Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Abdi nyaah ka anjeun


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


"Kamu kenapa sih, sayang? Kenapa malah langsung masuk ke kamar, padahal orang tua kamu lagi ada di sini," tegur Gio setelah dirinya menyusul istrinya ke kamar.


Diandra yang sedang duduk di sofa, menoleh melihat suaminya yang sudah mengimomel, padahal baru saja datang. Sungguh, saat ini dia sedang tidak ingin diganggu, apalagi hanya untuk berdebat.


"Aku cuman lagi capek. Bukannya nanti siang kita juga bakalan jalan-jalan ke mall?" jawab Diandra.


"Tapi, gak gini juga dong, sayang. Masa kamu langsung tinggalin mereka ke kamar, kan gak enak. Mending kita ajak mereka keliling kota Jakarta, atau jalan ke mana aja, sebelum ke mall, gimana?" saran Gio yang merasa tidak enak pada keluarga Diandra. Nada suara Gio masih lembut, dia berjalan menghampiri istrinya, walau memang sedikit lebih tinggi dari biasanya.


"Nanti mereka malah kecapean," tolak Diandra, sambil terus menghindari tatapan Gio.


"Sayang ...." Gio yang melihat raut wajah berbeda dari istrinya sejak kejadian di depan restoran mulai menurunkan nada bicaranya, kemudian memilih duduk di samping istrinya.


"Ada apa, sayang? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Gio, sambil mengusap tangan istrinya pelan.


"Gak ada." Diandra menjawab cepat, sambil menoleh melihat wajah suaminya yang kini sedang melihatnya dengan tatapan teduh.


"Tapi, aku lihat kamu berubah sejak kejadian di depan restoran. Ada apa, hem? Bukannya kita sudah janji, tidak ada lagi rahasia?" tanya Gio.


Diandra terdiam, dia menatap mata suaminya dalam. Dia bahkan belum yakin kalau wanita yang ditemui itu adalah Sintia. Akan tetapi, dirinya sudah dikacaukan oleh perasaannya sendiri.


"Gak apa-apa. Aku hanya sedang ingin istirahat saja," jawab Diandra, masih mencoba menutupi perasaannya dari sang suami.


Diandra berniat untuk mencari tahu lebih dulu tentang kebenaran wanita itu. Diandra tidak ingin dirinya salah mengenali seseorang, kemudian hanya menimbulkan masalah untuk suaminya.


"Benar?" Gio tampak memastikan.


Diandra mengangguk dengan senyum yang tampak seperti sedikit dipaksakan. Walau begitu, Gio masih mencoba mempercayai perkataan istrinya. Gio pun membalas senyuman sang istri.


"Ya sudah, kalau gitu kamu istirahat saja dulu. Kali ini biarkan aku yang menemani Ayah dan Ares dulu, ya," ujar Gio.


"Terima kasih." Diandra tampak menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Gak apa, aku tau kamu capek, setelah seharian kemarin dikerjain sama Mama, Erika, dan Gita. Lagi pula, tadi malam juga kamu kurang istirahat gara-gara aku. Jadi sekarang giliran aku yang bertanggung jawab untuk menemani keluarga kamu, selama di sini," jelas Gio panjang lebar, yang membuat Diandra sedikit terhibur oleh ucapannya.


Diandra mengangguk. "Aku gak nyangka bisa mendapatkan suami seperti kamu," ujar Diandra tiba-tiba.


"Kenapa? Aku tampan, kan? Kamu pasti nyesel kalau terus nolak aku, iya kan?" ujar Gio penuh percaya diri.


"Ck!" Diandra mencebik saat melihat kepercayaan diri Gio yang selangit itu. Suaminya itu, benar-benar tidak bisa dipuji sedikit, maka percaya dirinya langsung melambung hingga ke langit ke tujuh.


"Bukan itu," sambungnya lagi.


"Lalu apa, baik hati, romantis, dan tentunya banyak uang? Iya, kan?" Kembali Gio menebak.


"Aku gak nyangka punya suami playboy cap kodok, yang super duper narsis," jawab Diandra kemudian, dilengkapi dengan kekehan kecil di akhir ucapannya.


"Hey, enak saja. Aku gak kayak gitu ya! Aku hanya percaya diri karena aku memang pantas. Tampang? Ganteng. Dompet? Tebal. Romantis? Jagonya. Lalu, alasan apa lagi yang membuatku harus rendah diri?" Gio menyombongkan semua yang ada di dalam dirinya. Dalam hati dia senang karena akibat gurauan yang di ucapkan, membuat Diandra kembali tersenyum.


"Iya-iya, terserah kamu saja lah. Sudah sana pergi, katanya mau nemenin Ayah." Diandra mendorong tubuh Gio agar suaminya segera menjauh Darinya.


"Baiklah," Gio mundur beberapa sentimeter dari Diandra, agar istrinya itu tidak mendorongnya lagi.


"I love you," sambung Gio lagi, yang langsung membuat Diandra melihat suaminya.


Gio tidak akan mengabaikan sebuah kesempatan, laki-laki itu langsung menyambar bibir Diandra, walau itu hanya berlangsung sebentar saja.


"Coba jawab dulu, seperti semalam," pintanya pada sang istri.


"Heuheuheu." Diandra tertawa hambar, sambil mengalihkan pandangannya.


"Gak bisa, udah sana pergi!" usirnya, Diandra merasa pipinya memanas saat Gio mengingatkannya lagi tentang kegiatan semalam.


"Ayolah, sayaang." Gio mencondongkan tubuhnya hingga wajah keduanya hampir menempel. Ternyata laki-laki itu masih senang menggoda Diandra, dengan meminta ungkapan kata cinta berulang dari istrinya.


"Ish–" Diandra yang tidak tahu kalau wajah Gio hanya berjarak beberapa sentimeter di samping wajahnya, tanpa sadar terjebak dalam rencana Gio, karena saat ini bibir keduanya sudah saling menyatu.


"Enak, manis. Aku suka," ujar Gio setelah melepaskan pangutan bibir mereka. Dia tersenyum penuh kemenangan saat melihat warna merah di pipi istrinya.

__ADS_1


"Sepertinya balasan kata 'I love you' dengan ini, aku lebih suka," sambung Gio, sambil mengelap bibir Diandra yang masih terlihat lembap akibat ulahnya.


Sedangkan Diandra malah masih sibuk dengan keterkejutannya, hingga rasanya mulutnya susah digerakan, padahal di dalam hati dia mengumpat Gio dan dirinya sendiri sebanyak-banyaknya. Wanita itu merasa kesal pada suaminya yang terus saja membuat jantungnya berdetak tak menentu.


Namun, Diandra juga mengumpat untuk dirinya sendiri, yang malah merasa senang mendapatkan perlakuan manis dari Gio, hingga sudut bibirnya berkedut meminta untuk tersenyum, walau dia memilih menahannya.


Kenapa sikap Gio selalu berubah-ubah saat di depannya. Terkadang dia bisa menjadi suami yang sangat dewasa, kadang dia juga bertingkah seperti seorang anak kecil yang manja dan meminta diperhatikan. Ah, Diandra tidak akan tahan jika terus diperlakukan seperti ini, itu terlalu manis hingga tidak bisa dirinya tolak.


"Gio!" Hanya kata itu yang akhirnya ke luar dari bibir indahnya.


"Iya, aku di sini, sayang." Seperti biasa Gio selalu menjawab santai, setiap kali istrinya menggeram atau berteriak mengeluarkan rasa kesalnya, akibat ulah dirinya sendiri.


"Udah sana pergi, gak usah rese, ih!" usir Diandra, dia berbalik sambil bersidekap dada.


"Heem, baiklah. Aku pergi, ya? Jangan ditekuk terus wajahnya, aku lebih suka kamu tersenyum, daripada berwajah datar seperti tadi," ujar Gio, sambil mengusap puncak kepala istrinya.


Diandra sedikit tersentak, saat Gio berbicara seperti itu. itu menandakan kalau sejak tadi Gio tau perubahan raut wajahnya.


"Aku cinta sama kamu, masa lalumu, masa kini, dan masa depanmu, jadi jangan menyembunyikan apa pun padaku, sayang," sambung Gio dengan suara berubah serius.


Deg!


Apa Gio sudah tau tentang Sintia? batin Diandra.


"Aku pergi, kasihan kalau Ayah dan yang lainnya ditinggal terlalu lama," pamit Gio,  kemudian beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke pintu.


Diandra menoleh sambil melepas tangannya yang bertaut di depan dada, pandangannya berubah sendu saat melihat punggung Gio yang perlahan menjauh darinya.


"Abdi oge nyaah ka, anjeun," balas Diandra, dengan hati yang tidak menentu.


Dirinya ingin mengungkapkan keresahannya pada Gio. Akan tetapi, dia juga tidak mau menjadi beban pikiran untuk suaminya, dengan sesuatu yang dirinya saja masih meragukannya.


Gio menoleh saat tangannya sudah memegang gagang pintu, dia tersenyum pada sang istri kemudian membuka pintu dan ke luar begitu saja, tanpa mengatakan apa pun lagi.


Diandra menatap kepergian Gio hingga tubuh laki-laki itu menghilang tertelan pintu, ada rasa bersalah di dalam hatinya yang tiba-tiba saja muncul, saat dirinya merasa menyembunyikan sesuatu dari suaminya. Itu semua membuatnya sama sekali tidak nyaman.

__ADS_1


Note: Abdi oge nyaah ka anjeun ( Aku juga sayang sama kamu)


......................


__ADS_2