
...Happy Reading...
......................
Waktu berlalu begitu saja, Diandra terus menunggu Gio, yang ternyata dinyatakan koma. Kini hari-hari Diandra hanya dia habiskan di rumah sakit, dengan harapan keadaan suaminya akan segera membaik dan membuka mata kembali.
"Sayang, tolong beri aku kesempatan untuk mengatakan itu padamu, Gio. Beri aku kesempatan untuk bisa mengungkapkan kata cinta untuk kamu." Diandra kembali berkata untuk kesekian kalinya.
Berbagai kata dia ucapkan untuk memberi motivasi pada Gio, agar mau berusaha untuk kembali membuka mata, terutama janjinya untuk memanggil Gio sayang, dan menyatakan rasa cintanya. Akan tetapi, tidak sekali pun Gio tampak membuka matanya untuk Diandra.
Kondisi Diandra pun sudah berangsur pulih, hingga kini dia sudah diizinkan untuk beraktifitas seperti biasanya.
"Dian, kamu harus beristirahat, ingat kondisi kamu," ujar Mama Hana yang kembali datang ke rumah sakit untuk menjenguk anak dan menantunya.
Kini Gio sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, walau alat bantu yang Gio pakai masih sangat beragam. Suara mesin itu pun saling bersahutan, menjadi musik pengiring hari-hari Diandra di rumah sakit bersama dengan Gio.
"Gak apa-apa, Mah. Aku sudah cukup beristirahat di sini," ujar Diandra sambil melihat sang suami yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
"Pulang ke rumah sesekali, Dian. Istirahat di sini tidak akan nyaman seperti di rumah." Mama Hana yang mencoba merayu menantunya yang sudah tidak pernah mau pulang ke rumah, semenjak Gio dipindahkan ke ruang rawat.
"Selama Gio masih di sini, maka di sini rumah aku, Mah. Aku gak mau ninggalin Gio walau sedetik pun. Lagi pula kalau aku pulang pikiranku juga gak akan tenang," ujar Diandra menolak Mama Hana.
Wanita paruh baya itu hanya bisa menghembuskan napas kasar, dia kemudian menatap wajah sang anak yang kini terlihat semakin kurus.
"Dian, ini sudah dua bulan kamu terus begini. Dokter juga sudah menyarankan untuk mengikhlaskan Gio–"
"Mah, aku gak mau menyerah, aku yakin kalau Gio akan membuka matanya lagi. Dia udah janji untuk jagain aku, jadi dia gak boleh pergi sekarang," bantah Diandra, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama tau, kamu pasti berat melakukan ini, sayang. Tapi, Mama juga gak mau kalau Gio terus tersiksa seperti ini. Kasihan dia, Dian." Mama Hana kembali meneteskan air matanya.
Diandra mendongakkan kepala, dia sudah berjanji untuk tidak meneteskan air matanya lagi di depan Gio atau pun orang lain, dia harus tetap kuat karena masih ada kesempatan untuk Gio sadar kembali suatu saat nanti.
"Setidaknya kita sudah berusaha maksimal untuk menunggunya kembali, Mah. Jika memang sudah waktunya untuk pergi, aku akan merelakannya. Tapi, tidak untuk sekarang," ujar Diandra memberikan keputusan.
__ADS_1
Itu memang terucap dari bibirnya walau sebenarnya hati tidak akan pernah rela, dia mungkin akan terus menunggu dan berharap ada keajaiban untuk keluarga kecilnya, yang bahkan belum sempat terwujud.
Mama Hana hanya bisa terisak, di sisi lain dia menginginkan kesembuhan anaknya. Akan tetapi, di sini lainnya, dia juga tidak sanggup melihat tubuh anaknya semakin kurus.
"Maafkan Dian, Mah," lirih Diandra memeluk tubuh bergetar mertuanya.
.
Suara mesin yang terdengar nyaring membuat Diandra yang baru saja ke luar dari kamar mandi langsung berlari menuju brankar suaminya, dia melihat tanda vital suaminya semakin menurun.
Jantung Diandra langsung berdegak lebih cepat mendapati semu itu, dia tahu itu adalah tanda jika suaminya sudah ingin menyerah.
"Gio?" ujarnya dengan suara bergetar, langsung menekan tombol darurat di samping barnkar suaminya.
"Gio, kamu harus bertahan, kamu gak boleh ninggalin aku," ujar Diandra dengan perlahan, tangannya menggenggam erat tangan sang suami, dengan hati yang sudah terasa sakit.
Walau bagaimana pun dia berusaha untuk terlihat tegar dan kuat selama ini. Akan tetapi, di saat melihat sang suami seperti ini Diandra pun tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan tidak relanya.
"Aku mencintai kamu, Gio. Aku sayang sama kamu. Aku mohon bertahan demi aku dan anak kita, sayang. Aku mohon." Diandra terus berbicara sambil menggenggam tangan suaminya, hingga akhirnya dokter datang dan memisahkan Diandra dari Gio.
Diandra melangkah mundur dengan kaki lemas, dia kemudian berdiri di depan tembok dengan tubuh gemetar, melihat sang suami sedang berusaha diselamatkan oleh dokter dan perawat yang selama ini menangani Gio.
Mama Hana dan Randi yang baru saja datang pun masuk ke dalam, Mama Hana langsung memeluk Diandra yang sudah berurai air mata, sedangkan Randi tampak berdiri mematung dengan mata memerah menahan tangis.
"Mah, Gio–" ratap Diandra pada mertuanya.
"Tenang, Dian, semuanya pasti akan baik-baik saja," ujar Mama Hana mencoba menenangkan walau hatinya sendiri merasa hancur.
Semuanya tampak kacau di ruangan yang selama hampir tiga bulan itu terus terasa hening, dokter dan perawat yang terlihat sibuk untuk menolong Gio, Mama Hana dan Diandra yang tampak saling menguatkan dengan air mata yang sudah tidak tertahankan, dan Randi yang tampak kalut, walau tetap harus terlihat tegar.
Hingga setelah tiga puluh menit berlalu, Dokter akhirnya menyerah dan menyatakan kalau Gio telah berpulang, dia kemudian menghampiri Diandra dan Mama Hana dengan langkah gontai.
"Maaf, sepertinya untuk kali ini pasien sudah menyerah, kami tidak bisa berbuat apa-apa," ujar Dokter itu, membuat tangis Diandra dan Mama Hana pecah.
__ADS_1
"Tidak, Dok, suami saya tidak mungkin menyerah, dia tidak mungkin meninggalkan saya," ujar Diandra menggelengkan kepalanya, menolak kenyataan yang sudah terlihat di depan mata.
"Maaf, Bu. Kami sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi, Allah berkehendak lain," ujar Dokter itu lagi sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Diandra berlari menuju barankar sang suami dia langsung menghambur pada dada Gio yang kini sudah polos, tanpa ada alat bantu yang menempel lagi.
"Sayang, tolong jangan begini, aku tidak bisa hidup tanpa kamu Gio! Setidaknya kamu harus lihat anak kita lahir dulu, sayang," ujar Diandra dengan tangis yang semakin kencang.
Randi langsung memeluk Mama Hana yang tampak berdiri goyah, dia berusaha menguatkan seorang ibu yang melihat anaknya telah tiada di depan matanya.
"Ran, Gio sudah menyerah, dia sudah pergi ninggalin Mama, Ran," lirih Mama Hana.
"Iya, Mah. Sekarang Gio udah gak sakit lagi ... Gio sudah sembuh," jawab Randi sambil menepuk punggung ibu angkatnya, mencoba menenangkan walau dirinya sendiri merasa terguncang.
Setelah dirinya merasa sudah cukup tenang, Mama Hana menghampiri Diandra yang masih saja menangis di samping tubuh Gio.
"Dian ...." Mama Hana menepuk pundak menantunya.
Diandra menoleh pada Mama Hana, Dian menghambur ke pelukan wanita paruh baya itu.
"Mah, kenapa Gio tega sama aku? Kenapa dia memilih untuk ninggalin aku, Mah?" tanya Diandra dengan suara lirih.
"Sayang, sekarang kamu harus menepati janji untuk ikhlas jika memang Gio sudah menyerah. Gio sudah sembuh, Dian ... Gio sudah gak sakit lagi sekarang," ujar Mama Hana sambil memeluk Diandra.
"Tapi, Mah. Gio ... dia–" Diandra sudah tidak bisa lagi meneruskan perkataannya tangisnya pecah di dalam pelukan sang ibu mertua.
Saat ini dia hanya ingin menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan rasa sakit yang selama ini dia tahan di dalam dada. Walau Diandra sendiri tahu, semua luka itu tidak akan sembuh dalam waktu singkat dan hanya dengan mengeluarkan air mata.
...........
......................
Semua akan terasa berharga saat sudah tiada, maka jangan kalian menyia-nyiakan apa yang selalu ada untuk kita, karena penyesalan selalu ada di akhir, dan itu akan terasa sangat menyakitkan.
__ADS_1
...***Tamat***...