Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Kecewa


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Rani?" Diandra menatap Bi Minah dan perempuan di depannya bergantian.


"Iya, Neng. Ini Rani, keponakan saya ... dia ke sini untuk mengantarkan kue pesanan saya." Bi Minah menghampiri ketiga orang itu dan mengambil kantong plastik berisi kue.


Dinadra menggeleng pelan, dia masih belum percaya kalau perempuan itu bukan Diana. Pertahanannya runtuh, kakinya melangkah undur dengan tangan yang bergetar dan tatapan kecewa.


Tubuhnya goyah, hingga hampir saja terjatuh, bila Gio tidak sigap menangkapnya.


"Sayang?" Gio berusaha menyadarkan Diandra.


"Gak mungkin, dia pasti Ana, aku yakin," gumam Diandra dengan suara lirih.


Gio memeluk Diandra, dia mengusap punggung istrinya, berusaha menguatkan.


"Nanti kita bicarakan ini lagi, sekarang ayo masuk ke dalam dulu," ajak Gio, sambil memapah Diandra.


Namun, tubuh Diandra semakin lemas, dia seakan tidak bisa berjalan, kakinya lemas bagaikan tak bertulang.


Gio pun akhirnya menggendong Diandra ala bridal style. Dia sangat khawatir melihat keadaan istrinya yang tampak sangat terpukul.


"Dia Ana, dia Ana," gumam Diandra, sambil menyandarkan kepalanya di dada Gio. Tubuhnya lemas, tatapannya kosong, Diandra benar-benar tampak sangat hancur.


Gio tidak menjawab, dia lebih memilh untuk terus berjalan ke kamarnya, agar Diandra bisa beristirahat. Pertemuan ini terlalu mengguncang psikis istrinya, Gio tidak mau kalau Diandra akan sakit bila terus begini.


Randi yang kebetulan berpapasan dengan Gio dan Diandra, melebarkan matanya terkejut melihat Gio yang menggendong Diandra.


Apa lagi melihat Diandra yang tampak kacau dengan wajah yang pucat dan air mata yang terus berderai.


Selama ini dia belum pernah melihat istri dari bosnya itu meneteskan air mata. Akan tetapi, kini dia bisa melihat sendiri bagaimana terpuruknya perempuan itu.


"Ada apa?" tanya Randi, menghampiri pasangan suami istri itu.


Gio berhenti sebentar sebelum menaiki tangga.


"Kamu coba temui Bi Minah dan tanyakan tentang perempuan yang bersamanya. Aku tunggu kabar darimu," perintah Gio pada asistennya.


Randi tampak mengerutkan keningnya, dia belum mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini. Akan tetapi, dia juga menganggukkan kepala, kemudian pamit untuk melaksanakan perintah Gio.


Gio meneruskan langkahnya menaiki tangga, setelah Randi meninggalkan mereka.


Perlahan GIo mulai menurunkan tubuh Dinadra ke atas ranjang, dia hendak bangun saat tangan Diandra menahannya.


"Kamu istirahat dulu, biarkan ini menjadi urusan aku dan Randi," ujar Gio, mencoba membuat Diandra tenang.


"Dia Ana, aku yakin dia Ana." Hanya kata itu yang terus terucap dari bibir bergetar Diandra sejak tadi.

__ADS_1


Gio merebahkan tubuhnya di samping Diandra, memeluk lembut tubuh Diandra yang masih terasa bergetar. Tangannya mengelus lembut punggung istrinya.


"Iya, aku percaya sama kamu. Tapi, biarkan sekarang aku dan Randi menyelidiki apa yang terjadi dengannya, sekaligus meyakinkan kalau dia benar-benar Ana," ujar Gio, berbisik lembut di telinga Diandra.


Diandra menelusupkan wajahnya, mencari kenyamanan dari tubuh hangat suaminya, walau bayangan penolakan Ana terhadapnya selalu mengganggu pikirannya.


Tangis Diandra pun perlahan berhenti, kini hanya terdengar isakan lirih, sisa dari kesedihan yang mendalam di dalam hati.


.


.


Randi ke luar dari rumah, dia memang melihat ada Bi Minah dan satu orang perempuan berjilbab. Mereka tampak sedang berbincang dengan cukup serius.


Randi mengernyit, wajah perempuan yang sedang mengobrol dengan Bi Minah tampak tidak asing. Akan tetapi, dia belum tahu pernah melihatnya di mana.


Sepertinya Randi belum sadar kalau wajah perempuan itu mirip dengan Diandra.


Dengan rasa penasaran, Randi melangkah menghampiri mereka berdua.


"Siapa ini, Bi?" tanya Randi.


Dia sudah sejak lama ikut bekerja di keluarga Gio, hingga dirinya menjadi orang kedua setelah Gio yang paling disegani di keluarga Purnomo.


Bi Minah tampak menoleh, kedua perempuan itu terlihat terkejut melihat kedatangan Randi.


Randi mengalihkan pandangannya pada perempuan berhijab di samping Bi Minah. Matanya tampak menyipit memperhatikan penampilan perempuan itu dari atas sampai ke bawah.


Dia merasa tidak asing, hatinya mengatakan kalau dia pernah bertemu dengannya. Akan tetapi, entah mengapa dia lupa di mana mereka bertemu sebelumnya.


"Ini siapa?" tanya Randi, meminta kejelasan dari Bi Minah.


Bi Minah tampak menelan salivanya, dia terlihat ragu dan takut untuk menjawab pertanyaan sederhana Randi.


Randi memang terlihat ramah dan ceria saat sedang dalam keadaan santai. Akan tetapi, dia akan sangat tegas dan tidak pandang bulu, saat sedang dalam mode serius seperti ini.


Asisten dari Gio itu, sangat disegani di hampir seluruh perusahaan milik keluarga Punomo, dia menjadi salah seorang yang paling berpengaruh dari seluruh keluarga Gio sendiri.


Ayahnya Gio bahkan memberikan tiga persen saham di perusahaan milik keluarga Purnomo, sebagai jaminan untuk kehidupan Randi kedepannya.


"I–ini Rani, Den. Keponakan saya," jawab Bi Minah dengan nada suara terbata.


Randi semakin merasa curiga. Dia penasaran sebenarnya apa yang terjadi hingga Diandra tampak begitu kacau saat masuk ke dalam rumah.


"Apa yang dia lakukan pada Diandra? Kenapa saat masuk ke dalam Diandra tampak kacau?" tanya Randi lagi.


Tatapan matanya begitu serius dan mengintimidasi, hingga membuat kedua perempuan beda usia itu sulit untuk berpikir.


"I–itu hanya salah paham saja, Pak. Saya minta maaf, atas kesalahan saya." Kini giliran Rani yang menjawab pertanyaan Randi.

__ADS_1


"Salah paham?" Randi memicing menatap curiga.


"Salah paham apa?" tanya Randi lagi.


Rani tampak saling melirik dengan Bi Minah. Randi bisa melihat jelas rasa takut dan gugup yang berusaha dua perempuan itu sembunyikan.


"S–saya juga tidak tau, Pak. Sepertinya Non Dian mengira saya orang lain," jawab Rani.


Randi kembali menatap Rani, dia memasukkan semua yang dia lihat kedalaman ingatannya, untuk berjaga-jaga. Mengingat saat ini dia belum tahu apa masalah sebenarnya.


"Baiklah, kamu boleh pergi dari sini," ujar Randi.


"Baik, Pak. Saya permisi," jawab Rani, kemudian melihat Bi Minah lagi sebelum benar-benar pergi sari rumah itu.


"Tunggu!" Randi kembali memberi instruksi saat Rani hampir saja mencapai gerbang.


Rani terdiam, dia kembali berbalik dan menatap Randi.


"Apa kita pernah bertemu?" tanya Randi, sambil menelengkan kepalanya.


Rani tampak meremas ujung jilbabnya, semua itu terlihat jelas di mata Randi.


"Saya rasa tidak pernah, Pak," jawab Rani, berusaha tidak terlihat gugup, walau suaranya tetap terdengar bergetar.


"Hem, baiklah. Kamu boleh pergi sekarang," ujar Randi lagi sambil mengibaskan salah satu tangannya, menyuruh Rani untuk segera pergi.


Rani mengangguk, dia pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


Bi Minah pun pamit, begitu melihat Rani sudah ke luar dari gerbang. Menghadapi kejadian mengejutkan di pagi hari cukup menguras tenagannya, hingga dia perlu istirahat sejenak.


Tubuhnya yang sudah tidak muda lagi, memang mudah sekali merasa lelah. Namun, dia juga tidak bisa mengabaikan tugasnya menjaga vila ini.


Pekerjaan ini sebenarnya mudah karena Bi Minah dan Mang Aan hanya ditugaskan untuk mengurus vila, dengan gaji yang cukup besar.


Bila sedang tidak ada orang yang menginap, pekerjaan mereka akan terasa lebih santai. Hanya pada saat ada orang menginap atau kedatangan keluarga Purnomo, mereka akan tampak lebih sibuk dari biasanya.


Randi memanggil salah satu anak buah yang barusan aja datang dari arah dalam, dia sedang membuat kopi di dapur, saat ada kejadian antara Rani dan Diandra.


"Kamu ikuti wanita itu, dan cari tau semua tentangnya," perintah Randi yang langsung mendapat anggukkan dari anak buahnya.


Dia menatap melas kopi di dalam gelas yang belum sempat diminum. Menyimpannya dulu di pos jaga lalu kemudian mengikuti perempuan yang ditunjuk oleh Randi.


Tugas adalah yang utama. Itulah prinsip yang diterapkan oleh Gio dan Randi kepada seluruh anak buahnya. Mereka harus mendahulukan tugas dari atasan lebih dahulu dibandingkan dengan yang lainnya.


.....................


Karya bagus nih Kak, mampir yuk😊


__ADS_1


__ADS_2