untuk yang satu ini, biarkan aku yang membelinya sendiri," cegah Diandra.


Dia pun ke luar dari dalam mobil, lalu berjalan masuk ke toko kue dengan Gio yang memperhatikannya.


Baiklah, untuk saat ini kamu masih boleh menggunakan uang milik kamu. Tapi, lihat saja nanti, kalau kamu sudah membuka hati untukku sepenuhnya. Tidak akan aku biarkan kamu membeli barang, kecuali menggunakan uang dariku, batin Gio.


Gio sudah cukup senang, melihat sikap Diandra yang lebih terlihat lembut, dan menganggap dirinya ada. Itu sudah termasuk kemajuan yang lumayan besar untuk hubungan keduanya.


Semoga saja, ini adalah awal yang baik untuk hubungan kita ke depannya, sayang, do'a Gio, sambil melihat Diandra di balik kaca toko, yang terlihat tengah sibuk memesan.


Hanya membutuhkan waktu sebentar, perempuan itu sudah tampak berjalan menghampiri mobil, dengan dua kantong plastik di masing-masing tangannya.


Gio langsung ke luar dari mobil, lalu menghampiri Diandra.


"Kamu, beli apa aja, sayang? Kok banyak banget?" tanya Gio sambil mengambil kantong plastik di tangan istrinya.


"Cuman beberapa kue untuk dimakan di rumah, dan kue kukis untuk oleh-oleh ke Jakarta," jawab Diandra.


Gio menaruh kantong plastik itu di jok belakang, sebelum akhirnya keduanya kembali masuk ke dalam mobil.


"Sudah kan, kita gak akan mampir lagi?" tanya Gio.


Diandra mengangguk dengan diiringi senyum tipisnya.


...................


Berdo'alah, walaupun kalian bukan orang yang taat, dan yakinlah kalau do'a yang baik pasti akan dikabulkan oleh Allah SWT. Walaupun kita tidak pernah tahu, kapan do'a itu akan terkabul. Karena terkadang Allah bertindak, di luar batas pemikiran yang bisa kita capai.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2