
...Happy Reading...
...................
Siang ini Diandra sedang berkutat di dapur bersama dengan Bi Minah. Dia sedang belajar memasak kembali pada wanita paruh baya itu.
Menghilangkan rasa jenuh, setelah beberapa minggu ini dirinya hanya terdiam di vila, dan melakukan semuanya hanya dari sini. Sampai bekerja pun dia lakukan dari vila.
Hanya sesekali dia pergi untuk melihat perkembangan pembangunan hotel miliknya. Akan tetapi, tetap saja Diandra merasa jenuh jika Gio sedang tidak ada di rumah.
Pasalnya Gio juga melarang Diandra untuk berjalan-jalan di luar vila sendiri. Mengingat semakin ke sini, kondisi di luar terasa semakin tidak aman bagi Diandra.
Sedangkan untuk Rani atau Ana, Gio sudah menugaskan beberapa anak buahnya untuk mengikutinya ke mana pun dia pergi. Walaupun begitu, Gio tidak bisa mempercayakan keselamatan istrinya sendiri pada para anak buahnya.
"Bi, ini bumbunya ditulis dulu, kan?" tanya Diandra yang sedang berdiri di depan kompor sambil memegang sutil di tangannya.
Bi Minah yang sedang membersihkan sayuran segar untuk bahan sup, menoleh pada Diandra kemudian mengangguk.
"Iya, Neng. Itu ditumis dulu, nanti ayamnya menyusul kalau bumbunya udah matang," jawab Bi Minah.
Diandra pun menaruh berbagai jenis bumbu yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Bi Minah terlebih dahulu.
Menu makan siang hari ini adalah, ayam kecap, tempe goreng dan sup bakso. Tidak lupa pelengkapnya yaitu sambal dan lalapan.
Suara bumbu menyentuh minyak panas membuat Diandra terkejut, ditambah dengan percikan minyak yang mengenai lengannya. Itu semua membuat dia hampir saja menjatuhkan sutil di tanganya.
Lama tidak menyentuh dapur dan peralatan masak, membuatnya kaku kembali, padahal sewaktu Ana masih ada dan mereka masih tinggal bersama, memasak adalah sesuatu yang biasa mereka kerjakan bersama.
Ah, mengingat itu, Diandra jadi rindu pada Ana. Apa sampai sekarang mereka masih tidak bisa bertemu? Sampai kapan ini akan terjadi?
Rasanya terlalu menyiksa, saat Diandra tahu kalau Ana ada di dekatnya. Akan tetapi, da tidak bisa untuk sekedar menemuinya, apalagi untuk bersama-sama seperti dulu.
"Hati-hati, Neng," ujar Bi Minah, wanita paruh baya itu terlihat tersenyum melihat Diandra yang terlihat tidak biasa dengan memasak.
__ADS_1
Diandra sedikit terperanjat saat mendengar suara Bi Minah, dia langsung menolehkan kepalanya pada wanita paruh baya itu, senyum canggung bercampur malu terlihat menghiasi wajahnya.
"Hehe, maaf, Bi. Aku udah lama gak pernah masak, jadinya malah kaku lagi." Diandra kembali maju satu langkah lalu mulai mengaduk bumbu di wajan.
"Iya, Neng, gak apa-apa. Namanya juga belajar," jawab Bi Minah.
"Ana gimana kabarnya, Bi?" tanya Diandra. Selama ini dia hanya bisa bertanya tentang adik kembarnya dari Bi Minah.
"Dia baik, Neng," jawab Bi Minah.
"Syukurlah, aku kangen sama dia, Bi," ujar Diandra kemudian, matanya tampak berkaca-kaca saat mengingat saudara kambarnya.
"Rani juga bilang ingin bertemu lagi dengan, Neng Dian. Tapi, untuk saat ini dia belum bisa bertemu dengan, Neng Dian," jawab Bi Minah sendu.
Diandra mengangguk samar. Gio juga melarangnya untuk menemui Ana sementara waktu, setidaknya sampai dia bisa memastikan siapa sebenarnya dalam di balik semua penderitaan saudara kembarnya itu.
Cukup lama mereka berkutat di dapur, akhirnya semua makanan sudah siap dihidangkan. Diandra menatap semua hidangan makna siang di atas meja, dengan wajah sumringah.
"Bi, terima kasih ya, udah mau bantuin aku masak," ujarnya beralih pada Bi Minah.
"Iya, Neng. Itu kan memang sudah tugas saya," jawab Bi Minah.
"Kalau gitu aku ke kamar dulu," ujar Diandra lagi, sebelum melangkah pergi meninggalkan Bi Minah yang juga beranjak menuju ke dapur kembali.
Diandra memutuskan untuk mandi lagi, merasa tubuhnya lengket dan bau bumbu masakan, membuatnya tidak nyaman.
...***...
Sementara itu, Gio masih berada di bangunan tua di tengah hutan, dengan semua bukti di depannya dan pernyataan dari orang yang menjadi sandra itu.
Gio memutuskan untuk menjalankan misi menolong Ana dan anaknya, dari bangunan tua itu. Dia tidak mau kalau sampai Diandra akan ikut campur dalam kasus kali ini.
Apa lagi saat ini Randi harus tetap berada di Jakarta, mengingat masalah ini sebenarnya berakar di sana. Randi harus menggantikannya di perusahaan sekaligus untuk menyelidiki di mana sebenarnya anak Ana disembunyikan.
__ADS_1
Ya, beberapa hari yang lalu dirinya baru saja mengetahui kalau semua ini bermula dari keluarga Hary, yang merupakan kekasih Ana dan ayah dari anak yang saat ini berada di tangan seseorang yang sangat berbahaya.
Sekali lagi, dia harus berurusan dengan orang-orang dari dunia hitam, setelah terakhir kali dia berurusan dengan pengedar narkoba dan berakhir dengan kematian ayahnya sendiri.
Kali ini dia harus berhati-hati, jangan sampai kejadian dulu kembali terjadi, karena yang kini dia harus hadapi mungkin lebih berbahaya, mengingat mereka adalah sindikat penjualan manusia.
Itu sebabnya Gio juga tidak mau melibatkan Diandra dalam kasus ini, dia tidak mau membuat istrinya itu kembali dalam bahaya.
Satu yang membuatnya sangat terkejut, kalau ternyata semua masalah ini juga sedikit berhubungan dengan masa lalunya. Walau mungkin ini hanyalah sebuah kebetulan yang sangat mengejutkan.
Kita tinggalkan dulu tentang masa lalu yang berkaitan, sekarang kita kembali pada cerita Ana dan asal mula kenapa Ana bisa berurusan dengan dunia hitam.
Semua ini berawal dari keluarga Hary yang mempunyai hutang pada rentenir, dengan jumlah yang tidak main-main. Menurut penuturan Ana, beberapa saat yang lalu, semua uang itu mereka pinjam untuk modal usaha, hanya saja usahanya bangkrut entah karena apa.
Pagi tadi Gio akhirnya terpaksa menculik Ana dan membawanya ke bangunan tua ini, agar wanita itu mau membuka mulut tentang maslahnya. Selama ini Gio terus saja merasa semua pekerjaannya sia-sia, mengingat berulang kali dirinya hanya mendapati jalan buntu.
Urusan Diandra akan marah bila mengetahuinya, itu dia pikirkan nanti saja. Dia sudah cukup bersabar menghadapi semua masalah yang tidak pernah tahu apa intinya.
Bila ini bukan karena istrinya, sudah pasti Gio akan memilih menutup mata. Untuk apa dia harus repot-repot mengeluarkan tenaga dan uang untuk masalah seperti ini.
Gio mengusap dagunya, tatapannya tampak rumit melihat beberap lembar foto di atas meja. Itu adalah foto anak Ana saat baru saja dilahirkan sampai usia sekitar empat bulan, sebelum Ana memutuskan untuk kabur bersama dengan kakaknya Mang Aan.
Awalnya Ana kabur bersama dengan anaknya, dia berhasil membawanya saat anaknya sakit panas. Ana pun akhirnya diizinkan untuk menemuinya.
Namun, di saat pelariannya mereka berhasil merebut anaknya lagi dan memisahkannya sampai saat ini. Ana bahkan sudah tidak pernah tahu bagaimana nasib anaknya di tangan para orang-orang biadab itu.
Ya, Ana dijual untuk membayar hutang keluarga Hary, bahkan di saat dirinya sedang hamil besar. Entah Hary tahu atau tidak tentang dirinya, karena pada saat itu Hary tengah tidak ada di rumah.
Gio mendesah, tangannya mengambil salah satu foto bayi laki-laki yang tampak mungil itu, entah seperti apa sekarang wajahnya dia pun tidak tahu. Sepertinya itu menjadi masalah selanjutnya yang harus dia pecahkan.
Saat ini Gio hanya berharap agar anak ini tidak mereka jual kepada orang lain, hingga dia bisa menemukannya lebih cepat.
...................
__ADS_1