
...Happy Reading...
...................
"Nenekku meninggal karena aku, dia terpukul karena kegagalan penikahanku, dan keluargaku hancur, juga karena kebodohanku. Aku terlalu buruk untuk, kamu ... aku gak pantas."
"Tidak, semua itu bukan kesalahan kamu, sayang. Semua itu adalah garis kehidupan yang sudah harus kamu lalui. Tidak ada yang harus disalahkan ... Nenek meninggal karena memang sudah waktunya, dan Ana juga pergi karena keinginannya."
Gio kembali membantah perkataan Diandra.
"Enggak, mereka pergi, karena aku yang terlalu bodoh dan gak berguna. Aku bahkan gak ada di saat Nenek menghembuskan napas terakhirnya, aku terlalu takut menghadapi semua orang hingga terus mengulur waktu untuk menemuinya."
Gio mengurai pelukan mereka, dia kembali menangkup wajah Diandra. Akan tetapi, Diandra terus menghindari tatapannya.
"Sayang, lihat aku," pinta Gio sambil mengarahkan wajah Diandra padanya.
"Lihat aku," pinta Gio lagi.
Diandra akhirnya mau membalas tatapan suaminya, dia kembali duduk
"Tidak ada yang harus disalahkan atas semua yang sudah terjadi, sayang. Kita hanya perlu berdamai dengan masa lalu dan menjadikannya sebuah pelajaran."
"Kamu harus, hidup dengan baik dan meraih kesuksesan. Itu adalah cara terbaik untuk membuktikan kepada mereka kalau kamu adalah perempuan kuat yang tidak akan goyah hanya karena fitnah yang mereka sebarkan."
"Buat orang-orang yang sudah menyakiti kamu menyesal, jika suatu hari nanti kalian dipertemukan kembali."
"Mulai sekarang, datanglah padaku jika ada orang yang menyakitimu, ceritakan semuanya yang kamu rasakan. Anggap aku sebagai teman ... apa, kamu, bisa?" tanya Gio.
Diandra sempat terdiam cukup lama saat Gio bertanya, walau akhirnya perempuan itu memilih mengangguk juga.
Gio tersenyum hangat, dia sangat senang melihat kini Diandra sudah mulai membuka hatinya, walaupun belum sepenuhnya bisa menerima dia sebagai seorang suami.
Seorang pasangan bukannya memang harus seperti teman, karena kita memang teman selama hidup yang berharap akan selalu bersama sampai maut memisahkan, batin Gio.
"Tapi, kamu juga harus janji, akan selalu percaya padaku, apa pun yang terjadi nanti. Jangan sampai ada kebohongan di antara kita," lirih Diandra.
Gio mengangguk pasti. "Janji," ujarnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya, seperti seorang anak kecil.
Diandra tersenyum samar, lalu menautkan jari kelingkingnya. "Janji."
Gio kembali memeluk Diandra, sambil mengecup kening istrinya beberapa kali.
Malam itu keduanya merasakan perasaan yang berbeda, Gio yang bahagia karena penerimaan istrinya. Juga, Diandra yang meraskan lega di dalam hatinya, setelah mengeluarkan semua yang selama ini terpendam di dalam hati.
Diandra mungkin masih ragu untuk memulai sebuah hubungan suami istri, karena pengalaman masa lalunya.
Namun, tanpa dia sadari hatinya mulai terbuka untuk menerima sebuah ikatan, bahkan janji yang dibuat dengan Gio.
"Sudah, sekarang kita tidur yuk. Kamu masih harus banyak beristirahat, untuk memulihkan kesehatan." Gio mengurai pelukannya.
Tangan Gio terulur, mengusap wajah sebab istrinya, sambil merapihkan rambut yang berantakan.
"Aduh, kalau mamah dan Gita tau kamu nangis begini, bisa-bisa kupingku panas menerima ocehan mereka," keluh Gio, hingga mendapatkan senyuman dari Diandra.
"Siapa suruh, kamu, bikin aku nangis!" ujarnya.
"Ish, bukannya belain," desah Gio.
__ADS_1
Keduanya pun terkekeh bersama, membayangkan cerewetnya Hana dan Gita.
Diandra beranjak dari tempat tidur, saat Gio langsung menahan tangannya.
"Mau ke mana?" tanya Gio.
"Aku mau cuci muka dulu."
"Aku bantu, ya?"
"Gak usah, aku masih bisa sendiri."
"Ya udah, aku anter aja." Gio hendak beranjak.
"Gak usah, aku bisa sendiri!" tekan Diandra sambil menahan pundak Gio.
Gio menatap Diandra, dia pun akhirnya mengangguk, setelah melihat istrinya yang menatapnya kesal.
Diandra pun akhirnya berjalan menuju ke kamar mandi, rasanya sedikit lengket di wajahnya, karena terlalu banyak terkena air mata.
Gio menatap punggung Diandra, rasanya dia bahkan belum bisa percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
Penerimaan Diandra, adalah kejutan yang sangat spesial dan membahagiakan.
"Yes! Akhirnya dia mau menerimaku!" sorak Gio, begitu pintu kamar mandi tertutup, sambil mengacungkan kepalan tangannya ke atas, kemudian menariknya ke bawah, hingga setara dengan dada.
Gio melakukan itu berulang kali, sambil meloncat riang dia samping ranjang.
"Hah, kenapa dia cantik banget, kalau lagi senyum? Rasanya aku baru kali ini melihat perempuan secantik dia," racau Gio, membayangkan wajah Diandra yang tersenyum padanya.
Ya, Diandra baru pertama kali melihat tingkah Gio yang seperti itu. Selama ini suaminya selalu bersikap dewasa walaupun memang terkadang terlihat jahil.
Diandra juga tidak pernah menyangka kalau keputusannya untuk mencoba menerima Gio di dalam hidupnya, bisa membuat laki-laki di depannya itu menjadi begitu bahagia seperti sekarang ini.
Gio yang menghadap ke ranjang tidak mengetahui kalau saat ini Diandra sedang melihat tingkah konyolnya.
"Teman hidup, selamanya!" sorak Gio lagi, sambil berbalik, hingga akhirnya dia bisa melihat Diandra.
Gio yang terkejut dengan keberadaan Diandra, langsung menghentikan aktivitasnya. Dia menggaruk belakang kepalanya untuk menutupi rasa canggung dan malunya.
"Sa–sayang, sejak kapan kamu ke luar dari kamar mandi?" tanya Gio gugup.
Diandra menutup mulutnya, sambil menggeleng. Dia tidak yakin akan bisa menahan tawanya bila membuka mulut.
"A–aku hanya, sedang berolahraga saja. Sepertinya malam ini cukup dingin," ujar Gio mencari alasan sambil menggerakkan kedua tangannya ke atas dan ke bawah, seperti gerakan peregangan.
"Ekhm!" Diandra berdehem sebelum berjalan mendekati suaminya.
Melihat Diandra mendekat, Gio langsung membereskan tempat tidur di bagian istrinya tidur. Dia menepuk bantal untuk memastikan kenyamanan Diandra, kemudian berdiri tegak kembali.
"Terima kasih," ujar Diandra sebelum duduk di sisi ranjang.
Gio mengangguk sambil tersenyum, lalu beranjak duduk di sisi ranjang yang berlawanan dengan Diandra.
Mereka berdua pun bersiap untuk tidur, keduanya sudah berbaring dengan posisi saling membelakangi.
Namun, entah mengapa, baik Gio maupun Diandra merasa ada yang mengganggu perasaan mereka, hingga keduanya tidak bisa terlelap.
__ADS_1
Diandra mencoba memejamkan matanya, dia meremas ujung selimut untuk menyalurkan rasa gelisah yang tiba-tiba saja mengganggu hatinya.
Gio pun berusaha tetap tenang dan memejamkan mata, walaupun kerutan dalam terlihat jelas di keningnya.
Ish, kenapa aku gak bisa tidur sih? kesal Diandra mengumpat di dalam hati.
Ini tidak boleh! Gio, kamu tidak boleh meminta lebih dari istrimu, atau nanti dia akan menghindar lagi, desah batin Gio frustrasi.
Ish, kenapa aku mau melihatnya lagi? Kenapa rasanya aku tidak pernah puas untuk menatap wajahnya? Gio kembali membuka matanya saat pikirannya hanya tertuju pada sang istri.
Kira-kira dia udah tidur belum ya? Gio melirik ke belakang, untuk melihat Diandra.
Beberapa saat terus gelisah dengan ketidaknyamanan mereka masing-masing, kini keduanya berbalik badan serempak hingga posisi saat ini saling berhadapan.
Diandra melebarkan matanya, begitu menyadari semua itu, sedangkan Gio malah tersenyum dengan binar di mata.
"Kamu belum tidur?" tanya Gio.
Diandra menggeleng, lalu beranjak membalik kembali tubuhnya menjadi tidur terlentang, dengan tangan yang saling bertaut di atas perutnya.
Ya ampun, kenapa aku gugup begini? Bukannya biasanya kita juga tidur bersama? keluh batin Diandra.
Gio menatap wajah Diandra yang sudah mulai menutup matanya kembali, dia malah menikmati pemandangan di depannya, hingga lupa dengan waktu tidurnya.
"Selamat malam, sayang," bisik Gio tepat di depan telinga Diandra.
Diandra kembali membuka matanya dan refleks, menoleh ke arah Gio karena terkejut. Tentu saja semua itu membuat wajah keduanya berada semakin dekat.
"M–malam," lirih Diandra.
Cup!
Gio mencuri ciuman di bibir Diandra. "Semoga mimpi indah, sayang," ujarnya dengan seringai jahilnya.
Diandra refleks menutup mulutnya dengan tangan, saat dirinya terkejut oleh ulah suaminya.
"Dasar, mesum!" umpatnya, sambil berbalik kembali memunggunggi suaminya.
Tangannya memegang dada, saat merasakan debar jantung yang bertalu.
Gio terkekeh, dia sempat melihat rona merah di pipi istrinya.
"Gak apa, kalau mesumnya sama istri sendiri," jawab Gio santai, sambil mendekatkan tubuhnya.
Gio melingkarkan salah satu tangannya di perut Diandra, hingga dia bisa merasakan tubuh sang istri menegang.
"Jangan tegang ... seperti biasa, aku hanya ingin seperti ini saja," lirih Gio, sambil mempererat pelukannya.
Diandra pun mulai mengatur napas dan tubuhnya, hingga tidak terasa tegang lagi.
Malam itu, akhirnya sepasang suami istri itu bisa tertidur dengan suasana yang berbeda.
...................
Terkadang jujur pada diri sendiri dan berdamai dengan luka akan lebih baik daripada sebuah pembalasan dendam.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1