
...Happy Reading...
......................
Sementara itu di negara S Gio sudah terus uring-uringan tidak jelas. Seperti saat ini, dia sedang berada di perjalanan menuju hotel bersama dengan Randi. Akan tetapi, pandangannya sama sekali tidak beralih dari ponsel pintar di tangannya.
"Mana, Dian? Kenapa dia belum menghubungi Kakak juga?" Lagi-lagi Gio menelepon Gita.
"Sabar dong, Kak. Kak Dian sama Mama baru pulang, mungkin lagi bersih-bersih dulu di kamar," jawab Gita ketus.
Sungguh Dia sudah sangat malas terus diganggu seharian ini oleh Kakak laki-lakinya yang sudah seperti sedang kehilangan istrinya, padahal mereka baru berpisah cuma satu hari.
"Coba kamu lihat dulu?" perintah Gio.
"Kak Dian, ada di kamarnya, dia gak ke mana-mana, Kak. Ribet banget sih! Tinggal tungguin aja, nanti juga kalau udah selesai Kak Dian pasti telepon," jawab Gita kesal.
"Aku lagi nonton drakor, jadi gak usah gangguin aku terus!" sambung Gita lagi sebelum menutup teleponnya.
Gio menatap ponsel di tangannya dengan raut wajah kesal, sejak tadi bahkan dia sudah sulit untuk berkonsentrasi karrna tidak bisa menghubungi istrinya, hingga Randi terus saja mengingatkannya. Akan tetapi, sampai malam semakin larut seperti ini, Diandra bahkan belum bisa dia hubungi sama sekali.
"Ya ampun, Berani-beraninya dia menutup telepon aku lebih dulu? Awas aja nanti kalau dia minta dibelikan sesuatu, aku gak akan memberikannya!" gerutu Gio, masih dengan menatap layar ponsel beetuliskan nama adik perempuannya.
Randi yang sedang duduk di samping Gio pun hanya bisa menghela napas berat sambil memutar bola matanya jengah.
Panas deh ini telinga dengerin dia ngoceh sendiri dari tadi! batin Randi, memggerutu sendiri.
"Ran, kenapa lama banget sih, gak nyampe-nyampe ke hotel?!" tanya Gio kemudian sambil mengalihkan pandangannya pada sekitarnya.
"Ini kita sudah sampai, Gio," jawab Randi dengan menekankan setiap perkataannya. Mereka bahkan sudah duduk di dalam mobil yang berhenti selama hampir lima menit, hanya untuk mendengar Gio menggerutu, hingga tidak mendengarkan perkataannya sejak tadi.
"Oh, kita sudah sampai? Terus kenapa kita masih di mobil? Ayo masuk ke hotel, gimana sih?!" cerocos Gio sambil ke luar dari mobil, meninggalkan Randi yang menatap kesal bosnya itu.
Kok aku berasa kerja sama perempuan, ya? Kenapa cerewet banget sih dia hari ini?! batin Randi sambil beranjak turun lalu mengikuti langkah Gio, kepalanya sampai terasa pening saat seharian ini dia terus saja mendengar ocehan Gio.
Bila dulu dia hanya akan kesal melihat Gio yang selalu tebar pesona pada setiap wanita yang dia temui, kini dia dibikin pusing mendengar keluhan bosnya pada sang istri yang tidak bisa dihubungi.
Mereka masuk ke dalam hotel bersama-sama, dengan langkah lebarnya Gio langsung menuju ke kamar tidurnya sambil terus mencoba menghubungi Diandra yang jauh di sana.
"Emang gak ada enaknya jadi asisten, Bos main wanita, kita yang beresin. Bos punya istri yang cuek dan dingin, kita juga yang repot. Nasib-nasib," gerutu Randi pelan, menatap kesal punggung Gio yang sedang berjalan di depannya kesal.
.
.
Diandra berbaring di tempat tidur, sedangkan Erika mulai pemeriksaan biasa untuk Diandra, dia sedikit mengerutkan keningnya saat merasakan ada hal yang aneh.
"Gimana?" tanya Diandra setelah merasa kalau Erika sudah selesai memeriksa dirinya.
"Semuanya baik-baik saja. Coba besok pagi kamu pake ini untuk cek lebih jelasnya," ujar Erika memberikan alat tes kehamilan.
"Tapi, apa pun hasilnya, besok kamu harus tetap ikut aku ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Karena di sini aku bukanlah dokter dalam bidang ini," ujar Erika, sambil duduk di samping Diandra.
"Iya, Kak. Besok aku akan coba pake alat ini. Terima kasih ya, Kak," ujar Diandra, sambil mengambil alat tes kehamilan itu.
Diandra duduk bersandar di kepala ranjang, dengan pikiran menerawang jauh entah ke mana, tangannya masih menggenggam erat alat tes kehamilan yang diberikan Erika.
"Kak Dian, Kak Gio udah bawel banget nih!" keluh Gita sambil masuk begitu saja ke dalam kamar, hingga membuat Diandra terjingkat kaget.
__ADS_1
"Ah iya, aku lupa," ujar Diandra, sambil beranjak dari atas ranjang kemudian mengambil ponsel yang masih berada di dalam tas miliknya.
"Ish, baru juga pisah sehari udah ribet banget!" gerutu Gita yang sejak tadi menjadi pelampiasan kekesalan Gio karena tidak bisa menghubungi Diandra.
Diandra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, melihat kekesalan Gita.
Setelah pintu tertutup Diandra langsung duduk di sofa lalu menghidupkan ponselnya. Dia memang sengaja tidak menghidupkan ponsel karena kecewa dengan kemarahan tidak berdasar Gio padanya, saat mereka berbicara melalui ponsel Gita.
Awalnya Diandra hendak menghubungi Gio saat menunggu Mama Hana di rumah sakit. Akan tetapi, semua itu dia urungkan karena kekesalannya.
Begitu ponsel dinyalakan, suara notifikasi langsung terdengar tanpa henti, Diandra bahkan harus meletakkan ponselnya dulu sebentar, membiarkan semua pesan masuk lebih dulu.
Setelah ponselnya sudah terasa sepi, baru Diandra mengambilnya kembali dan melihat. Ternyata lebih dari seratus spam pesan masuk dan lima puluh panggilan tidak terjawab yang berasal dari nomor yang sama terlihat di aplikasi pesan singkat.
"Ya ampun, dia itu kenapa sih?!" kesal Diandra, melihat banyaknya pesan dan panggilan dari nomor Gio.
Belum sempat Diandra membuka pesan dari suaminya, kini ponselnya kembali berdering dengan nomor yang sama. Siapa lagi kalau bukan dari suami tercintanya.
Diandra menghela napas kasar sebelum menerima panggilan video dari suaminya.
"Sayang, akhirnya kamu mau menerima telepon dariku. Jangan marah gini dong, sayang, maafin aku, ya, tadi aku cuman terlalu khawatir karena kamu gak ada kabar," cerocos Gio begitu Diandra menerima panggilannya, raut wajahnya terlihat sangat khawatir di dalam layar ponsel Diandra.
Diandra terdiam dengan tatapan datar, melihat Gio yang terlihat menatap Diandra penuh permohonan.
"Sayang, aku beneran minta maaf. Jangan gini dong, sayang, atau aku pulang aja sekarang, ya?" ujar Gio, dengan nada suara manja.
"Sayang, aku gak akan bisa kerja kalau kamu marah begini. Maafin aku, ya," ujar Gio lagi.
"Sayaaang," rengek Gio sambil mendekatkan wajahnya pada kamera, hingga seluruh layar ponsel Diandra penuh dengan wajah suaminya.
Gio ikut tersenyum saat melihat Diandra tersenyum. "Udah gak marah lagi kan?" tanya Gio kemudian.
"Siapa juga yang marah?" jawab Diandra sambil menahan tawanya.
"Eh, bukannya dari tadi kamu marah, karena aku membentak kamu?" tanya Gio menatap Diandra bingung.
"Dih, nuduh!" ujar Diandra dengan gaya mencibir. Diandra memang tidak marah, dia hanya kesal karena Gio sudah menuduhnya.
Gio terdiam beberapa waktu, tampaknya laki-laki itu terlalu terkejut dengan sikap istrinya.
"Oh, jadi kamu bohongin aku dari tadi, hem? Kamu ngerjain aku, hem? Kamu itu, udah berani, ya ...." Gio tersenyum lebar saat menyadari semua itu.
"Makanya gak usah suka menyimpulkan segalanya sendiri, sebelum tau jelas apa yang terjadi," ujar Diandra santai.
"Iya‐iya, maaf, sayang. Aku tadi benar-benar khawatir sama kamu," jawab Gio.
"Kan tadi aku udah jelasin kalau aku cuman nganterin karyawan yang pingsan di kantor. Kamu sih pake emosi duluan," ujar Diandra, sambil beranjak dari sofa lalu duduk bersandar di atas ranjang.
"Katanya ke negara S buat kerja. Tapi, seharian ini kok malah sibuk ngurusin aku di sini, sampai gangguin Gita. Gita marah tuh, kamu gangguin terus," sambung Diandra lagi.
"Aku memang sibuk, ini aja aku baru pulang ke hotel, sayang. Masalah Gita gak usah dipikirin, dia biar jadi urusan aku," jawab Gio santai.
"Ya udah terserah kamu aja." Diandra tampak menguap di akhir kalimatnya.
"Kamu udah ngantuk?" tanya Gio lagi, saat melihat Diandra menguap.
"Heem, tadi pagi aku cuman tidur sebentar, jadi jam segini udah ngantuk," jawab Diandra, sambil menatap wajah suaminya dengan mata yang sudah tampak sayu.
__ADS_1
"Ya udah, kamu tidur aja, biar aku temenin dari sini," ujar Gio sambil tersenyum hangat.
Diandra menaruh ponselnya di tempat Gio biasa tidur, lalu dia bersiap untuk merebahkan diri.
"Sayang, aku kangen banget deh sama kamu," ujar Gio lagi, saat melihat Diandra hendak berbaring.
Diandra menghentikan kegiatannya lalu melihat Gio di layar ponselnya.
"Ck! Baru juga sehari," decak Diandra dengan tatapan malasnya.
Padahal di dalam hati dia juga berteriak merindukan sang suami. Bahkan sejak pagi bayangan Gio seakan tidak pernah pergi dari pikirannya, hingga membuat Diandra terus menyibukkan dirinya dengan hal lain, demi menghilangkan rasa rindunya.
"Makanya aku minta kamu ikut, karena aku pasti gak bisa jauh dari kamu walaupun sehari saja, sayang." Gio terlihat sedikit merajuk saat mengingat Diandra yang tidak mau ikut dengannya.
"Lusa kan aku udah nyusul, gak usah lebay deh," ujar Diandra malas, sambil berbaring di atas tempat tidur, lalu menarik selimut sebatas dada.
Diandra kembali menguap sebelum dia menatap layar ponselnya lagi yang memperlihatkan wajah sang suami.
"Maaf ya, kalau nanti aku ketiduran," ujar Diandra.
"Iya, sayang. Tidurlah, jangan sampai kamu kecapean, nanti, aku gak akan matikan sambungan teleponnya sebelum memastikan kamu tidur pulas," jawab Gio.
"Ceritain dulu, kegiatan kamu selama di negara S hari ini," ujar Dandra dengan suara yang sudah terdengar lemah.
Gio tersenyum dia pun merebahkan tubuhnya menyamping di ranjang hotel kemudian menaruh ponselnya di depannya.
"Hari ini aku langsung melakukan pertemuan, tiga puluh menit setelah ke luar dari bendara–" Gio terus bercerita tentang kegiatannya, hingga Diandra terlihat sudah tertidur lelap.
"Selamat malam, sayang, semoga malam ini kita bisa bertemu di dalam mimpi," ujar Gio, sebelum akhirnya mematikan sambungan videonya bersama sang istri kemudian tertidur lelap dengan posisi yang sama.
.
.
Diandra bangun di pagi hari dengan suasana yang hampa, dia baru merasakan bagaimana kehidupannya tanpa seorang Gio. Ternyata dia merasakan sesuatu kehilangan, mengingat dirinya yang sudah terlanjur terbiasa hidup bersama dengan sang suami.
Diandra menghembuskan napas panjang sambil meraba tempat di mana sang suami berbaring. Terasa kosong dan dingin, sama seperti hatinya saat ini.
Bangun perlahan dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh area kamar yang sudah cukup lama dia tinggali bersama sang suami.
Tiba-tiba saja percakapannya dengan Erika malam lalu melintas di kepala. Diandra menoleh melihat alat tes kehamilan yang diberikan oleh kakak iparnya yang dia simpan di atas nakas.
Diandra terdiam, perlahan tangannya mulai menyentuh perut bagian bawahnya yang terasa masih rata.
"Apakah benar kamu sudah ada di sini?" tanya Diandra, entah mengapa hatinya merasakan harapan yang sangat besar dengan hasil dari tes kehamilan kali ini.
Jantungnya terus bertalu saat ketakutan akan hasil yang tidak sesuai dengan harapan.
Lama terdiam sambil mencoba untuk mencoba menenangkan diri untuk menerima apa pun yang akan jadi hasilnya, nanti. Diandra akhirnya mamilih untuk turun dari ranjang sambil mengambil alat tes kehamilan itu, kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Setelah menampung cairan urine di dalam wadah kecil Diandra memilih duduk di atas kloset kemudian mulai memasukkan alat tes itu pada cairan urine miliknya, setelah dirasa waktunya cukup dia kemudian menutupnya.
Diandra kemudian menutup matanya, dia tidak mau kalau sampai hasil dari tes kali ini akan membuahkan hasil yang tidak memuaskan.
......................
Bab berikutnya ya, sabar-sabar🤭🤭
__ADS_1