
...Happy Reading...
......................
Gio terlihat sedang berbicara dengan Ayah dan Bunda, sedangkan Ares dan Ana sedang bermain bersama dengan Andra di area kolam berenang hotel. Ares sedang mengajak Andra belajar berenang, walau akhirnya mereka malah main air saja. Sedangkan Ana tampak melihat mereka dari pinggir kolam, sambil memberi semangat untuk anak dan adiknya.
Diandra berdiri tidak jauh dari mereka, dia tersenyum melihat keluarganya yang kini tampak sangat bahagia, walau dirinya dan orang tuanya belum berani bertanya tentang hubungan Ana dengan Hary. Mereka takut pertanyaan itu akan mengingatkan Ana akan rasa sakit yang sudah diberikan keluarga Hary padanya.
Walau sebenarnya, Gio dan Diandra tidak mengatakan soal orang tua Hary yang menjual Ana untuk membayar hutangnya pada rentenir. Sebenarnya Diandra juga ingin tahu apa sebenarnya hubungan adik kembarnya itu dengan Hary, apa mereka sudah menikah atau belum.
Terlebih, Bunda juga terus bertanya pada Diandra dan meminta tolong untuk bertanya pada Ana tentang semua itu. Karena Bunda tidak berani bertanya sendiri pada Ana.
Lama Diandra memperhatikan seluruh keluarganya dari jauh, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghampiri Ana di tepi kolam. Ya, Diandra memutuskan untuk menyusul suaminya, setelah beberapa saat yang lalu dirimya memikirkan tentang sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Diandra baru menyadari jika dirinya tidak seharusnya masih terikat dengan luka lama, saat sekarang kehidupannya sudah berubah lebih bahagia. Kehadiran Gio di dalam kehidupannya dan keluarganya, bagaikan sebuah lentera yang memberikan cahaya untuk meluruskan satu per satu kesalahan yang dulu pernah diperbuat oleh mereka, hingga mengancurkan keluarganya sendiri.
Gio datang, seolah menjadi seorang malaikat, yang menyatukan kembali keluarganya, setelah bertahun-tahun berpisah dan kehilangan komunikasi.
Lalu, untuk apa dirinya masih harus terjebak oleh masalah yang sudah selesai sejak dulu? Masalah yang seharusnya sudah dirinya lupakan, sejak kejadian tiga setengah tahun yang lalu.
Dia tidak bisa terintimidasi oleh sesuatu yang belum pasti. Bahkan jika pun dirinya tidak salah mengenali orang, maka memang seharusnya dirinya mengacuhkannya. Karena semua itu sudah tidak ada lagi hubungan dengannya.
Hubungan dan ikatan yang dulu ada diantara dirinya dan orang-orang itu, sudah tertutup sejak saat itu. Sejak mereka dengan terang-terangan menghina dan menghianatinya. Kini tidak ada lagi masalah atau pun hubungan di antara Diandra dan masa lalu. Hidupnya saat ini adalah hidup yang baru bersama dengan Gio. Sedangkan kehidupan mereka juga tidak ada hubungan apa pun lagi dengannya.
Biarkan saja mereka dengan kehidupannya, dan Diandra sendiri akan tetap fokus untuk menjalani kehidupan bahagianya bersama dengan Gio. Laki-laki mantan pemain wanita yang kini sudah melabuhkan cintanya hanya untuk seorang perempuan yang bernama Diandra.
"Mereka terlihat sangat senang, ya?" ujar Diandra sambil berjongkok di samping adik kembarnya.
Ana yang mendengar perkataan dari seseorang secara tiba-tiba langsung menoleh, kemudian tersenyum saat melihat Diandra berada di sisinya.
__ADS_1
"Iya, Andra sangat dekat dengan Ares. Gak tau gimana nanti kalau Ares sudah mulai bekerja lagi di hotel, dan menetap di pantai lagi," keluh Ana.
Saat ini Ares memilih untuk pulang pergi dari rumahnya ke hotel, dia tidak tega melihat Andra yang selalu bertanya tentang Ares pada semua orang, saat laki-laki itu tidak ada. Bila pun butuh untuk menginap, maka Ares akan pulang dua atau tiga hari sekali.
"Kenapa kamu gak ikut saja tinggal di pantai? Kalian bisa tinggal di rumahku, jika mau," ujar Diandra.
Ana tampak melihat ke arah Ayah dan Bunda sebelum menjawab pertanyaan dari Diandra.
"Aku masih ingin bersama dengan Ayah dan Bunda. Rasanya aku masih sangat merindukan mereka. Lagi pula, kalau aku di dekat mereka, aku merasa aman," jelas Ana.
Diandra tampak menghembuskan napas panjang, saat mendengar perkataan saudara kembarnya itu. Sepertinya Ana masih merasa trauma untuk jauh dari orang tuanya, dia jadi ragu untuk bertanya tentang Hary.
"An?" panggil Diandra, membuat Ana kembali melihatnya.
Semoga aku tidak salah menanyakan semua ini di sini, batin Diandra, dia menelan salivanya dengan susah payah, sebelum mencoba berbicara.
"Bagaimana dengan Hary?" lirih Diandra, mencoba bertanya pada saudara kembarnya itu.
Walau begitu, Diandra langsung tersenyum kemudian melambaikan tangannya pada sang keponakan kecilnya.
Teriakan dari Andra tentu saja menarik perhatian Ayah Bunda, dan Gio, yang tengah mengobrol bersama. Mereka yang awalanya belum sadar dengan kedatangan Diandra, kini tersenyum senang melihat wanita itu kembali seperti biasa.
Aku tau kamu bisa menentukan pilihan, sayang, batin Gio.
"Aku sudah melupakannya," jawab Ana, hingga membuat Diandra langsung menoleh pada saudara kembarnya dengan raut wajah berbeda.
"Maksud kamu? Apa kalian berdua belum–" Diandra terasa tidak sanggup untuk melanjutkan pertanyaannya.
"Aku dan dia tidak pernah menikah, saat aku dibawa ke rumahnya dan dikenakan kepada kedua orang tuanya, mereka melarang keras anaknya berpindah agama dan malah mendesakku untuk mengikuti agama mereka. Aku jelas langsung menolak," jelas Ana, memandang lurus ke depan. Suaranya terdengar tercekat.
__ADS_1
"Aku tidak mau mengecewakan Ayah lagi," sambung Ana dengan nada suara lirih.
Dindra merangkul tubuh adik kembarnya, dia tahu saat ini Ana sedang menggali sebuah luka di dalam dirinya.
"Maaf, aku tidak seharusnya bertanya tentang dia sama kamu," ujar Diandra, menyesali perkataannya sendiri.
"Tidak, Kakak tidak salah." Ana menggeleng menolak permintaan maaf Diandra.
"Aku juga sudah melupakan mereka. Aku selalu berharap tidak akan bertemu lagi dengan mereka sampai kapan pun. Biarkan aku hidup berdua saja dengan Andra, itu semua sudah cukup untukku," sambungnya lagi, sambil mengalihkan perhatiannya pada sang anak.
Diandra menghembuskan napas panjang, lika-liku hidup adik kembarnya itu begitu berat dan pahit, bahkan lebih menyedihkan dibandingkan dengan hidupnya sendiri. Setidaknya dia tidak pernah menyerahkan mahkotanya pada laki-laki yang salah, dan tidak pernah terjerumus pada kehidupan malam hanya karena dibutakan oleh cinta.
"Apa pun yang terbaik untuk kamu, Ana. Aku akan selalu mendukung apa pun keputusan yang kamu ambil. Hidup lah bahagia mulai dari sekarang bersama dengan semua keluarga. Melupakan masa pahit memang sulit, akan tetapi, setidaknya kita bisa terus melangkah ke depan tanpa terus terikat pada masa menyakitkan itu, agar hidup kita bisa lebih maju lagi," ujar Diandra, seolah sedang memberikan nasihat pada adiknya itu.
Wanita itu seolah mudah mengatakan semua itu pada adik kembarnya, padahal beberapa saat yang lalu dirinya juga baru saja hampir kembali terjerat oleh kenangan pahit masa lalunya.
"Aku akan berusaha untuk terus bangkit, demi Andra. Apa pun akan aku lakukan, agar Andra bisa bahagia," angguk Ana, dengan tekad yang penuh di dalam dada.
Kini hidup Ana hanya Ana berikan untuk Andra. Penyemangat hidupnya yang terus membuatnya tidak pernah menyerah dalam menjalani masa pahit. Malaikat kecil yang Tuhan kirimkan padanya, dan akan selalu dia jaga dengan sepenuh jiwa raganya.
Diandra tersenyum mendengar tekad yang dikatakan oleh Ana. Ternyata kehadiran Andra bagi Ana adalah sesuatu yang sangat berharga. Terlepas dari bagaimana Hary dan orang tuanya memperlakukannya dulu, saat dirinya bahkan sedang mengandung Andra, juga bagaimana proses kehadiran Andra yang membuat dirinya jauh dari keluarganya sendiri.
Namun, di saat itu malah Andra yang masih berada di dalam perutnya, seolah terus memberi semangat untuk dirinya agar terus berjuang menjalani hidup.
Perjuangan untuk dapat bersama dengan malaikat kecilnya, membuatnya sadar akan ketulusan hati orang tua pada anaknya. Menyadarkan bagaimana Ayah dan Bunda yang sudah dia luka hatinya, dengan cara membangkang dan memilih cinta dari orang lain, selain cinta tulus kedua orang tuanya.
"Kamu harus semangat, Ana. Kamu pasti bisa melewati ini semua dan bahagia bersama Andra," ujar Diandra, memberi semangat untuk adik kembarnya. Keduanya tampak saling berpelukan dengan senyum mengembang, walau di belakang satu sama lain, tetes air mata tidak dapat mereka bendung.
Entah itu air mata bahagia karena sudah berhasil kembali bersatu dengan keluarga, atau air mata kesedihan saat harus mengenang masa lalu pahit di antara keduanya.
__ADS_1
......................