Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Merasa bersalah


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Gio sampai di rumah Diandra. Romi yang mengetahui kedatangannya langsung menghampiri Gio dan membawanya untuk berbicara berdua.


"Ke mana aja kamu, hah? Istri sakit kok malah gak ada di rumah!" sentak Romi dengan wajah marah.


"Maaf, Rom. Aku gak tau kalau Diandra sakit," jawab Gio.


"Dasar brengsek! Ke mana aja kamu semalam, sampai gak pulang. Aku yakin tadi malam Diandra tidur di lantai makanya dia bisa sampai sakit!" Romi hampir saja memukul wajah Gio, karena rasa kesal dan kecewanya.


Romi bisa tahu kalau Diandra tidur di lantai karena bekas mie instan yang lupa Diandra rapikan semalam. Romi sangat tau kalau Diandra tidak akan membiarkan sesuatu kotor sebelum dia tidur. Itu sama sekali bukan kebiasaannya.


"Ada ibu dan adikku di rumahku, mereka menahanku semalam, dan paginya aku langsung pergi ke rumah orang tua Diandra, ini baru aja pulang." Gio mengangkat kedua tangannya, bersiap untuk menerima pukulan dari Romi.


"Kenapa ponsel kamu gak aktif, hah? Aku berusaha menghubungi kami sejak siang!" Romi masih saja belum percaya dan menganggap jawaban Gio sebagai alasan.


"Posel aku tertukar dengan milik Diandra. Kamu lihat aja sendiri." Gio menunjukkan ponsel milik Diandra.


Romi yang tau gambar di layar utama milik Diandra pun menggeram marah, dia melepaskan cengkraman tangannya di baju Gio dengan kasar sambil mengacak rambutnya, menahan kesal.


"Sekarang aku boleh masuk?" tanya Gio.


Dia masih menghargai Romi, sebagai orang terdekat dan selalu menjaga Diandra selama ini.


Walaupun, sebenarnya Gio bisa saja langsung menerobos masuk ke dalam rumah, mengingat dia salah suami sah Diandra.


Romi mengangguk lemah, sudah sejak siang dia menahan kemarahannya pada Gio, karena laki-laki itu tidak bisa dihubungi di saat Diandra sedang seperti ini.


Diandra memang susah dibujuk untuk pergi berobat bila sedang sakit. Selama ini, jika perempuan itu sakit, maka Romi dan sang istri hanya berusaha merawatnya dengan sebisa mungkin.


Apalagi, selama pelariannya dari keluarga, Diandra memang termasuk orang yang memiliki kekebalan tubuh yang cukup baik. Dia jarang sekali sakit, dan bila itu terjadi pun paling hanya pilek biasa, atau mungkin memang dirinya yang tidak tau saat Diandra sakit, entahlah.


Gio langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam, setelah melihat anggukkan kepala dari Romi.

__ADS_1


Sampai di depan kamar Diandra, Gio berhenti sebentar untuk memastikan penampilannya. Laki-laki itu pun tampak membenarkan baju yang terlihat kusut karena cengkraman tangan Romi beberapa saat yang lalu.


Gio mengetuk pintu sebelum masuk, dia melihat seorang wanita yang sedang memberikan kompres di kening istrinya.


Wanita yang tidak lain adalah istri dari Romi itu, beranjak saat melihat seorang laki-laki asing masuk ke kamar Diandra.


"Dia suaminya," ujar Romi yang ternyata susah berdiri di belakang Gio.


Wanita itu tampak mengangguk, dia pun membiarkan Gio untuk mendekat.


"Panasnya masih tinggi, aku gak bisa memberikan obat, karena sejak tadi dia juga gak mau makan," ujar wanita itu, memberitahu Gio kondisi Diandra.


Gio duduk di samping istrinya yang terlihat sedang menutup mata, perlahan tangannya menyentuh kening Diandra dengan punggung tangannya.


Panas dari tubuh Diandra, langsung menjalar pada tangannya, begitu kulit keduanya saling menempel. Ada rasa sakit seperti di sayat di dalam hatinya, begitu melihat kondisi istrinya.


Wajah pucat dengan bibir kering, terlihat begitu nyata di depan matanya. Dia merasa menyesal karena semalam dia tidak pulang ke rumah.


"Maafkan aku, sayang. Karena aku, kamu jadi begini," ujar Gio penuh sesal, dia menggantikan istrinya Romi untuk memberikan kompres di kening Diandra.


Romi dan istrinya pun memilih untuk ke luar dan membiarkan Gio dan Diandra hanya berdua di dalam kamar.


Entah kenapa ada rasa sakit yang terus menyesakkan dada, saat Gio tidak pulang dan juga tidak memberi kabar padanya sejak semalam.


"Panas kamu tinggi banget, kita ke rumah sakit aja yuk. Kamu harus diperiksa," ujar Gio, menatap khawatir kondisi Diandra.


Dengan telaten Gio terus merawat Diandra, hingga menjelang malam demam Diandra sudah mulai turun.


"Aku pergi ke kamar mandi dulu ya," pamit Gio sambil membenarkan selimut di tubuh Diandra.


Sejak tadi Gio hanya seperti orang yang sedang berbicara sendiri. Diandra sama sekali tidak membuka matanya, sejak kedatangan Gio.


Suara pintu tertutup membuat Diandra membuka matanya, dengan air yang mengalir seiring terbukanya kelopak mata.


Ada apa denganku? Kenapa di sini terasa sangat sakit? batin Diandra, penuh tanya.

__ADS_1


Perempuan itu menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Ada rasa ingin melihat wajah suaminya saat ini, walau pikirannya terus membantah dengan berbagai alasan dan pembenaran, atas apa yang dia lakukan.


Diandra mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamar, rasa pening di kepala masih sangat terasa, bahkan ketika dia bergerak perutnya terasa bergejolak. Itulah mengapa dia tidak mau makan sejak tadi siang.


Muntah adalah salah satu sesuatu yang sangat dibenci oleh Diandra. Dia tidak suka rasa perih dan pahit di tenggorokan saat harus berjuang untuk mengeluarkan semua isi perutnya.


Pikirannya pun melayang, pada semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Begitu banyak musibah yang menimpa dirinya, hingga dia sendiri melupakan kesehatannya dan berujung terkapar di atas ranjang seperti ini.


Gio ke luar dari kamar mandi dengan tampilan seperti biasa. Bertelanjang dada dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.


Laki-laki itu tersenyum, melihat Diandra yang sudah mau membuka mata. Perlahan Gio melangkah menghampiri istrinya.


"Gimana rasanya, apa sudah mendingan?" tanya Gio.


Diandra yang sejak tadi masih berada di dalam lamunannya pun terkejut dengan suara Gio, dia refleks menoleh pada sumber suara.


Namun, Diandra kembali menolehkan kepalanya ke arah berlawanan, begitu melihat penampilan suaminya.


Perempuan itu memejamkan mata rapat, menahan rasa pening, saat kepalanya bergerak terlalu cepat.


Gio yang melihat itu tanpa sadar malah duduk di samping Diandra, dia terlalu panik melihat istrinya meringis kesakitan.


"Apa yang sakit, sayang?" tanya Gio.


"Gak apa-apa, lebih baik sekarang kamu ganti baju aja," jawab Diandra dengan suara parau.


Gio baru sadar akan penampilannya, dia melihat tubuhnya sendiri dan akhirnya tau apa sebab Diandra menoleh cepat.


"Ah, maaf. Aku lupa." Gio segera berdiri dan berjalan menuju almari untuk memakai baju.


Diandra kembali membuka matanya perlahan, setelah Gio pergi dan rasa pening di kepalanya mulai menghilang.


Dasar laki-laki mesum! Dia kan memang selalu begitu kalau ke luar dari kamar mandi ... masa bisa lupa sih? gerutu Diandra di dalam hati, walau wajahnya terlihat menahan senyum, entah karena apa.


......................

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen๐Ÿ™๐Ÿฅฐ


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


__ADS_2