Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Informasi


__ADS_3

...Happy Reading...


....................


Matahari siang itu terlihat cukup terik, setelah selesai makna siang kini Diandra berada di ruang kerja milik Gio bersama sang suami di sampingnya, mereka baru saja mengecek semua laporan tentang Rani, yang baru saja ditemukan oleh anak buah Gio.


Keduanya kini berubah serius, tidak ada lagi drama manja Gio pada istrinya, ataupun kekesalan Diandra. Mereka berdua tampak seperti rekan kerja yang sama-sam fokus pada pekerjaan mereka.


Beberapa saat kemudian, Randi pun menyusul pasangan suami istri itu, untuk menjelaskan lebih lanjut tentang informasi yang ada.


Gio dan Diandra menatap Randi, begitu laki-laki itu memasuki ruangan, mereka menunggu penjelasan yang lebih rinci, tentang laporan yang ada di tangan.


"Ekhm!" Randi berdehem, untuk menghilangkan kecanggungan di dalam dirinya.


Dia itu baru saja selesai makan, dan langsung dihadapkan oleh dua orang bos yang sam-sama menyeramkan bila sedang dalam mode serius seperti ini.


Ah, bahkan perutnya saja masih berasa begah, dan sekarang harus kembali berkutat dengan semua masalah dan pekerjaan.


Randi cukup sadar kondisi, dia tidak mau berani bersikap santai, jika Gio dan Diandra sudah dalam kondisi yang serius seperti ini. Kecuali, memang mereka yang memulainya.


Walau bagaimana pun, Randi tahu kalau dirinya hanyalah seorang asisten yang mempunyai kedudukan jauh di bawah Gio. Meski kenyataannya dialah orang yang sangat dipercaya oleh Gio, setelah keluarganya.


"Apa maksudnya dengan ini? Jadi keluarga Hary sudah pindah ke luar negri? Apa Ana juga ikut ke sana?" Diandra langsung memberondong Randi dengan pertanyaan, sambil memepertilhatkan laporan yang Randi berikan beberapa saat yang lalu.


"Berdasarkan informasi dari anak buah kita yang aku tugaskan untuk mencari keberadaan keluarga Hary, mereka memang sudah pindah ke luar negeri, beberapa tahun lalu. Tapi, kami tidak bisa mengetahui apakah Nona Ana ada bersama mereka atau tidak."


Diandra mneghembuskan napas panjang, dia tidak menyangka kalau urusan ini akan serumit ini.


"Lalu, ke mana mereka pergi?" Kini Gio yang bertanya.


"Kami sedang mencari tahunya lagi, mengingat itu hanyalah berita yang kami dapatkan dari para tetangga di sekitar rumah keluarga Hary," jawab Randi.


"Jadi kamu belum bisa memastikan kalau informasi itu benar?" tanya Gio, dengan raut wajah serius.


"Saat ini anak buah kita yang berada di Jakarta sedang memastikannya di bandara," jawab Randi.

__ADS_1


"Bagaimana dengan tempat tinggal keluarga Rani, sebelum dia datang ke kampung ini?" tanya Diandra lagi.


"Kami sedang memastikannya, mengingat jarak dari sini lumayan jauh dan kami tidak memiliki koneksi di tempat itu," jawab Randi.


Gio dan Diandra mengangguk-anggukkan kepala, mendengar semua jawaban dari Randi. Ternyata semua informasi yang ada id dalam berkas itu masih abu-abu, belum ada yang pasti sama sekali. Semua itu malah memperumit keadaan yang sudah ada.


"Kalin masih memantau Bi Minah, Mang Aan, dan Rani?" tanya Gio, setelah ketiganya sama-sama terdiam.


"Tidak ada pergerakan yang aneh dari mereka, semuanya berjalan normal tanpa ada yang mencurigakan," jawab Randi.


Gio kembali terdiam dengan kerutan halus di keningnya.


"Apa mereka benar-benar tidak sadar sedang kita pantau dan selidiki, atau memang mereka sengaja membuat situasi seolah-oleh sedang biasa saja?" gumam Gio.


Diandra menoleh pada suaminya, dia juga tidak bisa membaca semua itu. Akan tetapi, dia bisa melihat rasa was-was dan gugup saat Bi Minah berhadapan dengannya.


Mereka semua kini kembali berbincang tentang masalah ini, hingga di tengah perbincangan ponsel milik Randi berdering.


Randi langsung pamit untuk mengangkatnya lebih dulu. Beberapa saat kemudian Randi sudah kembali ke ruangan itu lagi.


Diandra melebarkan matanya, mendengar laporan dari Randi. "Jadi Ana tidak ikut ke luar negri? Lalu, di mana da sekarang? Kenapa dia tidak diajak oleh mereka?"


Kedua laki-laki itu hanya terdiam mendengar gumaman Diandra. Bukan karena berpura-pura tidak mendengarnya atau sedang menghindar.


Namun, saat ini mereka juga sedang bingung dengan masalah yang kini terjadi. Ini semua karena Bi Minah dan Pak Aan tidak mau mengatakan apa pun mengenai Rani.


Jika saja kedua paruh baya itu, mau mengatakan apa pun informasi yang dibutuhkan untuk Gio dan Diandra, mungkin saja semua ini tidak akan menjadi rumit seperti ini.


Ketiganya kini hanya terdiam, waktu memang sangatlah penting, dan kini mereka hanya bisa menunggu waktu berpihak pada mereka.


Semua ini ternyata cukup rumit dan sulit untuk dipelajari, apa lagi dengan keterbatasan informasi yang mereka miliki saat ini.


Waktu terus bergulir, hari pun terus berganti, ini sudah hampir seminggu mereka berada di vila, menunggu semua informasi dari semua anak buah Gio terkumpul.


Terpaksa Gio dan Diandra menggunakan bulan madu sebagai alasan kepada keluarga Gio yang ada di Jakarta, mengingat hampir setiap hari Hana dan Gita menelepon, hanya untuk menanyakan kapan mereka akan berkunjung ke Jakarta.

__ADS_1


Malam ini suasana vila terasa cukup menyermakan dan menengangkan. Di ruang tamu, terlihat Gio, Diandra, dan Randi tengah duduk di depan tiga orang lainnya.


Mereka adalah, Bi Minah, Mang Aan, dan Rani. Mereka bertiga tampak menunduk bingung, dengan situasi yang sedang terjadi saat ini.


Tatapan dingin dari Diandra yang diiringi sorot mata tegas dari kedua laki-laki lainnya, tentu saja membuat tubuh mereka tegang dengan bulu kuduk yang berdiri sempurna.


"Kami mengajak kalian bertemu di sini, karena ingin menanyakan tentang asal usul Rani?" Gio langsung bertanya kepada intinya.


Ah, dia tidak suka berbasa-basi, itu sangat membosankan dan membuang waktu.


Mang Aan dan Bi Minah tampak langsung mengangkat wajahnya, lalu saling mencuri pandang. Sedangkan Rani tampak semakin menunduk dalam dengan tangan yang saling meremas di pangkuan.


"A–apa maksud, Aden?" tanya Mang Aan dengan suara yang terbata.


Randi kemudian membuka berkas yang ada di meja lalu menyerahkannya, bersama beberapa foto masa lalu yang entah dia dapatkan dari mana.


"Ini adalah foto orang tua Rani kan?" tanya Randi kemudian.


"B–benar, Pak," jawab Mang Aan lagi.


Randi mengangguk, kemudian mulai menerangkan apa yang ada di dalam beras di tangan Mang Aan.


"Di dalam berkas itu ada surat kematian dan kasus kecelakaan yang dialami oleh kedua orang itu," ujar Randi seakan dia sedang berbicara dengan lawan bisanisnya.


"Mereka meninggal tiga tahun yang lalu, di dalam sebuah kejadian kebakaran, bersama dua orang anaknya." Randi menjeda perkataannya, dia ingin melihat bagaimana reaksi ketiga orang target mereka kali ini.


Benar saja, ketiga orang di depannya tampak gugup dan takut, mereka sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini.


"Dua anak itu bernama Gandi dan Rani," sambung Randi, yang langsung membuat tiga orang di depnanya engangkat kepala, menatap asisten dari Gio itu.


Hayo, gimana kelanjutannya? Penasaran ya ... komen jangan sampai enggak🤭🥰.


.....................


Ada karya bagus nih, yuk mampir😊

__ADS_1



__ADS_2