Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Aku Lelah


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Hari sudah beranjak malam, suasana di luar pun sudah terlihat gelap. Saat ini Diandra sedang duduk termenung di depan jendela.


Suara mobil berhenti di depan rumah, sama sekali tidak mengusik kenyamanan yang sedang dia nikmati.


Diandra hanya mengalihkan pandangannya sekilas ke arah pintu, kemudian kembali memandang jauh ke luar jendela.


Ancaman dari Jonas tadi pagi, memang sangat mengusik hati dan pikirannya. Hingga, perempuan berhati dingin itu merasakan keresahan.


Gio yang baru saja menghentikan mobilnya di depan rumah Diandra, menatap rumah sederhana di depannya.


Pikirannya tertuju pada sang pemilik rumah yang merupakan istrinya sendiri. Entah kali ini dirinya harus bahagia atau marah pada perempuan itu, dia pun tidak tahu.


Di satu sisi, dirinya merasa senang, ketik menyadari kalau Diandra sudah menaruh perhatian padanya, juga merasa khawatir padanya.


Namun, sikap keras kepala perempuan itu juga rasanya terlalu lama menguji kesabarannya. Apalagi dengan tingkahnya yang tidak mai berbagi masalah bersamanya.


Tentu itu semua semakin membuatnya merasa marah, sekaligus juga khawatir pada istrinya. Dia takut Diandra akan melakukan hal yang nekat, bila sampai terus tertekan oleh Jonas.


Menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, sambil membuka pintu mobil dan ke luar dari kendaraan berroda empat itu.


Apa lagi yang harus aku lakukan untuk melunakkan hatimu, Dian? batin Gio.


Laki-laki itu terus melangkah masuk ke dalam, dia mengedarkan pandangannya menelusuri setiap ruangan yang ada.


Namun, dirinya tidak menemukan keberadaan Diandra di sana. Walau begitu, Gio sudah tahu kalau istrinya berada di dalam rumah.


Tubuh Diandra sedikit tegang, mendengar suara pintu yang perlahan terbuka, langkah kaki yang dia sudah tau pasti siapa pemiliknya perlahan mendekati.


Gio berdiri di depan pintu, matanya terpaku pada sosok perempuan cantik, yang sedang termenung di depan jendela.


Perlahan dia menghampiri melangkahkan kaki mendekati perempuan itu, dengan perasaan yang bercampur aduk.


Diandra merasakan jantungnya semakin tidak menentu ketika langkah kaki di belakangnya semakin mendekat.


"Malam, sayang. Maaf hari ini aku pulang agak terlambat," ujar Gio bagaikan seorang bawahan yang sedang melapor pada atasannya.

__ADS_1


"Aku tidak perduli, kamu tidak perlu melakukan itu," jawab dingin Diandra.


Gio tersenyum miris melihat wajah Diandra dari arah belakang, walaupun dirinya sudah mulai terbiasa dengan sikap Diandra.


Namun, tetap saja hatinya merasakan perih, saat menerima perlakuan dingin istrinya itu.


"Aku hanya memberitahu. Ya sudah, aku mandi dulu," ujar Gio, dia seakan tidak mendengar perkataan Diandra.


Perempuan itu tidak menjawab perkataan suaminya itu, dia hanya terus memandang ke luar, dengan mata yang terlihat sedikit bergetar.


Beberapa saat kemudian Gio ke luar dari kamar mandi, seperti biasa dia hanya menggunakan handuk di bagian bawahnya, hingga badan tegap itu terlihat jelas di pandang mata.


Namun, semua itu tidaklah menarik bagi Diandra. Perempuan yang sudah duduk di atas ranjang dan bersiap untuk tidur itu, malah menolehkan pandangannya, menghindari tubuh Gio.


Diam-diam Diandara menutup matanya, menikmati aroma maskulin yang menguar, saat Gio melewatinya.


Gio tersenyum samar, melihat sikap Diandra yang selalu saja mengindarinya. Walaupun mereka sudah cukup lama bersama. Akan tetapi, istrinya itu masih saja terlihat enggan untuk melihatnya dalam keadaan seperti itu.


"Kenapa kamu selalu menghindari aku? Malu?" tanya Gio santai, sambil mulai memilih baju untuk dia pakai.


"Enggak! Ngapain juga aku malu sama kamu?" Diandra menggelengkan kepalanya cepat.


"Benarkah? Kalau begitu coba lihat aku sekarang," tantang Gio.


"Aku bukan perempuan tidak tau malu, seperti yang biasa kamu kencani," kilah Diandra.


"Ya, baiklah. Kamu memang berbeda, makanya kamu bisa membuat aku jatuh cinta," angguk Gio, membenarkan perkataan istrinya.


Acara ganti baju sudah selesai, kini Gio bersiap untuk berbaring di samping sang istri. Perlahan dia menyingkap selimut dan kembali masuk di dalamnya.


Diandra refleks menggeser tubuhnya, menjauh dari tubuh Gio. Akan tetapi, dengan sigap, Gi langsung melingkarkan tangannya di perut sang istri, menghentikan pergerakan Diandra.


"Ngapain, kamu?" tanya Diandra, mencoba melepaskan tangan Gio di perut sebelah samping.


"Bisakah kamu diam sebentar, aku lelah sekali," ujar Gio, sambil menyusupkan wajahnya pada pundak Diandra.


Diandra terdiam kaku, dia benar-benar tidak terbiasa dengan posisi seperti ini, bersama seorang laki-laki.


Hatinya tidak tega saat mendengar suara lirih dan penuh permohonan Gio, dia pun akhirnya memilih diam dan membiarkan Gio dengan kemauannya.

__ADS_1


"Apa kamu pernah merasa bodoh, sampai rasanya kamu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menebus kebodohan yang pernah kamu lakukan?" lirih Gio.


Diandra menolehkan wajahnya, menatap Gio yang masih terlihat menutup mata di pundaknya.


"Kamu tau, aku pernah membuat satu kesalahan yang sangat fatal, hingga membuat aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang," kembali Gio berbicara.


Diandra kini hanya terdiam dengan mata menatap langit-langit kamarnya, dia berusaha menjadi seorang pendengar yang baik untuk laki-laki di sampingnya.


"Kejadian itu bahkan masih meninggalkan rasa sakit dan luka yang tidak pernah sembuh sampai saat ini."


Diandra memicingkan matanya, dia mulai merasa iba dengan setiap kata yang terucap dari Gio.


"Sekarang apa yang aku alami dan semua sikap kamu, aku anggap sebagai hukuman untuk semua kesalahanku dulu."


"Mungkin kamu memang ditakdirkan untuk menyadarkan aku atas semua kesalahanku dulu."


Diandra menoleh kembali ke arah wajah Gio, saat mendengar suara laki-laki itu semakin lirih.


"Kamu tau? Aku sangat mencintaimu–"


Apa dia tidur? batin Diandra, begitu Gio sudah tidak berbicara lagi.


Salah satu tangan Diandra sudah terangkat karena ingin memindahkan tangan milik Gio. Akan tetapi, gumaman yang keluar dari mulut Gio kemudian, menahan niatnya.


"Jangan tinggalkan aku." Gio memeluk Diandra semakin erat.


Diandara pun akhirnya menurunkan lagi tangannya, dia menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan. Berusaha untuk meredam detak jantung yang seakan bertalu.


Ya Tuhan, bagaimana aku bisa tidur kalau begini? batin Diandra mengeluh frustrasi.


Perempuan itu berusaha menutup matanya, walau pikirannya benar-benar tidak bisa ditenangkan. Berbagai pertanyaan karena rasa penasaran dengan masa lalu Gio kini mulai bermunculan.


Sebenarnya kesalahan apa yang dia lakukan? Apa dia juga mempunyai luka di masa lalunya?


Diandra menatap dalam wajah tenang Gio, semakin lama diperhatikan, wajah laki-laki itu terlihat semakin tampan.


Aura tenang yang menguar ketika Gio tidur, sangat berbeda dengan tingkahnya yang urakan dan tengil saat sedang terbangun.


Tanpa sadar bibir Diandra tampak tertarik, hingga membentuk lingkungan tipis ke atas. Perempuan itu merebahkan kepalanya dan akhirnya ikut tertidur, berada di pelukan sang suami.

__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Bersambung...


__ADS_2