
...Happy Reading...
..................
"Terima kasih." Diandra berbalik dan masuk ke dalam pelukan suaminya. Begitu erat den penuh perasaan, hati Diandra begitu bersyukur bisa mendapatkan suami sebaik Gio.
"Apa pun untukmu, sayang," jawab Gio, sambil membalas pelukan istrinya.
Untuk beberapa saat keduanya hanya berdiam dalam posisi yang sama, menikmati indahnya bahasa rasa yang hanya bisa dirasakan oleh keduanya.
Kasih sayang dan cinta tanpa kata, terasa lebih indah, saat perilaku telah berbicara, melengkapi rangkaian kata yang sudah begitu indah.
"Ayo, kita duduk dulu," ujar Gio, mengurai pelukannya lalu menuntun Diandra untuk duduk disofa.
Gio mengambil kotak kecil yang ada di atas meja, lalu memberikannya pada Diandra, semua itu memang sudah dia siapkan sebelumnya.
"Apa ini?" tanya Diandra sambil mengambil kotak berwarna merah dengan pita putih di atasnya.
"Buka saja, nanti juga kamu akan lihat sendiri," jawab Gio.
Diandra perlahan membuka kotak itu, dia cukup terperanjat saat melihat sepasang cincin pernikahan di dalamnya.
"Ini?" Diandra melihat pada Gio.
"Maaf, karena dulu aku tidak sempat untuk memberikanmu cincin pernikahan," ujar Gio dengan suara lirih.
Diandra tersenyum kemudian menutup kembali kotak cincin itu dan menaruhnya di depan Gio. Gio menatap Diandra bingung, dia mengira kalau istrinya belum bisa menerimanya sebagai seorang suami.
"Kenapa, sayang?" tanya Gio, dia tidak menyangka kalau dirinya salah sangka pada istrinya. Dia mengira kalau Diandra sudah mau menerimanya setelah menyerahkan mahkotanya beberapa waktu lalu.
"Dih, nyebelin banget sih, masa aku harus pasang sendiri," cebik Diandra dengan wajah yang sengaja dibuat seolah dia tengah marah.
"Eh?" Gio terkejut, dia sempat terdiam untuk beberapa detik pertama, lalu kemudian tersenyum.
"Hem, baiklah," jawab Gio kemudian, sambil mengambil kotak itu lalu bangun dari duduknya.
Gio berlutut di depan Diandra sambil membuka kotak berisi cincin itu.
"Diandra istriku, kamu mungkin memang bukan perempuan pertama untuku. Tapi, izinkan aku untuk menjadikanmu sebagai perempuan terakhir yang ada di dalam hatiku. Aku ingin kamu menjadi satu-satunya perempuan yang akan menemani dan melengkapi kisahku."
Gio menjeda untaian kata indah itu. Mata keduanya tampak bertaut dalam.
__ADS_1
"Diandra, maukah kamu menjadi ratu di hatiku dan menjadikan hidupku sempurna?"
Mata Diandra berkaca-kaca, dia tidak menyangka kalau GIo akan melakukan ini semua. Awalnya dia hanya ingin dipasangkan cincin oleh Gio, tidak lebih.
"Ya, aku mau," jawab Diandra langsung menganggukkan kepalanya pasti.
Gio tersenyum, dia kemudian mengambil satu cincin yang didesain khusus untuk Diandra, kemudian memasangkannya. Diandra pun melakukan hal yang serupa untuk suaminya.
"Jadi ini acara, ulang tahunku, lamaran atau apa?" tanya Diandra sambil terkekeh kecil.
Gio tampak berpikir sejanak, sebelum menjawab pertanyaan istrinya.
"Ini adalah hari ulang tahun kamu sekaligus hari lamaran aku," jawab Gio dengan senyum merekah di bibirnya.
"Jadi sekarang kita tunangan?" Diandra mendongak demi melihat suaminya yang berdiri di dampingnya.
"Tidak, kita sudah menikah. Pertunangan ini hanya sebagai pelengkap saja," jawab Gio sambil memberikan kecupan di kening istrinya.
Diandra mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian kembali memeluk suaminya.
Gio tersenyum mendapati sikap Diandra padanya, dia kemudian duduk di samping Diandra. "Sekarang, potong kuenya,"ujar Gio.
Pandangan Diandra kini beralih pada kue ukuran sedang dengan desain cantik itu, di atasnya tertulis ucapan. 'Selamat ulang tahun istriku.'
Namun, dengan jahilnya Diandra malah mencoret wajah Gio menggunakan krim kue hingga wajah Gio terlihat lucu, membuat Diandra tertawa karenanya.
"Kamu, ya," ujar Gio sambil terkekeh, dia pun mengambil sedikit krim kue, lalu mengoleskannya pada ujung hidung Diandra.
Tawa keduanya pecah begitu saja, saat menyadari wajah mereka sangat lucu dengan krim di wajah mereka.
"Oh iya, Ana!" Diandra baru mengingat adik kembarnya.
"Ayo kita lakukan panggilan video, pasti mereka juga sedang nungguin kita," ujar Gio bersiap mengambil remot televisi.
Diandra berjalan menuju ke kamar mandi, untuk mencuci mukanya. Dia ke luar dengan membawa handuk kecil yang sudah dibasahi oleh air hangat, untuk memebersihkan wajah sang suami.
Gio tersenyum, sambil memberikan kecupan kilas di kening istrinya.
"Terima kasih, sayang," ujarnya.
Diandra mengangguk tentu dengan balasan senyum manis untuk suaminya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Diandra dan Gio melakukan panggilan video kepada orang tua Diandra, melalui televisi yang sudah dikoneksikan pada ponsel.
Gio memang sudah meminta izin lebih dulu pada Eros dan Lisna, untuk membawa Diandra ke Jakarta danmerayakan ulang tahunnya berdua saja. Walaupun begitu, Gio juga mengatakan akan melakukan panggilan video saat rencananya telah selesai.
Tidak menunggu lama, panggilan video pun tersambung, menampilkan wajah tempat orang dewasa di seberang sana.
Eros, Lisna, Ares, dan Ana, semuanya tampak tersenyum penuh semangat saat melihat wajah Gio dan Diandra.
"Selamat ulang tahun!" seru mereka bersamaan, sebelum kata sapaan yang lain.
"Semoga selalu diberikan kesehatan, kesehatan, dan kebahagiaan," sambung Lisna.
"Semoga makin sukses, dan bahagia terus sama A' Gio." Kini giliran Ares yang berbicara.
"Semoga semakin sukses, pernikahan kalian langgeng, dan bahagia selalu. Jangan lupa segera kasih teman untuk Andra." Ana menambahkan.
"Karena semuanya sudah diucapkan. Ayah hanya bisa berharap semoga kamu selalu diberikan yang terbaik," ujar Ayah, menjadi yang terakhir berbicara.
Mata Diandra yang sudah berkaca-kaca sejak tadi, akhirnya tidak bisa lagi menahannya. Air matanya tumpah begitu saja: membasahi pipi mulusnya.
"Amiin. Terima kasih, semuanya. Selamat ulang tahun juga, Ana," jawab Diandra.
Mereka asik berbincang bersama, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri panggilan video itu, mengingat waktu yang semakin larut, apalagi Diandra dan Gio baru saja sampai ke Jakarta.
Setelah melakukan panggilan video, Diandra dan Gio langsung membersihkan diri lalu beranjak tidur. Tidak ada aktivitas intim suami istri, mereka hanya tertidur dengan posisi saling berpelukan seperti biasa.
Pagi harinya, Gio dan Diandra sudah bersiap kembali untuk pergi ke rumah keluarga Gio. Randi yang juga menginap di apartemen miliknya sendiri pun, sudah menunggu mereka di restoran yang masih berada di area apartemen itu.
Apartemen Randi dan Gio berada di tower yang berbeda, walau masih di dalam komplek apartemen yang sama. Keduanya tentu saja memiliki selera yang berbeda, dan Gio tidak mempermasalahkan itu.
Sepasang suami istri itu, tampak ke luar dari unit apartemen mereka, di lantai yang sama hanya terdapat tiga tiga unit apartemen dengan desain dan kualitas paling ekslusif tentunya.
Mereka langsung memasuki lift, untuk turun ke lobi, di sepanjang perjalanan menggunakan lift khusus penghuni itu, mereka menemui banyak penghuni lainnya yang bergabung.
Diandra sempat berdiri canggung, saat Gio sama sekali tidak mau melepaskan tangannya dari pinggang rampingnya, hingga banyak orang yang tampak mencuri pandang padanya.
"Diam, atau aku akan menciumu di sini," bisik Gio, saat Diandra meminta untuk dilepaskan.
Terpaksa Diandra hanya bisa menerima kelakuan Gio, yang membuatnya meringis itu. Apa lagi ada beberapa penghuni wanita yang terdengar menyapa Gio, dan melihatnya dengan tatapan tidak suka.
Gio hanya menanggapi semua itu dengan datar. Entah ke mana kebiasaan menggoda wanitanya ketika bersama dengan Diandra. Sepertinya semuanya sudah hilang. Saat ini dia hanya ingin memberi tahu semua orang kalau dirinya sudah memiliki istri yang cantik dan mempesona seperti Diandra. Tidak ada yang lain.
__ADS_1
................. ...