
...Happy Reading...
......................
"Hufth ... kenapa rasanya sesak sekali di dalam?" Diandra menghembuskan napas perlahan, sambil bersandar di depan pintu.
Dia merasa sangat sesak di dalam sana, mengingat jantungnya tidak pernah merasa tenang saat dirinya berada di dekat Gio.
Sikap Gio yang selalu menggodanya, membuat Diandra harus bersusah payah agar bisa terus menghindar, agar tidak tergoda dengan suaminya sendiri.
"Gak mungkin kan kalau aku jatuh cinta sama dia?" Diandra melebarkan matanya dengan kedua tangan menutup rapat mulutnya yang terbuka.
Diandra seakan merasa terkejut akan ucapan yang terlontar dari mulutnya sendiri.
"Akh, itu gak mungkin. Mana mungkin aku bisa jatuh cinta sama playboy cap kodok kayak dia," gumam Diandra, masih dengan tangan yang menutup mulutnya.
"Hah, dia pasti sengaja bikin aku kayak gini, buat ngerjain aku! Dia kan emang gak pernah bisa lihat aku tenang sedikit saja," sambung Diandra lagi, menggelengkan kepala menolak pikiran yang menurutnya tidak benar.
Dia mengingat sikap Gio sejak pertemuan pertama kali mereka, yang selalu membuatnya kesal, bahkan menguntit kehidupannya.
Diandra kembali berjalan, untuk mencari keberadaan Randi dan Bi Jui. Dia terlebih dulu ke dapur, untuk menemui Bi Jui.
Benar saja, Bi Jui sedang berada di dapur bersama beberapa anak buah yang membantunya memasak makan malam.
"Bi jui," sapa Diandra.
"Eh, Neng Dian. Ada apa, Neng?" tanya Bi Jui, sambil menghampiri Diandra.
"Tolong siapkan makan malam untuk Gio," ujar Diandra.
"Iya, baik, Neng," angguk Bi Jui.
Bukan tanpa alasan dia memilih menyuruh Bi Jui untuk memasak, dia memiliki alasan sendiri untuk semua itu.
Setelah Diandra memutuskan ke luar dari rumah, dia memang sangat jarang masuk ke dapur, dirinya akan lebih memilih untuk makan di luar dan fokus pada mengembangkan hotel. Diandra sudah tidak ingat lagi, bagaimana cara memasak yang dulu sangat disukainya.
Ya, walaupun tidak terlalu mahir seperti Ares di dalam bidang memasak. Akan tetapi, Diandra cukup bisa memasak menu-menu sederhana, walaupun akhirnya dia lupakan.
"Oh iya, Bibi, lihat Randi gak?" tanya Diandra.
"Sepertinya tadi A' Randi masuk ke kamarnya," jawab Bi Jui.
"Oh ... kalau gitu aku ke sana aja. Makasih ya, Bi," ujar Diandra yang langsung diangguki oleh Bi Jui.
Diandra sempat mengangguk samar pada semua anak buah suaminya yang ada di sana, sebelum dia ke luar dari dapur.
Semua anak buah Gio sangat menghormati Diandra, setelah mereka tau kalau dia adalah istri dari Gio. Apalagi saat melihat bagaimana pengorbanan Gio, untuk membuat Diandra bahagia, itu semua jelas membuat menjadi pertimbangan sendiri untuk mereka.
Diandra bagaikan pawang dari bos mereka, hingga mungkin mereka akan lebih patuh pada Diandra daripada Gio sendiri.
__ADS_1
Untung saja Diandra bukan tipe wanita yang suka menindak orang yang lebih lemah. Walaupun dia jarang berbicara dan lebih suka menyendiri, akan tetapi, Diandra juga tidak pernah mengusik kegiatan anak buah Gio.
Diandra baru saja sampai di ruang tengah, saat Randi terlihat berjalan ke arahnya.
"Kebetulan sekali, aku baru saja mau mencari kamu ke kamar," ujar Diandra.
Randi mengernyit. "Ada apa?"
"Aku mau tanya obat untuk Gio, apa kamu sudah membelinya?" tanya Diandra.
"Oh iya ... sudah. Aku barusan aja mau membawakan makan malam sekaligus obat untuknya," jawab Gio sambil memperlihatkan kantong plastik bening berisi obat di dalamnya.
"Ya sudah, biar aku aja yang bawakan. Kamu tinggal menjelaskan aturan minumnya saja," ujar Diandra.
"Heem, baiklah," angguk Randi. Dia pun langsung menjelaskan aturan obat yang harus diminum oleh Gio.
"Neng ini makan malam untuk A' Gio," ujar Bi Jui, yang menyusulnya dengan sebuah nampan di tangan.
"Terima kasih, Bi." Diandra langsung mengambil nampan dari tangan Bi Jui, dan obat dari Randi.
"Terima kasih juga, Ran. Aku ke kamar dulu," ujar Diandra lagi, beralih pada asisten suaminya.
Randi dan Bi Jui mengangguk, mereka melihat Diandra pergi ke kamarnya.
"Semoga saja semakin hari, pernikahan mereka bisa semakin menambah rasa cinta Neng Diandra sama A' Gio," gumam Bi Jui.
"Amiin," jawab Randi, sambil mengangguk samar.
Diandra membuka pintu perlahan dia tersenyum saat melihat Gio tengah menatapnya.
"Maaf, agak lama," ujar Diandra, sambil menyiapkan makanan untuk Gio.
"Kok cuma satu?" Gio mengernyit, menatap Diandra penuh protes.
"Gak apa, nanti aku makan setelah kamu selesai," ujar Diandra.
"Aku kan mau makan sama kamu," protes Gio.
Diandra menghembuskan napas panjang.
Kenapa dia jadi seperti anak kecil begini sih? batin Diandra, menatap kesal suaminya.
"Iya, nanti aku makan. Sekarang biarkan aku suapin kamu dulu," ujar Diandra, sambil munyodorkan sendok berisi makanan ke depan mulut Gio.
Gio akhirnya tidak menolak dan langsung menerima suapan pertama dari Diandra.
"Terima kasih, sudah mau merawat aku," ujar Gio, menatap Diandra penuh kasih.
"Aku masih punya hati nurani, mana mungkin aku membiarkan orang yang terluka di depanku," jawab Diandra, sambil kembali nyodorkan sendok di depan mulut Gio.
__ADS_1
Namun, kali ini Gio menolaknya, dia mengambil alih, lalu menyodorkannya ke depan bibir Diandra.
"Kamu juga harus makan," ujarnya, sedikit mengambil kesempatan untuk menyuapi istrinya.
Diandra sedikit memundurkan kepalanya, kerutan di keningnya pun terlihat jelas.
"Mau makan bareng, atau aku juga gak mau makan?" tanya Gio.
Diandra akhirnya menerima suapan dari Gio, hingga membuat laki-laki itu tersenyum senang.
"Nah, gitu dong," ujarnya puas.
Diandra tidak menjawab, rasanya sangat canggung saat dia menyadari kalau itu semua seperti ciuman secara tidak langsung, padahal Gio sudah beberapa kali mencuri ciuman darinya. Akan tetapi, ini semua tetap saja terasa berbeda.
Setelah semua makanan habis, Diandra kini menyiapkan obat untuk Gio.
"Ini, minum obatnya dulu," ujar Diandra, sambil memberikan bebrapa jenis obat di tangannya.
"Kenapa banyak sekali?" keluh Gio, dia terlihat enggan meminum obat itu.
"Gak apa-apa, minum aja, biar kamu cepet sembuh," jawab Diandra.
Terpaksa Gio menerima obat itu dan meminumnya, walau dia sebenarnya tidak suka dengan obat-obatan seperti itu.
Selama ini Gio sangat jarang memeriksakan dirinya ke dokter atau rumah sakit. Dia tidak menyukai semua itu, walau kakaknya sendiri adalah seorang dokter.
"Aku taruh ini dulu ke dapur," ujar Diandra sambil mengambil kembali nampan di atas nakas.
"Tolong panggil Randi juga, aku mau bicara dengan dia," ujar Gio.
Diandra mengangguk, lalu berjalan pergi ke luar kamar. Baru saja berjalan beberapa langkah dari kamar, Diandra sudah melihat Randi yang akan masuk ke kamar lagi, sepertinya dia juga baru selesai makan malam dengan yang lainnya.
"Ran," panggil Diandra.
Randi menghentikan langkahnya, dia menghampiri Diandra.
"Ada apa?" tanya Randi.
"Gio mau bertemu sama kamu," jawab Diandra.
Randi menoleh ke pintu kamar Gio lalu mengangguk.
"Ya udah, aku masuk dulu," jawabnya, yang langsung diangguki oleh Diandra.
Mereka pun berpisah di sana, Diandra yang kembali ke dapur dan Randi masuk ke dalam kamar.
......................
Maaf ya, up agak telat๐
__ADS_1
...๐น๐น๐น๐น๐น...