
...Happy Reading...
....................
"Aku mau ke sana!" ujar Diandra, menggagalkan usaha Gio untuk menggandeng tangan Diandra.
Gio mendesah, kenapa sulit sekali mendapatkan momen yang tepat untuk bermesraan dengan istrinya sendiri?
Sepertinya Diandra memang tidak ada rasa peka sama sekali, pada hal yang yang berbau kemesraan.
"Baiklah ayo kita ke sana," ujar Gio, dengan sengaja dia langsung menggandeng tangan Diandra dan membawanya turun lagi ke halaman belakang.
Tanpa disangka, Diandra ternyata tidak menolak, dia terus mengikuti langkah Gio di belakangnya.
"Den, makan siang sudah siap." Bi Minah menahan langkah Gio.
Gio berhenti lalu melihat jam di tanganya, benar saja ini sudah lewat waktu makan siang.
"Kita makan siang dulu, setelah itu baru kamu boleh lihat peliharaan di belakang," ujar Gio mengalihkan tujuannya.
Dia langsung menarik kursi untuk istrinya lalu mendudukkan Diandra tanpa menerima protes dari istrinya itu.
Keduanya makan bersama, sedangkan Randi entah ada di mana. Asistennya itu langsung pergi lagi setelah membongkar barang bawaaan milik Gio dan Diandra dari mobilnya.
"Kamu suka binatang?" tanya Gio, saat keduanya kini sedang berada di dekat kandang kelinci.
Gio mengeluarkan salah satu kelinci, agar Diandra bisa menyentuhnya. Dia sama sekali tidak pernah menyangka kalau istrinya termasuk penyayang binatang.
Namun, melihat bagaimana perempuan itu tersenyum sambil mengelus pelan bulu kelinci itu, membuat Gio cukup terkejut.
Diandra mengangguk. "Aku suka binatang berbulu seperti ini. Tapi, karena aku tinggal sendiri jadi tidak bisa memeliharanya. Takut tidak bisa mengurusnya."
Gio mengangguk-anggukkan kepalanya, dia mengerti kesibukan Diandra mengurus hotelnya.
Gio mengusap pelan rambut Diandra, dia ikut berjongkok di samping istrinya yang sedang asik dengan kelinci.
Gak nyangka kamu juga memiliki sisi lembut yang tersembunyi. Kamu memang panuh kejutan, sayang. Aku baru sadar kalau selama ini aku belum mengenal kamu yang sebenarnya, batin Gio.
__ADS_1
Dibalik sikap Diandra dan segala rumor yang menyelimuti perempuan itu, kini perlahan Gio bisa melihat Diandra yang sesungguhnya.
Awan hitam yang menutupi sisi baik Diandra perlahan mulai terurai dan terbuka. Hingga dia bisa melihat bagaimana sisi lain dalam diri istrinya.
Perempuan itu bukan hanya menyembunyikan sakit hatinya saja di balik semua sikap dingin dan angkunya. Akan tetapi, dia juga menyembunyikan sisi baiknya sebagai seorang perempuan biasa yang mempunyai hati mudah tersentuh, oleh hal yang sederhana.
Kamu yang dulu memikatku dengan keangkuhan, kini semakin menarikku untuk mencintaimu semakin dalam, dengan semua kejutan yang kamu berikan, batin Gio.
Puas bermain dengan kelinci, kini keduanya beralih ke kandang burung, berbeda dengan kandang burung lainnya, di sini kandang burunggnya terlihat sangat besar dengan beragam jenis burung salam satu kandang.
Gio perlahan membuka pintu kandang burung yang biasa disebut dengan aviary mirip milik artis Irfan Hakim, hanya saja tidak seluas itu. Ini fersi lebih mini.
Diandra masuk perlahan, dia menatap takjub banyaknya burung yang berterbangan di dalam aviary itu. Apalagi ditambah dengan berbagai jenis tanaman yang sengaja ditanam sebagai makanan alami dan juga agar menambah indah aviary tersebut.
Air terjun buatan yang tampak indah pun terlihat, dengan kolam-kolam kecil yang membentuk sungai buatan, di tengah aviary.
Diandra dan Gio duduk di pinggir kolam yang lumayan besar, mereka melihat banyaknya burung yang ada di sana.
Diandra yang tidak tahu dengan berbagai jenis burung, hanya bisa terpukau dengan segala jenis yang jarang sekali dia lihat.
"Kenapa burungnya gak dilepas aja, kan di sini suasananya udah bagus. Banyak pohon dan sejuk juga?" tanya Diandra.
"Memang ini ada burung apa aja? Kok banyak yang beda dari yang sering aku lihat," tanya Diandra lagi.
"Murai batu, cucak rowo, kenari, jalak, dan banyak lagi jenis yang lainnya," jawab Gio, menyebutkan sebagian kecil jenis yang ada di sana.
"Wah, banyak juga ya?" Diandra mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kenapa gak bikin yang kayak gini di Jakarta aja?" tanya Diandra.
Dia bingung dengan pemikiran Gio. Bukankah kalau hobi akan lebih menyenangkan jika berada di dekat kita? Akan tetapi, kenapa Gio malah menaruh burungnya di sini?
"Kalau aku buat ini di Jakarta akan lebih sulit perawatannya, karena cuaca di sana lebih panas. Ditambah lagi, nanti aku malah lupa dengan pekerjaanku, dan asyik mengurus semua ini," jelas Gio.
Dia bangkit lalu mengambil tangan Diandra untuk diajak berkeliling. Diandra mengikuti Gio, sambil melihat lebih dekat lagi, burung-burung yang ada di sana.
"Memang kamu sejak kapan senang sama burung seperti ini?" tanya Diandra, pandangannya mengedar, hanya sesekali dia melihat wajah Gio.
__ADS_1
"Sejak aku masih sekolah menengah akhir, aku sering melihat kontes burung kicau sama teman-teman, jadi malah tertarik dan akhirnya aku mulai membeli burung-burung yang menang."
"Mamah, sempat protes dan gak suka, karena halaman belakang rumahnya jadi tempat kandang burung. Sampai akhirnya aku minta izin sama ayah untuk membuat aviary di sini."
Gio bercerita tentang masa lalunya, hingga terbentuk taman burung di vila ini.
Diandra menatap wajah Gio, ternyata di balik sikap kekanakan dan pecicilan yang sering dia lihat, Gio juga memiliki kesukaan yang tidak banyak orang tahu.
Mereka berhenti di pinggir air terjun buatan, Diandra berdiri di tepian. Gio yang melihat ada kesempatan, merangkul pinggang Diandra.
Semua ini seperti rumah impianku, yang dulu pernah aku rencanakan. Kenapa bisa kebetulan seperti ini? batin Diandra.
Diandra membiarkan tangan Gio, dia juga harus berusaha membuka diri untuk suaminya. Walaupun rasanya agak aneh dan canggung.
Namun, Diandra berusaha tetap santai dan menutupi semua ketegangan yang ada di dalam dirinya.
"Berarti dulu kamu sering ke sini?" tanya Diandra.
"Heem, setidaknya seminggu sekali aku pasti datang ke sini. Ini sudah seperti menjadi rumah keduaku," jawab Gio.
"Udah puas belum, kita balik ke vila yuk. Nanti sore baru ke sini lagi," ajak Gio.
Sudah hampir satu jam mereka berdua ada di aviary, siang hari memang bukan waktu yang bagus untuk berkunjung. Karena burung tidak banyak yang ke luar.
Waktu yang bagus untuk menikmati keindahan aviary, adalah pagi dan sore hari. Di mana hampir semua burung ke luar dan berkicau.
"Yuk," angguk Diandra.
Keduanya pun berjalan ke luar, meninggalkan pemandangan indah di dalam aviary. Mereka kembali ke kamar untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan cukup jauh.
Gio yang berperan menjadi bayi besar Diandra, meminta istrinya untuk menemaninya tidur sang. Awalnya Diandra menolak, dia merasa sudah sangat cukup tidur disepanjang jalan tadi.
Namun, akhirnya Diandra menyetujuinya, saat melihat Gio yang terus memohon.
.....................
Eh, ada karya bagus dari temanku nih, yuk mampir😊
__ADS_1