
...Happy Reading...
.................
"Apa, Bapak, yakin akan melakukan ini?" tanya salah satu anak buah Gio, ketika Gio baru saja menutup teleponnya.
Gio tampak terdiam untuk beberapa saat, kemudian mengangguk mantap, walau mungkin ini akan memiliki resiko untuknya.
Laki-laki yang merupakan teman Gio sejak berada di dalam pusat rehabilitasi itu, mengangguk samar, percaya bahwa setiap keputusan yang diambil Gio adalah kebenaran.
Dia terus melanjukan mobil milik Gio dengan kecepatan sedang. Sepertinya malam ini mereka terancam tidak akan tidur lagi, setelah malam-malam sebelumnya mereka juga harus menemani Gio, untuk menyelidiki lebih dalam tentang Zack dan Cleo, juga bisnis mereka.
Mencari celah dari setiap informasi yang berhasil dikumpulkan oleh para anak buah Gio di beberapa tempat. Gio juga terus berusaha menyusun strategi agar bisa mendapatkan cara untuk menyerang mereka kembali, di saat dirinya mungkin kalah.
Perjalanan itu pun terus berlangsung, bahkan ke luar dari kota Bandung, hingga tiba di tempat, di mana ada seseorang yang dia cari di sana.
Mobil sudah berhenti tidak jauh dari tempat yang mereka tuju, Gio tampak terdiam di dalamnya, menunggu seseorang yang akan dia temui.
Beberapa saat kemudian terlihat mobil yang ditunggu telah muncul dan berhenti tidak jauh dari tempat mereka. Gio tersenyum samar, ternyata informasi yang dia dapatkan memang benar adanya.
Terlihat seorang laki-laki berbadan tinggi besar, dengan menggunakan jaket kulit ke luar dari mobil yang langsung diikuti oleh beberapa orang lainnya.
Gio ke luar dari dalam mobil dengan santainya, membenarkan kemeja hitam yang dia pakai, lalu melangkah menuju orang itu.
"Jiro," panggil Gio, dengan suara santai seperti sedang memanggil teman yang lama tidak bertemu.
Laki-laki dengan jaket kulit itu menoleh, dia tampak terkejut melihat Gio berada di sana, begitupun dengan laki-laki lainnya. Sedangkan Gio hanya tersenyum sambil melangkah lebih dekat pada orang yang dia panggil Jiro.
"Hai, Jiro, lama tidak bertemu," ujar Gio begitu sampai di hadapan orang itu. Dengan santainya dia mengulurkan tangannya, tanpa mau melihat wajah keras para laki-laki di sekitarnya.
Jiro adalah orang kepercayaan Zack, yang juga dekat dengan Cleo, dia adalah seorang yang akan mengawasi secara langsung semua pekerjaan yang direncanakan oleh Zack dan Cleo. Mungkin statusnya sama seperti Randi untuk Gio.
Jiro juga cukup dekat dengan Gio, mengingat dulu sewaktu Gio masih menjadi pecandu, dia banyak menghabiskan waktu di club milik Zack, dan sering bertemu dengen laki-laki itu. Sifat Gio yang mudah bergaul, membuatnya cepat dekat dengan siapa pun.
"Gio ... untuk apa kamu ada di sini, hah?" tanya Jiro dengan nada suara rendah.
"Aku hanya ingin menemui teman lama," jawab Gio santai. Dia tahu kalau Jiro memendam emosi padanya. Akan tetapi, dia tidak bisa meluapkannya secara sembarangan, mengingat ini adalah kawasan umum.
__ADS_1
"Sial!" Gio menyeringai mendengar Jiro mnegumpat.
"Ayolah, teman, aku hanya meminta waktumu sebentar untuk bicara," ujar Gio.
Jiro tampak memperhatikan sekelilingnya, dia kemudian kembali masuk ke dalam mobil, bersama Gio yang mengikutinya di belakang.
"Mau apa kamu menemuiku?" tanya Jiro, setelah mobil itu berjalan kembali.
Entah ke mana mobil itu berjalan, Gio juga tidak tahu, atau mungkin tidak peduli juga. Untuk saat ini dia hanya ingin tahu keberadaan Rani dan anaknya yang dipastikan berada di tangan ketiga orang itu. Zack, Cleo, dan Jiro.
"Aku hanya ingin tahu di mana Rani dan anaknya berada," jawab Gio, kini dengan mode serius.
Terdengar suara tawa mengejek dari Jiro, mendengar permintaan Gio. "Apa untungnya untukku, jika memberitahukan di mana dua orang itu?"
Gio tersenyum kemudian menatap tajam wajah Jiro yang kini tengah berada di sampingnya. "Apa yang kamu mau dariku?"
Jiro mengangkat sebelah alisnya, menatap Gio dengan sorot wajah terkejutnya. "Kamu mau mengorbankan segalanya hanya untuk wanita itu dan anaknya?"
Gio tampak diam untuk beberapa saat, dia mencoba mengira apa yang akan mereka minta darinya, sebagai syarat untuk Rani dan anaknya.
"Heum, sayang sekali. Aku sama sekali tidak tahu di mana Cleo menyembunyikan wanita itu dan anaknya. Sepertinya dia lebih menjaganya setelah tau kalau wanita itu ada hubungannya denganmu," ujar santai penuh nada ejekan di setiap kata yang Jiro ucapkan.
Gio mengepalkan tangannya, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jiro. Selama ini Jiro adalah satu-satunya orang yang mengetahui semua rahasia di dalam bisnis haram itu.
"Aku tau, kamu hanya main-main, Jiro. Katakan saja semuanya, maka aku akan memberikan apa pun yang kamu mau," ujar tegas Gio.
"Tampaknya wanita itu sangat berharga untukmu, Gio. Sampai kamu rela bertemu lagi denganku dan bisa memberikanku apa pun yang aku mau," ujar Jiro, masih mencoba mengulur waktu.
Gio menyeringai, dia semakin menatap laki-laki itu dengan tatapan remeh, yang membuat lawannya tidak bisa lagi menahan emosi.
"Jangan percaya diri dulu, Jiro. Aku seperti ini hanya karena aku sedang mencoba cara halus dan bernegosiasai dengan kalian," desis Gio, dengan kepala penuh dengan rencana.
Dia sudah menyiapkan rencananya dengan sangat matang, memprediksi semua reaksi yang akan dia dapatkan dari lawannya, hiinggarencana cadangan.
Walaupun semuanya belum disempurnakan dam dipastikan tingkat keberhasilannya. Akan tetapi, Gio optimis dengan rencananya sendiri.
"Apa maksud kamu, hah?!" sentak Jiro, mulai merasa waspada pada Gio.
__ADS_1
"Aku tidak sebodoh itu, Jiro. Aku mempunyai bukti semua kebusukan kalian di balik bisnis club," jawab Gio dengan sedikit kebohongan di dalamnya.
Ya, mana bisa dia mengetahuinya dan mempunyai bukti dalam waktu singkat. Hanya saja ada beberapa rahasia yang sudah bisa dia pegang dan cukup untuk melaporkan ketiga orang musuhnya itu, jika mereka berbuat macam-macam.
"Jangan sembarangan bicara kamu, Gio. Aku tau itu hanya sebuah ancaman kosong," ancam Jiro. Satu orang laki-laki yang duduk di samping kemudi tampak langsung berbalik dengan pisau ditangannya.
Gio tidak terkejut, dia malah menambah lebar seringainya, tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Heh, tidak ada ancaman kosong, Jiro. Anak buahku akan langsung memberikannya pada polisi jika terjadi sesuatu padaku," ujar Gio.
"Sial! Dasar brengsek!" umpat Jiro, dengan mudahnya percaya pada ucapan Gio.
Saat itu terdengar dering ponsel milik Jiro, laki-laki itu langsung mengangkatnya setelah melihat nama yang tertera di layar.
"Bawa dia ke mari, aku yang akan bicara dengannya!" perintah seseorang dari seberang sana, yang masih bisa Gio dengar. Gio menyeringai saat tahu itu adalah suara Cleo.
Ternyata salah satu orang Jiro, melaporkan kedatangan Gio pada Cleo, hingga wanita itu langsung menghubungi JIro.
"Tapi, Cleoβ" Belum sempat Jiro menyelesaikan ucapannya Cleo sudah memotongnya begitu saja.
"Bawa dia ke tempatku, atau aku laporkan kamu pada Zack!" ancam Cleo yang langsung membuat Jiro terdiam.
Sambungan telepon pun terputus, begitu Jiro mau mengantarkan Gio kepada Cleo.
Perjalanan berlanjut dengan tatapan tajam Jiro pada Gio, sedangkan orang yang ditatap hanya duduk santai sambil menyandarkan punggungnya, seakan sedang menikmati perjalanan itu. Padahal saat ini, apa saja bisa terjadi padanya, mengingat kini dirinya sendiri sedang berada di tangan musushnya.
Mobil berhenti di depan sebuah hotel sederhana, Gio mengedarkan pandangannya melihat sekitarnya. Empat orang laki-laki dengan menggunakan jas hitam tampak menghampiri mobil yang dia tumpangi, lalu membuka pintu untuknya.
"Ikuti kami!" ujar mereka dingin.
Gio melihat sekilas pada Jiro, kemudian kemudian turun dari mobil setelah melihat anggukkan kepala dari laki-laki disampingnya itu.
Beberapa saat berjalan menyusuri setiap lorong yang ada di hotel itu, kini dia berdiri di depan pintu di mana di dalamnya pasti ada Cleo. Bersiap untuk masuk, tanpa tahu apa yang ada di dalamnya akan membuatnya terkejut bukan mian.
..................
Terima kasih untuk yang terus menunggu dan mendukungku. Lope-lope sekebon untuk kalian semu ππππ₯Ί
__ADS_1