Penakluk Sang Casanova

Penakluk Sang Casanova
Marah?


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Gio berjalan lebih dulu, ketika Diandra mengembalikan sepeda yang mereka pakai. Dia merasa tidak bisa mengendalikan emosinya, hingga memilih menghindar dari Diandra terlebih dahulu.


Hatinya masih saja merasa panas, saat perkataan kasar menyermpet fitnah itu selalu terngiang di ingatannya.


Dia takut kalau sampai tidak sengaja menjadikan Diandra objek pelampiasan amarahnya, hingga memilih untuk mendiamkannya.


Diandra melihat punggung suaminya yang sudah menjauh darinya. Ada rasa takut saat dia melihat itu semua. Entah mengapa, hatinya begitu gelisah saat tahu kalau Gio marah padanya.


"Hatur nuhun, Pak," ujar Diandra mengucapkan terima kasih dalah bahasa daerah.


Dia langsung mengusul suaminya, dengan langkah cepat. Sejak kejadian di restoran Gio tidak berbicara sepatah kata pun padanya. Itu semua membuat Diandra merasa khawatir pada suaminya.


Sampai di depan Rumah, Diandra melihat Gio sedang berbicara di telepon entah dengan siapa. Wajahnya tampak memerah menahan amarah. Sepertinya itu pembicaraan yang cukup serius, hingga Diandra memilih tidak mengganggunya.


Diandra berjalan menuju ke teras, melewati Gio dan membuka kunci pintu lalu masuk ke dalam. Hembusan napas kasar terdengar berulang. Entah mengapa dadanya terasa sesak melihat Gio yang mengacuhkannya.


Entah itu karena marah, sedih, atau takut. Diandra juga tidak tahu. Apa mungkin itu ketiganya? Ya, sepertinya memang benar.


Namun, kenapa dia bisa memiliki perasaan seperti itu, padahal Gio hanya mengacuhkannya? Ah, entahlah, Diandra menggeleng lemah, menghilangkan pemikiran aneh di dalam kepalanya.


Berjalan menuju ke dapur untuk menghidangkan seafood yang akhirnya mereka bungkus. Tidak jadi makan di luar. Keduanya mengambil jalan tengah, daripada harus makan dibawah tekanan emosi karena kelima orang tidak tau jaga mulut itu.


Berjalan untuk mengambil beberapa piring dan tempat untuk menaruh seafood itu, lalu kembali ke meja makan. Diandra mulai menyiapkan makan siang mereka sambil menunggu Gio selesai menelepon.


Ingatannya kembali pada saat mereka berada di restoran beberapa saat yang lalu.


Flash back.


"Ayo pulang," ajak Gio, sambil beranjak dari kursi.


"Tapi, makanannya–" Diandra tidak melanjutkan perkatannya saat Gio langsung menarik tangannya begitu saja.

__ADS_1


Namun, saat mereka hendak beranjak pelayan yang mengantarkan makanan mereka telah datang. Membuat Diandra menghentikan Gio.


"Sayang, makanannya kita bungkus aja ya," ujar Diandra, mengubah suaranya menjadi lembut, dia juga menambahkan kata 'sayang' merayu suaminya agar mau menunggu sebentar lagi.


Sayang sekali jika makanan yang mereka pesan harus ditinggalkan, padahal bila tidak dimakan oleh mereka pun, dia bisa memberikannya pada orang lain.


Dia tahu kalau saat ini Gio sedang marah karena omongan orang-orang tidak bertanggung jawab itu.


"Terserah, aku tunggu di depan," jawab Gio.


Ada rasa terkejut dan senang saat Diandra mengatakan 'sayang' padanya. Akan tetapi, semua itu seakan terkalahkan lagi saat ujung matanya melihat kelima orang yang tengah memperhatikannya.


Semuanya sudah dia bayar lebih dulu, jadi bila mau dibungkus ya tinggal bungkus saja. Diandra hanya tinggal menunggu, tanpa harus mengeluarkan uang lagi. Jadi dia bisa dengan leluasa meninggalkan istrinya.


Diandra mngangguk, lalu melepaskan tangan suaminya. Dia melihat Gio berjalan cepat ke luar, tanpa berbalik untuk melihatnya lagi.


Heh, sepertinya dia beneran marah? batin Diandra, entah mengapa saat ini kepercayaan dirinya seakan menurun di hadapan Gio.


Dirinya merasa takut kehilangan dan ditinggalkan kembali. Masa lalunya yang selalu ditinggalkan oleh orang yang dia sayangi, ternyata membuatnya lebih sensitif saat sudah menjalin hubungan dekat dengan seseorang.


"Kenapa, Teh? Apa ada yang kurang nyaman?" tanya pelayan itu, takut ada sesuatu yang salah dari pelayanannya.


"Akh, tidak ada. Hanya saja di sini terlalu banyak lalat hijau, yang suka makan kotoran," jawab Diandra sambil melirik orang-orang yang tadi menggosipkannya.


Mereka tampak sedikit terkejut, kemudian memilih mengalihkan pandangannya pada sembarang tempat, demi menghindari tatapan tajam Diandra.


Atau mungkin, karena mereka merasa sudah menjadi lalat yang memakan kotoran orang yang mereka gosipkan? Entahlah, mungkin hanya mereka dan tuhan yang tahu.


"Hah?" tanya pelayan itu tidak mengerti. Dia melihat ke sekeliling, tidak ada satu lalat pun di sana.


"Akh sudahlah, sekarang tolong bungkuskan itu semua segera ya, Teh," ujar Diandra lagi, dia tersenyum canggung.


Saat ini dirinya sedang buru-buru, dia tidak mau kalau nanti bertambah lama dengan perlahan yang terlalu kepo itu.


"Oh iya, baik, Teh. Tunggu sebentar ya, Teh," angguk pelayan itu, kembali membawa makanan yang dia bawa.

__ADS_1


Diandra duduk lagi di tempatnya sambil menunggu pelayan tadi membungkus makanannya.


Namun, ternyata obrolan mereka malah merambah ke mana-mana, hingga Diandra pun ikut geram. Hatinya terasa sakit saat Gio terus dijelak-jelekkan orang lain.


Setelah menerima makannya dan memberikan uang tambahan untuk tips bungkus makanan, Diandra menghampiri meja kelima orang itu.


Kedua tangannya bertumpu pada belakang kursi, lalu dia mencondongkan sedikit tubuhnya, membuat kelima orang yang tengah menikmati makan siang itu terkejut.


"Terima kasih ya, sudah mau menerima sebagian dosaku. Bagaimana rasanya daging bangkai teman kalian, enak gak? Dasar lalat sampah!" sarakas Diandra sambil menatap tajam satu per satu orang yang ada di sana.


Mereka tampak terdiam dengan wajah terkejut yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi, bahkan makanan yang sudah ada di dalam mulut pun seakan lupa untuk mereka kunyah.


Perkataan Diandra terlalu tajam dan kasar, hingga otak mereka yang tidak seberapa butuh beberapa detik untuk mencerna perkataannya.


Diandra menyeringai, lalu menegakkan kembali tubuhnya dan berjalan dengan langkah tegas dan angkuh, seperti yang biasa dia lakukan, sebelum bertemu dengan Gio.


Kalian sudah mengangguku dan suamiku, jadi jangan salahkan aku kalau mengganggu kehidupan kalian. Ternyata selama ini aku memang terlalu memanjakan para mulut besar itu, sampai mereka sekarang lebih berani lagi. Mulai sekarang, aku tidak akan diam saja, jika kalian berani mengusik ketenanganku dan suamiku.


Diandra bergumam di dalam hati, dia mungkin akan terus menahannya jika mereka hanya membicarakan dan menghinanya.


Namun, ini sudah sangat keterlaluan, mereka melibatkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Dirinya takut kalau semua omongan tak berdasar itu akan sampai ke telinga Hana dan Gita.


Bagaimana dia menjelaskan kepada mereka nantinya? Dia pasti akan merasa sangat malu dan rendah di hadapan keluarga Gio, jika sampai semua itu terjadi.


Tanpa mau tahu kondisi kelima orang itu yang langsung berlari ke dalam toilet untuk memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya. Diandra terus berjalan dengan tatapan mengarah ke luar restoran.


Mendengar Diandra berbicara yang sangat menjijikan membuat perut mereka langsung bergejolak, seakan tidak bisa menerima makanan. Bagaimana tidak? Diandra membicarakan lalat dan bangkai di saat mereka semua makan seafood yang meninggalkan rasa sedikit amis di dalam mulut.


Itu semua membuat otak mereka tiba-tiba saja membayangkan kalau perkataan Diandra adalah nyata terjadi pada mereka.


......................


Mampir di karya teman aku yuk😊


__ADS_1


__ADS_2