
...Happy Reading...
......................
"Sayang, kamu jangan gitu dong, jangan ngambek ya, aku minta maaf," ujar Gio sambil menyusul langkah Diandra.
"Gak aku malas sama kamu. Dasar nyebelin, playboy cap kodok!" gerutu Diandra tidak menghiraukan permintaan maaf Gio.
"Sayang, aku mohon maafin aku. Aku gak bermaksud bikin kamu kesel, sayang–" Gio terus mencoba menahan Diandra agar tidak berjalan terlalu cepat.
"Sayang, jalannya jangan cepat-cepat, ya. Kasihan nanti dede bayinya pusing," sambung Gio lagi.
"Ck, lepasin ih, aku malas ngeliat kamu!" kesal Diandra.
"Ya Allah Gusti, naha atuh abdi teh boga salaki meni kieu-kieu teuing! Nuduh wae sakarep-karep, teu mikirken perasaan pamajikanna!" kesal Diandra menggerutu dengan menggunakan bahas daerahnya.
(Ya Allah, kenapa aku punya suami gini-gini amat! Nuduh aja seenaknya, gak mikirin perasaan istrinya!)
Gio meringis dia tahu kalau Diandra sudah mengeluarkan bahasa daerahnya, berarti istrinya antara sedang menahan gengsi, atau dis sedang menahan kesal yang memuncak.
Walaupun Gio tidak mengerti apa yang Diandra katakan. Akan tetapi, setidaknya Gio tahu kalau itu bukanlah sesuatu yang baik untuknya.
Saat Gio sedang kalut dengan sikap Diandra yang berubah-ubah, dia melihat sebuah kedai es krim yang terletak di seberang jalan.
Dengan langkah cepat Gio mendahuli Diandra dan mencegatnya di depan, dia kemudian mengambil tangan Diandra dan menggenggamnya lembut.
"Gimana kalau sebagai permintaan maaf aku, kita makan es krim dulu di kedai sekarang sana?" tanya Gio sambil menunjuk kedai es krim yang dia maksud.
Diandra tampak menatap wajah Gio dengan tatapan kesal, walau akhirnya dia mengikuti arah pandangan sang suami. Diandra menelan salivanya susah payah saat melihat gambar es krim yang sudah hampir meleleh di bagian depan toko. Tiba-tiba dia tertarik dengan tekstur lembut es krim yang begitu menggunggah selera.
"Baiklah, karena kamu diam, aku menganggapnya setuju. Berarti kita mampir ke kedai es krim itu dulu," ujar Gio sambil mengandeng tangan Diandra, dan mengajaknya menyerang jalan bersama.
Diandra tidak menjawab, dia hanya berjalan mengikuti Gio, sambil sedikit menunduk menyembunyikan senyumnya dari sang suami.
Beberapa saat kemudian mereka sudah duduk di dalam kedai es krim itu dengan dua porsi es krim di atas meja.
Diandra mulai menyuapkan rasa es krim yang telah dia pesan sebelumnya. Akan tetapi, dia merasa aneh saat es krim itu sudah lumer di dalam mulutnya.
Gak enak, rasanya aneh, batin Diandra.
__ADS_1
Wanita yang tengah hamil muda itu tampak menegakkan kembali tubuhnya kemudian menggeser mangkuk es krimnya menjauh darinya.
"Kenapa, sayang?" tanya Gio.
Tatapan Diandra kini beralih pada sang suami, dia melihat es krim milik Gio dan ingin mencicipinya.
"Aku mau coba punya kamu," jawab Diandra.
"Oh, ini ... coba aaa–" Gio tersenyum, kemudian menyodorkan sendok es krim miliknya ke depan mulut Diandra.
Diandra mengernyit, dia merasa es krim yang dipesan Gio lebih enak dari pesanannya sendiri.
"Aku mau kita tukeran," ujar Diandra kemudian.
"Hah? Aku gak suka es krim strawbery, sayang. Lagian, tadi bukannya kamu bilang gak suka es krim matcha?" tanya Gio sambil mengerutkan keningnya.
"Itu kan tadi, sekarang aku suka es krim punya kamu," ujar Diandra sedikit memaksa.
Gio tampak enggan, dia benar-benar tidak suka dengan es krim strawbery yang terasa asam manis.
"Sayang, gimana kalau kita pesan lagi saja?" tanya Gio mencoba cara aman.
"Ya udah kalau kamu gak mau gantian, aku makan ini aja!" sambung Diandra lagi menarik lagi es krim miliknya lalu memakannya dengan gerakan kasar.
Entah kenapa dia tiba-tiba tidak menyukai es krim rasa strawbery, padahal biasanya itu adalah rasa favoritnya.
Mata Diandra tampak berkaca-kaca, dadanya merasa sesak entah karena apa, dia juga merasa mual karena memaksakan makan es krim itu.
Gio mengacak rambutnya prustasi melihat sikap sang istri yang terus merajuk.
Astaga, kenapa sikap Diandra jadi berubah gini sih? Aku kan bingung kalau dia ngambek, batin Gio.
"Sayang ... sayang, udah ini kamu makan punya aku aja, biar aku makan es krim milik kamu," ujar Gio langsung mengambil es krim milik Diandra lalu kembali menaruh mangkuk es krim miliknya.
"Heuk!" Diandra menutup mulutnya, dia benar-benar mual sekarang.
"Eh, sayang, kamu kenapa?" tanya Gio menatap wajah Diandra panik.
"Aku mau ke toilet," ujar Diandra cepat, lalu setengah berlari menuju ke arah toilet berada.
__ADS_1
"Ya ampun kenapa lagi ini? Baru juga tau di hamil, udah banyak drama begini," ujar prustasi Gio sambil ikut berjalan menyusul Diandra.
Gio kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi sang asisten.
"Sayang, tunggu!" Gio sedikit meninggikan nada ucapannya, agar terdengar oleh Diandra yang berjalan sudah cukup jauh darinya.
Namun, sepertinya Diandra masih mengacuhkan Gio, dia bahkan tidak merespon panggilan dari suaminya dan terus berjalan ke arah toilet.
"Astaga, ini lagi ... ke mana dia, kenapa tidak cepat menjawab teleponku?!" gerutu Gio sambil terus berjalan menyusul Diandra.
Gio hampir saja masuk ke dalam toilet wanita, jika dia tidak berpapasan dengan salah satu pengunjung dan menegurnya.
"Anda salah masuk toilet, Tuan!" ujar wanita yang batu ke luar dari toilet sambil menunjuk simbol di depan pintu yang menunjukan kalau itu adalah toilet khusus perempuan.
"Akh, Maaf, saya salah ternyata," jawabnya mengelak, padahal dia memang tidak bermaksud untuk mencari toilet laki-laki.
"Ran, kamu susul aku sekarang ke kedai es krim tidak jauh dari hotel!" Begitu panggilan dijawab oleh Randi, dia langsung berbicara tanpa menunggu suara sapaan dari asistennya itu.
"Aku masih di jalan, mungkin sepuluh menit lagi sampai," jawab Randi dari seberang sana, dengan nada suara kesal.
"Mana bisa aku nunggu selama itu! Ini penting, jadi kamu cepat datang, atau aku potong gaji kamu bulan ini!" ancam Gio, kemudian langsung memutuskan sambungan telepon begitu saja.
Gio menunggu Diandra dengan gusar di depan toilet perempuan. Dia tidak menghiraukun tatapan aneh para pengunjung lainnya, saat melihat dirinya berdiri di depan toilet perempuan itu.
Sedangkan Diandra di dalam toilet sedang sibuk mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya dengan susah payah.
"Ya ampun, perkara es krim saja bisa sampai seperti ini? Padahal sebelumnya aku tidak pernah merasa mual sedikit pun, tapi, kenapa sekarang aku malah muntah?" gumam Diandra sambil mencuci mulutnya yang terasa asam bercampur pahit.
"Ini semua gara-gara Gio, masa dia gak mau menukar es krimnya untuk aku? Dasar suami nyebelin, raja tega!" kesal Diandra sambil menatap wajahnya yang tampak kacau di dalam pantulan cermin.
Napasnya masih terasa tidak beraturan dengan tenggorokan dan perut yang terasa tidak nyaman. Mengingat sikap Gio yang tidak mau menukar es krimnya, tiba-tiba saja membuat dada Diandra kembali terasa sesak. Air mata pun tiba-tiba turun begitu saja.
"Ish, kenapa aku jadi sedih gini sih, padahal ini hanya masalah es krim doang?" ujar Diandra sambil mengusap air mata di pipinya.
"Ayolah Diandra, kamu ini wanita kuat, masa urusan es krim aja sampe nangis!" ujarnya, menatap wajahnya sendiri di pantulan cermin.
Diandra berusaha mengatur napasnya berusaha untuk lebih tenang, sebelum kembali menemui Gio. Rasanya dia pasti ana malu jika Gio sampai melihat bekas tangisan di wajahnya.
......................
__ADS_1
Gio gak peka banget nih, ck ck ck!🙄