
...Happy Reading...
................
Beberapa saat berkendara, Ranid menghentikan mobilnya di dekat lokasi. Diandra dan Randi harus berjalan beberapa meter lagi ke depan, untuk mencapai lokasi yang dikirimkan Gio.
"Kita gak salah tempat, kan?" tanya Diandra, sambil mengedarkan pandangannya.
Kawasan itu sangat padat oleh rumah-rumah warga, bahkan mobil pun tidak bisa masuk ke dalam pemukiman, dikarenakan jalan yang sempit.
Randi tidak menjawab, dia hanya terus berjalan di depan DIandra, seolah sedang menunjukkan jalan untuk istri bosnya itu.
Beberapa meter memasuki gang, mereka dihampiri beberapa orang laki-laki yang ternyata adalah anak buah Gio yang memang ditugaskan di sana.
Mereka menunjukan jalan menuju lokasi, tempat dimana anak Ana dirawat selam ini.
Diandra melebarkan matanya, saat melihat penampakan bangunan yang selama ini menjadi tempat keponakannya tumbuh.
SIal, hatinya serasa sesak, egonya terluka membayangkan keponakannya harus hidup dalam keterbatasan seperti ini, sedangkan dirinya hidup nyaman dengan segala kemewahan yang diwariskan oleh neneknya.
Ternyata itu adalah bangunan seperti sebuah kontrakan petakan yang terletak di sebuah pemukiman kumuh dan padat penduduk. Rumah itu bertingkat dua, dengan lebar setiap petak mungkin sekitar tiga meter.
Melihatnya saja Diandra sudah merasa sesak, apa lagi membayangkan harus hidup di lingkungan seperti ini. Mungkin dirinya sudah tidak tahan dan melakukan bunuh diri sejak lama.
Tidak terlihat ada penjagaan di sekitar rumah itu, mereka hidup seperti biasa, seakan tidak ada apa pun yang terjadi. Padahal di antara mereka da seorang anak kecil korban dari penculikan. Entah semua itu karena mereka tidak tahu, atau memang pura-pura tidak tahu.
"Yang mana tempatnya?" tanya Randi pada salah satu anak buahnya.
"Di lantai dua, kamar nomor tiga," jawab salah satu anak buah Gio.
"Apa memang tidak ada penjaga di sini?" tanya Randi, ini terlalu rawan untuk melakukan pertarungan. Takutnya nanti akan ada warga tidak bersalah yang terluka jika semua itu terjadi.
"Kami tidak bisa membedakan yang mana anak buah Cleo di sini. Karena mereka semua berlaku seperti warga biasa."
Akh, sial. Jika memang mereka semua adalah warga biasa dan tidak tahu ada anak kecil korban penculikan, bisa-bisa sekarang malah mereka yang akan dituduh sebagai penculikan, jika mereka bertindak gegabah.
Randi memutar otaknya, berusaha merencanakan sesuatu dengan cepat, untuk mengambil anak Ana dari pengasuhnya.
"Apa pengaruhnya tau, kalau itu adalah anak hasil penculikan?" tanya Diandra tiba-tiba.
__ADS_1
"Kami rasa dia tahu. Tapi, dia menutupinya dari warga sini."
Saat itu, pintu kontrakan yang sedang dibicarakan terbuka, memperlihatkan seorang perempuan yang masih cukup muda ke luar dengan menggandeng anak laki-laki.
Diandra melihat itu, dia kemudian mencari cara untuk mendekat pada anak itu. Hingga senyum tipis pun terbit saat melihat sebuah warung yang berada tepat di samping anak tangga.
Namun, dirinya sadar kalau wajahnya terlalu mirip dengan Ana, itu cukup berbahaya karena anak buah Cleo pasti langsung mengenalnya.
Diandra mencari sesuatu untuk menutupi wajahnya, hingga dia melihat salah satu anak buah Gio ada yang membawa kacamata.
"Pinjam sebentar," ujar Diandra, langsung merapasnya begitu saja. dia kemudian mengikat rambutnya seperti gadis desa dengan beberapa helai rambut di bagian depan wajahnya dibiarkan terlihat berantakan.
Randi masih membicarakan rencananya sambil terus memutar otak, saat tiba-tiba saja Diandra berjalan dan memisahkan diri, menuju sebuah warung kopi yang berada di lantai satu kontrakan itu.
"Bu, pesan es tehnya satu," ujar Diandra sambil duduk santai di atas kursi papan, cara bicaranya terdengar berubah, dengan aksen sunda yang kental.
Seorang wanita paruh baya penjaga warung itu langsung melayaninya dengan ramah.
"Orang baru ya, Neng? Kayaknya Ibu baru pertama kali lihat," tanya wanita paruh baya itu, sambil menaruh gelas berisi es teh pesanan Diandra.
"Iya, Bu. Kebetulan aku teh baru datang dari kampung, lagi cari kontrakan, apa di sini ada yang kosong?" ujar Diandra, memulai pembicaraan.
"Kalau boleh tau, memang, Neng, dari mana?" tanya ibu itu lagi.
"Oh, saya mah dari Ciamis, Bu. Ke sini mau cari kerja, kebetulan ada saudara yang tinggal di sini. Tapi, gak enak kalau terus numpang, makanya aku mau nyari kontrakan atau kos-kosan aja," terang Diandra lugas, seolah semua itu benar.
Tepat setelah Diandra menyelesaikan jawabannya perempuan muda yang membawa anak itu, datang ke warung.
"Bu, beli pokok bayi sama telur dua butir," ujar perempuan itu.
Diandra tersenyum ramah sambil menyedot es teh di dalam gelas, dia kemudian melihat anak di samping wanita itu.
"Hai kasep, namanya siapa?" tanya Diandra sambil membungkukkan punggungnya di depan anak laki-laki itu.
"Ai, Tante Tantik, aku Andla," jawab anak laki-laki itu dengan gaya cadelnya, tanpa rasa takut sama sekali.
Diandra terkekeh kecil. "Kamu pinter banget sih, Andla. Makin kasep deh," gemas Diandra.
"Butan Andla, tapi Andlha, Tante," ujar anak itu lagi, sambil berusaha menyebutkan namanya dengan benar, hingga menarik perhatian pemilik warung dan wanita muda di sampingnya.
__ADS_1
"Namanya Andra," jawab wanita muda itu, membantu anak laki-laki itu menjelaskan namanya pada Diandra.
"Oh, Andra." Diandra mengulang nama anak laki-laki itu disertai kekehan kecil.
"Lucu banget sih, Teh, anaknya. Jadi pengen cubit deh." Kini Diandra beralih pada wanita muda itu, walau tanganya dengan jahil mencubit gemas pipi anak laki-laki itu.
Wanita itu tampak tersenyum samar, menanggapi candaan dari Diandra.
"Mau coklat? Atau es krim? Nanti biar Tante yang bayarin," tawar Diandra.
"Mau!" Sontak anak laki-laki itu langsung berteriak kegirangan.
"Boleh kan aku belikan itu? Aku suka anak-anak, tapi sayang, belum dikasih jodoh, hahaha!" Diandra beralih pada wanita muda itu.
"Tidak usah, nanti merepotkan," tolak wanita muda itu.
"Gak apa, aku ikhlas kok. Lumayan buat tanda perkenalan kita, iya gak, Andra?" ujar Diandra yang langsung diangguki oleh Andra.
Wanita muda itu tampak menghembuskan napas kasar lalu mengangguk dengan terpaksa. Diandra tersenyum, dia mengulurkan tangannya untuk membantu Andra mengambil eskrim dan coklat pilihannya.
Di saat Diandra mencoba mendekatkan diri pada Andra, Randi pun menjalankan rencananya, untuk mempersingkat waktu. Terpaksa dia harus melibatkan polisi di dalam pekerjaannya saat ini.
Sekitar setengah jam, Diandra berbincang di warung itu bersama Ibu pemilik warung dan wanita yang mengasuh Andra, Andra sendiri tampak mulai dekat dan tidak sungkan lagi padanya. Hingga tiba-tiba, polisi datang dan mengrebek tempat itu, juga menangkap beberapa orang yang dicurigai sebagai anak buah Cleo.
Diandra pun masih tetap dalam peran seorang gadis desa yang akan membantu menjaga Andra, selama wanita itu ditahan oleh polisi.
"Tolong bawa Andra ke alamat ini, di sana kamu juga akan mendapatkan pekerjaan," ujar wanita muda itu memberikan secarik kertas pada Diandra.
Ya, sebelumnya Diandra mengungkapkan kalau dirinya sedang mencari pekerjaan. Tak disangka ternyata wanita itu cukup mudah percaya pada orang baru seperti dirinya.
Misi pun berhasil, Diandra bisa membawa Andra bersamanya, tanpa dicurigai oleh para warga. Randi yang menampakkan diri saat para polisi telah pergi. Dia mengaku sebagai saudara Diandra, hingga membuat warga semakin percaya padanya.
Diandra bahkan bisa masuk ke dalam kontrakan tempat Andra tinggal, dengan alasan untuk mengambil baju ganti. Padahal semua itu hanya sebuah alasan, agar dia bisa mencari bukti yang lainnya di dalam kontrakan itu.
Diandra kemudian memberikan Andra pada anak buah Gio, dan menyuruhnya membawa Andra ke vila, sedangkan dirinya melanjutkan perjalanannya bersama Randi untuk menyusul Gio.
...***...
Lapor, misi kali ini sudah selesai dan berjalan dengan lancar! ðŸ¤
__ADS_1