
...Happy Reading...
......................
Gio termenung di ruang kerjanya. Semenjak dia datang lagi ke Jakarta, dirinya benar-benar harus fokus mengurus semua masalah di perusahaannya, sehingga tidak ada waktu untuk memberi kabar pada istrinya.
Sudah beberapa hari ini, dirinya bahkan belum mempunyai kesempatan untuk menghubungi istrinya itu.
"Bos, ini semua berkas yang sudah kita periksa," ujar Randi, menaruh sekumpulan berkas di atas meja Gio.
Gio mengerjapkan matanya, terkejut dengan keberadaan sang asisten. Dia pun menoleh kilas pada Randi, dengan tatapan kesal, hingga decakkan kecil terdengar di bibirnya.
"Maaf, bos. Lagian dari tadi, bengong terus ... kalau kangen telepon aja, daripada kepikiran terus," ujar Randi, memberi saran.
"Gak usah sok tau. Sana kerja lagi," ujar Gio, mengibaskan tangannya mengusir Randi dari hadapannya.
Randi hanya berdecak malas, lalu berbalik, dan kembali mengerjakan beberapa laporan yang masih tersisa.
.
__ADS_1
.
"Ayah, aku mohon restu hubungan kami." terlihat seorang perempuan muda sedang berlutut di depan laki-laki paruh baya.
"Ayah, kami saling mencintai. Hery juga laki-laki yang baik, aku yakin dia akan menjaga dan membahagiakan aku selamanya," mohon perempuan muda itu lagi.
"Apa kamu bilang? Dia bahkan sudah merusak kamu berulang kali, dan kamu masih bilang kalau dia baik? Mikir, Ana! Kalau sekarang saja dia sudah berani menghamili kamu di liar nikah, lalu bagaimana nanti?!" Laki-laki paruh baya itu menatap perempuan yang tidak lain adalah anak ke duanya itu dengan mata merah penuh kecewa.
"Tapi, Ayah. Bagaimana nasib anak aku, kalau aku tidak menikah dengan dia?" Ana, menundukkan kepalanya, menangis tersedu, di depan ayahnya.
"Ayah tidak akan menikahkan kamu hanya gara-gara sebuah kecelakaan seperti ini, Ana! Sudahlah, lebih baik kamu masuk ke kamar!" Laki-laki paruh baya itu, menunjuk ke arah tangga rumah, di mana kamar anak ke duanya berada di lantai dua.
"Ayah," lirih Ana, tidak percaya dengan rasa keras kepala sang ayah.
"Ana." Diandra tampak menghampiri saudara kembarnya itu, dia memeluk Ana dengan perasaan sendu.
Namun, dengan kasar Ana melepaskan pelukan Diandra, hingga perempuan itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Ini semua gara-gara kamu! Kenapa kamu gak bisa buat satu laki-laki saja, jatuh cinta sama kamu, hah?!" teriak Ana, menyalahkan saudara kembarnya atas semua yang terjadi.
__ADS_1
Telunjuknya mengarah tepat pada wajah Diandra, tatapan yang selama ini penuh kasih sayang itu, berubah menjadi kebencian dalam sekejap mata.
"Ana?" Diandra menggeleng samar, terkejut dengan sikap saudara kembarnya yang berubah drastis.
"Jangan panggil namaku lagi, aku menyesal punya saudara seperti kamu!" Ana melepaskan kaca mata di wajah Diandra dan meleparkannya ke lantai.
"Dasar jelek, kutu buku! Gara-gara kacamata dan semua buku kamu itu, sampai sekarang kamu tidak ada laki-laki yang mau dengan kamu!" sambung Ana lagi, sambil menginjak kacamata itu.
Air mata yang sejak tadi Diandra tahan, untuk menguatkan saudara kembarnya pun, akhirnya menetes melihat kebencian Ana.
"Hah, Ana!" Diandra membuka matanya dengan napas yang terengah.
Mimpi itu kembali lagi, kejadian di saat terakhir sebelum akhirnya Ana memilih kabur dari rumah, bersama dengan laki-laki yang merupakan ayah dari anaknya di dalam kandungan.
Mengusap wajah gusarnya, dengan mata yang berkaca-kaca, Diandra beranjak duduk di atas sofa. Ya, ternyata dia tertidur di ruang tamu, bahkan baju yang dipakainya pun masih sama, dan sepatunya masih terpasang di kaki.
Menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan hati dan pikirannya.
"Ana," lirihnya dengan air mata yang lolos begitu saja, membasahi pipinya.
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹...
...Bersambung...