
...Happy Reading...
......................
"O–oke, aku mengakui semuanya, itu memang rencana aku dan Gio untuk mengeluarkan orang-orang yang berbuat curang di kantor. Tapi, kalau penangkapan Pak Handoyo, itu karena dia memang sudah banyak menggelapkan uang perusahaan, juga dengan Eric dan Sintia. Itu semua tidak ada hubungannya dengan masalah aku dengannya di masa lalu," jawab Diandra dengan susah payah, agar suaranya tidak terbata.
"Aku gak perduli! Sekarang aku mau kamu cabut laporan itu dan keluarkan mereka dari kantor polisi!" desak Mely pada Diandra.
"Tapi, aku tidak bisa melakukan itu, Mba. Itu semua sudah diurus oleh pengacara pribadi keluarga Purnomo," tolak Diandra, dia memang tidak mengetahui nomor ponsel pengacara keluarga Purnomo, selama ini Diandra hanya menyampaikan semua rencananya pada Gio dan Randi.
"Aku tidak peduli, yang aku mau kamu segera mebebaskan mereka semua," ujar Mely, sambil sedikit menghentakkan senjata tajam di tangannya, hingga membuat Diandra menahan napas sambil menutup matanya.
Suara ponsel Diandra yang tiba-tiba berdering pun mengalihkan perhatian Mely, dan di saat bersamaan Tia juga masuk ke dalam toilet.
"Dian–" perkataannya langsung terhenti saat melihat ada Mely di sana sedang memeluk Diandra dari belakang.
"Suruh dia pergi atau senjata ini akan langsung melukai kamu," ancam Mely dengan suara lirih, sambil berpura-pura memeluk Diandra.
Diandra menelan salivanya dengan susah payah, kemudian dia mengangguk samar sebagai tanda kalau dirinya akan mematuhi perkataan Mely.
"Ada apa, Mba?" tanya Diandra berusaha menormalkan raut wajahnya walau suaranya masih tetap terdengar bergetar.
"I–itu, tadi Pak Gio menyuruhku untuk memanggil kamu," ujar Tia, dia sedikit canggung saat melihat ada Mely di sana.
"Oh iya, sebentar lagi aku akan ke luar, sekarang sedang ada yang ingin aku bicarakan dulu dengan Mba Mely," ujar Diandra sambil berusaha memberikan isyarat pada Tia untuk segera ke luar.
"Ya sudah, aku kembali ke sana lagi ... jangan lama-lama ya," pamit Tia yang merasa janggal dengan keadaan Diandra.
Diandra mengangguk sambil tersenyum paksa, sedangkan Mely terlihat menghembuskan napasnya sambil mengendurkan lagi tekanan senjata tajam di pinggang Diandra.
Namun, ternyata rasa lega Mely tidak berjalan lama, karena tidak lama setelah kepergian Tia, kini pintu toilet kembali terbuka disusul dengan kemunculan dua orang laki-laki kekar.
Mely yang melihat itu, langsung mendekap Diandra sambil mengalihkan pisau di tangannya pada leher Diandra, agar terlihat lebih mengancam.
Dua laki-laki kekar yang tidak lain adalah anak buah Gio yang ditugaskan untuk menjaga Dianda pun kini melebarkan matanya, terkejut dengan apa yang sedang terjadi di depannya.
"Singkirkan pisau itu dari sana!" perintah salah satu lelaki kekar itu.
"Kalian yang harus segera menyingkir, atau pisau ini akan langsung melukai leher mulusnya?" ujar Mely malah mengancam balik anak buah Gio.
__ADS_1
"Mundur sekarang, atau aku bunuh dia!" sambung Mely, saat melihat para anak buah Gio masih diam di tempat.
Perlahan mereka pun mundur saat melihat ujung pisau di tangan Mely semakin menekan leher bagian Samping Diandra.
"Oke-oke, kita mundur, jangan main-main pada Nyonya kami!" ujar salah satu laki-laki kekar itu.
Sementara itu, Tia berlari menuju tempat acara untuk menemui Gio, dia harus segera memberitahukan kecurigaanya pada Mely.
Gio yang mendengar perkataan Tia pun langsung menghubungi dua orang anak buahnya yang dia tugaskan untuk menjaga Diandra. Akan tetapi, sayang sekali teleponnya tidak diangkat oleh mereka.
"Akh, sialan!" Gio langsung pergi begitu saja menyusul Diandra ke toilet.
Namun, saat Gio baru saja sampai di depan toilet, bersamaan dengan itu Diandra juga ke luar dari toilet dengan wajah yang terlihat tenang.
"Sayang, kamu gak apa-apa? Mana wanita itu kurang ajar itu?" tanya Gio sambil menghampiri Diandra dengan wajah panik.
"Aku gak apa-apa," jawab Diandra singkat, dia kemudian menoleh ke belakang di mana Mely sudah ditahan oleh dua orang anak buah Gio.
"Kerja bagus, serahkan dia pada Randi, biar dia yang mengurusnya," perintah Gio.
"Dasar wanita sialan! Brengsek!" teriak Mely sambil meronta berusaha melepaskan diri.
"Lihatlah ini terluka, ayo kita pulang ke vila, biar aku panggil dokter untuk mengobati ini semua," ujar Gio panik saat melihat luka goreng di leher Diandra.
"Ini hanya luka kecil, Gio. Aku gak apa-apa kok, serius," ujar Diandra meringis melihat sikap berlebihan suaminya.
"Tidak ada luka kecil kalau itu menyangkut tubuhmu, sayang. Kulitmu tergores dan mengeluarkan darah, aku tidak suka itu terjadi, karena bagiku kamu sangat berharga," ujar Gio sambil memegang pinggang Diandra kemudian hendak membawanya ke vila.
"Sshh!" Gio langsung menghentikan langkahnya saat Diandra tampak berdesis kesakitan.
"Ada apa, sayang? Kamu terluka lagi? Di mana?" tanya Gio dengan wajah yang terlihat semakin panik.
"Cuman kegores di pinggang," jawab Diandra, sambil meringis geli sendiri melihat reaksi suaminya.
Padahal lukanya memang hanya tergores, dan itu tidak sakit sama sekali. Akan tetapi, reaksi Gio sudah seperti dia terluka parah.
"Ayo, kamu harus segera diobati," ujar Gio, sambil langsung menggendong Diandra ala bridal style.
"Astaga, Gio!" Diandra melebarkan matanya sambil memukul dada Gio pelan.
__ADS_1
"Turunin aku, Gio. Aku masih bisa jalan, iih!" kesal Diandra sambil merengut kesal.
Tia dan Nina yang menyusul pun hanya bisa melongo melihat perlakuan Gio pada Diandra, apa lagi saat Gio mulai berjalan menuju ke luar dari area dan melewati kerumunan pegawai. Otomatis itu semua menjadi perhatian para pegawai lainnya dan menjadi bahan pembicaraan panas selanjutnya di grup chat pegawai.
Sementara Diandra dibawa oleh Gio menuju vila miliknya, Randi membawa Mely ke kantor polisi dengan berbagai macam kasus, mulai penggelapan dana hingga percobaan pembunuhan pada Diandra.
.
.
Beberapa saat kemudian Diandra sudah duduk di atas ranjang di vila milik Gio, sedangkan Gio duduk di sisi ranjang dengan kotak P3K di tangannya.
"Heuh! Kamu ini, kenapa ceroboh sekali sih? Harusnya kamu itu gak boleh sampai terluka begini, sayang," omel Gio melihat luka di leher dan pinggang sebelah kanan tubuh Diandra.
"Ini cuma luka kecil, Gio. Lagian, kenapa kamu malah nyalahin aku sih? Ya, mana kau tau kalau aku bakalan ketemu Mely di toilet," jawab Diandra menatap suaminya kesal.
"Pokoknya kamu janji sama aku, gak akan pernah terluka lagi seperti ini. Aku bisa mati berdiri kalau kamu kenapa-kenapa, sayang." Gio terus berbicara sambil membersihkan luka Diandra dan mengobatinya.
"Mana ada janji begitu? Kita kan gak tau kapan akan terluka atau tidak," jawab Diandra acuh.
"Ck! Kamu ini." Gio berdecak kesal pada Diandra.
Walau keduanya terus saja berdebat pada hal kecil yang terjadi di kehidupan mereka. Akan tetapi, di dalam hati keduanya, baik itu Gio ataupun Diandra sama-sama mempunyai rasa cinta yang besar pada pasangannya.
Malam itu, mereka memutuskan untuk menginap di vila, sedangkan para pegawai kantor lainnya sudah pulang sore harinya. begitu juga dengan Randi yang harus mengawal kasus Mely di kantor polisi.
.
.
Pagi harinya Diandra dan Gio sudah berada di dalam mobil, menuju Jakarta. Untuk kali ini, Gio yang menyetir mobil sendiri, karena dia hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan sang istri selama perjalanan.
Namun, di saat mereka melaju di jalan tol, beberapa mobil di depan mereka ada mobil truk besar yang kehilangan kendali kemudian menabrak beberapa mobil lain sebelum akhirnya terbalik di pinggir jalan, otomatis Gio pun harus segera menginjak pedal rem untuk menghindari tabrakan beruntun.
Dikarenakan jarak kendaraan yang dekat dan kecepatan yang lumayan tinggi, Gio tidak bisa mengindari kecelakaan, mobilnya berputar hingga berada di dalam posisi miring, sebelum kemudian tertabrak mobil di bekangnya.
......................
Bagaimana kondisi Gio, Diandra dan, kehamilan Diandra? Kita liat di bab berikutnya ya 🤭✌️
__ADS_1