
...Happy Reading...
......................
Kilas balik.
Diandra berjalan cepat menuju ke sebuah taman, di mana dia berjanji untuk bertemu dengan Ana dan hary.
"Maaf aku terlambat," ujar Diandra, sambil duduk di samping saudara kembarnya.
Napasnya masih memburu karena dia berjalan lumayan jauh dari ruang dosen. Dia sampingnya terlihat Ana dan Hary duduk berdampingan.
"Ada apa, kenapa kalian tiba-tiba ngajak aku ketemuan di sini?" tanya Diandra lagi, saat melihat wajah murung dua orang di sampingnya.
"Dian, ada yang mau aku kasih tau sama kamu," ujar Ana, memegang kedua tangan Diandra.
Kening Diandra berkerut halus, melihat wajah gelisah sepasang kekasih itu.
"Ada apa, Ana? Kenapa wajah kalian seperti itu?" tanya Diandra.
Ana tampak mengambil sesuatu di dalam tasnya, dia melihat Hary sekilas, sebelum menyerahkan benda itu pada saudara kembarnya.
Diandra melebarkan matanya melihat benda di tangan Ana, mata yang tadi penuh tanya kini terlihat berganti dengan kecewa.
"Apa maksudnya ini? Kalian bercanda kan? Kalau mau ngerjain gak kayak gini caranya, ini sama sekali gak lucu, Ana." Diandra berusaha menyangkal prasangka di dalam pikirannya.
"Aku gak bercanda, Dian. Ini memang miliku," ujar Ana dengan penuh penyesalan.
Diandra menggelengkan kepalanya samar dengan mata berkaca-kaca, dia sama sekali tidak menyangka, kalau hubungan antara Ana dan Hary sudah sejauh ini.
Diandra berdiri, dia melihat Hary dengan tatapan penuh kecewa dan kemarahan.
"Kenapa kamu merusak masa depan saudaraku, hah? Kenapa kamu lakuin ini sama Ana?" tanya Diandra, menatap nyalang wajah kekasih dari saudara kembarnya itu.
"Ini bukan salah Hary, Dian. Aku juga setuju untuk melakukannya, ini terjadi karena kami saling mencintai!" Ana langsung menyela pertanyaan Diandra.
Rasa terkejut perempuan itu, kini semakin besar, saat mendengar pengakuan dari Ana.
"Kenapa kamu melakukan semua ini, Ana? Sebentar lagi kita akan lulus kuliah, aku udah janji kan kalau aku akan segera mencari laki-laki yang mau menikah denganku setelah selesai wisuda. Apa kata ayah sama bunda nanti?"
Diandra sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, menelan kecewa pada saudara kembarnya sendiri.
"Apa kamu yakin kalau nanti ayah akan merestui hubungan aku dan Hary? Aku bahkan ragu kalau ayah akan menerima laki-laki yang kamu bawa ke rumah nanti," bantah Ana.
__ADS_1
"Kamu ingat tidak kalau selama ini ayah bahkan tidak pernah suka sama Hary, hanya karena keluarga Harry adalah seorang pendatang. Apa itu masuk akal?" sambung Ana lagi.
"Tapi, Ana. Bukan itu saja yang jadi pertimbangan ayah. Kalian juga pasti tau kalau alasan sesungguhnya adalah karena memang kita berbeda. Ingat kalau kalian memang memiliki penghang yang tidak bisa dibantah selain ayah."
Diandra menjeda perkatannya, dia menatap Ana dan Hary bergantian, dengan hati yang semakin terasa sakit.
"Apa kalian lupa, kalau ada agama yang memisahkan kalian, dan itu yang menjadi alasan ayah sesungguhnya, kenapa kalian tidak bisa mnegerti. Bukankah aku sudah memperingatkan kalian sejak awal kalian memilih bberhubungan?" ujar Diandra panjang lebar.
Ana sebenarnya cukup terkejut, karena ini adalah pertama kalianya dia melihat Diandra berbicara begitu banyak.
"Aku mencintai Hary, Dian. Aku bahkan rela untuk mengikutinya, kita sudah bicarakan ini sebelumnya!"
"Diandra, tolong bantu aku kami, untuk kali ini saja, biarkan kami memperjuangkan cinta dan hak anak kami." Kini giliran Hary yang memohn pada Diandra.
Diandra menggeleng lemah, dia benar-benar tidak bisa berpikir jerih sekarang. Ini kabar yang terlalu mengejutkan untuknya, hingga hati dan pikirannya seakan tidak bisa berjalan dengan benar.
"Diandra, aku dan Hary saling mencintai, dan kini ada anak kita juga yang harus mendapatkan kasih sayang dari kami. Tolong pikirkan lagi," ujar Ana, kembali memohon.
"Kamu pikir dengan kamu mau mengikuti Hary, ayah akan merubah keputusannya? Ya Tuhan, Ana!" Diandra menghapus bekas air matanya di pipi.
"Aku butuh waktu, tolong biarkan aku sendiri dulu," sambungnya lagi.
Diandra pun memilih pergi dari hadapan pasangan yang sedang dimabuk oleh cinta itu.
......................
Setelah kejadian itu, Diandra dan Ana tidak saling bertemu sapa hingga beberapa hari. Diandra yang masih membutuhkan waktu untuk berfikir.
Sedangkan Ana yang mengira kalau Diandra tidak lagi mau membantunya, dalam memperjuangkan cintanya dan sang kekasih, juga anak di dalam kandungannya.
Hingga hampir seminggu akhirnya Diandra memberikan keputusan untuk berusaha membantu Ana, walau di dalam hati dia merasa berat.
Namun, sungguh dirinya tidak bisa memilih untuk berpihak pada siapa pun. Ayahnya yang tidak merestui hubungan Ana, atau anak yang sekarang berada di dalam rahim Ana.
"Semua yang sudah berusaha aku lakukan dan aku korbankan untuk kalian, akhirnya hanya berujung dengan perpisahan dan kesalahan," lirih Diandra dengan wajah muram.
"Kalian terlalu buta karena cinta, hingga rela meninggalkan semuanya hanya karena sebuah kata yang memiliki banyak makana."
Diandra menghapus air mata yang sudah terlanjur jatuh membasahi pipinya. Mengenang masa lalu hanya akan kembali mengulang luka dan rasa sakit di dalam hatinya.
Rasa benci kepada satu kata dengan lima huruf yang bernama cinta itu pun, semakin membuat dinding di dalam hatinya bertambah tebal.
Ya, semua itu berawal dari sebuah rasa yang dinamakan cinta, hingga membuat kasih sayang di sebuah keluarga yang terikat oleh darah pun terlupakan begitu saja.
__ADS_1
"Heh, cinta!" sinis Diandra.
"Apa untungnya merasakan kata itu, kalau hanya bisa membawa luka pada akhirnya. Lebih baik tidak bisa lagi meraskannya, daripada nanti akan kembali kecewa untuk kesekian kalinya." Diandra kembali menutup kaca mobilnya dan bersiap untuk meninggalkan tempatnya berhenti.
.
.
Gio menarik napas lelah, lalu kembali masuk ke dalam, dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.
Tidak menunggu lama, teleponnya sudah tersambung dengan orang yang dia hubungi.
"Rom, apa yang terjadi pada Dian?" tanya Gio langsung.
"Apa dia menemui kamu?" tanya Romi dari seberang sana, dia sudah pasti tau dengan watak dari saudaranya itu.
"Iya, dia menyuruhku untuk tidak ikut campur lagi dengan urusannya dengan Jonas," jelas Gio.
"Dasar, perempuan itu!" umpat Romi, yang masih bisa terdengar oleh Gio.
"Apa kamu bilang barusan?!" Gio langsung menyela umpatan dari saudara istrinya itu.
"Ah, tidak. Aku hanya sedang sedikit kesal saja," kilah Romi.
"Iya, tadi pagi Jonas memang menghubungi Diandra. Sejak saat itu, sepertinya perasaan Dian merasa terusik, dia terlihat uring-uringan terus," jelas Romi.
Gio mengerutkan keningnya, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh Romi.
"Apa dia sudah bilang apa yang dikatakan oleh laki-laki itu?" tanya Gio.
"Diandra bilang, kalau Jonas menyuruhnya untuk meninggalkan kamu dan datang kepadanya," jawab Romi.
"Apa?! Dasar laki-laki gila!" umpat Gio.
"Apa ada lagi yang dia katakan padamu?" tanya Gio lagi.
"Tidak ada. Tapi, sepertinya Diandra menerima ancaman yang cukup serius, makanya dia terlihat tertekan," ujar Romi.
"Oke, makasih infonya. Aku akan segera mencaritahunya," ujar Gio, sebelum akhirnya menutup telepon di antara mereka.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...
__ADS_1