Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Bab.23 Maaf


__ADS_3

...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Dian yang tidak sadar dengan apa yang ia lakukan, baru melepaskan tangan Gio setelah berada di pelataran rumah sakit.


"Maaf," ujarnya, merasa bersalah kerena Gio harus ikut dalam masalah keluarganya.


"Maaf?" tanya Gio, mengulang perkataan Dian.


"Maaf, karena kamu harus melihat kejadian tadi dan terbawa dalam masalah aku," ujar Dian dingin.


Walau pun saat ini, Dian sedang meminta maaf pada Gio. Akan tetapi, raut wajah dan nada suaranya sama sekali tidak mencerminkan itu semua.


Nada suara dingin dengan wajah merah menahan amarah, terlihat begitu jelas. Mungkin, bila ada orang yang melihat keduanya saat ini, mereka akan mengira kalau Dian dan Gio adalah pasangan yang sednag bertengkar.


Gio meringis dalam hati, saat melihat perempuan di depannya itu. Dalam hati ia cukup takjub kepada Dian, dengan segala keunikan yang dimilikinya.


'Benar-benar wanita langka, aku tidak boleh melepaskannya begitu saja. Dia pantas untuk aku lindungi,' gumam Gio dalam hati.


Dian melirik Gio sekilas, saat mendnegar tak ada jawaban dari lelaki di sampingnya itu. Keningnya berkerut dalam saat melihat Gio yang tengah tersenyum dan memperhatikannya.


Tak!


Dian menjentikan ibu jari dan telunjuknya di depan wajah Gio, untuk menyadarkannya dari lamunan panjangnya.


Gio mengerjapkan matanya, terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Dian.


Ekhm!


Berdehem untuk menghilangkan rasa canggung yang ada pada dirinya sendiri. Mengusap tengkuk dengan senyum lebarnya, dia merasa seperti seorang yang ketahuan sedang mencuri.


"Kamu bilang apa, barusan?" tanyanya, setelah bisa mengendalikan dirinya dari rasa malunya.


Dian tak menjawab, dia memilih mengangkat bahu, sambil berjalan mendahului Gio, menuju keluar dari area rumah sakit itu.


"Eh, kok malah ninggalin sih?" tanya Gio etah pada siapa.


Berjalan cepat untuk mengejar langkah Dian yang sudah berada di pinggir jalan, bersiap untuk memanggil ojek pangkalan yang ada di sana.


"Kamu ngapain sih, pake ninggalin aku segala?" tanya Gio, setelah sampai di samping Dian, dia mencekal tangan Dian yang terangkat ingin memanggil ojek.

__ADS_1


"Pulang, lah. Ngapain juga aku di sini?" jawab Dian dengan begitu santainya.


"Lepas! Aku mau pulang," ujar Dian lagi, saat pergelangan tangannya masih digenggam oleh Gio.


"Aku kan udah bilang, kalau hari ini aku akan mengantar kamu kemana pun kamu mau pergi," tekan Gio tak mau mengalah dengan perempuan di depannya.


"Gak, aku gak mau! Urusi saja urusan kamu sendiri, kenapa kamu selalu ikut campur dalam urusanku?!" ujar Dian, meluapkan rasa kesalnya pada Gio.


Perasaan perempuan ini, sedang tidak baik sama sekali, dia benar-benar tidak bisa berpura-pura tegar untuk saat ini. Hatinya sakit dengan ucapan yang baru saja dikeluarkan oleh ayahnya sendiri.


Dia mungkin bisa bertahan dan tutup telinga dari semua gosip dan omongan orang lain di sekitarnya. Akan tetapi, itu semua akan terasa berbeda, saat yang mengucapkannya adalah orang yang ia sayangi, terlebih itu adalah ayahnya sendiri.


Seseorang yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung dan bersandar dari segala rasa sakit. Namun, kini justru ayahnya lah yang menjadi sumber dari rasa sakit itu.


"Karena aku peduli padamu, Dian. Aku peduli padamu," ujar Gio tanpa ragu.


Kedua tangan Gio berada di pundak Dian, mengarahkan perempuan yang sudah merebut hatinya itu untuk melihat wajahnya.


Dian mengepalkan kedua tangannya, ia tidak suka situasi ini. Akan tetapi, entah mengapa mendengar perkataan Gio, ada rasa yang aneh di dalam hati.


Tak seperti biasanya dia akan langsung marah bahkan menampar wajah pria yang mengatakan peduli padanya, kini Dian seakan tak bisa membuka bibirnya untuk menghardik Gio


Di saat bersamaan mobil milik Romi berhenti, tepat di samping Dian dan Gio yang tengah saling menatap dengan perasaan masing-masing.


Dian dan Gio seakan baru saja tersadar dari lamunan mereka masing-masing. Gio langsung melepaskan tangannya dari pundak Dian.


"Tidak apa. Kami hanya kebetulan bertemu," jawab Dian.


"Kamu mau ke mana, Rom?" tanya Dian, sebelum Gio mencoba untuk menyangkal perkataannya.


"Kita kan sudah berjanji untuk menjenguk koki yang menjadi korban terparah dari kejadian kebakaran kemarin," jelas Romi.


Lelaki yang merupakan sepupu dan kepercayaan dari Dian itu, kini menatap kedua orang di depannya yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Matanya memicing, mencoba mengintimidasi kedua orang yang mempunyai hotel di kawasan itu.


"Ah, iya! Aku lupa," ujar Dian sambil tersenyum paksa.


"Tapi, sepertinya aku tidak bisa ikut sekarang. Kamu pergi sendiri saja ya, urus semua biaya rumah sakit dan berikan konpensasi untuknya," ujar Dian memberikan perintah.


Tanpa sadar dia telah mengungkapkan jati dirinya sebagai atasan Romi di depan Gio.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu gak kenapa-napa kan? Gimana keadaan Ares? Apa dia sudah lebih baik?" cecar Romi, menatap Dian dengan wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Aku gak apa-apa kok, cuman lagi ada rencana lain aja," alasan Dian.


"Ares juga sudah lebih baik, hari ini dia sudah boleh pulang," imbuhnya, menjelaskan keadaan Ares pada Romi.


Romi menatap Gio dan Dian secara bergantian, dengan seringai yang sudah pasti Dian dan Gio tau artinya.


"Kalian berdua?" tanya Romi dengan sebelah alis dinaikan, menggoda Dian.


"Tidak ada! Aku dan dia tidak ada apa-apa. Kamu jangan berpikir yang macam-macam!" ujar Dian dengan nada tidak suka.


"Kalau ada apa-apa juga bagus kok. Iya kan Tuan Gio?" Romi ternyata masih belum puas untuk menggoda sepupunya itu.


Gio tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya pada Romi, sebagai tanda persetujuan atas perkataan Romi.


"Romi! Mau aku potong gajimu, hah?!" geram Dian, menatap tajam kepercayaannya itu.


"Yaelah, Dian ... kebiasaan banget, ancamannya pasti gaji. Mentang-mentang misterius bos," gerutu Romi dengan muka masamnya.


"Makanya, kamu gak usah macam-macam sama aku, kalau gak mau aku potong gajimu. Sudah, sana buruan masuk, jangan malah ngomong gak jelas di sini," omel Dian.


Dian merasa sedikit terhibur dengan kedatangan Romi, walau dia juga merasa kesal dengan perkataan Romi tentang hubungannya dengan Gio.


Beberapa saat kemudian Romi pun pergi ke dalam rumah sakit, untuk menjenguk salah satu karyawannya yang sedang di rawat.


"Ayo, aku antar kamu pulang," ajak Gio, sambil menggenggam tangan Dian lagi.


"Lepas, aku bisa sendiri!" Dian menyentak tangan Gio hingga akhirnya terlepas dari tangannya.


"Bang, ojek!" teriak Dian, langsung melambaikan tangannya pada beberapa orang ojek pangkalan yang berada tidka jauh dari tempatnya saat ini.


"Aku bilang aku yang akan mengantarkan kamu pulang!" tekan Gio.


"Ojek, Neng?" tanya tukang ojek yang menghampirinya.


"Gak jadi, Bang. Maaf, istri saya sedang marah," ujar Gio, sebelum Dian menjawab pertanyaan dari tukang ojek itu.


"Iya kan, sayang?" ujar Gio sambil merangkul pinggang Dian dengan posesif.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...


__ADS_2